
‘Bagaimana mungkin gadis penggoda, angkuh dan tidak tahu sopan santun itu bisa berubah jadi semanis ini sih?’ gumam hati Deanna mengamati Emily yang sekarang dikerumuni beberapa staf butik. Sekilas pandangan mereka bertemu dan Deanna merasakan desiran aneh didalam hatinya saat Emily tersenyum dan mengangguk kecil.
‘Oh ya ampun! Lupakan saja. Gadis semanis ini belum tentu jaysen bisa menemukannya lagi. Lagipula gadis mana yang bisa tahan dengan kelakuan dan sifat putraku yang seperti tembok baja itu?’
Ada tayangan iklan yang disiarkan di videotron pusat perbelanjaan dari dalam butik Deanna bisa melihat beragam gaun mewah dan anggun yang dikenakan para gadis cantik yang berseliweran dilayar berukuran raksasa itu. Diakhir tayangan terdapat huruf S dengan bentuk ikonik yang memenuhi layar menyusul sosok seorang perempuan cantik berambut keemasan dan bermata biru cemerlang.
“Sabrina Saab.” gumam Deanna saat Sabrina tersenyum dan melambai dari dalam layar videotron. “Artemis apanya? Gadis itu calon menantuku bukan Artemismu.’ gerutu Deanna yang lupa bahwa masih belum lama berselang sejak dia masih merasa tidak menyukai Emily dan hendak memintanya untuk membatalkan pernikahan. Tapi sekarang pikirannya tiba-tiba berubah ingin mempertahankan Emily.
“Pantas saja dia berusaha keras untuk mempengaruhiku agar membatalkan pernikahan Jaysen. Pasti itu alasannya, dia bermaksud menjodohkan calon menantuku dengan keponakannya.” gerutu Deanna. Dia mengunyah perlahan biskuit greentea yang disajikan oleh pemilik butik. Deanna mencoba mengingat-ingat sosok keponakan Sabrina Saab.
Dia lalu menggulirkan layar ponselnya mengamati berbagai foto dan artikel yang muncul dari pencariannya. “Mike Barallio.” gumamnya mengamati foto lelaki berusia sepantaran dengan Jaysen tapi dengan penampilan yang bisa dikatakan jauh berbeda. Jaysen memiliki rambut dan mata hitam kelam segelap malam hari yang tidak dihiasi bintang.
Sedangkan Mike Barallio memiliki warna mata sebiru langit yang cerah dan rambut pirang keemasan bagai sinar matahari pagi. Keduanya sama-sama tampan. Dibeberapa foto Mike yang bertelanjang dada yang dia temukan, Deanna bisa melihat otot tubuh dan perut sixpack lelaki atletis itu. Bahkan dimata perempuan paruh baya itupun sosok Mike Barallio terlihat begitu menggoda dan seksi.
“Calon menantuku jelas tidak boleh bertemu dengan lelaki ini.” putusnya seketika langsung menutup dan menghapus sejarah pencarian dari laman ponselnya. “Dibandingkan dengan Jaysen yang seperti pangeran kegelapan, Mike Barallio jelas lebih bersinar seperti pangeran dari negeri dongeng. Bagaimana kalau calon menantuku malah jatuh hati padanya nanti? Ini benar-benar gawat!”
__ADS_1
Emily keluar dari ruang ganti dengan mengenakan atasan berpotongan peplum berwarna abu muda dan dipadukan dengan A-Line skirt dengan warna krem pastel, Deanna benar-benar kehilangan kata-kata menatap gadis cantik itu. “Artemis!” gumamnya terpesona dan dia lupa bahwa tadi dia masih menggerutukan sebutan atas nama itu.”Ya Tuhan, cantiknya.”
“Jaysen.” lanjutnya dengan nada geram, “Kalau sampai calon menantuku ini lepas akan benar-benar kutendang pantat anak itu.” geramnya. Setelah sekian waktu mencoba banyak pakaian dan membayar semuanya. Deanna mengajak Emily untuk pergi ke restoran dan disinilah mereka sekarang. Suara gemericik air kolam buatan yang ada ditengah restoran terdengar merdu dan menenangkan.
Saat ini Emily duduk sambil menopang adgunya dengan kedua mata tertutup dan bibir mengulum senyum sementara Deanna sedang pergi ke toilet. Kaki gadis itu lumayan pegal karena seharian Deanna menyeretnya kesana kemari nyaris tanpa henti. Deanna membeli begitu banyak barang untuk Emily, semua barang bagus yang dilihatnya langsung dibeli.
