Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 61. PANGGIL AKU IBU


__ADS_3

Bukankah ini semua tidak adil? Rasanya dia nyaris gila atas semua hal yang terjadi yang terpaksa dia terima dan alami karena dikira sebagai Eleanor. Dia diculik sesaat setelah dia tiba di Indonesia, nyaris diperkosa beberapa kali, mengalami kekerasan fisik dan bahkan sampai terpaksa menerima pernikahan sebagai jaminan untuk kebebasan ayahnya.


 


Emily menundukkan wajahnya yang terlihat muram. Namun menit berikutnya dia menarik napas panjang menyandarkan diri dan berusaha memaksakan sikap tenangnya. “Lalu saya harus memanggil apa?” tanya Emily, tercabik antara rasa gugup dan bimbang. Sedangkan Deanna yang diajukan pertanyaan seperti itu oleh Emily, tidak langsung merespon.


 


Dia menatap heran pada gadis bernetra abu itu. Dulu dia tanpa sengaja bertemu dengan Eleanor dan gadis itu secara lugas memanggil Deanna dengan namanya tanpa embel-embel ‘Ibu’ atau ‘Nyonya’ atau apapun. Deanna masih ingat bahwa saat itu dia sempat merasa sedikit tersinggung karena sikap Eleanor yang tidak menghormatinya sebagai orang yang lebih tua.


 


Malah munkgin sejak itulah Deanna mulai merasa tidak suka pada Eleanor Milena mulai tumbuh. Namun sekarang, kenapa gadis itu bersikap seolah segan dengannya?


“Biasanya kamu langsung memanggil namaku kan?” tanya Deanna dengan terus terang.dia bisa melihat ekspresi kaget gadis bersurai coklat madu itu saat mendengarnya.


 


“Eh? Sa----saya?” dahi Emily berkerut, mencoba mengaduk-aduk ingatan kapan dia berlaku tidak sopan seperti itu. Namun gadis itu lalu tersadar bahwa yang Deanna maksud pastilah Eleanor, bukan dirinya. Emily menghela napas memandang Deanna dengan raut wajah menyesal. “Maaf.” ujarnya.


“Saya sungguh-sungguh minta maaaf, Nyonya. Nyonya pasti merasa sangat tersinggung waktu itu tapi yang memanggil Nyonya seperti itu adalah El---”


 


“Oke! Cukup. Hentikan.” potong Deanna mengibaskan sebelah tangannya sambil menahan geli. Wajah gadis yang tengah meminta maaf padanya itu terlihat memerah seperti menahan tangis.


“Aku tidak sedang memarahimu, jadi jangan memasang wajah seperti itu.”


“Eh? Iya?” Emily mengerjap-ngerjapkan matanya tidak paham melihat Deanna yang sekarang sedang tertawa kecil sambil menatapnya.


“Oh Tuhan. Apa kamu tahu bagaimana ekspresi wajahmu barusan?” kekehnya seraya menepuk-nepuk lengan Emily. “Aku jadi teringat ekspresi wajah Jaysen waktu kecil dulu kalau ada yang merebut es krim atau permennya.”


Emily terdiam berusaha mencerna ucapan Deanna. Jaysen yang pemaksa, sering marah-marah tidak jelas dan yang sering kali terlihat seram bagi Emily…..Jaysen yang seperti itu pernah mempunyai tampang lucu?


 


Emily menggelengkan kepalanya berusaha menjernihkan pikiran bahkan sekedar membayangkan saja sudah terasa sangat tidak masuk diakal bagi gadis itu. Pasti sewaktu masih kecilpun Jaysen itu pasti menyebalkan sekali, pikirnya.


“Ya ya aku tahu. Pasti terdengar sangat tidak masuk akal bukan? Jaysen yang sekarang memang ya….begitulah. Bahkan batupun masih kurang keras bila dibandingkan dengannya. Tapi percayalah dulu dia juga pernah imut, lucu dan menggemaskan.”


 


Emily merasa semakin bingung harus berkomentar apa. Sepanjang perjalanan tadi mereka salign diam dalam suasana canggung, tapi sekarang Deanna malah asyik bercerita tentang masa kecil Jaysen.


Jelas sekali bahwa perempuan itu sangat menyayangi putra semata wayangnya itu. Tanpa menyadarinya, sepasang mata abu itu pun mendadak muram.

__ADS_1


 


Anda saja Emily juga bisa merasakan kasih sayang sebesaar itu dari kedua orang tuanya tapi nyatanya tidak. Toh sejak dulu yang paling diperhatikan dan disayang oleh kedua orangtuanya adalah Eleanor. Meski mereka kembali sekalipun, tapi Emily selalu merasa kehadirannya seolah tidak kasat mata.


“Kalau kamu lihat bagaimana wajah Jaysen waktu itu, pasti kamu juga akan sependapat denganku dan menganggap sangat luc---”


 


Deanna berhenti bicara, wajahnya yang tadi ceria seketika terkejut. “Nak?” panggilnya dengan nada bingung. “Kenapa kamu menangis? Apa ada kata-kataku yang salah?”


