Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 88. KEMARAHAN JAYSEN


__ADS_3

Saat baru saja Gian dan semua orang merasa lega, namun tiba-tiba Jaysen mencengkeram keraj kemeja Gian dan membanting dokter muda itu dengan satu tangannya. Bahkan Argya pun tidak menyangka akan terjadi hal seperti itu karena tadi Gian masih berjalan dengan tenang di belakangnya.


Namun saat Gian melewati Jaysen, lelaki buta itu tiba-tiba saja menyerang Gian. Argya dan semua orang masih terpaku di tempat saking terkejutnya sewaktu Jaysen menyerang Gian Alkana.


Jaysen menerjang dan memukul dokter muda itu dengan pukulan demi pukulan. Lelaki buta itu memukuli Gian dengan membabi buta, tak memberi sedikitpun celah bagi lawan untuk membalasnya.


"Tuan Muda tolong hentikan!" seru Argya yang segera tersadar dari keterkejutannya. Dengan berhati-hati dia berusaha untuk memisahkan kedua orang yang sedang bergelut itu, "Tuan Muda Jaysen, saya mohon hentikan. Anda bisa membunuhnya!"


"Minggir Argya! Jangan ikut campur!" teriak Jaysen tanpa menghentikan pukulannya kearah Gian.


"Saya mohon Tuan Muda! Tuan bisa membunuh Gian kalau anda terus memukulinya seperti itu." ucapan Argya dianggap angin lalu saja oleh Jaysen yang dengan bengisnya menghajar Gian tanpa henti.


Keadaan mereka tidak seimbang karena Jaysen terus menerus melayangkan pukulan demi pukulan, sedangkan Gian hanya bisa menyilangkan tangan dan membungkukkan tubuh berusaha menghindar dan menangkis serta melindungi dirinya.


"Jaaysen, apa kau sudah gila? Kenapa kau memukuliku?" sela Gian ditengah usahanya untuk bertahan dari serangan Jaysen yang tanpa henti.


"Iya, aku memang sudah gila! Memangnya kenapa?" pekik Jaysen penuh amarah,


"Kenapa kau tiba-tiba memukuliku? Apa salahku Jaysen?" tanya Gian berusaha menghindari pukulan Jaysen.


"Apa salahmu katamu?"


Dengan memberanikan diri Argya pun akhirnya nekal merangkul Jaysen dari belakang lalu dia menarik Jaysen itu agar mundur dan menjauhi Gian yang sudah kesakitan.  Jaysen memberontak dan masih sempat melayangkan pukulan pada Gian dan satu tendangan kuat yang membuat dokter muda itu kembali tersungkur.


"Lepaskan aku Argya! Berani-beraninya kau menghalangiku." teriak Jaysen.

__ADS_1


"Anda bisa menghukumku setelah ini Tuan Muda. Tapi saya tidak bisa diam saja melihat anda menghajar dokter Gian seperti itu. Dia bisa tewas!"


"Memang itu niatku!" ujar Jaysen.


"Ingat Tuan Muda, tiga hari lagi anda akan menikah. Tolong jangan lupakan itu. Menurutlah Tuan Muda, bagaimana tanggapan Nona Eleanor nanti kalau dia sampai tahu tentang hal ini?" kata Argya berusaha menenangkan Jaysen.


Sekali lagi, mendengar nama kekasihnya membuat kemarahan Jaysen menyusut dengan cepat. Hal itu membuat Argya dan semua orang yang berada idsana menghela napas lega. Dalam hati para pengawal setia itu, mereka mencatat baik-baik bahwa dengan menggunakan nama Nona Eleanor saja sudah cukup efektif untuk mengendalikan kemarahan seorang Jaysen Avshallom.


"Kau benar-benar sudah gila Jaysen! Kau memukuliku hingga babak belur." geram Gian yang berdiri perlahan dengan dibantu oleh dua orang pelayan wanita.


Dengan mata yang memicing marah, dokter muda itu memandang jaysen. Wajahnya babak belur dan bibirnya robek dan berdarah bahkan hidungnya pun mimisan. Gian menyentuh dengan hati-hati dan berharap alat penciumannya itu tidak patah.


Ada rasa nyeri yang dia rasakan saat dia berusaha berdiri tegak membuat dokter muda itu kembali membungkuk sambil memegangi dadanya yang sakit. Apa tulang rusuknya ada yang patah? Hal seperti itu bisa saja terjadi mengingat betapa kuatnya Jaysen memukuli dan menendangnya tadi.


