
“Calon istriku sedang melakukan fitting baju disana, ya itu aku tahu.” potong Jaysen yang sudah berjalans eolah tidak sabar menunggu Argya untuk membantunya.
“Apa menurutmu aku tidak akan tahu dimana calon istriku berada?” tanya Jaysen dengan nada tak senang.
“Eh—itu--” Argya menelan ludah, tidak tahu harus menjawab apa. “Kalau begitu ijinkan saya memandu Tuan Muda kesana.”
“Ya, lakukanlah!”
“Tapi, apakah tidak sopan kalau kita datang dan mengganggu proses fittingnya?” ujar Argya lagi.
“Ini rumahku dan yang berada disana adalah calon istriku. Jadi apanya yang menganggu? Kalau ada yang protes langsung tendang saja orang itu keluar!” balas Jaysen.
Argya berusaha mempertahankan ketenangannya, dia hanya bisa mengeluh didalam hati saja. Tuan Mudanya ini keras kepala sekali dan tak pernah mau mendengarkan pendapat orang lain.
“Eh...anu….Tuan Muda….” Argya berusaha bicara lagi meskipun dia agak terbata-bata.
“Apa lagi?” Jaysen terdengar tak senang saat bicara.
“Apa tidak sebaiknya kalau Tuan Muda berpakaian terlebih dulu?” Argya mencoba mengingatkan Jaysen bahwa sejak tadi lelaki buta itu hanya memakai celana panjang tanpa atasan lainnya.
Kalau dilihat-lihat dengan tubub tegap, atletis dan perut six pack-nya, Jaysen malah terlihat seperti model iklan yang sering seliweran di media. Ditambah lagi wajah tampannya yang menunjang penampilannya.
“Memangnya kenapa dengan penampilanku?” tanya Jaysen membuyarkan pikiran Argya. “Apa aku terlihat sangat buruk sekarang? Aku masih tetap tampan dalam kondisi seperti apapun.”
“Ehm...bukan seperti itu maksud saya, Tuan Muda. Malah kalau boleh jujur mungkin akan ada banyak perempuan yang rela jatuh ke pelukan Tuan Muda.” ujar Argya sejujurnya.
“Penampilan anda saat ini memang agak kurang sopan, tapi bagi sebagian besar perempuan pasti terlihat, eh….seksi dan macho, terlebih lagi dengan tato yang melingkar dipundah kiri Tuan Muda. Tapi apakah Tuan Muda memikirkan perasaan Nona Eleanor saat dia melihat perempuan lain mengagumi tubuh anda, Tuan Muda.”
Sebelah alis Jaysen naik saat Argya mengatakan kalau dia terlihat macho. Membuatnya teringat kalau Eleanor pernah mengatakan kalau gadis itu menyukai tatonya karena terlihat macho.
“Baguslah! Kalau begitu ayo kita bergegas sampai disana.”
__ADS_1
“Eh, tapi….” Argya jadi kebingungan karena Jaysen sudah melangkah cepat. Apa lelaki buta itu tidak mengerti ucapannya sama sekali? Argya mengeryitkan dahinya dan bertanya, “Bagaimana dengan pakaian anda, Tuan Muda?”
Jaysen tidak menjawab, dia semakin mempercepat langkahnya dan nyaris berlari. Sementara Argya terpaksa mengikuti dengan mengeluh didalam hatinya.
Betapa sulitnya untuk bisa membuat Jaysen mengerti, lelaki buta itu keras kepala, sekeras batu.
Sementara didalam aula itu Sabrina Saab sedang menata rambut Emily. “Jangan terlalu di pikirkan.”
Seharusnya masalah tata rambut seperti ini adalah urusan asistennya tapi desainer caantik itu ingin mengurus semuanya secara langsung.
Jemari lentiknya sangat terampil menyematkan hiasan rambut berupa hair comb pins berwarna gading yang terlihat kontras dengan rambut Emily yang berwarna coklat madu.
“Mau tahu apa pendapatku?” tanya Sabrina. Membuat Emily langsung menoleh memandang wajah sang desainer yang berseri-seri.
“Kekasihmu itu memang keterlaluan.” Sabrina lanjut berbicara sambil merapikan kerutan di garis pinggang Emily. “Oh maaf. Dia sangat sangat keterlaluan, kalau aku boleh berpendapat!”
Ada sedikit senyuman diwajah Emily saat mendengar suara Sabrina yang agak berlagak.
Keduanya saling berhadapan, “Coba dong tebak.” desak Sabrina lagi. Namun kembali Emily menjawab dengan gelengan kepala karena dia tidak mengerti.
