Dendam Sang Presdir (TAMAT)

Dendam Sang Presdir (TAMAT)
Episode 70


__ADS_3

"Sa, kenapa Adam bisa sakit kepala lagi?" tanya Johan menghampiri Mesa yang sedang menunggu di depan ruangan UGD,


Yang sebelumnya Mesa menghubungi Johan kalau Adam masuk ruangan UGD karena sakit kepalanya kambuh lagi. Dan Willy tidak ikut karena harus pergi untuk kerjaan yang tidak bisa di tinggalkan.


"Itu... Em...." Mesa tidak tahu mau menjawab apa.


"Kenapa Sa?"


"Apa jangan-jangan kamu memaksanya untuk mengingatmu kembali?" Johan menduga-duga.


"Iya aku cuma mengatakan saja yang sebenarnya. Bukan maksud aku memaksanya, maafkan aku Adam bisa menjadi seperti ini, bukan, bukan maksud aku seperti ini." Mulut Mesa begitu kilu sekali dan tidak bisa berfikir jernih, untuk saat ini berbicara saja sangat sulit.


"Tenanglah, aku mengerti Sa! Berdoa saja semoga Adam baik-baik saja." Johan mengerti keadaan Mesa pun memnberi dukungan, ini sepenuhnya bukan salah Mesa, hanya saja Mesa menginginkan Adam kembali pulih agar Mesa bisa bersama Adam lagi.


Di tengah-tengah mereka mengobrol tiba-tiba sang dokter yang baru selesai memeriksa Adam pun keluar dan mencari nama keluarganya yaitu Mesa.


Mesa yang tadinya menatap dokter tersebut beralih menatap Johan, Johan hanya menganggukan kepala saja agar Mesa masuk ke dalam melihat Adam. Kata dokter Adam baik-baik saja dengan begitu Johan pun di perbolehkan masuk ke dalam juga.


Akhirnya Johan dan Mesa pun masuk ke dalam, melihat Adam di brankar pasien dengan kondisi duduk.


"Adam?" panggil Mesa yang terus mendekati Adam bersama Albe di dalam pelukkannya


"Hm." Adam melihat Mesa yang sudah berada di sampingnya. Adam dengan reflek meringkuk pinggang Mesa dan memeluk erat bersama Albe di tengah-tengahnya. Johan yang melihatnya begitu terkejut.


Adam merasa Johan menatapnya terus tiada berkedip lalu ia melepaskan pelukkannya dengan Mesa.


"Adam, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Mesa menatap kedua mata Adam yang sudah lama ia rindukan.


"Aku sudah di obati, sakit kepalaku sudah tidak terasa lagi." jawab Adam begitu entengnya.


"Dam, Mesa siapa kamu?" tanya Johan kepada Adam


"Kamu bodoh atau kamu pikun atau kamu jangan-jangan lupa ingatan, Mesa adalah istriku." Adam mengatai Johan yang membuat Johan berdengus kesal, padahal Johan hanya ingin memastikan saja.


"Heii Adam aku cuma bertanya jangan di tambahi gas. Mahal!" celetus Johan


"Gas mahal untukmu, untukku sepabrik-pabriknya itu murah." Adam menanggapinya dengan santai.


"Apalah daya aku saingan dengan sultan tidak ada apa-apanya aku pasti kalah." Dengus Johan yang tiada tara.


"Kalau sudah terlihat sombong begini, aku rasa ingatanmu sudah pulih."


"Aku ingat semua, Johan! Aku rasa kamu keluar lebih dulu, aku mau bicara berdua dengan istriku."


"Tidak akan, aku belum mengetok kepalamu lebih dulu memastikan benarkah ingatanmu sudah pulih apa belum."


Tiba-tiba saja Adam mencium pipi Mesa di depan Johan, Johan yang mau memukul kepala Adam pun berdiam mematung dan hanya mengedip-ngedikan kedua kelopak matanya berkali-kali.

__ADS_1


Mesa merasa terkejut dengan perlakuan Adam, pipinya menjadi merah merona, malu alami yang ada di wajahnya.


"Dasar bodoh, baiklah aku keluar. Silahkan sepuasnya kalian bermesra ria di dalam sini." Johan pun bergerak yang dari tadi menjadi patung dan meninggalkan Mesa dan Adam di dalam ruangan.


"Perlu di kunci tidak?" Johan membuka kembali pintunya yang hanya menongolkan kepalanya saja di hadapan Mesa dan Adam.


"Pergi dari sana atau aku pecat kamu sebagai sahabat!" gertak Adam


Johan hanya menyengir lalu wus hilang begitu saja dan menutup kembali pintunya, Mesa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja melihat tingkah Adam dengan Johan, sahabatnya Adam yang sudah menjadi sahabatnya juga.


"Benarkah kamu sudah ingat aku siapa?" tanya Mesa menatap Adam


"Sayang aku sudah ingat semuanya."


"Dari kapan?"


