DERITA NONA MUDA

DERITA NONA MUDA
KELUARGA MONSTERS


__ADS_3

Dimeja makan.


"Kakak ipar, suami kakak ngapain si, kok lama?" Abimayu bertanya pada Aisyah.


"Bentar lagi turun." Aisyah tersenyum pada adik iparnya.


"Ngapain tuh orang..? Bedakan dulu, lipstikan dulu."


"Ingat ini sedang tidak dirumah. Jadi jaga sikap kamu..!" Nyonya Edi Hartono melotot pada anak bungsunya.


Abimayu langsung menundukan kepalanya, tidak berani melihat kearah mamanya.


Keluarga mereka memang pada suka melototin orang. Umi Aisyah melirik kearah besannya yang sedang melotot kearah putranya.


Beberapa menit kemudian Bastian telah berada didapur.


"sudah pake lipstiknya?" Abimayu mengejek kakaknya.


Wusss... Bastian tiba-tiba melemparkan buah jeruk yang ada diatas meja kearah wajah Abimayu, kerena kesal mendengar ejekan adiknya itu.


Crasss... Abimayu dengan sigap menangkis buah jeruk yang dilemparkan padanya menggunakan garpu. Jeruk yang tadi dilempar oleh Bastian menancap digarpu yang digenggam oleh Abimayu.


Singgg... Papa Bastian tiba-tiba melempar sendok kearah kening Bastian. Sendok yang melayang dengan kecepatan seperti kilat itu kalau sampai mengenai kening Bastian, itu pasti akan membuat kening Bastian bocor. Beberapa inci lagi sendok itu menancap dikening Bastian, dengan sigap Bastian menangkap sendok yang dilempar oleh papanya menggunakan tangan kirinya.


Wusss..!! Sekarang terlihat lagi benda yang lebih besar melayang kearah Edi Hartono. Benda yang melayang kearah Edi Hartono itu kecepatannya melebihi kecepatan sendok yang dilempar oleh Edi Hartono tadi pada Bastian.


"Mama mau membunuh papa?" Edi hartono melihat kearah istrinya. Benda yang tadi melayang kearah dia telah berada digenggamannya. Ternyata benda yang melayang tadi itu adalah piring yang dilempar oleh mama Bastian.


"Sekali lagi kalian bertingkah yang aneh-aneh, mama akan mengubur kalian bertiga hidup-hidup." Mama Bastian menunjuk muka kedua putranya dan juga pada muka suaminya secara bergiliran.


Apa yang dilakukan oleh keluarga Bastian itu sungguh membuat Adiguna Cokrominoto dan istrinya menjadi sangat syok. Jantung mereka seperti berhenti berdenyut.


Adiguna Cokrominoto sudah banyak mengenal orang-orang yang memiliki kemampuan beladiri yang sangat ahli, seperti pak Lukman dan Harimau Kumbang, tapi apa yang disaksikan oleh Adiguna Cokrominoto barusan itu sudah diluar batas kemampuan pak Lukman dan Harimau Kumbang.


Sekarang Adiguna Cokrominoto baru sadar, kenapa Bastian terlihat begitu gila, ternyata Bastian berasal dari keluarga yang sangat ahli dalam kemampuan beladiri.


Sebelum Bastian bergabung kedalam militer pun sebenarnya Bastian sudah memiliki kemampuan beladiri yang sangat hebat, dengan dia masuk dunia militer otomatis kemampuan beladiri Bastian itu semakin meningkat.


Rei sekarang dirumah kami telah berkumpul para monsters. Aisyah juga memandang ngeri pada keluarga suaminya.


"Umi Abi Bastian gak bisa ikut sarapan. Bastian ada urusan yang harus dikerjakan dirumah ibu." Ibu yang dimaksud oleh Bastian itu adalah Siti Nurlela. Wanita yang dulu menjadi keluarga palsu Bastian.


"Sendiri..?" Adiguna Cokrominoto menatap kearah Bastian dengan pandangan aneh.


Adiguna tahu apa yang dikatakan Bastian itu hanyalah alasan semata, kerena sebenarnya Bastian cuma ingin menghindar, Bastian merasa tidak enak setelah apa yang telah keluarganya lakukan dihadapan mereka tadi.


"Tentu saja dengan Aisyah. Bukannya tadi aku sudah bilang sama kamu sayang." Bastian mengedipkan matanya pada istrinya. Kedipan mata itu adalah kode untuk meminta Aisyah mengiyakan kebohongannya.


"emmmms... Iya tadi Aisyah lupa mau bilang." Aisyah terpaksa mendukung kebohongan suaminya.


