
1 minggu kemudian.....
Mesa mulai sadarkan diri, ia melihat dinding-dinding samping kanan kirinya serba putih. Apa lagi atap yang ada di atasnya, ia meringis kesakitan karena nyeri di perutnya masih terasa.
"Papah, lihat pah. Mesa sudah bangun pah!" teriak mamah Nadira di sana juga ada papah Bryan.
Papah Bryan langsung menekan tombol panggilan yang menyambungkan ke ruangan suster, suster pun ke ruangan Mesa.
Suster bersama dokter yang menangani Mesa, lalu dokter itu memeriksa semuanya keadaan Mesa dengan bantuan suster di sana. Akhirnya Mesa melewati masa kritisnya, dan alat-alat yang menempel di tubuhnya di lepaskan.
Mesa yang sudah full sadar, seketika bertanya-tanya siapa pria dan wanita paruh baya yang berada di ruangannya.
"Syukurlah kamu sudah bangun Mesa." kata mamah Nadira
Dokter dan suster pun keluar dari ruangan Mesa, tinggallah mereka bertiga.
"Maaf kalian siapa?" tanya Mesa
Mamah Nadira dan papah Bryan hanya saling pandang, lalu mamah Nadira tersenyum dan menyentuh lengan Mesa.
"Kami adalah orang tua Adam." balas mamah Nadira
"Orang tua?"
"Bukannya kedua orang tuanya sudah tidak ada."
"Ceritanya panjang sayang, nanti kalau kalian sudah pulih. Mamah akan cerita kepadamu."
Seketika Mesa teringat kalau perutnya mulai mengecil, menandakan kalau rahimnya sudah tidak ada sang jabang bayi. Jelas Mesa syok, di pikirannya sudah menyabang kemana-kemana.
"Perutku." Mesa meraba perutnya, rasa nyeri dan rata.
"Tenanglah Mesa, bayimu masih hidup. Si mungil ada di ruangan bayi khusus, sementara ia harus berada di inkubator karena kamu tahu sendiri kan putramu terlahir prematur."
Ada terasa lega kalau bayinya masih selamat, ia mulai tenang.
"Lalu di mana Adam? suamiku?"
Mamah Nadira dan papah Bryan diam sesaat dengan ekpresi sendu. Mereka tidak tahu mulai dari mana akan berbicara mengenai Adam.
"Kenapa papah dan mamah diam?"
"Maaf kalau saya lancang memanggil kalian sebutan seperti itu."
"Tidak, tidak! Mamah sangat senang kamu memanggil kami dengan sebutan mamah dan papah."
"Sebelumnya perkenalkan mamah adalah mamah Nadira, dan suami mamah ini namanya papah Bryan."
Mesa hanya tersenyum lalu kembali menanyakan Adam.
"Aku ingin bertemu Adam." Mesa bangun dari tidurannya dengan posisi duduk
"Kamu masih sakit Mesa, jangan banyak bergerak dulu. Adam masih di ruangannya."
"Ruangan? Maksudnya mah?"
Mamah Nadira memandang papah Bryan sesaat lalu menghembuskan nafasnya menandakan seperti berat harus mengatakan yang sebenarnya kalau Adam masih koma.
__ADS_1
"Apa mah pah? Adam koma?"
"Ya Tuhan, ujian apa lagi ini. Aku tidak mau kehilangan Adam pah mah."
"Papah tahu Mesa, kemarin itu waktu kamu juga sedang melakukan operasi mengeluarkan bayi dari rahimmu, Adam mengatakan dia juga takut kehilangan kamu. Adam rela menukar nyawanya demi kamu, dan kamu harus bertahan hidup dengan putramu. Dia menyesal karena lalai mengemudi."
Mesa menangis menyangkal, "Tidak boleh, Adam tidak boleh meninggalkan aku mengurus anak sendirian."
"Mah, Pah! Mesa mau bertemu dengan Adam. Aku mohon!" melas Mesa
...*****...
Ruang VIP inap Adam
Dengan bantuan kursi roda dan di perbolehkan oleh suster, dan suster pun mendampingi sampai ruangan Adam lalu pergi meninggalkan Mesa dengan Adam.
Mesa menatap tubuh Adam yang masih di atas bed pasien dengan alat-alat bantu yang masih menempel di tubuhnya.
Mamah Nadira dan papah Bryan berada di belakang, hanya bisa melihat Mesa dengan Adam di sana.
"Suamiku, bangunlah. Aku mohon demi aku kamu harus sadar. Kamu tidak mungkin tega membiarkan aku hidup sendirian mengurus anak kita." kata Mesa menyentuh tangan Adam di selingi dengan tangisannya itu yang tidak bisa di tahan lagi.
"Sadarlah hikss... hikss..."