Sabrina mendesah lalu membawa Emily mendekat ke dinding yang dipenuhi cermin, membuat Emily sampai melongo saking terkesimanya.
“Cantik kan?” kata Sabrina.
“Iya, gaunnya sangat cantik.” Emily menganggukk setuju dengan ucapan desainer itu.
Emily mengenakan gaun bermodel A Line dengan shoulder cape yang dihiasi bordiran bunga. Gaunnya sendiri bergaya simple tapi terlihat anggun. Aksen drappery di bagian belakang memperlihatkan kulit punggung Emily yang putih mulus.
“Iya, gaunnya memang cantik sayang. Aku setuju denganmu.” ucap Sabrian jemarinya yang lentik menelusuri untaian mnaik-mani payet, “Tapi yang tadi kumaksudkan cantik adalah dirimu. Lihatlah, warna gaun ini senada dengan warna matamu. Warna abu cerah yang memikat! Kamu sangat cantik!”
Kekagumam Sabrina pada kecantikan Emily dibalas dengan anggukan setuju ketiga asisten yang membantunya. Dengan rambut sewarna madu yang tergerai lembut dan dihiasi mahkota yang terbuat dari emas putih, lalu gaun pengantin berwarna silver dengan aksen renca bunga, manik dan payet yang berkilauan, ditambah riasan berkesan natural di wajah Emily membuat gadis itu terlihat lebih cantik.
__ADS_1
“Seperti dewi bulan, sang dewi Artemis.” ucap Sabrina Saab menyentuh kedua pipinya dengan rona wajaha bahagia. “Oh aku ada ide! Bagaimana kalau kutambahkan bros berbentuk bulan sabit yang terbuat dari berlian untuk hiasan gaun dibagian depannya?”
“Nyonya, apa tidak lebih bagus kalau hiasan berbentuk bulan sabit itu dijadikan dalam bentuk bandul kalungnya saja? Akan terkesan manis dan cantik tanpa mengurangi kesan elegan.” usul satu asisten.
“Saya kira, lebih sesuai kalau dibuat sebagai hiasan rambut. Hiasan bulan sabaitnya pasti akan terlihat lebih mencolok kalau dipadukan dengan warna rambut Nona Eleanor.” kali ini asisten yang lain yang memberikan pendapat yang berbeda.
“Tapi juga akan terlihat sangat cantik kalau dipasangkan di drappery di bagian punggung.” sela asisten yang ketiga.
Emily menghela napas, ini memang baru gaun kedua yang dia coba tapi dia sudah lelah. Mengabaikan keempat orang yang tengah berunding soal tambahan hiasan gaun pengantinnya, Emily mengamati bayangan diri dipantulan cermin.
Dia baru saja memejamkan mata membayangkan kalau ini adalah pernikahannya dengan Jaysen, sewaktu terdengar seruan bernada kaget. Belum sampai Emily membuka mata, gadis itu merasakan ada sepasang lengan melingkari pinggang dan seseorang memeluk tubuhnya dari belakang.
“Halo sayang.” bisik Jaysen langsung mendaratkan ciuman ditengkuk Emily. “Apa kamu merindukanku, hmm?” hembusan napas Jaysen terasa ditengkuknya membuat Emily bergidik.
Dia terjingkat kaget tapi bukannya membuat Jaysen melepaskan pelukannya. Dia malah semakin mempererat pelukannya.
“Jay! Apa yang----lepas.”
“Sayang, kamu membuatku kesakitan.” keluh Jaysen meringis kesakitan karena tangannya yang terluka tak sengaja disentuh oleh Emily. Sesaat Emily memandangnya bingung tapi sepasang matanya langsung terbelalak saat melihat tangan Jaysen yang berlumuran darah.
“Apa yang terjadi? Kenapa sampai darahnya keluar sebanyak ini? Apa yang kamu lakukan Jay? Kenapa kamu tidak mengobati lukamu?” ujar Emily yang terkejut dan khawatir lalu dia menoleh menatap Argya dengan memberi pandangan bertanya.
“Argya, kenapa diam saja? Tolong ambilkan kotak P3K!” ujar Emily memelototi pria itu.
Argya bisa melihat betapa Jaysen memasang seringai puas di belakang gadis itu.
Ada perasaan sebal yang muncul dihatinya sewaktu Jaysen kembali memeluk Emily dan berkata, “Argya atau siapapun nggak ada yang mau mengobatiku, sayang. Makanya aku sampai harus jauh-jauh datang kesini menemuimu.”
__ADS_1