Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 57. DIA TIDAK PANTAS


__ADS_3

Sabrina Saab meletakkan kembali cangkir tehnya sambil menyunggingkan senyum cantik. “Tidak usah terlalu dipikirkan Nyonya.” sahut desainer cantik itu dengan tawa yang merdu. “Aku bisa memaklumi kalau dua orang yang sedang dilanda cinta bisa sampai lupa diri seperti itu.”


 


“Eh?” Deanna kebingungan dengan respon Sabrina Saab yang terlihat tidak mempermasalahkannya sama sekali. “Jadi anda tidak, ehm….tersinggung? Karena, sejujurnya saa agak merasa eh….malu.” ujar Deanna dengan suara yang terdengar semakin lirih. Wajah perempuan itu juga tampak memerah saat dia teringat kembali dengan kejadian sewaktu fitting baju pengantin.


 


“Bagamana mereka bisa menemui tamu dengan penampilan seperti itu?” keluh perempuan yang masih terlihat sangat cantik di usia lima puluh tahun itu. “Yang satu bertelanjang dada sementara yang satunya hanya memakai rok dan kemeja milik Jaysen.”


 


Deanna bahkan merasa ngeri saat melihat banyaknya bercak merah yang terlihat di kulit bersih Emily, dia menghela napas berkali-kali dan berusaha sedikit mengurangi rasa malu dan marahnya. Tanpa perlu dijelaskan sekalipun, semua orang yang melihat bagaimana penampilan Jaysen dan Emily pasti akan berpikir kalau mereka baru saja selesai bercinta.


 


“Padahal Jaysen jelas tahu bahwa saya dan suamiku juga anda sudah datang tapi dia bahkan membuat kita menunggu selama satu jam lebih. Mereka berani datang dengan penampilan seperti itu.”


“Nyonya Avshalom.” sela Sabrina menggenggam sebelah tangan Deanna yang terkepal diatas meja, “Tenanglah. Seperti yang sudah saya katakan tadi bahwa saya tidak merasa tersinggung sama sekali. Jadi….ya tidak ada masalah bukan?”


 


Deanna tersenyum dan menghela napas lega balas menggenggam balik tangan Sabrina dan berkata, “Anda benar-benar orang yang berhati luas Nyonya Sabrina.” puji Deanna seraya tersenyum lebar,


“Oh, jangan menilai saya setinggi itu. Lebih tepatnya yang membuat saya melupakan segala hal yang tidak semestinya itu adalah karena pertemuan saya dengan Artemis.”


 


“Artemis? Siapa itu?” tanya Deanna dengan dahi berkerut.


“Haha….maafkan saya.” Sabrian tertawa merdu.


“Yang saya maksud adalah kekasih putra anda atau dengan kata lain adalah calon menantu anda. Gadis cantik bernetra abu-abu itu.”


Deanna sejenak terdiam mendengar perkataan Sabrina seakan memerlukan waktu baginya untuk mengingat siapa calon menantunya.


 


“Eleanor maksud anda? Eleanor Milena?” tanya Deanna ingin memastikan.


“Ah, entahlah siapa namanya.” Sabrina mengibaskan tangan sambil lalu seolah nama gadis itu sama sekali bukan hal yang penting.


“Bagi saya, dia adalah perwujudan Artemis.” jawab Sabrina Saab sembari tersenyum manis.


“Dewi Bulan dalam mitologi Yunani itu?” tanya Deanna lagi seraya mengerjapkan matanya.

__ADS_1


 


“Iya. Ah Nyonya….anda pasti sependapat dengan saya bukan kalau calon menantu anda itu sangat anggun?” Sabrina meminum sedikit tehnya yang sudah mulai dingin.


Alis Deanna bertaut, anggun…..jelas bukan kata yang tepat untuk menggambarkan sosok seorang Eleanor Milena.


 


“Ma---maksud anda anggun bagaimana?” tanya Deanna.


Dengan tertawa merdu, Sabrina mengibaskan rambutnya dan menjawab, “Ya Tuhan, ternyata anda bisa juga bercanda ya Nyonya. Saya kira kalau anda ini orang yang serius.”


Deanna terdiam, dia memang tidak mengenal sosok Eleanor Milena. Perempuan itu hanya tahu kalau Eleanor adalah seorang model cantik yang belakangan ini dekat dengan putranya.


 


Awalnya Deanna tidak terlalu menghiraukannya karena dia yakin bahwa hubungan keduanya tidak akan berlangsung lama. Toh selama ini juga Jaysen sudah terbiasa berganti pasangan layaknya mengganti pakaian.


Tidak pernah ada satu orang gadis pun yang dianggap serius oleh putranya itu namun nyatanya hubungan Eleanor Milena dan putranya bisa bertahan selama dua tahun.


