Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 84. JANGAN MENYENTUHNYA!


__ADS_3

"YANG JADI MASALAH SELAMA INI ADALAH KAMU!" bentak Jaysen yang tidak bisa menahan diri lagi. Tubuhnya gemetar, kedua tangannya mengepal erat dan rahang lelaki buta itu terlihat menggertak. "JANGAN PERNAH MENYENTUHNYA GIAN!"


"Tapi bukan aku yang menyentuhnya duluan Jaysen!" balas Gian dengan sikap tenang seolah tak berdosa, "Eleanor sendiri yang menghamburkan diri memelukku. Kalau tidak percaya tanyakan saja pada Argya!"


Jaysen menggeram dengan suara mengerikan, nafsu membunuh lelaki buta itu begitu besar dan menguarkan hawa dingin yang menyeramkan membuat orang disekitarnya merasa ketakutan. Dengan sangat hati-hati Argya menepuk pundak lelaki itu dengan pelan dan berbisik padanya.


"Tuan muda, tenangkan diri anda. Nona bisa ketakutan kalau melihat anda marah seperti ini."


"Eleanor." gumam Jaysen dan kemarahannya segera menyusut hanya dalam hitungan detik. Dia tidak mau jika wanitanya itu ketakutan dan nanti malah menolaknya. Karena itulah akhir-akhir ini Jaysen bahkan jarang sekali marah-marah.


Padahal dulu lelaki itu adalah orang yang tidak mengenal kata ampun. Selalu ada hukuman untuk setiap kesalahan yang dilakukan, tidak peduli sekecil apapun itu, disengaja ataupun tidak. Entah apakah pelayan yang tidak sengaja menjatuhkan sendok atau hanya terlambat satu menit mengantarkan hidangannya.


Atau bahkan bila ada yang lancang berbicara tanpa seijinnya dulu. Tidak ada yang bisa luput dari hukuman Jaysen. Bisa dibilang kalau dimata para pelayan, pegawai dan pengawal jika Jaysen tidak ubahnya bagai jelmaan si raja iblis.


Namun semuanya kini berubah sejak kehadiran Emily. Sekarang bagi mereka bahwa Jaysen sudah menjadi majikan yang jauh lebih baik. Mungkin memang belum sebaik orang lain pada umumnya tapi mereka cukup merasa bersyukur dengan perubahannya.


Dan satu-satunya alasan kenapa Jaysen berubah adalah karena Emily. Gadis yang menjadi sangat berubah sejak dibawa secara paksa kerumah ini. Gadis yang awalnya mereka anggap secara tak acuh tapi nyatanya malah berani membela mereka.


Gadis yang kini berada dalam pelukan dokter muda yang tampan itu yang selama ini mereka dengan sebagai orang yang baik, ramah dan hangat. Namun tidak begitu penilaian Jaysen tentang dokter muda itu.


"Sialan!" umpat Jaysen. Dia menghela napas berat dan masih berusaha menahan kemarahannya. Dia bahkan tidak menyaksikan langsung apa yang sebenarnya terjadi saja sudah membuatnya nyaris kehilangan kendali diri. Apalagi kalau dia bisa melihat?


"Yang ada, bisa-bisa si brengsek itu sudah kubunuh duluan! Cih!" desisnya pelan tak didengar oleh siapapun.


"Ele!" panggil Jaysen sambil mengulurkan tangan meminta dan dengan nada memohon dalam suaranya, "Eleanor kemarilah, sayang."


Ada keheningan yang terasa berat memenuhi ruangan itu. Namun Gian dengan cepat segera menyela.

__ADS_1


"Aku harus segera memeriksanya Jaysen! Dia sedang sakit, dan jika tidak segera diobati bisa saja kondisinya menjadi memburuk." ujarnya menoleh kepada Argya dan kembali berkata, "Kamar mana yang bisa kugunakan untuk memeriksanya?"


"Kamarku!" tukas Jaysen semakin tidak sanggup menahan emosinya. Tangannya yang tadi terjulur kini terkepal erat. Didalam hatinya dia sangat mengutuk dokter muda yang dibencinya itu.


"Bukankah sebaiknya aku memeriksanya dikamar Eleanor saja?" kata Gian memberi alasan.


"Eleanor tidur dikamarku. Selama ini kami sudah tidur bersana, Gian!" ucap Jaysen dengan nada puas didalam suaranya.


Mendengar perkataan Jaysen barusan membuat Gian marah, meskipun sekilas namun diwajah kalem dokter muda itu sempat terlihat mengeras. Pelukannya dibahu Emily pun semakin mengencang seolah dia ingin melindungi dan membawa gadis itu pergi dari sana.


Dia bertekad tidak akan melepaskan gadis itu, apapun resikonya dia siap melakukan apapun untuk mendapatkan gadis impiannya.


"Oh begitu ya? Baiklah kalau begitu apa sekarang kami bisa ke kamarmu?" ujar Gian dengan suara tercekat.


