
Di ruang rawat inap Mesa
"Putraku sayang, bantu mamah untuk mengembalikan ingatan papahmu kepada mamah sayang. Kuatkan mamah." sendu Mesa menatap putranya di dalam pangkuannya.
"Mesa, aku tidak rela kamu seperti ini. Tapi kamu harus kuat Mesa demi putramu oke!" sambar Sisi
"Benar yang di katakan Sisi, Sa! Aku akan membantumu. Aku akan menjadi dokternya selama Adam berada di rumah." kata Devan
Mesa hanya menanggapi dengan senyumannya itu kepada Sisi dan Devan yang sedang menjenguknya, dan memberikan beberapa dukungan kepada diri Mesa.
"Ngomong-ngomong siapa nama putramu ini?"
"Pertama kali Adam tahu kalau anak dalam kandunganku ini laki-laki, ia langsung antusias memberi nama Albe Huang Diningkrat, nama belakangnya harus di beri marganya."
"Nama yang bagus Mesa. Hay Albe si pria kecil tampan." sahut Sisi yang menggoda si mungil di dalam dekapan Mesa.
"Hay tante Sisi, terimakasih aku memang tampan tante." jawab Mesa meragakan suara dari putranya yang belum bisa ngomong.
Setidaknya Mesa tidak larut dalam kesedihannya terus-menerus, Mesa masih punya Albe yang menguatkan dirinya.
1 minggu kemudian......
Mesa sudah di perbolehkan untuk pulang, selama pemantauan luka bekas di perutnya karena jahitannya dan pemantauan putranya yang terlahir prematur semua sudah mulai membaik.
Mesa jelas senang sekali bisa pulang hari ini dan merawat putranya di rumahnya. Ketika hendak Mesa melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya yang sudah berada di depan pintu, Mesa dan mamah Nadira melihat Adam juga keluar dari ruangannya sebelahnya melihat Adam di dampingi Vera.
Mesa dan Adam saling pandang, ia melihat Mesa menggendong si buah hatinya. Entah kenapa Adam ingin memeluk Mesa dan putranya saat itu juga, tapi sayang kakinya seperti berat sekali melakukan itu.
"Kak Adam kenapa bengong? Ayo pulang!" panggil Vera di sebelahnya yang menyadari kalau Adam melihat Mesa di pintu ruang sebelahnya.
"Kak!"
"Iya Vera, hayuk pulang!" Hendak Adam melangkahkan kakinya untuk pergi tapi Mesa menahannya.
"Adam, kamu sungguh tidak ingat aku siapa? dan kamu tidak ingat putramu ini... Albe Huang Diningrat." kata Mesa menghentikan langkah kaki Adam detik itu juga.
"Kenapa anda berani-beraninya memberikan nama margaku di belakangnya untuk anakmu?" balas Adam tegas tidak terima namanya di berikan oleh anak orang lain.
"Adam! dia putramu. Kamu ingatkan ikatan cinta kita? Lihatlah cincinmu yang kamu kenakan di jemari manis kamu, pasti sama yang aku kenakan." Mesa menunjukkan tangannya yang ada cincinya.
Seketika Adam melihat sendiri memang benar di jari manisnya ada cincin sama yang di kenakan Mesa. Veranika benar-benar sangat panik, lalu Vera menepisnya.
__ADS_1
"Kak Adam, mungkin sebelumnya ia sudah memasangkan cincinnya di tanganmu diam-diam tanpa kamu tahu waktu kamu koma kemarin. Lebih baik kita segera pergi dari sini kak Adam." Bisik Mesa di telinga Adam
Tanpa embel-embel Vera langsung menarik lengan Adam di hadapan Mesa dan mamah Nadira saat itu juga. Jelas Mesa sangat sakit hatinya, ia menangis dan mengeratkan dekapan putranya di dalam gendongannya.
"Mesa, kamu sabar dulu nak. Mamah juga tidak tahu harus berbuat apa lagi. Tapi kalau memang kalian ditakdirkan bersama lagi, kalian akan bersama lagi. Tuhan baru memberikan kerikil-kerikil kecil di rumah tangga kalian. Kamu harus hadapi semua itu, pertahani rumah tangga kalian apapun itu yang terjadi, setidaknya lakukan itu demi putramu." Mamah Nadira menenangkan Mesa
Di luar rumah sakit
"Willy, Johan kenapa kalian menungguku di sini? Kenapa tidak masuk saja." Adam melihat mereka berdua di depan lobby depan rumah sakit.
