Dendam Sang Presdir (TAMAT)

Dendam Sang Presdir (TAMAT)
Episode 67


__ADS_3

Di ruang tamu


Veranika pun mulai lelah dan ingin segera tidur, awalnya mau tidur di kamar yang kosong. Merasa Vera di tantang oleh Johan ia pun terpaksa tidur di ruang tamu untuk membuktikan kalau memang tidak ada hantu di sana. Akhirnya Vera terlelap tidur di sofanya, sehingga tengah malam Johan dan Willy pun memastikan Vera sudah terlelap tidur.


Johan dan Willy pun mulai beraksi untuk mengerjain Vera, menakut-nakuti Vera. Ada suara aneh-aneh yang di buat mereka berdua, tapi Vera tidak kunjung bangun. Sepertinya Vera pules sekali tidurnya.


Johan dan Willy tidak kehabisan akal, ia pun punya ide untuk memberikan senter di wajahnya, perlahan Johan mulai mendekat ke arah Vera yang terlelap tidur. Johan menyentuh selimut yang Vera kenakan untuk menutupi tubuhnya, perlahan-lahan selimutnya di tarik oleh Johan ke bawah. Di iringi suara yang menakutkan dari Willy, Vera menggeliat dan merasa terganggu. Lampu remang-remang sekali, mata sipit Vera pun membuka dan melihat sekitarnya, seketika mata Vera membulatkan di mana ia melihat seperti penampakan yang ia lihat saat ini.


Vera si pemberani, harus tenang! Masak sama setan saja takut, harusnya takut itu sama Tuhan. Hati Vera berkecikamuk sekali, di dalam hatinya hanya bisa mengumpat satu dua tiga aku harus berani hadapi ini semua untuk membuktikan kepada si cunguk Johan itu kalau aku memang tidak takut sama setan.


Vera pun berdiri berteriak, dan berlari kearah Johan yang menakuti Vera dengan senter yang menyoroti wajahnya itu. Johan pun terkejut atas tingkah Vera yang memeluk dirinya dan menyium bibir Johan. Willy yang sedang ngumpet dan mengintip terpelongoh melihat adegan barusan. Akhirnya Willy menghidupkan lampunya dan mereka berdua masih dengan posisi seperti itu.


"Ehem-ehem." Willy berdehem , setelah ia selesai mengambil gambar di ponselnya di mana gambar itu adalah adegan Johan dan Vera berciuman sebagai senjata nantinya.


Akhirnya Vera melepaskan ciumannya di bibir Johan, dan entah kenapa perasaan mereka berdua berdebar tak menentu. Rasanya aneh sekali mereka sebelumnya tidak pernah merasakan debaran hati.


"Heyyy Vera kenapa kau menciumku?" tanya Johan untuk mengalihkan debaran hatinya itu.


"Siapa suruh menakutiku seperti itu?" Vera yang tidak mau kalah bertanya


"Aku tanya di jawab dulu, baru nanti kau yang bertanya."


"Ya pertanyaanku dulu yang lebih penting."


"Bukan masalah penting tidaknya, ini masalah ciuman pertamaku Vera. Bibirku ternodai oleh bibirmu."


"Emangnya bibirku tidak ternodai ha? Ini ciuman pertamaku. Sialnya ciuman pertamaku seharusnya aku berikan ke Adam malah kamu yang mengambilnya."


"Siapa suruh kau menciumku! Dasar wanita mesum!"


"Siapa yang mesum? Kau yang mulai duluan menakut-nakuti seperti itu barusan. Oh aku tahu kau kemarin berbohong kan? Yang lihat setan itu akal-akalmu saja iya kan?"


"Ya kenapa? tidak suka? Aku menyesal sekarang. Ciuman pertamaku oh my good."


"Kauu ........."


Johan dan Vera hanya beradu mulut membuat Willy pusing mendengarnya.


"Stop!"


"Kalian itu ternyata cocok sekali. Itu ciuman pertama kalian bukan? Ya udah sama-sama saling bertanggung jawab, tidak perlu di perdebatkan."

__ADS_1


"Dipertanggungjawabkan apa untuk apa?" bantah Vera


"Dasar wanita mesum, nyosor duluan dasar!"


"Sialan, sini kau. Andai kau tidak menakut-nakuti aku tidak akan menyiumu dasar cunguk sialan." Vera memukul-mukul tubuh Johan tapi Johan menghindar dan Vera tidak putus asa mengejar Johan berlarian.


Sampai-sampai Vera terpleset jatuh karena Willy tidak sengaja menumpahkan minuman kaleng di mejanya menyaksikan Johan dan Vera main kucing-kucingan di malam hari.


Melihat Vera yang hendak mau jatuh, Johan pun dengan refleknya menangkap tubuh Vera di dalam dekapannya agar tidak jatuh. Lagi-lagi kedua hati itu berdetak tak menentu, rasanya ingin meledak.


"Kalau lari itu hati-hati, ceroboh!" kata Johan membenarkan tubuhnya kembali dan melepaskan Vera dari dalam pelukkannya.