"Kami?" Jaysen mengeryitkan keningnya dengan nada tak senang.


"Aku harus memeriksanya Jaysen! Apa kamu lupa kenapa kamu memanggilku kesini? Bukankah karena Eleanor sedang sakit?"


"Silahkan ikuti saya dokter. Ke sebelah sini. Saya harap dokter tidak keberatan jika ada pelayan yang membantu selama anda memeriksa Nona Eleanor." uajr Argya dengan sigap mengarahkan.


Dia sengaja mengatakan dengan maksud sopan tapi yang Argya maksudkan dengan 'membantu' adalah mengawasi. Tidak perlu ditanya pengawal sekelas Argya pasti sudah menyadari ada kejanggalan disana, meskipun dia sendiri belum berhasil menemukan bukti dan faktanya.


"Tentu saja. Saya tidak keberatan sama sekali. Justru saya merasa sangat berterima kasih." balas Gian dengan senyuman khasnya yang ramah. Tidak cukup sampai disitu, dia juga mengangguk kecil kearah pelayan perempuan yang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Maaf sudah merepotkan kalian." ucapnya pada pelayan perempuan yang dengan sungkan membalas dengan anggukan dan senyuman hormat.


"Apa nggak bisa kalau kamu cepat memeriksanya dan cepat pergi dari sini?" sergah Jaysen dengan suara menggeram kesal membuat para pelayan wanita yang tadinya ingin membalas keramahan dokter muda itu seketika terdiam dan menunduk. "Tidak perlu terlalu banyak basi-basi Gian!"

__ADS_1


Menanggapi sikap Jaysen yang seperti sudah ingin membunuhnya membuat dokter muda itu hanya bisa bersikap setenang mungkin dan tetap memasang wajah kalem dengan senyuman ramahnya seolah dia tidak terpengaruh sedikitpun.


"Baiklah. Kami akan pergi ke kamarmu." ujar Gian dengan santai. Tanpa merasa bersalah sedikitpun dia malah menggendong Emily yang masih saja tenggelam dalam pelukannya.


Saat ini seolah ada banyak pisau yang ditusukkan ke dadanya bertubi-tubi. Jaysen merasakan sesak napas dan dadanya yang sakit, bahkan untuk menarik napas saja dia merasa sulit. Membayangkan bahwa gadisnya kini berada didalam pelukan laki-laki lain nyaris membuat lelaki buta itu meraung frustasi.


Dia tidak rela! Dia sangat tidak rela jika ada pria lain yang menyentuh gadisnya!


"Ele....." panggilnya lagi saat Gian berjalan melewatinya, "Sayang.....


Jaysen sangat mengharapkan kalau gadis itu akan menjawab panggilannya, seperti yang selama ini Emily lakukan padanya. Tak peduli setakut apapun Emily padanya, gadis itu selalu menghampirinya setiap kali Jaysen memanggilnya.


Meskipun dengan tubuh gemetaran ketakutan atau sikap enggan sekalipun, Emily selalu menjawab panggilannya. Namun sekarang kenyataannya berbeda. Dan hal ini membuat Jaysen seolah menelan empedu, terasa sangat pahit.


Tidak ada respon dari gadis itu meskipun dia sudah memanggilnya berulang kali. Rupanya, pelukan Gian sudah terlalu menenggelamkan Emily dalam rasa nyaman.


Jaysen menundukkan kepala dan mengepalkan kedua tangannya erat-erat, tidak ada lagi yang bisa Jaysen lakukan selain membiarkan Gian membawa pergi Emily.


"Argya!"


"Ya Tuan muda." Argya segera mendekat.


"Awasi mereka! Cari tahu kenapa tiba-tiba Eleanor bersikap seperti itu." ucapnya berbisik pada Argya. Dia merasakan sangat sakit didalam hatinya.


Tanpa memberi perintahpun sebenarnya Argya sudah memutar otaknya untuk menemukan akar permasalahan mengenai perubahan sikap Emily. Namun memahami situasi yang ada Argya hanya menjawab, "Baik Tuan muda. Perinta akan saya laksanakan dengan baik."


Setelah menunduk hormat, kepala pengawal kepercayaan Jaysen itu segera mengikuti Gian yang pergi membawa Emily. Didalam hatinya Argya bertekad untuk segera menemukan akar masalah yang ada sekarang.

__ADS_1


"Padahal selama ini beliau nyaris tidak pernah menunjukkan perasaannya." gumamnya berbisik pada diri sendiri. "Baru kali ini aku melihat ekspresi Tuan Muda yang seperti itu. Sepertinya hatinya sangat terluka."


Sambil mengerutkan dahi dan menghela napas, Argya mempercepat langkahnya. Didalam hati dia menyadari satu hal, bahwa tembok baja yang selama ini begitu dingin dan kokoh itu sekarang perlahan-lahan goyah.


__ADS_2