"Maaf Adam, alangkah baiknya kami menunggu di sini. Bagaimana keadaanmu baikkan?" Kata Willy mengalihkan pembicarannya
"Ya tentunya, apakah kalian tidak bisa melihatnya? Aku sudah di perbolehkan pulang pasti aku sudah lebih baik dari sebelumnya."
"Ya, bagus kalau begitu."
"Adam kita pulang ke rumah paman bagaimana? Paman Jojo merindukanmu di rumah." Sela Vera yang khawatir rencana awalnya akan gagal.
"Kerumah paman Jojo? Kenapa? Vera, Aku sudah punya rumah sendiri, kalau paman rindu lain hari bisa kesana." balas Adam
"Tapi...." potong perkataan Vera
"Adam kamu benar, kamu harus pulang kerumah. Dan kamu ingat selama kamu koma kasian Leo yang mengurus perusahaan kamu sendiri yang menghandlenya. Kamu harus mulai bekerja besuk, semua berkasnya sudah ada di meja kerja rumahmu yang harus kamu tangani."
"Vera, benar yang di katakan Willy. Pasti Leo lelah menghandle semuanya masalah di perusahaan. Aku harus pulang ke rumah untuk mengatasinya lebih dulu. Soal paman Jojo baiklah, kalau urusan perusahaanku sudah kelar aku akan menemuinya."
Vera jelas tidak suka dengan keputusan Adam, semua itu gara-gara Willy dan Johan yang membujuknya terus.
"Adam aku antarkan pulang, aku juga rindu kali menemani sahabat sohibku ini bersama dari sekian lama kamu koma di rumah sakit."
"Tidak bisa, Aku yang akan mengantarkan kerumahnya dan aku akan tinggal di rumahnya." kata Vera
"Hey Vera, tidak baik seorang wanita tinggal di rumah pria apa lagi menginap." balas Johan
"Sudah-sudah kenapa kalian berdebat seperti ini? Johan tidak apa kalau Vera tinggal di rumahku, Vera adikku bukan orang lain."
"Terimakasih kak Adam!" Vera berkelangut di lengan Adam dengan manjanya
"Ingat ya Adam, sesuai perkataanmu hanya sebatas adik kakak tidak lebih." gertak Johan
"Apa maksudmu Johan?" Vera merasa tersindir dengan perkataan Johan.
__ADS_1
"Iya, aku rasa saat ini Vera adalah adikku."
"Sudahlah kak Adam baru lupa tentang waktu itu, tapi aku akan membantu mengingatkan kakak denganku." senyum Vera sesaat.
...*****...
"Sa! Aku sudah membahas semuanya bagaimana cara membantu Adam ingat kamu kembali. Tapi saat ini kamu tinggal dengan mamah Nadira mau kan?" kata Willy
"Kenapa? aku ingin pulang."
"Tidak bisa Mesa, Vera ada di rumah Adam. Dan kalau kamu pulang kerumahnya pasti Adam bingung dan bisa jadi Adam marah. Untuk kali ini kamu sabar lebih dulu aku akan membantu Adam mengingat kamu dan Albe kembali."
"Benar yang di katakan Willy dan Johan. Kamu bisa tinggal sama mamah Nadira dan papah Bryan. Oke?" Mamah Nadira di samping Mesa menyentuh lengan Mesa
"Baiklah aku tidak masalah itu, tapi aku tidak mau Adam bersama Vera berdua di rumah. Aku tidak mau diluar pantuanku mereka macam-macam apa lagi di luar kemampuanku yang tidak bisa apa-apa untuk mencegahnya."
"Soal itu kamu tidak perlu khawatirkan. Aku yang akan berada di rumah Adam menumpang di rumahnya, agar tidak ada celah mereka berdua untuk bersama. Dan perlahan-lahan aku akan membantu mengembalikan ingatan Adam." sambar Johan
γBersambung......
.
.
.
.
Salam hangat dari author imah_nm untuk para pembaca semoga terhibur dan kalian semua suka. π€
JIKA TEMAN-TEMAN SUKA BERI AUTHOR DENGAN \=
VOTE ποΈ
LIKE π
KOMENTAR π¬
FAVORIT β€
TIPβ
__ADS_1
RATE 5 BINTANG βββββ
Bantu dengan LIKE dan KOMENTAR kalian disetiap BAB, itu semua bentuk dukungan teman-teman untuk author agar semangat UPnyaπ!!!Terima kritik dan saran kalian agar lebih baik lagi dari sebelumnya. Terimakasih sebanyak-banyaknya. π