
Adam berada di perusahaanya saat ini, Mesa memilih kembali lagi di rumahnya dan menunggu Adam pulang. Sedangkan Adam berada di perusahaan karena bujukkan Riki dan Riko yang mengajaknya ke cafe dekat perusahaannya lebih dulu sebelum mereka berdua kembali ke negaranya yang sudah menjadi tempat tinggalnya. Sedangkan Naomi harus kembali ke kota Surabaya karena neneknya sakit parah.
Di rumah
"Mah, Adam di mana ya?"
"Tadi mamah sudah menghubunginya kalau dia sekarang berada di perusahaan Sa!"
"Sa, mamah minta tolong kamu antar makanan ini ke perusahaan Adam, kasih makanan ini untuknya. Perbaiki hubunganmu dengannya nak, biar mamah yang jaga Albe." Mamah Nadira menyiapkan menu makanannya di dalam rantangnya yang sudah tersusun rapi.
Di perusahaan
"Jangan murung begitulah brother, maafin kita-kita waktu itu." kata Riki di samping Adam berjalan keluar dari ruangan menuju lift.
"Sudah tidak usah di bahas!" ketus Adam yang pikirannya entah frustasi karena Mesa tadi.
"Bukannya binimu tadi sudah pulang? dan kenapa kamu masih di sini? Kita harus bahas ini, kita yang akan bicara ke Mesa untuk menjelaskan ke dia Dam!"
"Hm!"
"Aku tidak tahan lagi Adam Huang Diningrat seperti mayat hidup tanpa merespon kita selain hm hm hm , kata lain kek!" cerucus Riko.
Tingg!
Pintu lift terbuka, ketiga-tiganya sama sama melangkahkan kakinya keluar dari lift, Adam memilih tidak pulang karena ajakan Riko dan Riki untuk mampir ke cafe yang biasanya dulu waktu zaman SMA sebagai cafe tongkrongan mereka.
"Siapkan mobil kalian, aku tunggu di lobby!" perintah Adam tanpa menatap Riko maupun Riki.
Sedangkan keduanya sama-sama menggeleng-gelengkan kepalanya saja dengan sikap Adam seperti mayat hidup kaku, untungnya mobil dan jarak lobby tidak jauh dari sana.
Hendak Adam berjalan kearah lobby depan perusahaan, tepatnya Adam yang tidak fokus dengan kanan kirinya. Terjadilah......
Bruuuggggggkkkkk!
"Adam!" Teriak Riko dan Riki mendekati Adam yang terkapar di tanah lalu meminta salah satu pegawai kantornya untuk segera menghubungi ambulan dan membawa Adam ke rumah sakit.
Di rumah
"Tante Nadira, saya Riko sahabatnya Adam. Boleh tidak ponselnya berikan kepada Mesa?"
"Bisa, sebentar ya!" Mamah Nadira memberikan ponselnya kepada Mesa.
__ADS_1
"Apa? Adam kecelakaan? Dan di vonis lumpuh sementara?" teriak Mesa menjauh dari mamah Nadira yang tadinya sudah pergi dari sisi Mesa dan membawa Albe di taman belakang.
Mesa buru-buru mengambil tasnya dan rantang makanan yang hendak mau di berikan ke Adam. Ia memerintah supir di rumahnya untuk mengantar Mesa ke rumah sakit.
Mesa benar-benar gelisah sekali, ia sangat khawatir dengan Adam. Tangannya dingin gemetar tidak karuan, ia berharap suaminya tidak kenapa-kenapa.
Sampai di rumah sakit ia mencari sesuai yang di katakan Riko tadi lewat ponselnya. Mesa celingak celinguk diruangan kanan kiri lorong rumah sakit, Akhirnya Riko melihat Mesa ya padahal Riko belum bertemu sebelumnya, tapi dengan gerak gerik wanita yang dilihatnya sudah kelihatan kalau wanita itu adalah istri Adam.
"Kamu Mesa kan?" tegur Riko dan di sampingnya ada Riki juga.
"Iya Mesa, kamu yang....." Bingung Mesa karena Riko dan Riki kembar, Mesa tidak bisa membedakannya.
"Iya aku tadi yang menelponmu. Aku Riko dan ini Riki saudara kembarku."
"Oh iya, bagaimana Adam?" tanya khawatir Mesa
"Dia... dia .. berada diruang perawatan."
Di tengah-tengah obrolan mereka, sang dokter yang memeriksa Adam pun keluar, dan Mesa memberikan rantang makanannya begitu saja di tangan Riko, sedangkan Mesa terburu-buru masuk ke dalam, karena kata dokter Adam boleh di jenguk masuk kedalam ruangan, sebelum dokter selesai bicara kalau sebenarnya Adam baik-baik saja.
