DERITA NONA MUDA

DERITA NONA MUDA
TIGA JIWA DALAM SATU TUBUH


__ADS_3

"Pergilah..." Bastian bicara pelan.


Kedua orang yang sedang ketakutan itu memandang heran pada Bastian. Mereka bingung kenapa tiba-tiba sekarang Bastian mau buka suara, sedangkan tadi mereka melihat Bastian tidak ubah seperti iblis pencabut nyawa, Bastian membunuh teman mereka tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


Bastian sekarang tampak berbeda dari Bastian yang mereka lihat ketika sedang membunuh teman mereka tadi. Diwajah Bastian sekarang terlihat seperti orang yang sedang memendam kesedihan..


"Bawahlah mayat teman kalian, kasihan dia telah kehilangan nyawanya secara sia-sia." Bastian melihat kearah orang yang tadi telah dia ambil nyawanya.


Dua orang yang sedang ketakutan itu melihat tingkah bastian itu sangat aneh. Tadi mereka melihat sendiri kalau Bastian seperti seorang pembunuh berdarah dingin, tapi sekarang kenapa Bastian seperti sangat menyesali apa yang telah dia lakukan.


"Tolong juga dua teman kalian yang sedang terluka." Bastian melihat kearah dua orang yang tadi dia lumpuhkan. Kedua orang itu sampai sekarang belum bisa bangun.


Kedua orang itu sebenarnya ingin mengucapkan terimah kasih, kerena Bastian telah mau membiarkan mereka hidup, tadinya mereka berpikir inilah terakhirnya mereka bisa bernafas. Tapi mereka tidak berani buka mulut untuk bertanya pada Bastian.


Mereka sadar Bastian tidak suka pada orang yang terlalu banyak bicara. Mereka berdua takut kalau mereka buka suara, Bastian akan berubah pikiran.


Sepuluh menit setelah kepergian mereka. Bastian masih duduk sambil bersandar ketembok. Tubuh Bastian terlihat gemetaran seperti orang yang sedang merasa ketakutan.


Pisau yang tadi dipakai Bastian untuk membunuh salah satu dari kelima orang itu, masih tergenggam erat ditangan Bastian. Bastian masih terus memandang pisau yang berlumuran darah itu.


Hmmm... Hmmm... Tiba-tiba ada suara orang yang terdengar seperti kesulitan untuk bicara, mungkin mulut orang itu dalam kondisi sedang terikat.


Bastian melihat kearah sumber suara itu. Tidak jauh dari tempatnya duduk, Bastian melihat ada orang yang kondisi kedua kaki dan tangannya dalam terikat, mulut orang itu juga dalam terikat.


Saat Bastian menyadari kehadiran orang itu, tiba-tiba kilatan mata Bastian terlihat kembali seperti saat dia sedang membunuh orang tadi.


Orang yang dalam kondisi tangan dan kakinya terikat itu melihat ngeri menyadari kilatan aneh dimata Bastian. Orang itu melihat semua apa yang dilakukan Bastian tadi.


Orang itu menilai Bastian tidak hanya memiliki kepribadian ganda seperi orang pada umumnya. Ditubuh Bastian seperti dihuni tiga karakter yang berbeda-beda. Satu jiwa ketika telah melakukan kesalahan, jiwa itu seperti sangat menyesalinya, satu jiwa lagi seperti orang yang tidak memiliki hati nurani sama sekali, jiwa itu ketika sedang marah akan melakukan apa saja untuk meluapkan emosinya. Jiwa terakhir tentu saja jiwa yang paling normal, jiwa yang penuh perhitungan ketika akan melakukan segala hal.


Bastian berjalan perlahan kearah orang yang tangan dan kakinya dalam kondisi terikat. Orang itu terlihat ketakutan ketika menyadari Bastian berjalan kearah dia, Yang membuat orang itu menjadi sedikit lebih tenang, sekarang orang itu melihat kondisi Bastian dalam keadaan normal.


Crasss... Bastian mengayun pisau kearah tangan orang itu.


