Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 70. SEMALAMAN BERSAMAMU


__ADS_3

“Apa kamu kedinginan sayang? Apa aku kurang hangat untukmu?” tany Jaysen mempererat pelukannya dan merapatkan selimut.


Emily menggelengkan kepalanya dan menjawab dengan suara lirih, “Ak---aku malu Jay.”


Jaysen tersenyum mendengar jawaban gadis itu, dia mencium puncak kepala Emily. Lelaki buta itu tahu bahwa seandainya dia memaksakan kehendaknya pun, Emily tidak akan sanggup menolaknya.


Namun entah mengapa dia tidak ingin memaksakan kehendaknya pada gadis yang sedang gelisah didalam pelukannya ini.


”Biarkan saja, sayang. Toh aku juga sudah sering melihatmu dan menyentuhmu. Kenapa baru merasa malu sekarang? Biasanya juga kamu nggak malu kok.” sahut Jaysen.


“Tapi Jay----”


“Sayang, aku sudah mau mengalah sejauh ini. Jangan menguji kesabaranku lagi dan tidurlah.” potong Jaysen kembali merapatkan selimut seolah ingin memastikan kalau gadis itu tidak akan kedinginan.


“Atau kamu lebih memilih kalau kita lanjutkan lagi saja permainan kita yang tadi? Semalaman bersamamu aku juga masih bisa tahan kok. Bagaimana menurutmu, sayang?”


Emily yang panik pun langsung menggelengkan kepalanya. Dia menahan napas lalu memejamkan matanya rapat-rapat mencoba untuk tidur dan berharap agar pagi segera datang.


“Oh ya Tuhan! Ampun deh menghadapi pria ini.”


...*******...


Ada rasa kantuk yang sangat dirasakan oleh Emily dan kedua matanya terasa sangat berat untuk dibuka. Kenyamanan tempat tidurnya semakin membuat gadis bersurai coklat itu enggan untuk bangun dari tidur. Namun ada sesuatu yang membuat tidurnya tidak bisa nyenyak. Tubuh gadis itu perlahan menggeliat, sedangkan bibir mungilnya perlahan membuka.


Emily mengeluarkan suara *******, “Akhh…..Akhhh…..ehmmm…..” tangan Emily meremas seprai dia merasakan geli yang sangat menghanyutkan dan menghilangkan akal sehatnya. Dia berusaha merapatkan kedua kakinya tapi tubuhnya bereaksi berlawanan dan ada juga yang menahan membuat sepasang kaki jenjang itu tetap terbuka lebar.


Yang anehnya lagi dia merasakan seperti ada sesuatu yang mulai bergulung, mengumpul diperut bagian bawahnya dan meledak keluar. Tubuhnya menegang dan melenting bahkan mengejang beberapa kali. Gadis itu merasakan ada kehangatan dibagian tubuhnya.


“Ap----apa yang----”


Emily merasakan kebingungan dengan apa yang baru saja dia alami, Emily tersentak kaget sewaktu selimutnya bergerak dan yang membuat gadis itu lebih terkejut lagi adalah sewaktu wajah Jaysen keluar dari selimut yang tersibak.


“Ja-----Jaysen? Ap--apa yang kamu lakukan?” tanya Emily yang masih merasakan sekujur tubuhnya lemas.

__ADS_1


“Membangunkanmu sayang,” jawabnya langsung mencium sepasang bibir mungil itu membuat Emily merasakan kehangatan dipagi hari. “Selamat pagi sayang.”


Setelah beberapa menit berlalu dan Jaysen belum juga menyudahi ciuman mereka, Emily memukul-mukul pundak lelaki itu karena dia sudah kehabisan udara untuk bernapas.


“Apa nggak ada cara lain untuk membangunkan aku?” tanya gadis itu memandang sebal lelaki buta yang sudah terlihat rapi dan tampan dalam balutan kemeja hitam.


“Aku sudah mencoba membangunkanmu tadi, tapi kamu nggak bangun juga. Terpaksa deh aku pakai cara lain untuk membangunkanmu. Ternyata berhasil, sayang.”


“Masa sih? Memangnya bagaimana caramu tadi membangunkanku?” tanya Emily iseng.


Mendengar ucapan gadis itu membuat Jaysen tersenyum, dia menyadari nada menuntut dalam suara calon istrinya. Sebenarnya tadi dia sendiri sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak menyentuh tubuh gadis itu dan sekarang dia berdalih dengan alasan untuk membangunkannya.


“Rahasia!” jawabnya, menempelkan telunjuk didepan bibirnya.


Lalu Jaysen menunduk dan berbisik tepat didepan telinga gadis itu, “Tapi enakkan sayang? Hemm? Kamu suka kan sayang? Aku melihat betapa kamu menikmatinya tadi.”