"Adam?" panggil Mesa khawatir melihat Adam sudah turun dari brankar pasien dan berjalan pincang keluar dari ruangan dan melihat Mesa di depan pintu. Adam menutup ruangan itu kembali dan berdiri didepan ruangan perawatan tersebut berhadapan dengan Mesa.
"Aku mengakhawatirkanmu!" Mesa memeluk Adam
"Maafkan aku suamiku sayang, maafkan aku." Empat mata saling beradu tatap, Adam merasa senang dengan Mesa mengatakan itu.
"Ehem-ehem." dehem Riki karena seperti mereka berdua terabaikan.
"Iya-iya. Aku nahan ketawa dari tadi nih. Sampai-sampai Mesa nggak sadar, aku di suruh pegang rantang makanan yang dia bawa." Riko ikut berkomentar. Mesa cemberut menahan kesal, apalagi bekal makanan yang spontan dia berikan begitu saja ke tangan pria yang tidak dia kenal. Wajahnya bak sayur asam bercampur sambal, merah kecut walau masih terlihat pucat. Benar-benar memalukan.
"Maaf aku spontan tadi." Mesa menunduk malu kepada Riko.
"Nggak apa-apa, belahan jiwa sedang mendapat musibah, kepanikan Mesa wajar tadi. Apalagi belahan jiwanya keren begini." Pernyataan percaya diri Adam membuat Mesa mendelik dan langsung memberikan cubitan dipinggangnya. Persetan dengan malu, dia sedang kesal dengan suaminya yang keterlaluan hingga membuat jantungnya hampir berhenti mendadak. Kabar kecelakaan dan di vonis lumpuh sementara membuat rasa bersalah semakin melambung. Kabar itu benar-benar membuat isi hatinya terbuka, bahwa meninggalkan Adam adalah sebuah kesalahan.
"Sakit," Ucap Adam pura-pura. "Biarin! Sini aku tendang kakinya sekalian."
"Wah, alangkah bagusnya kalian masuk kedalam lagi dan melanjutkan adegan romantisnya," Ledek Riki. Mesa yang malu berusaha melepaskan pelukkannya, tetapi Adam tetap tak mengindahkan.
"Lepasin, malu Adam." Mesa meronta.
"Siapa suruh minta di peluk?" Adam tetap memeluk pinggang Mesa tanpa malu dengan kehadiran Riki dan Riko. Dua pria itu hanya tertawa bahagia menatap teman mereka yang berhasil mengikuti trik jitu ala mereka berdua. Tidak hanya mereka, tetapi beberapa orang yang berlalu-lalang ikut tersenyum bahkan tak sedikit yang terlihat malu menyaksikan adegan romantis ala Adam dan Mesa.
__ADS_1
"Oke selesaikan masalah kalian berdua. Asal kamu tahu wanita cantik suamimu ini sangat mencintaimu. Oh ya soal pelaku yang nabrak kamu tadi biar aku yang ngurus di kantor polisi." Riko menepuk pundak Adam
"Jadi benar kamu ditabrak?" Mesa memeriksa wajah dan dada suaminya. Apa ada yang terluka? Dan ringisan Adam membuat Mesa sadar suaminya benar terluka.
"Dia hanya terkilir di kakinya sedikit. Yang nabrak kurang profesional." Riko menjelaskan.
"Kaki kamu masih sakit?"
"Nggak sakit sayang. Hanya memar sedikit. Nggak ada retak-retak, kamu tenang saja." Adam mengusap pipi lembap Mesa. Air mata masih betah menggenang rupanya.
"Yang bikin tegang itu saat dia pingsan." Riko menyibir kelakuan Adam sebelum tidak sadarkan diri. "Drama banget." Adam tak mendengarkan ledekan sehabatnya.
Mesa menatap Adam lagi sambil meraba wajahnya, memeriksa kembali. Mesa memang tak sadar dengan posisi mereka yang masih berdiri berpelukkan. Dia masih belum yakin dengan kondisi Adam. "Kamu pingsan?"
γBersambung......
.
.
.
.
Salam hangat dari author imah_nm untuk para pembaca semoga terhibur dan kalian semua suka. π€
JIKA TEMAN-TEMAN SUKA BERI AUTHOR DENGAN \=
VOTE ποΈ
LIKE π
KOMENTAR π¬
FAVORIT β€
TIPβ
RATE 5 BINTANG βββββ
Bantu dengan LIKE dan KOMENTAR kalian disetiap BAB, itu semua bentuk dukungan teman-teman untuk author agar semangat UPnyaπ!!!Terima kritik dan saran kalian agar lebih baik lagi dari sebelumnya. Terimakasih sebanyak-banyaknya. π
__ADS_1