Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 68. TIDURLAH BERSAMAKU


__ADS_3

Mereka semua nyaris bersorak sorai gembira sewaktu sosok berusrai coklat itu keluar dari mobil dan segera berlari menuju kearah Tuan Muda mereka yang terlihat bagai penguasa neraka itu.


“Jaysen!” seru Emily yang langsung menubruk dan memeluk Jaysen erat. Sedangkan pria itu tampak terpaku dalam beberapa saat.


Dia terkejut dan balas memeluk EMily. “Kenapa kamu lama sekali?” tanyanya dengan nada suara seperti orang yang merajuk.


“Maaf!” bisik Emily tanpa sadar mulai bernapas perlahan menikmati aroma tubuh Jaysen yang mulai dia sukai dan selalu mampu membuatnya merasa tenang dan juga bergejolak dalam waktu bersamaan.


Emily mendongakkan wajahnnya lalu berkata dengan suara merajuk, “Jay! Jangan marah ya? Komohon jangan marahi ataupun menghukum siapapun. Yang terjadi hari ini bukan salah siapa-siapa, Jay!” ujarnya dengan memelas. Karena Emily memang tidak mau ada yang mendapatkan hukuman dari Jaysen atas kejadian hari ini yang menimpanya.


“Sayang, soal itu aku nggak bisa mengabul----”


“Kumohon Jay! Jangan marahi atau menghukum mereka. Ya? Aku mohon padamu kali ini.”


“Sayang, mereka sudah lalai dalam menjagamu. Jadi -----”


“Kalau begitu aku nggak mau makan! Aku akan mogok makan sampai kamu menghentikan hukuman.”


“Jangan macam-macam!” balas Jaysen dengan dahi berkerut. Nada suaranya juga meninggi seolah dia merasa khawatir kalau sampai Emily benar-benar akan melakukan aksi mogok makannya.


“Makanya jangan menghukum mereka kalau kamu nggak mau aku mogok makan!”


“Memangnya kenapa kamu sampai----”


“Aku takut,” ujar Emily, melepaskan pelukan dan berusaha menjauh dari Jaysen tapi pria itu tetap saja memeluknya. “Soalnya Jaysen sangat mengerikan kalau sudah marah, membuatku ingin kabur dan melarikan diri sejauhnya darimu.”


“Jangan coba-coba melakukan itu sayang, jangan pernah berpikir untuk bisa kabur dariku!”


“Makanya jangan marahi atau menghukum mereka. Oke Jaysen? Kamu mau kan mendengarkan ucapanku kali ini? Atau kamu masih saja keras kepala dan tidak mau mendengarkanku?”


Jaysen terdiam dan keheningan kembali hadir disaat pria itu tidak menjawab apapun. Para pelayan dan staff juga tidak ada yang berani bernapas terlalu keras.

__ADS_1


Semua orang yang berada diruangan itu merasa khawatir kalau mereka akan merusak momen langka ini. Seorang gadis yang berusaha merayu lelaki buta yang dikenal tak punya hati nurani dan kejam itu.


Dan tampak jika Jaysen seperti sedang bergelut dalam pikirannya untuk membuat keputusan yang mungkin tidak sesuai dengan karakternya selama ini.


Jaysen yang selama ini tidak pernah mendengarkan perkataan siapapun dan selalu mendapatkan apapun yang dia mau. Tapi saat ini dia dihadapkan pada tuntutan gadis yang dicintainya.


Sementara Ruben ayah Jaysen nampak terdiam membeku dalam keterkejutannya. Dia seolah tidak mempercayai apa yang dilihat dan didengarnya saat ini.


Sejak kapan Jaysen Avshallom itu bisa dibujuk seperti ini? Apa aku sedang bermimpi? Bisiknya berbalas senyuman penuh arti dengan istrinya Deanna yang juga memperhatikan interaksi putranya dan gadis itu.


Tangan Jaysen menelusuri wajah Emily, namun saat membelai pipinya dan mendengar suara gadis itu meringis menahan sakit, gerakan tangan Jaysen pun langsung terhenti.


“Baiklah! Aku nggak akan menghukum mereka.” ujarnya pelan, berhasil membuat Emily bernapas lega begitu juga semua orang diruangan itu. Tapi Jaysen kembali berkata lagi, “Tapi dengan satu syarat!”