 


Setidaknya sampai Eleanor ketahuan selingkuh dan memilih kabur dengan kekasih gelapnya itu.


 


Namun kemudian dia tertegun, kali ini dia teringat dengan sosok gadis berwajah cantik yang serupa tapi dengan sepasang mata berwarna abu dan rambut coklat madu.


“Masa sih? Hanya karena warna mata dan rambut yang berbeda bisa membuat pembawaan seseorang jadi ikut berubah?” Deanna merenung dan memikirkan semua kemungkinan.


 


Deanna menggelengkan kepalanya lalu dia pun menjauhkan pikirannya yang tidak masuk diakal. “Seperti dua orang yang berbeda saja. Bagaimana mungkin ya?” dia merasa sedikit bingung.


“Apa yang sedang anda pikirkan sampai seserius itu Nyonya?” tanya Sabrina Saab terdengar lembut.


“Oh, ah tidak apa-apa. Jadi, apa maksud Nyonya Sabrina dengan Artemis tadi?” tanya Deanna sambil meminum tehnya untuk mengurangi rasa gugup.


 


“Oh itu.” Sabrina memperbaiki sikap duduknya sembari memandang Deanna. “Nyonya, apakah anda tahu bagaimana gambaran Dewi Artemis itu?” tanya Sabrina sambil tersenyum tipis.


Merasa bahwa kepalanya kosong bila harus dipaksa mengingat soal mitologi yang kekanak-kanakan, Deanna pun langsung menggelengkan kepalanya.


 

__ADS_1


“Dewi Artemis adalah Dewi Bulan dan Dewi Perburuan! Simbol dari kecantikan sekaligus kekuatan.” Sabrina berkata sambil menyandarkan tubuhnya.


“Apakah anda melihat warna matanya yang abu-abu? Mata abunya itu seperti warna sinar bulan di malam hari. Lalu rambut coklatnya yang sewarna madu itu bagai pepohonan di hutan. Ditambah lagi wajah cantiknya yang terlihat alami.”


 


Deanna lalu membuka lalu menutup mulutnya kembali. Dia kesulitan untuk mencari kata untuk berkomentar. Tidak bisa dia pungkiri kalau Sabrina Saab sangat menyukai gadis bernama asli Emily itu tapi bukankah itu hal yang wajar saja? Sebab penampilan gadis itu memang nyaris sempurna. Namun bukan itu yang ingin Deanna ketahui.


“Lalu menurut anda, bagaimana dengan, ehm….kepribadian ca----” Deanna berdeham sekali seolah ada sesuatu yang mengganjal ditenggorokannya membuatnya sulit bicara.


“Calon menantu saya itu?” lanjutnya cepat-cepat seakan ingin menyelesaikan sesuatu yang sama sekali tidak dia sukai.


 


“Bagaimana maksud anda?” tanya Sabrina mengeryitkan keningnya.


“Ah, maksud saya apakah gadis itu cukup baik untuk menjadi pendamping putra saya?” tanya Deanna.


Ada perubahan ekspresi diwajah Sabrina tapi desainer cantik itu segera menutupi dengan seulas senyum cantiknya yang khas.


 


“Bolehkah saya bicara jujur mengenai satu hal pada anda, Nyonya?” tanya Sabrina kali ini dengan nada tenang dan tegas. Matanya menatap Deanna dengan serius dan mengerjapkan matanya sekali.


“Iya silahkan.” Deanna menggangguk dalam hati. Perempuan berusia paruh baya itu bertanya-tanya tentang apa yang kira-kira akan Sabrina katakan.


 


Sabrina menyibakkan rambut keemasannya dan memasang senyuman diwajahnya. Dia memandang Deanna lurus, dengan nada pasti, perempuan bermata biru itu berkata, “Saya sangat berharap putra anda bisa melepaskan Artemis dan tidak perlu ada pernikahan yang terjadi.”


“Apa?” Deanna menelan ludah tidak mempercayai pendengarannya. “Nyonya Sabrina, apa maksudnya? Apakah gadis itu tidak layak untuk putraku?” tanya Deanna dengan ekspresi serius.


 


Bukan hanya tidak layak tapi memang sangat tidak layak.” ujar Sabrina dengan santainya menyesap tehnya dengan santai dan melirik Deanna.


Perempuan cantik itu lalu mengangkat tangan dan memanggil pelayan untuk meminta dihidangkan teh hangat lagi. Pembicaraan mereka rupanya berlangsung lebih lama sampai teh yang dihidangkan pun menjadi dingin.


 


Sabrina mengamati Deanna dari sudut matanya, nampak wanita paruh baya itu terlihat diam. “Jadi bagaimana Nyonya Deanna? Apakah anda bersedia untuk mengusulkan pembatalan pernikahan itu?” tanya Sabrina lagi dengan wajah penuh senyuman.


DEG!


Flashback off

__ADS_1


__ADS_2