
Sampai sekarang bagian intimnya masih terasa nyeri bahkan bila Mimi hanya bergeral sedikit saja rasa sakit itu menyerangnya. Bukan itu saja, punggungnya juga terasa pegal dan kaku membuat gadis itu berjalan tertaih-tatih seperti orang lanjut usia.
“Ada apa bik?” tanyanya setelah membuka pintu kamarnya dengan susah payah.
Dia membuat bahasa isyarat bicara dengan sebelah tangan sementara tangan lainnya mengurut punggung. “Kenapa bibi belum pulang?”
“Non, tolong pergi ke ruang depan.” jawab bibi Janni, dia langsung menarik Mimi agar berjalan mengikutinya membuat gadis itu kembali meringis menahan nyeri.
“Tuan Dokter sudah pulang.”
DEG!
Seketika itu juga langkah kakinya terhenti.
“Nona? Kenapa berhenti? Ayo ikut bibi.”
“Kakak sudah pulang?” Mimi menggerakkan tangannya, terlihat sedikit pucat.
“Iya Non. Tuan Dokter sudah pulang tapi ada yang aneh dengannya.”
“Kakak kenapa?”
“Sebaiknya nona lihat sendiri. Tuan dokter pulang langsung mengamuk marah-marah dan membanting barang-barang diruang depan. Bibik jadi takut, non.”
Mendengar apa yang dikatakan bibi Janni membuat Mimi bergegas berlari untuk menemui kakak tirinya itu. Semua rasa sakit yang mendera tubuhnya sama sekali tidak dihiraukannya.
Gadis itu sangat khawatir dengan apa yang kemungkinan terjadi pada kakak tirinya. Kenapa Gian yang biasanya tenang dan sabar sekarang tiba-tiba mengamuk begitu?
Mimi tercekat saat dia masuk keruangan yang semula indah dan elegan tertata rapi dengan perabotan mewah itu kini terlihat benar-benar kacau.
__ADS_1
Hiasan-hiasan kaca yang biasanya tertata apik, sekarang pecah berantakan di lantai. Begitu pun dengan vas berisi bunga segar yang biasanya Mimi tata dan rawat semuanya hancur berantakan.
Gadis itu terpaku ditempatnya, mengamati semua kekacauan yang ada dihadapannya. Sementara si pelaku yang tak lain adalah Gian sekarang tengah terbarung diatas karpet dengan kedua kakinya dan tangannya yang terentang. Apa Gian pingsan?
“Nona, maaf ya. Ini sudah lewat jam kerja saya. Apakah saya bisa pulang sekarang, non?” bisik bibi Janni takut-takut. “kalau nona membutuhkan bantuan saya untuk merapikan dan membersihkan tempat ini besok, saya tidak keberatan. Tapi sekarang saya harus segera pulang.”
Mimi menjawab dengan anggukan. Gadis itu bisa membayangkan bahwa tadi sewaktu bibi Janni hendak pulang malah ada Gian di balik pintu dan kakak tirinya itu langsung mengamuk tak jelas membuat wanita itu ketakutan. Jadi dia bisa mengerti dan memahami ketakutan yang dirasakan perempuan paruh baya itu.
“Silahkan bibi pulang saja. Saya mohon maaf atas kelakuan kakak saya. Tolong jangan dimasukkan ke hati dan jangan sampai ada orang lain yang tahu perihal ini.”
“Iya...iya...tentu saja nona. Mana mungkin saya berani menyebarkan berita soal keluarga Elkana.” angguk perempuan baya itu berkali-kali.
Sudah lima tahun lebih dia bekerja di kediaman ini dan dia sudah tahu betul siapa keluarga itu. “Kalau begitu saya permisi dulu, non.”
Tanpa menunggu lama, bibi Janni segera pergi. Rupanya dia sangat ketakutan karena pertama kalinya melihat Gian bersikap seperti ini.
Apakah dia harus memanggil penjaga rumah diluar agar bisa membantunya? Dengan berhati-hati, gadis itu berusaha tidak menginjak pecahan kaca sewaktu dia berjalan mendekati Gian.
Namun naas, kaki kirinya tanpa sengaja menginjak pecahan kaca dan terluka membuat gadis itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh disebelah Gian.
Mimi meringis sewaktu mencabut pecahan kecilkaca yang tertancap di telapak kaki kirinya. Dia baru saja meraih tisu yang tergeletak tidak jauh lalu menekan lukanya agar darah tidak semakin banyak keluar.
