
Di Rumah Sakit
"Bagaimana keadaan Vera?" tanya Adam yang baru sampai dirumah sakit.
"Vera masih di dalam, baru di tangani sama dokter." jawab Johan
"Kenapa bisa terjadi asmanya kambuh lagi?"
"Entahlah, tanya saja sama Johan. Kalau aku tidak tahu sama sekali, yang aku tahu tadi mereka berdua sudah basah kuyup habis di kolam renang." kata Willy
"Kolam renang? Selama hidup Vera dia tidak pernah berenang, dia takut yang namanya berenang. Itu membuat asmanya kambuh lagi."
"Maka dari itu Adam, aku menyelamatkannya. Tadi sepertinya kepleset dan kecebur di kolam renang ya aku melihat dan aku tolongilah."
Tanpa sengaja Devan melihat Adam, Johan, Willy di sana. Devan pun menghampiri mereka.
"Ada apa? kenapa kalian bertiga kompak sekali di sini?" tanya Devan
Akhirnya salah satu di antaranya menyeritakan kembali yang terjadi, pada akhirnya Mesa dengan mamah Nadira datang ke rumah sakit.
Adam melihatnya begitu juga Mesa melihat Adam. Mereka berdua pun saling sapa, Mesa sangat merindukan Adam. Langkah Mesa yang awalnya cepat menjadi perlahan pelan, mamah Nadira menyadarinya kalau di sana ada Adam jadi membuat Mesa berjalannya lambat.
Orang-orang yang melihatnya pun menyapa Mesa, dan mamah Nadira. Mesa yang menggendong Albe di dalam pelukkannya.
"Sa, kamu datang kerumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Devan
"Ini Albe demam, makanya aku bawa kerumah sakit."
"Demam?"
"Iya."
"Oke, biar aku periksa. Kamu bawa Albe ke ruanganku biar aku cek keadaannya." perintah Devan
Adam dan Mesa masih saling melirik, itu di sadari oleh Johan dan Willy. Setelah berlalunya Mesa, mamah Nadira dan Devan, Johan membuyarkan tatapan Adam kepada Mesa yang langkahnya sudah menjauh darinya.
"Adam?"
"Hm."
"Aku manggil Adam, di jawab." protes Johan
"Iya, kenapa?" Tatapan Adam beralih menatap Johan
"Itu istrimu."
"Kalau dia istriku, kenapa dia tadi tidak memanggil namaku?"
"Ya, mungkin dia mikir kamu masih lupa ingatan. Tapi nyatanya kamu masih lupa ingatan."
"Iya aku akui memang aku belum mengingatnya, tapi dengan fakta dan data yang aku temukan aku percaya dia istriku."
"Lalu rencanamu selanjutnya apa? Aku tidak bisa membantumu memulihkan ingatanmu."
"Iya kamu bisa kasih tahu info tentang wanita itu ke aku. Apa saja yang mengenainya, seperti kamu bantu aku bisa bersamanya. Apapun itu caranya kamu dan Willy bisa bantu aku bukan?"
"Kamu yakin?" tanya ulang Willy
__ADS_1
Adam menganggukan kepalanya saja, Johan dan Willy saling pandang. Rasanya seperti ingin menjodohkan orang, padahal mereka bukan makjomblang, jodoh saja mereka sering luput. Tapi setidaknya membantu sahabatnya sendiri tidak ada salahnya.
Setelah Mesa selesai memeriksakan keadaan Albe si mungil, ia pun keluar dari ruangan Devan. Mesa dan mamah Nadira melewati Adam yang ada di sana, tapi Adam menghentikan langkah mereka berdua.
"Tunggu!" kata Adam
Mesa dan mamah Nadira menghentikan langkah kakinya.
"Bisakah aku berbicara denganmu?" Adam mendekati Mesa di sampingnya.
"Sa, mamah duluan saja ya? Kamu bisa bicara dengannya lebih dulu." Mamah Nadira pun sengaja memberi ruang waktu untuk Mesa, selama dirumah Mesa sangat terlihat murung, bahkan ia sering bersedih. Ini sudah waktunya Mesa berbicara dengan Adam dan membantu Adam agar segera pulih ingatannya.
"Tapi mah!"
"Udah tidak apa-apa mamah bisa pulang sendiri, bukannya kamu merindukan suamimu." goda mamah Nadira
"Mah!"
Jelas sekali suara mamah Nadira terdengar ditelinga Adam, ia memantapkan hatinya kalau memang Mesa adalah istrinya. Melihat Albe di pelukkan Mesa, seperti dia melihat dirinya di waktu kecil, kesamaan mata, hidung, bibir sama dengannya.
Akhirnya mamah Nadira lebih dulu pergi berpamitan, tinggallah Adam dan Mesa di sana. Adam mengajak Mesa di luar rumah sakit, tepatnya di taman di sekitar rumah sakit.
Mereka berdua duduk bersama, menunggu salah satu berbicara. Mesa yang tadi tidak sabaran pun lebih dulu memulainya.
"Mau bicara apa?"
"Apa Albe baik-baik saja? Demamnya masih?"
"Oh itu em, Albe tidak kenapa-kenapa. Aku salah mengira kalau Albe demam."