Baru sehari kamu jadi istri Bastian, kamu sudah berani melakuan kebohongan nak. Nyonya Adiguna Cokrominoto melihat kearah putrinya.


"Baikkk... Hati-hati." Adiguna Cokrominoto berkata pada Bastian.


*****


Satu jam kemudian.


"Assalamualaikum." Aisyah mengucap salam.


"Waalaikumsalam." Terdengar anak kecil menjawab salam Aisyah.


"Ibu ada dek?" Aisyah mengelus kepala anak kecil yang tadi menjawab salamnya.


"Mbak ayu." Anak kecil itu terlihat sangat senang dengan kedatangan Bastian dan Aisyah.

__ADS_1


"Adi sendiri?" Bastian bertanya pada Adi.


"Iyo mas, ibu biasa jam samene durung bali neng pasar." Adi menjawab dengan setengah bahasa jawa.


(iyo \= iya) (Semene \= segini)


(Durung bali \= Belum pulang)


(Neng pasar \= Dari pasar)


"Sayang aku lapar." Bastian menatap kearah istrinya.


"Terus tadi kenapa gak mau sarapan dulu?"


"Aku mau makan masakan kamu sayang." Bastian memandang mesra kearah istrinya.


"Maksud kamu, kamu nyuruh aku masak?"


"Masak untuk suami itu wajib yang, bagi istri." Bastian tersenyum genit.


"Aku mulai curiga deh sama kamu sayang." Aisyah merasakan firasat aneh.


"Adi tau warnet yang diujung sana?" Bastian bertanya pada Adi tanpa memperdulikan istrinya yang menatap dia dengan pandangan curiga.


"Tau mas." Adi menjawab polos.


"Adi gak lagi mau maen warnet?"


"Mau mau mas." Adi terlihat bersemangat.


"Ini mas kasih duit, tapi Adi harus lama mainnya." Bastian menyodorkan uang lima puluh ribu pada Adi.


Aisyah mulai merasakan rencana jahat suaminya, lalu Aisyah dapat ide jahat juga.


"Adi mau gak nemanin mbak ayu masak? Nanti mbak ayu kasih uang seratus ribu." Aisyah langsung menyodorkan uang seratus ribu pada Adi.


"Mas kasih dua ratus ribu, tapi Adi pergi kewarnet." Bastian mengeluarkan uang lima puluh ribu tiga lembar dari dompetnya.


"Mbak ayu kasih tiga ratus ribu, tapi Adi nemanin mbak ayu." Aisyah lalu mengambil uang dua ratus ribu dari dompetnya.


"Kamu apa-apaan si sayang?" Bastian terlihat kesal pada istrinya.


"Aku tahu apa yang kamu rencanakan sayang. Kamu berniat menyuruh Adi pergi, agar gak ada yang ganggu keinginan mesum kamu." Aisyah tersenyum mengejek suaminya.


"Adi ambil semua duitnya dan pergilah." Bastian merampas uang yang ada ditangan istrinya lalu memberikan uang itu pada Adi. Uang yang ada ditangannya dia berikan juga pada Adi.


Beberapa menit setelah Adi pergi dari rumah.


"Mari masak sayang." Bastian mendorong istrinya masuk kedalam rumah.


"Sayang kita mau masak dimana." Aisyah semakin yakin suaminya sedang merencanakan rencana jahat, kerena suaminya bukan membawah dia kedapur, tapi malah membawah dia kearah kamar.


"Aku udah gak lapar lagi sayang, aku mau ngajak kamu melihat-melihat kamar aku dulu." Bastian terus mencari-cari alasan.


"Sayang jangan aneh-aneh deh, nanti ibu pulang gimana."


"Ibu sering lama klo kepasar."


Sekarang Bastian telah berhasil membawah istrinya kedalam kamarnya.


"Sayang emang diotak kamu cuman ada hal seperti itu iya?"


"Sayang aku cuman minta kamu merapikan kamar aku kok." Bastian masih berkelit.


"Awas nanti kamu berbuat yang aneh-aneh." Aisyah menunjuk kearah muka suaminya.

__ADS_1


"Iya aku gak akan aneh-aneh kok. Sekarang rapikan sprei kasurnya, lihat spreinya terlihat berantakan." Bastian menunjuk kearah kasur, sprei yang ada dikasur Bastian memang terlihat berantakan.


Saat Aisyah baru saja menyentuh sprei, tiba-tiba suaminya langsung memeluknya dari belangkang.


"Kamu licik sayang." Aisyah berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya.