"Ini tadi, tadi kamu mengingatkan aku di taman tadi."


"Lalu maksud kamu mengatakan mencintaiku itu kamu sudah ingat?"


"Belum, aku bisa bilang begitu karena kata hatiku sendiri sayang, hatiku yang memberitahuku. Meskipun aku lupa ingatan, aku rasa perasaan itu tidak pernah bohong."


Mesa hanya tersenyum, Adam menyentuh tubuh Mesa untuk menempel di tubuhnya.


"Aku mencintaimu istriku."


"Maafkan aku sayang, aku janji aku tidak akan melupakanmu lagi."


Mesa hanya menganggukkan kepalanya saja, hendak Adam ingin menyium bibir Mesa tiba-tiba Albe terbangun dan menangis kecil menggeliat mencari sesuatu, yang dari tadi tidur di pelukkan Mesa dan apa lagi waktunya Albe untuk minum ASI dari mamahnya.


"Albe putra papah, kenapa kamu menangis?" tanya Adam kepada Albe di pelukkan Mesa dan sekali-kali menyentuh kedua pipi gembul Albe. Meskipun Albe terlahir prematur, kini berat badannya sudah naik stabil. Itu terbukti pipi gembulnya yang menggemaskan sekali.


"Albe haus papah!" jawab Albe yang di peragakan dari mulut Mesa.


"Kamu tidak membawa susu buat Albe?" Adam mencari-cari botol minum untuk Albe di tas Mesa tapi zonk, Adam tidak menemukan apa-apa.


"Kamu tidak membawanya? Kenapa kamu tidak membawanya?" Adam sangat bingung dengan Mesa yang diam saja tanpa menjawab.


"Tenanglah, aku sudah membawanya."


"Mana Sa?" bingung Adam, memang Mesa tidak membawa apa-apa hanya saja Mesa membawa tas kecil yang pastinya tidak muat untuk sebotol susu buat Albe didalamnya.


"Sudah, geseran dikit aku mau duduk." Adam pun menuruti apa yang di bilang Mesa, ia menggeser tubunya ke samping, sedangkan Mesa duduk di sebelah Adam.


"Istriku, kenapa kamu duduk? Kamu tidak kasian dengan anak kita, itu kelihatan kehausan."


"Jangan berisik." Mesa mengendorkan gendongannya lalu ia membuka baju kancing tengahnya, Adam melihat Mesa baru paham sekarang. Jelas Mesa membawanya kemana-kemana ternyata ASI dari Mesa, bukan susu formula. Adam meruntuki kebodohannya sendiri atau memang polos, (Author tidak percaya kalau Adam polos -_-).

__ADS_1


Mesa mengeluarkan satu miliknya yaitu miliknya sebelah kanan dan mengarahkan ujungnya ke mulut Albe, Albe pun menghisapnya begitu bersemangat menandakan kalau Albe benar-benar haus. Adam hanya menelan salivanya saja melihat pemandangan yang baru ia lihat saat ini, p4yud4r4 yang besar putih dan menggairahkan apalagi dia sudah lama sekali tidak menyentuhnya.


"Menggemaskan!" Adam mengarahkan tangannya di pipi Albe lalu berpindah menyentuh milik Mesa yang sama-sama menggemaskan.


"Apa yang kamu lakukan? lepaskan tanganmu dari sana."


"Bayi besarmu ini juga ingin susu!"


"Adam ini di rumah sakit, kita pulang saja. Mamah masti menunggu dirumah."


Adam yang tadinya gairahnya sudah naik, seketika hilang begitu saja ketika dokter perempuan juga masuk untuk menyampaikan kalau Adam boleh pulang karena benar adanya Adam baik-baik saja. Untung dokter perempuan yang masuk, coba saja yang masuk dokter laki-laki, Adam pasti tidak rela milik Mesa di lihat oleh pria lain.


"Sayang kita keluar dari ruangan ini dengan kondisi Albe yang masih menyusu?"


"Iya."


Mata Adam terbelalak lebar dengan jawaban Mesa barusan.


"Aku tidak mau milikmu dilihat pria lain di luar nanti."


"Kemejamu lepas, berikan kepadaku. Aku tidak mungkin melepasnya, kasian Albe yang masih haus."


》Bersambung......


.


.


.


.


Salam hangat dari author imah_nm untuk para pembaca semoga terhibur dan kalian semua suka. πŸ€—


JIKA TEMAN-TEMAN SUKA BERI AUTHOR DENGAN \=


VOTE πŸŽ–οΈ


LIKE πŸ‘


KOMENTAR πŸ’¬


FAVORIT ❀


TIP⭐


RATE 5 BINTANG ⭐⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


Bantu dengan LIKE dan KOMENTAR kalian disetiap BAB, itu semua bentuk dukungan teman-teman untuk author agar semangat UPnyaπŸ’!!!Terima kritik dan saran kalian agar lebih baik lagi dari sebelumnya. Terimakasih sebanyak-banyaknya. πŸ™


__ADS_2