"Lihat lah di lantai, ada air minuman milik Willy yang tumpah dan membuatku terpleset." Akhinya Vera berhasil memukul Johan dan berlalu pergi meninggalkan Johan dan Willy yang masih di ruang tamu, Vera berlari masuk ke kamar kosong untuk ia tiduri malam ini.


...*****...


Pagi hari


Adam sudah selesai mandi dan mengenakan baju kantornya dengan rapi, ketampanannya terpantul di cermin riasnya yang ada di depannya. Mengenakan jas terakhir yang sudah melekat di tubuhnya, berwarna biru tua yang kelabu cocok untuk kulit tubuhnya.


"Pagi kak Adam!" sambut Vera yang langsung masuk ke dalam kamar Adam


"Vera, kenapa kamu tidak ketuk pintu dulu dan langsung masuk?"


"Tidak usah Vera, kakak nanti bisa turun sekalian kita sarapan bersama. Oh ya apakah Johan dan Willy sudah bangun?" tanya Adam


"Ini cuma teh hangat kak, nanti kita sarapan bersama setelah kakak meminumnya. Oke!" bujuk Vera


"Baiklah, kakak akan meminumnya!" Adam yang tidak ingin berlama-lama di kamar dan tidak ingin mempermasalahkan secangkir teh hangat dari Vera.


Adam pun menerima cangkir dari tangan Vera, dan tiba-tiba lagi Johan nyelonong masuk dan meraih teh hangatnya dan meminumnya.


"Johan, kenapa kamu meminum tehnya?" tanya Adam


"Maaf Adam, aku ingin meminum teh hangat buatan Vera. Aku rasa aku sudah jatuh cinta dengan Vera, semalam aku memimpikan Vera jadi aku tidak rela Vera memberikannya untukmu. Bolehkan adikmu untukku?"


Vera hanya membulatkan kedua matanya, menatap sinis kepada Johan.


"Apa maksudmu Johan?"


"Ayolah Vera, jangan seperti itu. Kita semalam bersama dan aku mengungkapkan rasa padamu dan kau belum memberiku jawaban, kalau kau seperti ini membuatku sakit Vera."

__ADS_1


"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan Johan?"


"Aku mencintaimu Vera! Kau lupa akulah yang mengungkapkan rasa padamu bukan Adam. Adam sudah punya istri, kau harus tahu itu."


"Kau konyol Johan, jelas-jelas Adam yang menyatakan cinta kok, bukan kau. Kau hanya temanku sama seperti Willy."


"Apa buktinya Adam menyatakan cinta kepadamu? mana? Jelas-jelas semalam kau memberikan jawaban itu bukan? Ini buktinya kalau aku sudah menyatakan cinta kepadamu, ku rasa kau sudah memberikan jawaban iya dengan ciumanmu itu untukku semalam."


Jedyaarrrr!


Johan memberikan ponselnya yang ada adegan semalam kalau Johan dan Vera berciuman mesra saling berpelukkan, Adam melihatnya. Vera pun mati kutu di tempat, ia mau mengelak apa lagi.


Tanpa di sadari Adam, Johan menatap Vera dengan senyum miringnya. Rasanya puas sekali rencananya kali ini akan berhasil.


"Sialan si cunguk Johan, biadab biadab!" batin Vera menatap Johan begitu tajam dan ingin rasanya menelan Johan hidup-hidup saat itu juga.


"Vera, kakak tidak masalah kalau kamu ingin bersama Johan. Tapi kenapa kamu berbohong kepada kakak Ver, kalau kakak pernah menyatakan cinta kepadamu? Mana mungkin kakak menyatakan cinta kepada adikku sendiri? Apa lagi kakak jatuh cinta dengan adik yang sudah kakak anggap adik kandung, bagi kakak itu tindak mungkin. Sekarang kakak tahu kalau ternyata kakak sudah punya istri, meskipun kakak lupa ingatan tapi hati kakak bisa merasakan kejanggalan sebelumnya. Berarti benar perkataan wanita itu di rumah sakit kemarin adalah istriku, dan Albe Huang Diningrat adalah putra kandungku. " kata Adam


》Bersambung......


.


.


.


.


Salam hangat dari author imah_nm untuk para pembaca semoga terhibur dan kalian semua suka. πŸ€—


JIKA TEMAN-TEMAN SUKA BERI AUTHOR DENGAN \=


VOTE πŸŽ–οΈ


LIKE πŸ‘


KOMENTAR πŸ’¬


FAVORIT ❀


TIP⭐

__ADS_1


RATE 5 BINTANG ⭐⭐⭐⭐⭐


Bantu dengan LIKE dan KOMENTAR kalian disetiap BAB, itu semua bentuk dukungan teman-teman untuk author agar semangat UPnyaπŸ’!!!Terima kritik dan saran kalian agar lebih baik lagi dari sebelumnya. Terimakasih sebanyak-banyaknya. πŸ™


__ADS_2