"Mati aku, jangan sampai aku kesini membuatnya ketahuan kalau aku berbohong kalau Albe demam, maafkan mamah nak. Bukan mamah mendoakanmu sakit, ini salah satu alasan biar mamah bisa kerumah sakit bertemu dengan papahmu. Semoga kamu sehat selalu putraku Albe." batin Mesa yang terus memeluk erat putranya.
Ya benar memang Albe baik-baik saja, sebelumnya Mesa tahu Adam di rumah sakit karena info dari grup yang berisi Johan, Willy dan Devan, Sisi. Tapi hanya Devan dan Sisi yang tidak membuka grupnya, mungkin mereka belum sempat membuka isi pesan ponselnya masing-masing. Mesa yang tadinya khawatir kalau Adam kenapa-kenapa tetapi kenyataanya yang sakit adalah Vera. Itu juga kerjaan Johan dan Willy saja, tidak berbicara lengkap mengenai yang sakit siapa sampai dibawa kerumah sakit, mikirnya Mesa kalau yang sakit itu Adam.
"Tidak panas."
"Iya tadi sudah di obati sama dokter Devan." ngelak Mesa.
"Oh ya tadi mau bicara apa? Aku rasa kamu mau berbicara sesuatu." Mesa mengalihkan pembicaraannya.
"Hm itu, apa benar kamu istriku?" tanya Adam terus terang.
"Apakah ingatanmu belum pulih? dan kamu masih tidak ingat aku siapa?" Mesa menatap Adam
"Aku belum ingat kamu siapa, tapi aku sudah menemukan bukti-bukti kalau kamu memang istriku." Adam membalas menatap Mesa
"Kalau bukti itu bohong bagaimana?"
"Mana mungkin buku nikah bisa berkata bohong. Kita sah suami istri di negara dan agama."
Mesa pun bungkam dan tidak menyanggah lagi, ia hanya memandangi Albe yang sudah terlelap tidur.
"Kamu Mesa istriku, maaf sebelumnya aku tidak ingat kamu. Tapi aku percaya kalau kamu adalah istriku."
"Hm, kamu bisa bantuin aku untuk kembalikan ingatanku?"
"Kamu sudah berjanji tidak melupakanku Adam, kenapa kamu melupakanku hiks hikss..." Mesa yang tadi menahan air matanya pun keluar juga.
__ADS_1
Hati Adam begitu sakit melihat Mesa menangis seperti ini, entah ingatan dibagian mana yang ia lupakan tentang janjinya kepada Mesa sehingga membuat Mesa menangis seperti ini.
"Kenapa kamu melupakan aku?"
"Aku tidak tahu, maafkanku! Kalau boleh milih diantara lupa ingatan atau mati lebih baik aku memilih mati. Kalau aku melupakanmu membuatmu sedih seperti ini, aku memilih untuk mati agar aku tidak melanggar janjiku untuk melupakanmu." pernyataan konyol Adam
"Bodoh! tidak boleh kamu mati, itu lebih membuatku sedih." Mesa menatap Adam begitu lekatnya
Adam hanya tersenyum menanggapinya, lalu tangannya menghapus air mata Mesa yang terus mengalir. Seketika Mesa berhenti menangis, menatap Adam begitu lekatnya. Posisi mereka sangat berdekatan dan Adam memeluk Mesa, Albe di tengah-tengah mereka berdua.
Setelah mereka berpelukan mereka saling pandang.
"Istriku, maafkan aku yang sudah melupakanmu. Aku mencintaimu!"
Mesa terkejut dengan pernyataan Adam barusan, "Suamiku, apakah kamu ingat sesuatu?"
"Hanya sedikit, tapi lama-lama aku akan mengingatnya."
"Kamu ingat kecelakaan waktu itu? Ingat kamu membawaku kerumah sakit? Ingat kamu keluar dari mobil dan menggendongku berlarian kerumah sakit?"
Rasa sakit di kepala Adam kembali terasa, gambaran-gambaran diingatannya kembali tertata dengan sempurna. Memutar ingatannya dikit demi sedikit, "Adam kamu ingat aku siapa bukan?" tanya ulang Mesa
"Akkkhhhh" Adam memegangi kepalanya sendiri, jelas Mesa panik melihatnya.
"Adam?"
"Kepalaku sakitt akkh."
"Bagaimana ini?" Mesa melihat sekeliling dan untungnya ada suster yang melintas dan Mesa meminta bantuan kepadanya pada akhirnya Adam di bawa masuk ke dalam rumah sakit. Adam di periksa detail sekali dengan dokter yang menanganinya didalam ruangan periksa pasien.
γBersambung......
.
.
.
.
Salam hangat dari author imah_nm untuk para pembaca semoga terhibur dan kalian semua suka. π€
JIKA TEMAN-TEMAN SUKA BERI AUTHOR DENGAN \=
VOTE ποΈ
LIKE π
KOMENTAR π¬
FAVORIT β€
TIPβ
RATE 5 BINTANG βββββ
Bantu dengan LIKE dan KOMENTAR kalian disetiap BAB, itu semua bentuk dukungan teman-teman untuk author agar semangat UPnyaπ!!!Terima kritik dan saran kalian agar lebih baik lagi dari sebelumnya. Terimakasih sebanyak-banyaknya. π
__ADS_1