Orang itu memejamkan matanya ketika Bastian mengayunkan pisau kearah dia. Setelah menunggu beberapa saat tidak terjadi apa-apa, lalu orang itu membuka matanya. Ternyata pisau yang diayunkan Bastian tadi hanya untuk memutuskan ikatan tangan orang itu


"Kau bisa melakukan sisanya sendirikan?" Lalu Bastian melempar pisau kearah orang itu.


Crasss... Crasss... Orang itu memutuskan tali yang mengikat kaki dan mulutnya dengan secara cepat. Melihat itu tentu saja Bastian menjadi kaget.


Melihat apa yang kau lakukan seharusnya kau dapat dengan mudah mengalahkan kelima berandal tadi. Bastian bergumam dalam hati


"Terimah kasih." Orang itu mengucapkan terimah kasih pada Bastian. Suara itu terdengar suara prempuan.


"Apakah kau salah satu pemimpin Srigala Malam?" Bastian bertanya seperti itu setelah mengingat salah satu dari mereka tadi menyebut nama Srigala Malam berapa kali.


Wanita itu hanya menganggukan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Bastian.


"Maafkan kami nona Keyra, kami baru bisa menemukan nona Keyra sekarang." Terdengar ada suara laki-laki.


Bastian melihat kearah belakangnya, dibelakang Bastian sekarang telah berdiri sekitaran sepuluh orang laki-laki.


"Ternyata hanya mulut kalian yang besar, tapi kemampun kalian sangatlah tidak bisa diandalkan." Wanita yang ditolong Bastian tadi terlihat kesal pada kesepuluh orang yang baru datang.

__ADS_1


Wanita yang ditolong Bastian tadi ternyata adalah Keyra. Orang nomor dua diorganisasi Srigala Malam.


Bastian merasa tidak punya urusan dengan orang-orang Srigala Malam. Makanya Bastian berniat meninggalkan mereka semua.


"Kamu mau kemana?" Keyra bertanya pada Bastian.


Bastian tidak menghiraukan Keyra sama sekali yang sedang bicara padanya. Bastian terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun pada Keyra.


"Hei bung kau tidak dengar nona Keyra sedang bicara padamu." Salah satu anak buah Srigala Malam menghadang Bastian.


Kesepuluh anak buah Srigala Malam merasa terhina ketika melihat Bastian seperti tidak memiliki rasa hormat sama sekali pada salah satu bos mereka.


Melihat apa yang sedang dilakukan anak buahnya, Keyra seperti sedang merasakan deja vu. Kejadian seperti itulah yang tadi yang memancing munculnya jiwa psikopat Bastian muncul kepermukaan. Keyra hanya memandang sinis pada anak buahnya.


Kalian harus menerimah hukuman. Kerena sudah datang terlambat. Kalian coba-coba akan bertingkah sok pahlawan didepanku, demi untuk menutupi kesalahan kalian. Keyra tersenyum sinis.


Keyra sengaja membiarkan anak buahnya untuk melakukan apa saja pada Bastian. Keyra ingin melihat kekuatan Bastian yang sesungguhnya. Keyra yakin Bastian belum menunjukan kekuatannya yang sebenarnya.


Keyra berpikir semakin kuat seorang laki-laki maka semakin berguna. Semakin lemah seorang laki-laki maka semakin tidak berguna. Kalau Bastian memiliki kekuatan besar, maka Keyra bermaksud menarik Bastian kedalam Srigala Malam.


Kurang dari satu menit kesepuluh anak buah Srigala Malam sudah tersungkur ketanah. Kesepuluh anak buah Srigala Malam itu memiliki nasib yang berbeda-beda. Ada yang yang memegang perut, ada yang menyeka darah dari bibir, ada yang menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan pusing, kerena tendangan Bastian sudah mendarat dikepalanya.


"Ikutlah bersama kami, setidaknya kau ada tempat pulang." Keyra sangat berharap Bastian mau memenuhi permintaannya.


Keyra yakin dengan adanya orang seperti Bastian didalam Srigala Malam, maka Srigala Malam akan semakin besar dan semakin disegani.


"Jangan berpikir kalau aku bersedia bergabung dengan kalian." Bastian dapat membaca apa yang Keyra inginkan.