"Aku sudah kehilangan dua ratus ribu demi rencana ini sayang." Bastian menggigit pelan tengkuk istrinya.


"Tapi aku kehilangan tiga ratus ribu sayang. Ingat uang lima ratus ribu yang kamu kasih sama Adi untuk menyogok Adi pergi dari rumah, itu tiga ratus ribunya uang aku."


"Aku gak peduli." Tangan Bastian mulai bergerak liar menyusup kedalam pakaian istrinya.


"Sayang kamu benar-benar deh." Aisyah memiringkan kepalanya kekiri. Aisyah merasa kegelian kerena lehernya digigit pelan oleh suaminya.


Aisyah ingat ada seseorang yang mengatakan pada dia, kalau laki-laki yang gampang marah itu libidonya pasti tinggi. Sekarang Aisyah tahu kata-kata itu benar.


"Aroma tubuh kamu membuat aku gila sayang." Bastian masih terus menggigit pelan bagian-bagian tubuh istrinya.


"Sayang kamu berniat membunuh aku iya. kamu dari tadi gak berhenti menggigit leher sama bahu aku." Aisyah merasa kegelian.


Tanpa memperdulikan perkataan istrinya, Bastian mendorong tubuh istrinya secara perlahan kekasur.


"Aku mencintai kamu." Bastian membisikan kata-kata indah itu ditelinga istrinya.


"Aku juga sayang."


"Sayang aku menginginkannya."


"Tapi aku lagi gak mau sayang." Aisyah berpura-pura menolak keinginan suaminya.


Aisyah pernah membaca buku kalau seorang laki-laki itu ketika hasrat sexnya tidak tersalurkan, maka laki-laki itu akan merasa tersiksa. Aisyah ingin membuktikan sendiri apa benar yang ditulis oleh buku itu.


Sretttt Bastian menarik paksa baju istrinya sehingga sobek. Bastian benar-benar telah menggila.


"Setalah ini kamu harus membelikan aku baju baru sayang, untuk mengganti baju aku yang kamu sobek." Aisyah masih terus berusaha mengulur-ulur waktu.


"Aku akan belikan baju satu lemari buat kamu sayang." Nafas Bastian semakin tidak teratur.


"Aku hanya butuh satu sayang, tapi yang sama persis dengan yang barusan kamu sobek."


"Sayang tutup mulut kamu, aku sudah tidak bisa menahannya lagi." Lalu Bastian menempelkan bibirnya pada bibir istrinya.


"Nak kapan kalian datang..?!" Tiba-tiba terdengar ada suara prempuan berasal dari arah pintu.


"Ibu." Aisyah menoleh kearah wanita yang berada dipintu. Aisyah langsung berusaha melepaskan dirinya yang sedang ditindih oleh suaminya, tapi suaminya sengaja menahan tubuhnya dengan kuat, agar dia tidak bisa bergerak.


"Ibu masuk kesini dalam waktu yang salah." Bastian menatap kearah Siti Nurlela.


"Baik saya akan pergi." Siti Nurlela terlihat ketakutan.


"Tutup pintunya." Bastian seperti memberi perinta pada Siti Nurlela.


Siti Nurlela segera buru-buru pergi keluar dari kamar.


Selama ini memang belum pernah Bastian marah pada Siti Nurlela, Kerena Bastian memang benar-benar telah menganggap Siti Nurlela sudah seperti ibunya sendiri, tapi bukan berarti Siti Nurlela barani membantah perintah Bastian. Makanya saat Bastian menyuruh dia keluar dari kamar, Siti Nurlela langsung keluar dari kamar tanpa diminta untuk kedua kalinya.


"Sayang kamu kok jadi gitu si sama ibu?" Aisyah merasa perbuatan suaminya itu kurang pantas.


"Berhentilah berbicara sayang, Seluruh tubuhku terasa mau meledak."


"Makanya lain kali lakukan secara perlahan, tidak perlu terburu-buru. Sekarang aku sudah jadi milik kamu." Aisyah tersenyum manis sambil mencubit pipi suaminya.


"Harusnya dari tadi kamu jadi penurut sayang. jadi aku gak perlu berusaha lebih keras, dan juga kita tidak perlu menyogok anak SD sampai lima ratus ribu." Secara perlahan Bastian mendaratkan bibirnya kebibir istrinya.


Aisyah memejamkan matanya saat bibir hangat suaminya mendarat dibibirnya.

__ADS_1


"Kamu lebih manis sayang, kalau kamu melakukannya dengan lembut." Aisyah berkata pelan pada suaminya.


__ADS_2