
Mesa menatap Adam lagi sambil meraba wajahnya, memeriksa kembali. Mesa memang tak sadar dengan posisi mereka yang masih berdiri berpelukkan. Dia masih belum yakin dengan kondisi Adam. "Kamu pingsan?"
"Kata dokter, karena aku kaget dan panik. Sekarang ngak apa-apa. Buktinya segar bugar. Mereka saja yang berlebihan, panggil ambulans segala." Adam melirik Riki dan Riko sambil tersenyum geli.
"Gimana nggak panik, Kau pakai acara ngomong mau mati segala pas tadi di ruang kantormu nggak bisa hidup tanpa Mesa heleh. Lagi pula seorang presdir ditabrak di lobby kantornya sendiri, masa didiamkan begitu saja. Mau disuruh naik bajaj?" Riko dengan segala celotehnya. Sejenak Mesa tersenyum. Sedikit terhibur dari ketegangan yang baru dia rasakan.
"Situasi di lobby tadi cukup ramai." Adam berfikir sejenak, bisa gawat kalau media tahu. Orang tuanya pun belum diberi kabar. Pasti nanti jadi perbincangan publik.
"Sorry, cantik. Semua aku lakukan karena kasihan melihat my brother yang satu ini. Akhir-akhir ini mirip patung hidup. Mati enggak, hidup juga enggak. Selalu dipikirannya hanya istri tercinta yang hilang entah kemana." Mesa tersenyum malu mendengar kejujuran teman suaminya. Malu karena bahagia, karena dicintai begitu besar oleh Adam.
"Tadi sih, rencanya nggak sampai di rumah sakit. Ternyata kejadian tak terduga sampai pakai ambulans. Serius, aku tadinya mau memberikan ide romantis, bukan ide miris seperti ini," jelas Riko lagi.
"Tapi, tadi romantis. Dia mau setia menemani suami tak sempurnanya." Adam mencuri kecupan di pipi Mesa.
"Aduh, mata suci aku ternoda." Riko meledek dua pasangan yang masih setia berpelukkan.
"Ayo kita pulang!" Ajak Riki pada Riko.
"Bye, dokter bilang kau boleh pulang. Enakan juga di rumah mesra-mesranya." Riko menggoda lagi.
Adam membawa Mesa ke dalam ruangan lagi.
"Sudah pasien tidak mau diganggu. Sana pulang!" Usir Adam tak tahu malu. Mereka pun pulang.
Pagi hari
__ADS_1
Beberapa hari kemudian....
Tepatnya di rumah Adam dan Mesa, Adam masih di dalam kamar. Sedangkan Mesa sudah bangun lebih dulu dan bercermin di depan kaca.
Adam menggeliat di atas ranjang tidurnya dan meraba tempat tidur sampingnya kosong, dan melihat Mesa sudah berdandan rapi cantik.
"Pagi istriku."
"Pagi suamiku, sudah bangun buruan mandi kita turun kebawah sarapan sama papah dan mamah."
"Papah ada?"
"Iya mau bertemu dengan Albe, Albe saja sudah bangun. Tuh lihat di box tidurnya sudah selesai mandi wangi tidak nangis walau ditinggal mamahnya dandan. Masak papahnya kalah!"
"Hais, lihat saja besok aku akan mandi lebih dulu." Adam menyibakan selimutnya lalu turun dari ranjang tidurnya dan menghampiri Mesa mencuri kecupan di pipi Mesa.
"Iyaa sayangku." Adam pun mendengus didalam hatinya dan berlalu masuk kedalam kamar mandi.
Akhirnya Mesa lebih memilih menunggu Adam selesai mandi, Mesa menggendong Albe yang masih asik main sendiri di box tempat tidur tanpa menangis dengan di berikkan mainnya yang Albe genggam.
Beberapa menit kemudian Adam selesai mandi dan mengenakan bajunya dengan rapi, hari ini Adam memilih tidak berkerja karena hari wekeend libur di rumah bersama istri dan anaknya begitu juga kedua orang tua Adam.
Adam dan Mesa turun tangga ke arah meja makan, papah Bryan melihat Albe di pelukkan Adam dan mengambil ahli Albe kepelukkanya.
"Hay Albe cucu oppa, uuhw tampannya... uhww wanginya.. uuhw gemesnya cucu oppa ini." Oppa Bryan menimang-nimang Albe dengan manjanya sedangkan Albe hanya cekikikkan ala Albe anak kecil.
__ADS_1
Adam dan Mesa melihatnya begitu senang. Apa lagi Omma Nadira yang tidak mau kalah, ia pun berebutan dengan Albe yang di gendong oppa Bryan.
"Cucu omma Nadira juga dong oppa!" rengek Mamah Nadira tidak mau kalah.
Adam berharap semua akan begini terus sampai maut memisahkan mereka berdua. Kesalahanpahaman kemarin sudah terselesaikan dengan baik, Mesa menyadarinya kalau itu sifat keegoisannya yang berlebihan yang tidak saling percaya satu sama lain dan Mesa sadar itu adalah sikap yang salah karena berpisah bukan solusi akhir masalah.
Balas dendam kini bersih dari lubuk hati paling dalam, Adam sudah mengikhlaskan Ayunda. Tuhan sudah menggantikkannya yang lebih baik dari yang sebelumnya. Selamat jalan Ayunda, semoga kau disurga Tuhan yang indah. Izinkan Adam bahagia dengan Mesa istrinya yang nyata ia miliki saat ini sampai ajal menjemput mereka berdua, menyusulmu di surga Tuhan.
"Ayunda! maafkan kesalahan papahku Wisma dulu yang tidak mempertanggung jawabkan kesalahannya yang tidak sengaja membunuhmu, tapi waktu itu papah Wisma sudah mempertanggung jawabkan di dalam penjara. Tenang di sana Ayunda. Adam selalu bersamaku! Adam tidak lagi dendam denganku maupun keluargaku. Kini dendamnya sudah berakhir karena Adam mengikisnya dengan cintanya padaku. Aku beruntung memiliki suami seperti Adam, aku janji aku tidak akan meninggalkan Adam, aku akan mendampingi dia sampai kapanpun." Mesa menatap foto Ayunda sekilas lalu ia selipkan lagi di dalam album-album foto lainnya.
^^^Bukan rumah tangga namanya jika tidak ada yang dipermasalahan didalamnya. suami istri semestinya saling melengkapi dan menyempurnakan iman masing-masing.^^^
...---- T A M A T ----...
__________________________________________
Hai semuanya para pembacaku yang tercinta. Terimakasih atas waktu yang udah kalian luangkan untuk membaca karya saya yang berjudul Dendam Sang Presdir . Terimakasih atas dukungan dan saran yang sudah kalian berikan.π
^^^Salam hangat,^^^
^^^Author imah_nm.^^^
ππππππππππππππππ
Jangan lupa mampir di karyaku juga ya yang berjudul "ISTRI TEBUSAN"
__ADS_1
Lest go!