"Hahaha kau terlalu pintar dan kuat tidak mungkin aku berani macam-macam denganmu. Tapi bukan kerena itu mengajakmu. Aku mengajakmu kerena hanya mau berterimah kasih padamu. Aku tahu kau sekarang tidak punya tujuan."


Itulah awal perkenalan Bastian dan Srigala Malam.


*****


Dua bulan kemudian.


Sudah satu bulan lebih Adiguna Cokrominoto membuka lowongan untuk tenaga bagian sopir. Tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda orang yang datang melamar. Mungkin orang tahu betapa tingginya resiko kerja diAdiguna Cokrominoto Group.


Memang menjadi Karyawan bagian apapun didalam Adiguna Cokrominoto Group akan digaji sepuluh kali lipat kerja ditempat lain. Tapi tetap saja orang-orang harus berpikir berulang kali, untuk melamar kerja diAdiguna Cokrominoto Group. Kerena mereka tidak mau menukar nyawa mereka begitu saja hanya dengan gaji sepuluh kali lipat.


Sebagian orang lagi berpikir merasa tidak akan mampu memenuhi tuntutan yang dibuat Adiguna Cokrominoto Group, saat nanti mereka resmi menjadi karyawan Adiguna Cokrominoto Group. Standar untuk bisa diterimah kerja diAdiguna Cokrominoto Group sangatlah tinggi.


Tapi siang ini ada seorang seorang laki-laki yang memiliki tingkat keyakian sangat tinggi datang dengan gaga berani untuk melamar kerja diAdiguna Cokrominoto Group.


Penampilan laki-laki yang datang melamar itu sangatlah tidak sebanding dengn keyakinan yang dimilikinya. Laki-laki itu memiliki kepala botak plontos, kumis tebal, kaca mata min mengantung diatas hidungnya. Tompel besar melekat dipipi kanannya.


Laki-laki itu juga memiliki selera berpakaian yang cukup unik. Kemeja putih yang dipakainya sedikit kebesaran, lengan kemeja yang dipakai laki-laki itu terlihat dilipat, itu untuk membuat agar tangannya tidak tertutup, kerena lengan kemejanya lebih panjang daripada tangannya. celana bahan yang dipakainya juga terlihat dilipat, tentu saja itu kerena celananya juga kepanjangan. sepatu pantofel yang dipakainya memiliki warna merah yang sangat terang.


Laki-laki itu segera buru-buru melangkahkan kakinya kedalam gerbang setelah tidak lama pintu gerbang terbuka.


"Stop..!" Salah satu satpam menghadang laki-laki itu.


"Ada apa ya pak satpam?" Laki-laki itu bertanya polos dengan logat jawanya yang kental.

__ADS_1


"Ada apa... Apa apa..." Salah satu satpam bertanya dengan setengah membentak.


Meskipun kedua satpam itu berusaha memasang tampang galak. Tapi sebenarnya kedua satpam itu sedang berusaha sekuat tenaga agar tidak tertawa, kerena geli melihat menampilan penampakan makluk planet yang sedang ada dihadapan mereka sekarang.


"Kula mau ngelamar kerja pak satpam." Laki-laki itu memasang ekspresi wajah serius agar kedua satpam itu yakin dengan kata-katanya.


(Kula \= Aku)


Melihat tingkah laki-laki itu yang berusaha memasang wajah serius semakin membuat kedua satpam itu ingin tertawa. Kedua satpam itu secara serentak menutup mulut mereka dengan tangan dan kedua pipi satpam itu terlihat menggembung, kerena tawa hampir keluar dari mulut mereka. Lalu kedua satpam itu memalingkan wajah mereka kearah belakang agar manusia planet yang ada dihadapan mereka tidak tahu kalau sebenarnya mereka sedang menahan tawa.


"Pak satpam masuk angin ya? Jangan sering-sering bergadang pak satpam." Manusia unik itu bertanya dengan polos.


"Siapa yang masuk angin?" Salah satu satpam itu bertanya dengan galak.


"Masuk angin gundolmu." Salah satu satpam itu berkata kesal, kerena manusia planet itu sudah sembarang menebak.


"Hehehe... Dengan gundul atau botak seperti ini kula bisa menjadi lebih irit pak satpam. Jadi kula tidak harus pake shampoo kalau mau mandi." Manusia unik itu mengelus-elus kepalanya yang botak dengan tangan kiri, kerena tangan kanan sedang menenteng map.


