
Di kamar Selly
"Aku tidak bisa mencintai Adam, tidak bisa. Aku masih tidak terima Devan menikah dengan Sisi. Semua itu gara-gara Mesa, seharusnya aku bersama Devan."
"Mesa, kenapa kamu di lahirkan di dunia ini. Kamulah perusak dalam hidupku."
"Arggggg......" Selly membanting semua barang-barang make upnya yang ada di atas meja riasnya sampai berantakan di lantai. Hampir saja kacanya mau di tonjok dengan tangannya, tapi itu di urungkan. Selly menatap dirinya sendiri dalam pantulan kacanya, dengan wajah yang muram sekali, ia tersenyum licik.
"Kamu harus mati Mesa! Kamu harus mati." Selly mengepalkan kedua tangannya.
"Dan orang-orang sekitarmu juga harus mati, termasuk Sisi. Kalian wanita-wanita yang tidak tahu diri, seharusnya aku bahagia. Seharusnya aku hidup enak, kaya raya dan aku bisa bersama Devan. Tapi semua ini aarrgggg....." Selly menggeprak-geprakkan meja riasnya tidak terima atas nasip hidupnya yang malang ini.
Tok....
.....Tok
Tok.....
"Sell, kamu jangan macam-macam di dalam ya!" teriak mamah Wulan
"Tidak mah, tenang saja aku masih hidup." sahut Selly di dalam kamar tanpa membuka pintu kamarnya.
"Bagus. Kalau begitu mamah mau pergi dulu, ngurus gugatan cerai mamah kepada Wisma yang sudah tidak berguna itu. Mending mamah cari yang lain, kaya raya yang bisa menghidupi kita."
"Terserah mamah! Pergi saja, aku ingin sendiri."
Tanpa pikir panjang mamah Wulan pergi dari depan pintu kamar Selly, yang penting Selly masih bisa menjawab, mamah Wulan lega kalau Selly tidak kenapa-kenapa di dalam. Apa lagi dalam hidup Wulan hanya Selly yang ia punya.
...*****...
Kantor polisi (Penjara)
Wisma dan Wulan duduk di kursinya masing-masing yang berhadapan, Wisma sangat senang sekali akhirnya Wulan datang untuk menjenguknya. Tapi Wisma bertanya-tanya, Selly kenapa tidak ikut bersama Wulan untuk menjenguknya juga.
"Syukurlah kamu datang, aku merindukanmu dan Selly juga."
"Sudahlah, Selly tidak akan pernah datang untukmu." balas kecut Wulan
"Apa maksudmu mah!"
Wulan pun mengeluarkan selembar kertas dari tasnya dan di berikan ke Wisma.
"Ini apa?"
"Buka saja."
Wisma pun membuka selembar kertas yang berisi gugatan cerai Wulan kepada Wisma.
"Ini, ini... apa maksudmu?" Mata Wisma melotot tidak mempercayai tulisan yang di bacanya.
"Aku mau kita pisah."
"Kenapa? Bukannya kamu mencintaiku dan menerimaku apa adanya. Dan kamu akan menungguku keluar dari penjara kan?"
"Mencintai? Ini zaman apa-apa sudah semakin mahal. Hari ini pakai cinta? Gak bisa aku, yang aku butuhin uang bukan cinta dalam hidupku."
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan Wulan? Ingat Selly anak kita, jangan bercanda kamu."
"Hahaha bercanda kamu bilang? aku sudah tidak mau hidup denganmu lagi. Kamu sudah tidak guna, di tambah sekarang tidak punya apa-apa, terus kita, mau kamu kasih makan apa?"
"Tunggu aku keluar dari penjara aku akan mencari uang yang banyak demi kamu dan Selly."
"Tidak perlu lagi. Lagi pula Selly bukan anak kandung kamu."
"Wulan! Bercandamu keterlaluan." Wisma berdiri tidak terima dengan pengakuan Wulan yang sebenarnya.
"Aku tidak bercanda Wisma, aku jujur mengatakan."
"Omong kosong."
Wulan yang geram dengan penyangkalan Wisma akhirnya mengatakan semuanya kepada Wisma yang sebenarnya, Wisma benar-benar syok mendengarnya. Yang jelas Wulan datang untuk memberikan Wisma surat gugatan cerai.
Setelah itu Wulan pergi begitu saja, tinggalan Wisma sendiri di situ. Terhitung jam jenguknya habis Wisma masuk ke dalam sel penjara lagi. Wisma masih terengang-engang dengan apapun yang di katakan Wulan barusan.
Wisma duduk di dalam lantai dengan tatapan kosong. Hidupnya benar-benar sudah hancur. Untuk menyesalinya sudah terlambat, ini sudah terjadi di akhir, namanya saja penyesalan di akhir, kalau diawal namanya pendaftaran. Wisma menjambak rambutnya sendiri sampai berantakan. Nasi sudah menjadi bubur.
"Isti." Wisma pun akhirnya menyebut nama itu sekian lama Wisma tidak memanggil nama gadis lugu yang di nikahinya, pilihan orang tuanya dulu memang baik. Yang salah dia sendiri memilih wanita yang tidak baik. Sungguh ironis!
