Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 75. MAKAN SIANG


__ADS_3

Gian tertawa, “Bukankah tadi Nyonya Wisesa juga sudah mengijinkanku agar mengantarkanmu pulang?” Gian maksudkan adalah saat tadi tiba-tiba saja Deanna menerima telepon dan harus segera pergi.


Entah ada masalah apa tapi yang jelas perempuan itu terlihat terburu-buru. Dia sempat meminta agar Emily tetap tinggal ditempat Sabrina sambil menunggu mobil jemputan lainnya.


Tapi saat itu juga Gian melihat kesempatan lalu menawarkan bantuan untuk mengantarkan Emily. Toh dia juga sebenarnya sudah berencana akan datang kekediaman Wisesa hari ini. Tentu saja Deanna langsung mengijinkan dan setuju, padahal sebelumnya Sabrina sudah sangat senang karena menyangka punya waktu lebih lama bersama Emily.


“Tapi dok----”


“Gian…..panggil saja Gian. Tidak perlu merasa sungkan.” ucap dokter muda itu.


“Hah?” Emily melongo mendengarnya.


“Iya, panggil aku Gian saja.”


Emily terdiam beberapa saat lalu dia pun mengangguk, “Iya, baiklahGian. Tapi apa benar tidak akan terjadi masalah nanti?”


“Kalau yang kamu maksudkan adalah tawaran makan siang bersamaku, bagaimana kalau kita diam dan anggap saja ini sebagai rahasia kita bersama? Lagipula apa kamu nggak bosan ya setiap hari berada didalam rumah itu terus? Tidak menikmati suasana diluar sana?”


Emily menggangguk, dia sendiri tidak bisa memungkiri kejenuhan yang dirasakannya sekarang.


Sementara itu Gian terus saja tersenyum. Dokter muda itu berkali-kali melirik Emily sedangkan gadis itu fokus mengamati jalanan didepannya.


‘Tunggu saja Ele! Aku akan membebaskanmu dari perangkap lelaki iblis itu. Setelah itu kita akan bisa bersama dan bahagia bersama selamanya. Tidak akan ada penghalang lagi diantara kita.’ bisik Gian sambil mengulum senyumannya.


Emily sedikit kaget saat dokter muda itu menyentuh dan menyibakkan rambutnya. Wajahnya memerah karena lagi-lagi Gian memandangnya dengan lekat. Emily menarik napas berusaha menenangkan degup jantungnya. Berduaan dengan dokter muda itu sepertinya gadis manapun akan berdebar apalagi dokter itu berwajah tampan.


Namun tiba-tiba tubuh Emily menegang, dia teringat Jaysen dan membuat perasaan berdebarnya tadi seketika menghilang entah kemana. Kini digantikan dengan rasa cemas bercampur takut.

__ADS_1


Apa Jaysen benar-benar nggak akan mengetahui soal itu? Bagaimana kalau lelaki itu akhirnya mengetahuinya? Apa yang akan terjadi pada Emily? Bagaimana Emily akan menghadapinya?


Emily mulai memikirkan bagaimana reaksi Jayse sehingga membuatnya ingin segera melompat keluar dari mobil itu. Perasaan gadis itu tidak enak, sepertinya tanpa sadar dia sudah terlibat dalam masalah baru.


Namun disisi lain dia juga merasa sungkan untuk menolak ajakan makan siang dokter Gian. Padahal dokter muda itu sudah begitu baik sampai mau repot mengantarkannya.


“Bagaimana ini?” gumam hatinya. Emily benar-benar berharap semoga Jaysen tidak mengetahui soal itu. ‘Aduh…..ini bisa gawat nanti kalau sampai ketahuan.’ keluh Emily sambil menghela napas berat.


Pikirannya pun ikut kacau dan suasana hatinya berubah menjadi buruk. Dia sudah tidak senyaman saat awal dia naik ke mobil Gian. Kini yang ada hanyalah kekhawatiran.


Tak berapa lama mereka pun tiba direstoran yang dikatakan Gian tadi. Pria itu merasa sangat bahagia hari ini dan belum pernah dia merasa sebahagia ini.


“Coba yang ini Ele, grilled calamari disini lumayan enak loh rasanya.” kata Gian tersenyum. “Ini cobain lasagna-nya, risottonya juga jangan lupa dimakan juga.”