"Memang harga shampoo semahal apa sehingga kamu harus mengirit?" Salah satu satpam itu melotot, kerena kesal dengan omongan manusia aneh yang sangatlah tidak penting itu.


"Coba hitung pak satpam, sekali mandi menghabis satu sachet, gimana kalau sekali mandi menghabis dua sachet. satu sachet harga 500 perak. dikali sebulan sudah menghabiskan berapa sachet, kalau setahun kita suah menghabis berapa uang hanya untuk membeli shampoo. Pak satpam tahu tidak setahun kita menghabis uang berapa? Hanya untuk membeli shampoo." Manusia unik itu bertanya pada kedua satpam.


"Kamu kesini mau melamar kerja apa mau memberi les matematika..!"


"Apa kamu menjadi menjadi menteri ekonomi..!" Satpam yang satu lagi menyambung ucapan temannya.


Kata-kata yang diucapkan kedua satpam itu terdengar seperti pertanyaan, tapi sebenarnya kata-kata kedua satpam itu adalah suatu ejekan. Celakanya kata-kata kedua satpam itu malah dianggap benar-benar suatu pertanyan oleh manusia planet.


"Kalau ada kerjaan buat menjadi guru les matematika kula tidak menolak pak satpammm... Tapi kalau untuk menjadi menteri ekonomi kula tidak yakin, tapi kalau pak presiden mau mengangkat kula jadi menteri ekonomi kula tidak menolak pak satpam, apalagi dipemerintahan sekarang menterinya terdiri dari berbagai kalangan."


"Kamu bisa jadi menteri ekonomi kalau bapakmu yang jadi presiden." Satpam itu lagi-lagi berkata galak.


"Hati-hati bicara pak satpam, bawah-bawah bapak itu ora ilok. Kula ora terimoh."


(Ora ilok \= Tidak bagus)


(Terimoh \= Terimah)


Tiba-tiba kilatan mata laki-laki aneh itu terlihat berubah. Dia menatap dingin dan tajam pada kedua satpam itu, sehingga membuat kedua satpam itu tersurut beberapa langkah kebelakang.


"Ka... Ka... kamu sudah tahu persyaratan agar diterimah kerja disini?" Salah satu satpam itu bertanya dengan gugup.


"Ohhh... Kula sudah pasti tahu pak satpam, pertama kula harus bisa nyupir." Lalu Laki-laki itu meletakan map yang depengangnya keubin, setelah itu dia berdiri lagi mengerak-gerakan kedua tangannya didepan dada, seperti orang yang sedang nyetir.


"Syarat kedua?" Satpam bertanya dengan serius, tampak satpam itu tidak berani lagi merendahkan laki-laki yang tadi dia anggap aneh, setelah melihat kilatan mengerikan dimata laki-laki itu.


"Tentu saja kula paham pak satpam, syarat kedua tentu saja kula harus bisa bela diri, gini-gini kula dikampung tiga tahun belajar silat pak satpam, pak satpam mau lihat jurus-jurus kula?" Laki-laki itu bertanya polos.


"Tidak perlu." Kedua satpam itu sekarang seperti ingin menghindar berlama-lama dengan laki-laki yang bernampilan aneh itu. Kedua satpam itu mulai terasa terancam kalau berada dekat dengan laki-laki yang mereka anggap aneh itu.


"ehhh... Pak satpam harus melihat jurus kula dulu, biar pak satpam yakin sama kula." Tanpa memperdulikan kedua satpam itu mau atau tidak melihat jurus-jurusnya, laki-laki itu langsung saja mempraktekan gerakan menendang dan memukul.


"Ciattt... Ciatt... ciattt." Laki-laki itu dengan semangat memamerkan jurus-jurusnya pada kedua satpam itu.

__ADS_1


Kedua satpam tercengang setelah melihat kuda-kuda laki-laki itu sangatlah kokoh, pukulannya juga sangat bertenaga. Kedua satpam ragu mereka rmasih bisa berdiri, kalau terkena pukulan laki-laki itu.


__ADS_2