Emily mengerjapkan matanya mendapatkan perasaan bahwa sekarang dia harus memasang sikap waspada seolah ada bahaya lain yang akan memerangkapnya.


“Apa syaratnya?” tanyanya dengan dada bergetar dan ada sedikit ketakutan hadir dihatinya.


Deg!


“Hah?” Emily terkejut dan membelalakkan matanya tak percaya dengan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Jaysen. Apa pria ini tidak punya pikiran lain selain pikiran kearah sana? Pikirnya tak mengerti dengan jalan pikiran Jaysen.


...*******...


“Apa ada hal lain yang anda butuhkan nona?” tanya seorang pelayan pada Emily.


“Iya, ada.”


“Kalau begitu silahkan katakan saja nona. Biar segera saya siapkan untuk anda.”


“Apakah ada sesuatu yang bisa membuatku menghilang dari tempat ini?”

__ADS_1


Tiga orang pelayan perempuan yang tadi membantu Emily membersihkan dirinya sekaligus merawat luka dan memarnya pun tersenyum dan menahan tawa mereka. Emily jelas sekali terkena serangan panik.


Wajah gadis itu sejak tadi memerah dan sikapnya juga gelisah. Bayangan kalau dia harus tidur dikamar Jaysen bersama pria itu sudah membuatnya merasa tak nyaman.


“Nona, cobalah bersikap tenang. Nona pasti akan baik-baik saja.” ujar salah satu pelayan memberikan Emily senyuman untuk menenangkannya.


“Benarkah? Apa kalian yakin itu? Kenapa justru aku yang merasa tidak yakin kalau aku akan baik-baik saja melewati malam ini bersama Jaysen? Pria itu sangat kejam dan dingin!” ujar Emily.


Ketiga pelayan perempuan itu saling bertukar senyuman lalu menganggukkan kepala mereka untuk menyakinkan Emily. “Iya benar nona. Siapa lagi yang bisa menaklukkan Tuan Muda kalau bukan nona? Iyakan? Selama ini hanya nona saja yang mau didengarkan oleh Tuan Muda.” ucap salah satu pelayan perempuan itu.


Lalu ketiga pelayan perempuan itupun tertawa bersama, rupanya perasaan mencekam yang baru saja mereka lalui kurang dari satu jam tadi sudah terlupakan sama sekali.


“Apa masih belum selesai?” suara bariton pria terdengar dan langsung membuat jantung Emily hampir meloncat keluar sewaktu mendengar nada dingin itu.


Sementara ketiga pelayan perempuan itu langsung menghentikan tawa mereka. “Sudah selesai Tuan Muda. Kami permisi sekarang.” jawab ketiga pelayan itu serempak dengan terburu-buru langsung meninggalkan tempat itu.


Ketiganya seolah ingin segera melarikan diri dari seorang iblis pencabut nyawa. Sebelum mereka keluar dari pintu ketiganya menoleh kearah Emily dan memberinya semangat.


Mereka menyemangatinya melalui tatapan mata dan anggukan penuh keyakinan pada Emily, ketiganya pelayan perempuan itupun langsung keluar dari kamar dan menutup pintu. Emily berdiri tepat ditempatya semula dan sama sekali tidak berani bahkan untuk sekedar berbalik sekalipun. Lagipula buat apa dia harus berbalik?


Toh tanpa melihatnya pun Emily sudah tahu siapa yang datang.


“Sayang……” bisik Jaysen melingkarkan tangan dipinggang Emily membuat gadis itu berjengit kaget. “Kenapa lama sekali bersiapnya?”


“I----itu----ituuuuu------” Emily tak sanggup berkata-kata dan dia menelan salivanya berulang kali.


Emily berusaha membujuk jantungnya agar berdetak lebih tenang. Dan baru saja gadis itumencoba mengatur napas, dia sudah kembali menegang karena Jaysen menyibakkan rambut Emily ke satu sisi. Lelaki buta itu lalu memluknya dari belakang dan menenggelamkan kepalanya ditengkuk gadis itu yang terlihat mulus dan beraroma manis.


“Jay----Jaysen---” bisik Emily menahan ******* karena sekarang jaysen menciym dan mengendusi lehernya yang jenjang dan mulus, “Apa yang----”


“Aku sangat suka aroma tubuhmu, sayang.” gumam Jaysen dengan suara tidak jelas. Sementara dia menggigit-gigit kecil dan mengendusi tengkuk Emily.

__ADS_1


__ADS_2