
Evan menyalakan mobilnya, dia mengendarai Porsche miliknya dengan kecepatan tinggi. Sambil menghela napas dia memijat pangkal hidungnya dengan lelah.
Setidaknya mulai malam ini dia sudah bisa tidur nyenyak tanpa perlu merasa khawatir lagi. Sudah beberapa hari ini banyak pembunuhbayaran yang dikirimkan sepupunya setiap malam.
“Hanya gara-gara aku sedikit bermain dengan miliknya, dia sampai semarah itu,” gerutu Evan didalam hatinya yang menyimpan banyak sumpah serapah untuk sepupunya yang sangat baik hati.
“Dasar laki-laki iblis!” dia mencoba fokus menatap lurus kejalanan. Ingin segera sampai dirumahnya dan beristirahat dengan tenang setelah beberapa hari hidupnya tak tenang dan tidur pun tak nyenyak.
"Lagipula, wanita itu sudah selingkuh dengan pria lain. Apa hebatnya mempertahankan wanita tak berguna itu!" gerutunya. Tak henti-henti dia mengeluh atas sikap sepupunya.
...**********...
Sementara itu diwaktu yang sama, di salah sstu ruangan dirumah mewah keluarga Wisesa terlihat adanya pertengkaran.
“Diam saja dan lihat aku!”
“Ap—apa?” tanya Emily dengan suara terbata-bata.
Tidak terdengar jawaban dari lelaki buta itu tetapi Emily bisa melihat segaris senyuman diwajah tampannya. Tak ada yang bicara untuk beberapa saat, kedua orang itu sibuk dengan jalan pikirannya masing-masing.
“Eleanor Milena!” ujar lelaki buta itu dengan suara lirih dan menggoda. “Diam dan lihat aku, hm?”
Emily kesulitan menelan ludahnya meski tenggorokannya sudah terasa sangat kering. Dia diam terpaku dan tercengang dengan kelakuan gila Jaysen yang tiba-tiba melucuti pakaiannya satu-persatu.
“Hentikan Jaysen! Jangan teruskan. Untuk yang satu itu tolong jangan kamu lepaskan! Hentikan sampai disitu!” seru Emily cepat-cepat saat Jaysen hendak membuka pakaian terakhir yang menutupi asetnya. Wajah gadis itu sudah merah padam karena sekarang Jaysen hanya mengenakan boxer saja.
Lelaki buta itu seolah tak peduli dengan perkataan Emily. Dia berdiri disana dengan tubuh nyaris bugil.
Jaysen mengerutkan alisnya. “Memangnya kenapa? Kamu kan sudah sering melihatnya dan bermain-main dengannya. Kenapa kamu malu, hem? Ayolah Ele, jangan bersikap seolah kamu itu suci! Kamu selalu menyukainya dan selalu tak sabar untuk memainkannya, bukan? Berhentilah berpura-pura!”
Emily menggeram didalam hatinya dengan frustasi. Gadis itu merasa bingung harus dengan cara apalagi dia harus menyakinkan dan memberitahu semua orang dirumah ini bahwa dia bukan Eleanor Milena yang mereka cari? Dia sudah lelah dengan semua kegilaan ini dan dia menganggap semua orang dirumah mewah itu tak ada yang masuk akal.
__ADS_1
“Jaysen! Apa kamu selalu bersikap keras kepala seperti ini?” tanya Emily memasang wajah kesal.
Jaysen tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Emily. Ini pertama kalinya gadis itu melihat lelaki buta itu tertawa lepas. “Kalau kamu tertawa seperti itu, kamu baru terlihat seperti manusia.” ucapnya.
Sambil tersenyum, Jaysen menoleh kearahnya sehingga membuat gadis itu sekali lagi tertegun. Ternyata lelaki buta itu juga bisa memasang ekspresi wajah selembut ini. “Ele, kemarilah.”
Dia memanggilnya membuat Emily kembali tersadar dan merasa was-was.
“Ada apa?” dia mencoba bertanya dengan ketakutan.
“Kemarilah. Datanglah mendekat padaku.”ujar Jaysen.
“Kenapa aku harus mendekat kesana?” balas Emily dengan ketus.
“Jangan membantahku! Aku tidak suka. Ele, kemarilah mendekat.” ulang Jaysen lagi. “Jangan sampai aku kembali mengulang perkataanku.”