Dari beli pakaian, mereka pun tadi memasuki beberapa butik tas branded dan lagi-lagi Deanna memborong begitu banyak tas model terbaru untuk Emily. Membuat gadis itu menatap geri tumpukan tas belanja dan kotak bingkisan. ‘Nyo---ah maksud saya ibu.” ujarnya saat tadi mereka sudah memborong tas dari butik terkenal.
Emily membuka matanya sebentar dan mendapati kalau Deanna belum kembali dari toilet, diapun kembali memejamkan matanya. “Apa beliau sama sekali nggak merasa capek ya dari tadi? Tenaganya seperti nggak ada habis-habisnya. Fuuuhhh! Dia belanja seperti nggak mikir hari esok, semuanya yang dilihatnya bagus langsung dibeli. Hmm…..seberapa kaya sebenarnya mereka itu?”
Emily menyelonjorkan kakinya dan bersandar santai di sofa restoran tempat mereka makan sembari menunggu kedatangan Deanna. Setelah sebulan lebih dikurung didalam rumah, acara berbelanja kali ini lumayan membuatnya lelah. Meski begitu, ada ekspresi bahagia diwajah cantik Emily. Pergi berbelanja seperti ini membuat gadis itu kembali merindukan Maya, ibu angkatnya.
__ADS_1
Biasanya sekali sebulan mereka pasti akan keluar berbelanja berdua untuk membeli kebutuhan sehari-hari selama sebulan kedepan. Itu sudah seperti acara bulanan mereka yang selalu dinanti-nantikan Emily. Meski setelah berbelanja mereka hanya akan mampir ke kafe kecil atau salah satu restoran fast food untuk sekedar mengisi perut sebelum pulang.
Tapi Emily sangat menyukai momen kebersamaan yang biasa dia habiskan bersama Maya. Dahinya sedikit berkerut sewaktu Emily menyadari bahwa dia belum pernah sekalipun berbelanja dengan ibu kandungnya. Mungkin pernah dulu sewaktu Emily masih kecil tapi gadis itu tetap tidak mengingat satupun kenangan masa kecilnya bersama ibu kandungnya.
Namun bukankah itu adalah hal yang wajar kalau sampai Emily tidak bisa mengingat betul masa-masa kebersamaan dengan ibu kandungnya sendiri? Sejak usia tujuh tahun dia sudah diasuh Maya dan dibawa ke New York. Sejak saat itulah Emily jarang sekali bertemu dengan kedua orang tua kandungnya apalagi Eleanor?
Mereka bahkan tidak pernah bertemu, berhubungan lewat telepon pun hanya sekedarnya saja dan biasanya mereka tidak banyak bicara karena tidak dekat satu sama lain. “Bagaimana kabar ayah dan ibu sekarang ya? Kalau saja Jaysen mengijinkanku menghubungi mereka sesekali.” keluh Emily dengan perasaan sedih.
“Apakah ayah baik-baik saja setelah dibebaskan dari penjara? Bagaimana kabar ibu? Pasti ibu bingung sekali dengan semua kejadian ini. Lalu Eleanor dimana dia sekarang berada? Apa dia baik-baik saja? Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang telah dilakukan Eleanor sehingga membuat Jaysen begitu marah dan dendam padanya?”
Wajah Emily pun langsung berubah muram. Lebih dari sekali gadis itu berpikir andai saja dia tidak pulang ke Indonesia pasti dia tidak akan terlibat dengan semua hal yang memusingkan ini. “Pasti aku bisa menghabiskan waktu liburan semester ini bersama John dan Amber seperti biasanya.”
Emily menghela napas berat berusaha mengatasi rasa nelangsa didalam hatinya. John, bagaimana ya kabar kekasihnya itu sekarang? Bagaimana nanti dia akan menjelaskan kalau sebentar lagi dia akan menikah dan itu pernikahan terpaksa? Apakah John akan mengerti situasinya?
__ADS_1
“Apakah kelak aku masih bisa bersama John lagi? Syukurlah ada Amber disana, setidaknya aku bisa sedikit tenang kalau John nggak akan melupakanku dan selingkuh.” dia terdiam sejenak dan raut wajahnya semakin keruh. Selingkuh? Lalu apa yang dilakukannya bersama Jaysen selama ini apa namanya kalau bukan selingkuh?