Sontak wajah Emily memerah gadis itu jelas tidak mungkin membantah karena sekarang dia menikmati semua sentuhan Jaysen ditubuhnya.


“Mulai besok aku akan membangunkanmu dengan cara seperti tadi, bagaimana?”


“Tapi kan aku ingin sarapan bersamamu sayang.” balas Jaysen dengan senyuman iblis diwajah tampannya. “Makanya, kalau nggak mau dibangunkan seperti tadi, kamu harus bangun pagi lebih dulu dibanding aku, ya.”


Ada ekspresi horor diwajah cantik Emily saat mendengarnya lalu dia mengerucutkan bibirnya dan berkata, “Dasar mesum!”


Jaysen hanya terkekeh menanggapinya, dia lalu menarik selimut Emily membuat gadis itu menjerit kaget. “Jaysen! Apa-apaan lagi sih kamu?” protesnya berusaha mempertahankan selimutnya. Dia sadar bahwa kini dia masih dalam kondisi polos. “Jaysen!”


“Cepat bangun! Lalu mandi, sayang. Atau kamu mau aku yang memandikanmu? Boleh juga, sayang.”


“Iya tapi jangan tarik selimutku dong.” protes Emily dengan suara tak senang.


“Masa kamu mau ke kamar mandi membawa selimutmu?”


“Akh!”

__ADS_1


“Sana mandi dulu sayang.”


Emily memasang wajah cemberut, lalu meraih bantal untuk menutupi tubuhnya sebelum berlari ke kamar mandi. Meskipun dia tahu kalau Jaysen buta sekalipun, tetap saja rasanya memalukan bagi gadis itu untuk berpolosan didepan seorang pria. Sesampainya didalam kamar mandi, Emily terbelalak melihat kaca diatas wastafel memantulkan bayangan dirinya.


Gadis itu terkejut saat melihat betapa banyaknya bercak merah yang tersebar disekujur tubuhnya. “Bahkan punggungku pun merah-merah semua? Aihhhhh pria itu menakutkan sekali!” erangnya memutar tubuh berusaha melihat bagian punggungnya. Kedua mata berwarna abu itupun semakin melebar sewaktu melihat bercak merah dikedua bokongnya. “Ap---apa ini?”


Emily menatap bayangan dirinya tidak percaya. Memang apa saja yang sudah dilakukan Jaysen padanya selama dia tidur tadi?


“JAYSEN!!!!” teriaknya sekencang mungkin. Emily merasa marah dan merasa dirugikan karena perbuatan Jaysen pada saat dia tidur.


...*******...


Entah apa yang sebenarnya terjadi tapi ada terlihat jelas perubahan suasana dikediaman Wisesa.


“Selamat pagi Nona. Apakah tidur anda nyenyak?”


“Selamat pagi Nona. Untuk makan siang nanti, Nona mau makan apa? Biar segera kami siapkan.”


”Selamat pagi Nona. Apakah Nona mau jalan-jalan ke kebun bunga dibelakang? Kebetulan saya menanam bunga baru.”


Emily mengerjap-ngerjapkan matanya, sepanjang perjalanannya dari kamar tidur sampai keruang makan, semua pelayan yang berpapasan dengannya selalu menyapa dan mengucapkan salam dengan penuh hormat.


Tidak hanya itu saja, para pengawal yang adapun langsung menunduk menghormat dan memberikan senyuman ramah padanya.


‘Ada apa ini sebenarnya bukankah selama ini dia hidup dirumah besar ini sebagai seorang tawanan? Bahkan nyaris tidak ada seorang pelayan pun yang bersedia bicara denganya kecuali apabila mereka memang ditugaskan untuk menemani atau mengawalnya. Selama ini bisa dikata hanya Argya saja yang menjadi teman bicaranya.


Itupun hanya sesekali saja, lalu……sekarang? Kenapa semua orang mendadak bersikap ramah dan baik kepadanya? Ada apa ini? Apa semua orang kesambet ya?


“Itu karena mereka tersentuh dengan kebaikan anda semalam nona.” ujar seorang pelayan.


Argya menuangkan secangkir teh untuk Emily, dan meletakkan sepiring penuh makanan manis favorit gadis itu. Saat ini mereka berdua sedang berada di gazebo yang ada dihalaman belakang karena Emily ingin menikmati udara segar setelah makan siang.


“Oh begitukah?” Emily meminum tehnya dan tidak bicara lagi. Rupanya ada sesuatu yang sedang dipikirkan gadis itu. “Kemana Jaysen?”

__ADS_1


“Tuan Muda sedang sibuk diruang kerjanya, Nona.”


Emily memandang Argya dengan tatapan bertanya, dengan kondisi seperti itupun Jaysen masih tetap bekerja? Bukankah dia tidak bisa melihat sama sekali?


__ADS_2