Meskipun dia merasa ketakutan jika lelaki buta itu akan melakukan sesuatu yang buruk lagi padanya tapi Emily berusaha menguatkan dirinya. Ada kengerian diwajah gadis itu. ‘Kenapa aku harus mendekatinya? Dia sekarang nyaris tidak berpakaian lagi?’ bisiknya didalam hati.
Emily menggigit bibirnya dan menekan rasa takutnya. Dengan langkah perlahan Emily mendekati lalu duduk disebelah Jaysen. “Su-sudah.” ujarnya dengan nada tercekat.
“Lebih dekat lagi. Kenapa kamu takut padaku?” ujar pria itu lagi ssmbil tersenyim puas.
Emily melemparkan pandangan mata bertanya. Mereka sudah sedekat itu, mau sedekat apa lagi?
“Duduklah dipangkuanku.” perintah Jaysen lagi. Dia menepuk-nepuk pahanya sebagai isyarat.
“Apa? Apa kamu bilang barusan?” tanya Emily ulang. ‘Dasar pria gila!’gerutunya dalam hati.
“Jangan takut. Aku tidak akan macam-macam padamu.” ucapnya berusaha menyakinkan Emily.
Emily memandangnya dengan penuh keraguan. Menuruti ucapan Jaysen sama seperti memeprcayai seekor serigala yang tidak akan menerkam amngsanya didepannya. Mungkin itu? Jawabannya tentu saja tidak! Setelah tinggal bersamanya dalam satu rumah selama beberapa hari, Emily mulai mengetahui sifat pria itu.
__ADS_1
“Kamu tidak mempercayaiku?” tanya lelaki buta itu sambil tersenyum tipis, dengan senyum diwajah tampannya dia terlihat seperti malaikat tanpa dosa. “Kalau kamu tidak percaya, ikat saja tanganku.” ujarnya lalu mengulurkan kedua tangannya kedepan.
“Apa?”
“Tanganku. Ambil sabuk yang tadi kulepaskan lalu ikat tanganku, Ele.”
Otak Emily masih kesulitan untuk berpikir, entah apakah informasi yang didengarnya barusan ini terlalu sulit untuk dicerna atau memang otaknya menjadi berkarat seketika?
“Seperti ini Ele!” Jaysen mengangkat tangannya lebig tinggi sedikit lalu menyatukannya. “Ikat aku seperti ini. Tenang saja, aku tidak akan melawan kok.”
Emily menyugar rambutnya dan menggeram frustasi. Dia benar-benar bisa gila kalau terus-terusan begini. Gadis itu rasanya sudah putus asa untuk bisa memahami lelaki buta dihadapannya ini.
Kadang jaysen bersikap sangat kasar, lalu berubah lembut, kemudian berubah lagi bersijap seenaknya sendiri dan sekarang, ini? Kenapa dia tiba-tiba menelanjangi dirinya lalu meminta Emily agar mengikat tangannya? Lelaki buta ini memang sulit untuk dipahami!
Rasanya dia sudah putus asa untuk bisa memahami lelaki buta dihadapannya ini. ‘Dia ini kenapa sih?’ keluh Emily merana. Seumur hidupnya dia belum pernah sebingung ini menghadapi orang. Baginya Jaysen tak ubahnya seperti puzzle yang selalu berubah dan tidak bisa ditebak.
“Ele, ayolah! Kalau kamu mengikat tanganjy kan kamu nggak perlu khawatir kalau aku berbuat macam-macam padamu. Bagaimana? Hem?”
“Bagaimana kalau aku pergi saja dari sini?” tawar Emily, dia merasa lebih aman kalau dia bisa menyingkir sejauh mungkin dari lelaki yang tidak ada bedanya dengan serigala yang siap menerkam mangsanya kapan saja dia mau.
Gadis itu sudah beringsut menajuh sampai kemudian terdengar suara geraman yang membuatnya bergidik. “Ele! Apa aku sudah mengijinkanmu untuk menjauh?” ujar pria itu dengan nada dingin.
“Apa?” tanya Emily dengan menaikkan intonasi suaranya, “Apa maumu?”
“Perintahku sangat jelas Ele! Mendekatlah padaku, bukan menjauh!” Jaysen sudah tidak bicara lembut lagi. Nada suaranya mulai meninggi.
“Katakan padaku kenapa aku harus menurutimu, hah?” bantah Emily seketika berdiri dan melangkah mundur dua langkah. Dia tak ingin menuruti lelaki buta itu lagi. Toh dia tidak ada urusan dengannya.
“Karena kamu milikku! Kamu tidak boleh membantahku dan hanya menurutiku saja.” jawab Jaysen.
__ADS_1