"Kau tahu kan kalau aku bisa menuntutmu karena memukuliku? Aku bisa memenjarakanmu dengan tuduhan penganiayaan!" seru Gian emosi, tapi dia segera mengeryitkan dahi menahan sakit.


Jaysen hanya tersenyum sinis mendengar perkataan Gian padanya. Lalu dengan penuh percaya diri, dia berkata, "Mau mengadukanku? Silahkan saja! Apa kau pikir aku takut, hah?"


"Aku akan sungguh-sungguh menuntutmu!" seru Gian emosi. "Lelaki gila sepertimu lebih pantas dikurung di penjara agar kau tahu bagaimana rasanya didalam sana."


"Oh ya? begitukah? Lalu bagaimana kalau aku yang menuntutmu?" Jaysen membalikkan pertanyaan pada Gian dengan santainya sambil menyeringai.


"Apa? Apa maksudmu mengadukanku? Atas tuntutan apa kau bisa menuntutku?" Gian menatap jaysen tidak mengerti.


"Bagaimana kalau menuntutmu atas pelecehan terhadap calon istriku?" ucap Jaysen mendengus.

__ADS_1


Seketika Gian menegang, meskipun hanya sekilas wajahnya nampak memucat. Dia menarik napas panjang dan meneguksalivanya beberapa kali. Dokter muda itu berusaha menenangkan dirinya dan mencoba mengatasi sakit di bagian kepalanya yang berdenyut.


"Apa maksudmu? Aku tidak melakukan apa yang kau tuduhkan!" ujar Gian.


"Gian, apa kau masih ingat apa ucapanku tadi sebelum ku izinkan untuk memeriksa calon istriku?" tanya Jaysen.


"Ap---apa sebenarnya yang-----" Gian mendadak tergagap tak tahu harus mengatakan apa.


"Jangan berani-berani menyentuhnya! Padahal aku sudah memperingatkanmu Gian! Tapi nyatanya kau masih berani menyentuh calon istriku!"


"Jayse, apa yang----"


"APA KAU KIRA HANYA KARENA AKU BUTA, AKU TIDAK AKAN TAHU KALAU KAU SUDAH MENYENTUH MILIKKU?" teriak Jaysen kencang hingga urat-urat di wajahnya muncul.


Gian tidak mampu untuk berkata-kata lagi dan wjahanya sangat pucat. 'Darimana Jaysen bisa tahu? Bukankah aku sudah membereskan semuanya tadi? Lagipula lelaki buta itu bahkan belum memasuki kamar tidurnya, darimana dia bisa tahu apa yang sudah kulakukan?' gumam hati Gian yang mulai ketakutan.


"Jangan asal menuduhku Jaysen!" balas Gian masih berkelit. Dia meenyadari jika nyawanya bisa lenyap dalam sekejap kalau Jaysen benar-benar berniat menghabisinya sekarang juga. "Jangan ngawur. Akkkkhhhh!"


Jaysen sudah mencekik Gian dan mendorongnya ke dinding, tidak peduli walau bagian belakang kepala Gian terbentur keras. Dia mencengkeram balik tangan Jaysen dan berusaha melepaskan tangan yang mencekiknya tapi usahanya sia-sia saja.


Jaysen bahkan semakin mengeratkan cengkeramannya membuat dokter muda itu memerah wajahnya dan megap-megap berusaha menarik udara masuk, dia hampir kehabisan napas.


Kali ini baik Argya maupun pelayan dan pengawal tidak ada lagi yang berani untuk melerainya. Sudah sangat jelas bahwa Tuan Muda mereka memiliki alasan kuat yang membuatnya semarah itu.


"Ada aroma Eleanor ditubuhmu! Brengsek!" bentak Jaysen, "Orang lain mungkin tidak tahu tapi aku tahu! Aromanya sangat pekat, seolah kau tidak hanya memeluknya saja tapi melakukan lebih dari itu."

__ADS_1


Mendengar perkataan Jaysen sontak membuat Gian tidak bisa berkutik lagi. Meskipun dia berusaha mengatur dan membereskan segalanya agar tidak meninggalkan jejak, tapi dia sama sekali tidak menyangka jika Jaysen bahkan bisa mengendus aroma setipis itu.


__ADS_2