
Emily merasa kalau dia merasa bingung sekali, kadang dia meras dilambungkan setinggi langit dengan perlakuan lembut dan penuh kasih sayang Jaysen tapi dia lalu dihempaskan dengan sangat kuat tanpa peringatan apapun. Itu membuatnya selalu merasa waspada dan tidak mempercayai Jaysen sedikitpun karena lelaki buta itu membuatnya seperti naik roller coaster.
“Aku mulai hitung ya sayang…...sepuluh….sembilan…..delapan….tujuh…..Sayang siap-siap ya aku datang. Kamu tidak bisa bersembunyi dariku! Aku pasti akan menemukanmu, sayang.”
DEG!
‘Waduh gimana ini?’ gumamnya dalam hati seraya mengeluarkan kepalanya dari bawah meja melirik kearah pintu yang tertutup rapat. Emily tidak tahu apakah pintu itu terkunci atau tidak.
Andai pintu itu terkunci maka Jaysen akan dengan mudah menangkapnya tapi jika pintu itu tidak terkunci ada kemungkinan dia bisa lari dari sana tapi pengawal pasti sedang berjaga-jaga diluar.
Dia bak makan buah simalakama. Situasinya terjepit dan tidak ada jalan keluar dari sana, dia hanya bisa menunggu sampai Jaysen menemukannya dan entah apa yang akan dilakukan lelaki buta itu padanya nanti.
Sementara itu di kediaman utama Wisesa. Tampak Deana Wisesa melangkah keluar dari rumah.
“Nyonya, apakah anda ingin keluar hari ini?”
Deanna termangu mendapati supir pribadinya menyapanya, dia terdiam sejenak karena hatinya yang berkecamuk dan dipenuhi oleh keraguan.
Didalam hatinya ada rasa tidak percaya diri yang begitu besar namun disisi lain, juga ada rasa keingintahuan yang merongrong perempuan paruh baya itu. Mungkinkah? Namun mungkinkah itu hal yang tidak masuk akal sama sekali? Tapi bagaimana jika memang benar adanya? Ah, sepertinya itu hanya salah paham saja bukan? Tapi benarkah?
Bagaimana kalau selama ini dia hanya salah mengira saja? Deanna berdecak merasa kesal sendiri dengan kemelut yang sedang dia hadapi. Dia merasa kebingungan sambil menarik napas dalam-dalam, dia pun memantapkan niatnya untuk melanjutkan rencananya. Memang dia sudah tidak ada pilihan lain yang lebih baik selain memastikannya sendiri.
Ya, meskipun untuk melakukan itu Deanna harus mau sedikit repot tapi ya mau gimana lagi?
“Jarwo! Antarkan aku ke kediaman keluarga Wisesa!”
“Heh? Kekediaman Tuan Muda?” tanya sang supir untuk memastikan ulang.
Deanna menjawab dengan menganggukkan kepalanya, “Iya. Kerumah Jaysen!”
“Baiklah. Silahkan masuk Nyonya.” ujarnya, lalu dia membukakan pintu mobil untuk majikannya itu. Tidak lama, mobil sedan Mercedez Benz berwarna putih berkilat itupun melaju dengan mulus. Mobil mewah keluaran terbatas itu keluar dari gerbang dan meninggalkan kediaman Wisesa yang mewah membelah jalanan siang hari yang lumayan padat.
__ADS_1
Sementara itu di kediaman Jaysen nampak Emily yang cemberut sambil mengerucutkan bibirnya. Wajah gadis itu nampak muram sekaligus kesal.
“Masih marah?” tanya Jaysen memangku gadis itu. Kedua lengannya melingkar dipinggang Emily seolah ingin menegaskan bahwa dia tidak akan membiarkan gadis bersurai coklat itu lepas begitu saja.
“Kenapa kamu diam saja sayang? Katakan sesuatu”
“Kamu curang Jay! Kamu pakai pura-pura jatuh segala.” Emily memukul lengan Jaysen dengan kesal. Gadis itu masih terus saja menggerutu soal perbuatan Jaysen tadi. Sebelumnya Emily memang bersembunyi karena ketakutan dengan Jaysen.
Tiba-tiba saja lelaki buta itu emosi sehingga membuat Emily ketakutan, meskipun lelaki itu terus saja memanggilnya namun Emily tetap bersembunyi dan menutup mulutnya bahkan untuk bernapas saja dia berusaha menahan agar tidak kedengaran oleh Jaysen. Sampai akhirnya Jaysen terjatuh dan ada suara benturan yang terdengar keras.
Hal itu membuat Emily spontan menjerit dan berlari mendekat untuk menolong lelaki buta itu namun ternyata Jaysen hanya berpura-pura agar Emily keluar dari persembunyiannya.