...*****...
Usia kandungan Mesa baru 6 minggu. Adam sering melakukan pekerjaannya di rumah dari pada di kantor. Alasannya ia ingin menjaga istirnya dengan baik, seperti yang di lakukan sekarang, 24 jam Adam selalu ada di rumah.
"Sudah Adam, geli."
"Sayang, aku ingin mendengar gerakan bayi kita di perut kamu." Adam berjongkok di bawah lantai sambil menempelkan telinganya di perut Mesa yang duduk di kursi sofa.
"Kamu lapar sayang? katakan, kamu ingin apa? Biasanya ibu hamil ingin ngidam sesuatu gitu."
"Suamiku, aku tidak ingin apa-apa saat ini. Yang aku ingin kamu kembalilah bekerja di kantor, kasihan Leo... Kerjaannya sudah terlalu banyak."
"Aku yang menggajinya, dia yang harus bekerja."
"Suamiku sayang, kamu itu pemimpin di perusahaan. Bukan apa-apa Leo, itu perusahaan milik Leo apa milik kamu?" hmmm aku curiga."
"Perusahaan milik Adam Huang Diningrat."
"Kalau tau begitu bekerjalah dengan benar!" cemberut Mesa
"Baiklah, baiklah. Aku besuk kembali keperusahaan. Tapi ada syaratnya..."
"Oh jadi........"
Cup!
"Terimakasih syaratnya sudah terpenuhi istriku sayang." Adam menyium bibir Mesa dengan spontan.
pelayan-pelayan yang tidak sengaja melihatnya ikut senang. Kini tuannya bisa kembali tersenyum dan bahagia. Apa lagi lokasi Adam dengan Mesa di ruang tamu, bersantai-santai ria bisa terpantau oleh pelayan-pelayan di rumahnya.
"Sayang, kenapa dengan wajahmu? kamu sedih mikirin apa?" Adam yang mengetahui itu pun menatap Mesa.
"Aku rindu papah." tunduk Mesa, Adam pun berdiri duduk di sebelah Mesa.
__ADS_1
"Untuk apa merindukan papahmu yang tidak menganggapmu sebagai anak sayang?" kesal Adam
"Bagaimanapun papah adalah papahku, maupun dia seperti apa dia tetap papahku. Tidak ada yang namanya mantan anak. Yang ada mantan suami istri itu ada."
"Say....."
"Soal Ayunda, aku tahu papahku salah. Lagi pula sekarang papahku sudah ada di dalam penjara. Sudah mempertanggungjawabkan di sana. Tapi dia tetap papahku!" Mesa mulai sedih kembali, ia memang merindukan papahnya. Apa lagi mamah Isti sudah tidak ada, yang Mesa punya adalah papah Wisma dan juga Adam.
Adam menghela nafasnya perlahan, menatap sang istrinya tercinta sedih. Hatinya tidak tega, ia pun memeluk Mesa di dalam dekapannya.
"Aku ingin menjenguk papah, ku mohon Adam. Aku ingin melihat keadaan papah di sana."
"Baiklah kalau itu membuatmu tidak sedih lagi! Aku akan menemanimu ke sana."
"Sungguh! " Mesa mendongak menatap Adam dengan berharap yakin Adam benar-benar mengatakannya.
"Ya."
Akhirnya Adam dan Mesa bersiap-siap untuk pergi ke kantor polisi. Jelas Adam menemaninya kemanapun Mesa pergi, Adam tidak ingin Mesa kenapa-kenapa di sana. Takutnya Wisma akan melakukan yang tidak-tidak kepada Mesa, selama ini Adam tahu kalau Mesa anak yang tidak di inginkan oleh Wisma.
Sampailah di kantor polisi,
"Papah!" panggil Mesa untuk papahnya yang baru di bawa keluar oleh petugas polisi untuk menyambut kedatangan Mesa dan Adam.
γBersambung......
__________________________________________
Author selalu UP jam 01.00 dini hari itu sudah author otomatiskan , kalau lebih dari itu mungkin dari pihak MT/NT yang masih review, itu bisa 1-3hari baru lolos. Sabar menunggu ya, sudah terjadwal sehari 1 episode, kalau tidak UP pun sehari tolong pengertiannya, di dunia nyata author juga ada kesibukkan. Terimakasih, jangan lupa VOTEnya!!!
__________________________________________
.
.
.
.
Salam hangat dari author imah_nm untuk para pembaca semoga terhibur dan kalian semua suka. π€
JIKA TEMAN-TEMAN SUKA BERI AUTHOR DENGAN \=
VOTE ποΈ
LIKE π
KOMENTAR π¬
FAVORIT β€
TIPβ
RATE 5 BINTANG βββββ
__ADS_1
Bantu dengan LIKE dan KOMENTAR kalian disetiap BAB, itu semua bentuk dukungan teman-teman untuk author agar semangat UPnyaπ!!!Terima kritik dan saran kalian agar lebih baik lagi dari sebelumnya. Terimakasih sebanyak-banyaknya. π