“Hah?” Emily tergagap mendengarnya. Menangis? Apa dia menangis?


“Maaf.” ujarnya buru-buru menghapis airmatanya yang entah mengapa keluar. “Sa----saya tidak bermaksud…..Ti---tidak perlu repot. Terima kasih. Maafkan saya.”


 


Deanna terpaku, sebelah tangannya terdiam dipangkuan menggenggam sapu tangan yang tadi ditolak oleh Emily. Dalam hatinya bertanya-tanya tapi entah mengapa dia tahu bahwa ini bukan waktu yang tepat.


Didalam hatinya Deanna muncul kegundahan yang dia tidak mengerti, dia melirik gadis itu berulang kali. Beberapa kali pula dia membuka mulutnya lalu menutupnya kembali seakan kesulitan menemukan kata-kata.


Sekali lagi keheningan yang canggung kembali hadir. Mereka saling berdiam diri sampai kemudian mobil mercedes benz berwarna putrih itu memasuki sebuah pelataran pusat perbelanjaan. “Kita sudah sampai nyonya.” ujar sang supir membukakan pintu untuk Deanna.


“Ayo kita masuk.” Deanna sudah dua langkah didepan Emily sementara gadis itu masih berdiri diam mengamati sekitarnya.


 


“Ayo!” ajak Deanna lagi sambil menari tangan Emily lalu menggandengnya membuat gadis itu sedikit canggung. “Cepatlah jalannya.”


 


“Maaf.” jawab Emily singkat.


“Apa kamu tidak bisa mengatakan hal lain selain maaf?”


“Iya, baik nyonya.”


Deanna menghela napas lalu menghentikan langkahnya. “Ibu.”


 


“Hah apa?”


“Panggil aku ibu! Jangan panggil aku nyonya lagi. Paham?”


Deanna mengerjapkan matanya, dia bisa melihat bagaimana sepasang mata berwarna abu itu memandangnya bingung. “Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Ayo kita belanja.” desah perempuan itu karena Emily masih saja diam.

__ADS_1


 


“Seharian ini kita akan belanja, makan makanan enak dan melakukan perawatan di salon. Oke?”


Emily tersenyum lalu mengangguk. Ada perasaan hangat yang sekarang dia rasakan didalam hatinya membuat senyumnya semakin mengembang. Dia memandang Deanna dengan suara yang lirih dia pun menjawab. “Iya, ibu.”


 


Ada senyuman yang terus diulas Emily. Gadis cantik bermata abu itu untuk pertama kalinya setelah sekian lama, akhirnya sekarang bisa tersenyum dan terlihat sangat senang.


“Bagaimana kalau yang ini? Menurut ibu warnanya sangat cocok kalau kamu pakai.” Deanna menyodorkan satu baju bergaya empire line berwarna mint kepada Emily. Meski ditangan gadis itu sudah ada setumpuk baju yang tadi Deanna pilihkan dan minta agar Emily coba satu persatu.


“Ah, jangan lupa yang ini juga.” imbuh Deanna.


 


Kali ini dia menyordorkan atasan bergaya ruffled top berwarna peach. “Oh blouse ini juga sangat cantik. Jangan lupa untuk mencobanya juga ya.”


Karena mulai merasa kewalahan dengan banyaknya baju yang disodorkan Deanna.


Akhirnya Emily pun bersuara. “Sepertinya ini sudah terlalu banyak Nyo---” ucapannya terputus saat Emily melihat Deanna memberinya tatapan peringatan.


 


“Ehm….maksud----maksudku, bu.”


“Sayang, kamu harus memanggilku apa?” Deanna menyilangkan tangannya seraya bertanya dengan nada menuntut. “Panggil aku apa, sayang?”


“Ehh? Ehm…..ibu.” Emily menelan salivanya masih merasa bingung dan canggung, belum terbiasa dengan perubahan sikap Deanna padanya.


 


“Lagi…..coba panggillagi.” pinta Deanna yang terlihat senang.


“Ibu...”


Deanna tersenyum, jelas terlihat kalau dia menyukai bagaimana Emily memanggilnya sekarang.


“Jangan terlalu memikirkan hal-hal yang tidak perlu.” ujar Deanna melambaikan tangannya memanggil beberapa staf butik yang langsung menghampiri.


 


“Bantu bawakan baju-baju yang akan eh----calon menantuku coba.” ujar Deanna berdeham beberapa kali karena menyadari kalau dia pun masih canggung untuk menyebut gadis yang dia kira Eleanor itu dengan panggilan ‘calon menantu’.


Bagaimanapun sosok Eleanor selama ini terlanjur melekat dalam pikiran perempuan itu sulit untuk dilupakan sepenuhnya.

__ADS_1


__ADS_2