“Kamu itu kenapa sih pura-pura harus jatuh seperti itu?”
“Memangnya kenapa sayang?”
“Memangnya kenapa katamu? Lihat dahimu! Gara-gara kamu pura-pura jatuh malah jadinya terbentur meja kan? Puas kamu menyakiti dirimu sendiri, hah?” bentak Emily yang terlihat sangat emosi.
“Kamu khawatir ya? Sepertinya nggak mung---”
“Ya! Tentu saja khawatir! Kalau kamu mati kan aku yang jadi tersangka utama?” jawab Emily.
Sepasang alis Jaysen sedikit bertaut sewaktu mendengar perkataan Emily sementara Emily terlihat serius merawat luka lelaki itu.
“Aku ini bukan perawatmu! Jadi tolong usahakan jangan terluka lagi. Memangnya kamu pikir semua bekas luka ditubuhmu itu masih kurang banya? Masih mau nambah lagi buat koleksi gitu?” Emily masih saja terus mengomel tak henti melampiaskan semua kekesalannya.
Wajah Emily semakin cemberut, gadis itu teringat dengan banyaknya guratan bekas luka di tubuh Jaysen. Entah bekas luka sebanyak itu darimana dia mendapatkannya, dia sama sekali tidak bisa membayangkan.
“Apa kamu khawatir?” bisik Jaysen dengan lirih, tubuhnya menegang seolah cemas akan jawaban yang akan dia terima dari gadis itu.
Emily mendengus kesal lalu menempelkan plester di luka dengan tenaga lebih kuat karena kesal.
“Apa kepalamu terbentur sangat keras? Sampai-sampai kamu menanyakan hal sekonyol itu padaku?”
__ADS_1
“Jadi apa itu maksudnya iya? Kamu benar-benar mengkhawatirkan aku kan?”
Emily menghela napas putus asa dan saat ini dimatanya Jaysen terlihat seperti anak kecil yang sedang merajuk minta dibelikan balon. “Kamu ini benar-benar aneh ya.” keluhnya.
Tapi karena Jaysen tetap memasang sikap menunggu, akhirnya gadis itu terpaksa menjawab. “Iya aku khawatir.”
“Lalu kenapa tadi kamu pergi dan bersembunyi?”
“Apa?”
“Kenapa tadi kamu nggak datang bahkan setelah aku memanggilmu berulang kali? Apa kamu berniat melarikan diri dariku ya?” tanya Jaysen.
Emily menelan ludahnya dengan gugup, jawabannya memang iya. Tentu saja dia ingin melarikan diri karena melihat kemarahan Jaysen membuatnya ketakutan.
“Sayang? Kenapa kamu malah diam saja? Hm?”
“Makanya jangan marah-marah! Aku tuh paling nggak suka sama laki-laki yang emosian dan gampang marah! Aku paling benci!” gumam Emily sangat lirih sambil memeprmainkan ujung roknya dengan gelisah dan cemas.
“Apa aku membuatmu takut?” tanya Jaysen lagi.
“Iya.” jawab Emily singkat sambil menahan napas.
Akhirnya ketegangan didalam diri Jaysen pun mengendur setelah mendengar jawaban Emily. Lelaki buta itu mengelus pipi Emily dengan sebelah tangannya lalu turun ke rahang lalu berhenti di kalung yang dipakai oleh gadis itu.
“Aku nggak suka ini. Aku nggak suka kamu pakai barang pemberian orang lain.” bisik Jaysen.
“Kenapa?”
“Karena itu bukan pemberianku! Ini diberikan oleh orang lain, bukan aku. Aku nggak suka kalau ada barang orang lain yang menempel ditubuhmu dan kamu pakai seperti ini. Aku tidak suka itu!”
Emily mengerjap-ngerjapkan matanya berusaha memastikan bahwa dia tidak salah dengar. “Memangnya kenapa? Inikan hanya kalung?” tanya Emily yang mengalami kesulitan untuk memahami pria itu. Dia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran lelaki buta yang sedang memangkunya itu.
“Karena kamu milikku! Jadi semua yang kamu miliki dan pakai semuanya harus dariku. Tidak boleh dari pemberian orang lain. Kamu paham kan sayang?” kedua tangan Jaysen menangkup wajah Emily dan merabanya membuat gadis itu memejamkan matanya.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti, Jaysen menyibakkan rambut coklat gadis itu, kedua tangan lelaki buta itu menyusup ke belakang leher Emily dan membelainya. “Makanya, ini aku ambil dan akan kugantikan yang baru.” bisik Jaysen masih sempat menggigit daun telinga kiri gadis itu membuat wajah Emily merona merah.