“Ele, apa wagyu steaknya sesuai dengan seleramu? Aku tadi memesannya dengan tingkat kematangan medium well.” lagi-lagi Gian begitu bersemangat bicara dan bertanya pada Emily yang masih dikiranya sebagai Eleanor itu.


Sedangkan Emily hanya menjawab dengan anggukan kepala saja. Dia sibuk mengunyah makanannya tanpa terlalu mempedulikan ucapan Gian.


“Darimana kamu tahu kalau aku suka makanan Italia?” tanyanya sambil menyantap lasagna dalam potongan besar. Dia benar-benar menikmati makanan yang sudah lama tidak dia makan.


“Hanya sekedar menebak saja.” jawab Gian tersenyum simpul. Lalu dia mengulurkan tangan dan mengusap sisa saus disudut bibir Emily. Tindakan Gian itu membuat gadis itu terkejut dan merona sekaligus merasa takut.


Ditambah lagi, bukannya mengelap jarinya yang kotor terkena saus, tapi Gian malah menjilat dan mengulum jarinya sampai bersih.


“Enak,” gumamnya lalu menatap Emily dengan lekat. “Aku suka sekali,”


Emily merasa sedikit tidak nyaman dengan tindakan pria itu, dia tersedak seketika mendengar perkataan Gian. Namun dia buru-buru mengambil tisu dan membersihkan mulutnya lalu minum.

__ADS_1


“Ele? Kenapa kamu?” Gian bergegas mendekat duduk disbeelah gadis itu sambil menepuk-nepuk pundaknya dengan hati-hati.


“Ini, coba minum sedikit lagi. Pelan-pelan saja minumnya supaya tidak tersedak.”


“Nggak apa-apa kok.” Emily menolak dengan halus masih sedikit terbatuk. Dia masih belum menyadari posisi duduk Gian yang sangat dekat dengannya bahkan mereka nyaris seperti sedang berpelukan. “Teri----”


DEG!


Dia mendongak dan jantungnya seketika melonjak sewaktu melihat betapa dekatnya Gian dengannya. Aroma tubuh dokter muda itupun bisa dihirupnya.


Campuran antara citrus dan aqua yang segar. Dahi Emily berkerut saat dia mencium aroma lain dari tubuh Gian. Entah aroma apa itu, rasanya manis tapi semakin lama dihirup semakin memabukkan membuat darah Emily seolah tersirap ke kepalanya. Kenapa sekarang dia merasa deg-degan begini ya? Dia menjadi gelisah dan dengan wajah merona dia berpaling.


Emily berusaha menjaga jaraknya dari Gian, menarik napas berkali-kali dan mencoba menetralkan jantungnya yang semakin berdebar kencang. “Ngg----Gian. Aku sudah nggak apa-apa kok. Bisa minggir sedikit tidak?” Emily memperbaiki posisi duduknya berusaha untuk kembali fokus dengan sisa makanan didepannya.


Gadis itu juga berkali-kali meneguk air minum dan entah mengapa dia semakin merasa gelisah. Gian tersenyum dan bahkan dengan sengaja mengambil kesempatan membelai pipi Emily sekilas lalu kembali meneruskan makannya. Namun bukannya kembali ketempat duduknya yang semula, dokter muda itu malah tetap duduk disebelah Emily.


Hal itu membuat Emily jadi salah tingkah.


“Mau tambah lagi?” tawar Gian berlagak seolah tidak menyadari sikap Emily yang tidak nyaman dan semakin mendekat kearah gadis itu dengan dalih menawarkan makanan.


“Ada banyak pilihan pizza disini juga loh. Kamu pasti suka, aku jamin itu karena semua makanan disini terbaik!”


“Nggak usah. Terima kasih.” Emily menolak dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Gian, boleh kah kita segera pulang saja? Aku sudah kenyang dan perutku sedikit tidak nyaman.”


“Kenapa? Masih banyak sisa makanannya, kita belum menghabiskannya. Kita juga belum mencoba menu yang lain kan? Mau aku beri obat untuk perutmu?”


“Itu-----kalau sampai Jaysen tahu…..” Emily menunduk meremas ujung roknya.

__ADS_1


“Memangnya dia bisa tahu darimana? Dia tidak akan tahu kalau kita tidak memberitahunya.”


“Bisa saja kan, ibu ehm----maksudku Nyonya Deanna menelepon lalu memberitahu kalau aku pulang bersamamu. Kamu tahu akan seperti apa jadinya nanti.”


__ADS_2