"Mesa, tenanglah. Berdoalah untuk kesadaran Adam." sahut mamah Nadira mendampingi Mesa di sampingnya
Tiba-tiba ponsel papah Bryan berdering, dan papah Bryan pergi keluar untuk menjawab panggilannya itu.
"Mah, aku ingin melihat bayiku mah."
Akhirnya Mesa di antar sampai depan ruangan bayi khusus dengan pantulan kaca trasparan. Mesa melihat dari luar bayinya di ruangan box inkubator.
Suster yang mengurus ruangan khusus bayi tersebut pu menghampirinya.
"Maaf nona Mesa, sepertinya putra nona sudah bisa nona beri ASI secara langsung, karena nona sendiri sudah siuman. Nona Mesa bisa membawanya keluar dan tidak perlu berada di inkubator lagi. Tapi ingat berat badannya harus di jaga di usahakan bisa naik, serta suhu tubuhnya tetap stabil di suhu ruangan."
"Syukurlah, baik sus. Terimakasih sus"
"Ya. sebelumnya ikuti prosedur merawat bayi prematur, itu harus di jaga dengan baik."
"Baik sus."
Mesa senang, akhirnya ia bisa mengurus putranya secara langsung apa lagi menyusui.
Akhirnya Mesa kembali ke ruanganya menunggu putranya di antar ke ruangannya.
"Mah aku tidak sabar mah, menggendong bayiku."
"Apa lagi mamah, tidak sabar melihat langsung cucuku."
Di tengah-tengah mereka mengobrol papah Bryan masuk ke dalam ruangan Mesa.
"Kemana aja sih pah?"
"Maaf mah, Mesa. Papah harus kembali ke kantor, ada kerjaan yang papah harus urus."
Terlihat sekali papah Bryan terburu-buru, akhirnya papah Bryan pergi dari rumah sakit tersebut menuju ke kantornya.
__ADS_1
Suster membawa putranya ke ruangan Mesa, ia sangat sumringah melihat bayinya akan ia gendong langsung.
Mesa mendekap putranya dengan lembut. Melihat bayinya begitu mungil sekali. menggemaskan sekali!
"Seperti yang suster tadi katakan sebelumnya kepada nona, nona Mesa harus melakukan tata caranya prosedur untuk merawat bayi nona yang terlahir prematur dengan benar. "
"Baik dok!"
"Pertama dengan menjadi mama kanguru, dengan posisi menggendong bayi dengan memasukkannya ke dalam baju atau menggunakan kain gendongan. Mama kanguru bertujuan agar kulit nona bersentuhan langsung dengan Si Kecil.
Melalui kontak kulit ini, Si Kecil akan mengenal aroma tubuh, sentuhan, serta irama napas dan detak jantung ibunya."
Mesa mengeratkan pelukkan dengan lembut dengan putranya yang ia gendong.
"Selanjutnya perhatikan pemberian ASI jangan sampai si kecil dehidrasi."
"Baik dok."
"Ya bagus nona Mesa kalau mengerti, sementara itu dulu. Meskipun sibuk merawat bayi prematur putra nona, jangan lupa untuk merawat diri nona Mesa sendiri dan cukupi waktu istirahat. Jangan pernah ragu untuk meminta dukungan dan bantuan dari orang lain, misalnya untuk menjaga bayi ketika nona sedang tidur. Jangan pernah berkecil hati, karena bagaimanapun kondisi Si Kecil, dia tetap anugerah yang tidak ternilai." jelas dokter tersebut.
"Ada mamah Nadira, mamah juga akan membantu merawat putramu." sambung mamah Nadira.
"Makasih mah."
...****...
Ruangan VIP Inap Adam
Suster yang baru memeriksa keadaan umum pasiennya, melihat ada gerakan jari jemari Adam.
Seketika suster itu memeriksa dengan baik kalau Adam mulai melewati masa kritisnya, suster menghubungi dokter untuk datang keruangan Adam, melihat perkembangan Adam yang awalnya buruk dan tidak ada kemungkinan untuk sadar. Beda dengan saat ini Adam sudah dengan kondisi stabil kembali. Detak jantungnya normal, pernafasannya stabil, respon matanya mau merespon semua keadaan tubuh Adam mulai membaik.
γBersambung......
.
.
.
.
Salam hangat dari author imah_nm untuk para pembaca semoga terhibur dan kalian semua suka. π€
JIKA TEMAN-TEMAN SUKA BERI AUTHOR DENGAN \=
VOTE ποΈ
LIKE π
KOMENTAR π¬
FAVORIT β€
TIPβ
RATE 5 BINTANG βββββ
__ADS_1
Bantu dengan LIKE dan KOMENTAR kalian disetiap BAB, itu semua bentuk dukungan teman-teman untuk author agar semangat UPnyaπ!!!Terima kritik dan saran kalian agar lebih baik lagi dari sebelumnya. Terimakasih sebanyak-banyaknya. π