Tiba-tiba Gian meraih pinggangnya dan menarik gadis itu berbaring disebelahnya. “Ele, kamu disini,” bisik Gian dengan nada mesara. Mengelus rambut dan pipi Mimi. “Apa akhirnya kamu kabur dari lelaki iblis itu dan datang mencariku Ele? Tenang saja ya, keluarga Elkana mampu untuk melindungimu. Aku janji akan menjagamu.”
Mimi gemetar ketakutan. Bau alkohol menguar kuat dari Gian, sudah jelas kalau dokter muda itu sedang dalam keadaan mabuk. “Jangan takut Ele, kamu aman disini.” ujar Gian lagi.
Lalu menarik Mimi kedalam pelukannya dan mengelus-elus punggung gadis itu yang seketika menegang. “Tenanglah. Ada aku disini bersamamu.”
Dulu, bagi mimi pelukan Gian adalah tempat teraman baginya. Tapi sekarang gadis berusia delapan belas tahun itu malah ketakutan dan mulai terisak saking ketakutannya. “Sssstttt…..sssttttt Ele sayang jangan menangis. Sudah ya….jangan takut. Ada aku disini.”
__ADS_1
Bukannya berhenti menangis, justru air mata Mimi semakin deras sewaktu Gian mulai menciumi wajahnya. Sentuhan tangan dokter muda itu juga mulai liar merambah kedalam baju yang dikenakan gadis itu. “Eleanor...sayangku. Milikku!”
Mimi menggelengkan kepalanya dengan panik sewaktu Gian menarik kasar piyama yang dia kenakan membuat kancing-kancingnya terhempas tidak karuan. Rupanya dokter muda itu sudah tidak sabar kalau ahrus membuka satu persatu kancing piyama itu.
“Cantiknya.” Gian mendesis memandang kulit mulus dan sesuatu yang menarik matanya. Dia melihat banyaknya bercak merah hasil perbuatannya semalam. “Ini milikku Ele.”
Mimi berusaha mendorong Gian, tapi percuma karena tenaga pria itu sangat kuat sedangkan kondisi Mimi saat ini sedang lemah akibat sakit.
Kepala gadis itu mendongakdan mulutnya terbuka kala Gian melahap bagian dadanya tanpa bisa Mimi menolaknya. Tubuhnya meremang merasakan kenikmatan yang diberikan oleh kakak tirinya itu.
Pengaruh mabuk membuat Gian semakin menggila dan liar menjelajah sekujur tubuh gadis itu yang masih dikiranya adalah Eleanor.
“Enak Ele?” bisiknya menyemburkan udara hangat di telinga Mimi sehingga membuat gadis itu semakin meremang. “Kmau cepat sekali basahnya. Bukankah itu berarti kamu memang menginginkanku, Ele? Apa kamu menyukaiku juga Ele? Kalau tidak, mana mungkin kamu sekarang ada disini bersamaku, iyakan?”
Mimi menggeleng dan menangis tapi tidak ada yang bisa dia lakukan sewaktu Gian melepaskan semua pakaiannya. Tubuhnya menggeliat karena nikmat hubungan terlarang itu.
Bibirnya mendesis dan melenguh tanpa sadar kalau mereka sudah melakukan penyatuan. Ini salah! Mimi tahu ini salah! Kakak tirinya sedang dalam keadaan mabuk dan tidak sadar.
Jadi seharusnya diatidak mengambil keuntungan dari kondisi sekarang ini. Seharusnya dia menyadarkan kakakctirinya atas perbuatan yang dia lakukan padanya.
Namun kenikmatan yang dialaminya sekarang begitu membutakan dan membuat akal sehatnya hilang. Kalau tadi Mimi menolak perlakuan Gian, sekarang gadis itu bahkan mengarahkan Gian.
Tidak ada yang bisa dilakukan Mimi selain mengikuti dan menikmati permainan gila kakak tirinya itu. “Ele….Ele…..Ele…..akhh….akhhh1” racau Gian bergerak semakin liar. Keadaan kacau disekitarnya tak mengganggu kegiatan mereka. Baik Gian maupun Mimi sama saja, keduanya larut dalam gairah masing-masing. “Eleanor kamu milikku! Milikku!”
Mimi sudah menegang beberapa kali tapi Gian sepertinya masih enggan untuk berhenti. Hingga akhirnya Gian mendapatkan kembali pelepasannya untuk kesekian kalinya.
Rasa hangat yang diterima Mimi membuat gadis itu mendapatkan kembali pelepasannya. Kedua orang itu saling berpelukan merasakan nikmat yang mereka reguk.
...*****...
__ADS_1