
"Ada apa?" Nenek pengurus panti bertanya pada Siti Nurlela.
Siti Nurlela hanya menggelengkan kepala mendengar pertanyaan dari nenek pengurus panti.
Semua anak-anak panti juga melihat kearah mobil Aisyah dengan pandangan aneh. Tadi mereka melihat Bastian dan Aisyah telah masuk kedalam mobil beberapa menit yang lalu, tapi mereka belum mendengar mesin mobil dinyalakan.
"Mungkin ada masalah dengan mobilnya, coba tanya kenapa?" Nenek pengurus panti menyuruh Siti Nurlela bertanya pada Bastian atau Aisyah.
Didalam mobil.
Bastian sepertinya benar-benar tidak terkendali lagi, Sehingga membuat Aisyah kewalahan untuk menghentikan kelakuan suaminya yang sudah seperti kesurupan itu.
Mata Aisyah terlihat melotot dan panik. Muka Aisyah mulai pucat, tangannya menunjuk-nunjuk kearah kaca mobil. Aisyah ingin sekali berteriak marah pada suaminya, tapi tidak bisa, kerena bibirnya masih dalam kekuasaan suaminya.
Melihat muka istrinya pucat seperti orang yang sedang ketakutan, Bastian menjadi heran, lalu Bastian menoleh kearah kaca mobil, mengikuti arah yang di tunjuk oleh istrinya.
Diluar mobil.
Siti Nurlela telah menempelkan muka dan tangan kanannya dikaca mobil, untuk melihat kedalam mobil.
"Astagfirullahaladzim..! Astagfirullahaladzim..! Astagfirullahaladzim." Siti Nurlela istighfar beberapa kali sambil melangkah mundur dengan tubuh lemas.
Anak-anak panti menjadi sangat penasaran apa yang membuat Siti Nurlela menjadi terlihat ketakutan, sehingga beberapa dari anak panti itu mendekat kearah mobil, untuk melihat melalui kaca apa yang sebenarnya terjadi didalam mobil.
"Jangan lihattt..!!" Siti Nurlela berteriak dengan suara keras, agar anak-anak panti tidak ada yang melihat kedalam mobil.
Didalam mobil.
Bastian melihat anak-anak panti mulai mendekat kearah mobil, lalu Bastian cepat-cepat langsung membuka kaca mobil.
"Kunci mobilnya lupa om simpan dimana." Bastian berbicara sambil melihat kearah anak-anak panti.
"Ohhh..."
"Sekarang udah ketemu om kunci mobilnya."
"Mau dibantu nyariin kunci mobilnya om?"
Beberapa anak-anak panti bertanya secara berebutan pada Bastian.
"Gak usah." Muka Bastian terlihat memerah. "Ni kuncinya udah ketemu." Bastian memperlihatkan kunci mobil didalam genggaman tangan kanannya.
"Om masih muda juga, udah pelupa."
"Iya ni om jadi pelupa gara-gara istri om pelit." Bastian senyum-senyum sendiri.
Aisyah semakin terlihat kesal pada tingkah suaminya itu. Aisyah sadar Siti Nurlela telah melihat apa yang telah suaminya lakukan tadi pada dia.
"Pelit kenapa om?" Salah satu anak panti itu menjadi penasaran pada perkataan Bastian.
"Ya istri om pelit, setiap om minta obat lupa sama istri om, susah ngasihnya." Bastian cengengesan.
"Gak boleh gitu dong kak, klo om nya minta obatnya kasih aja kak." Salah satu anak panti itu terdengar berkata pada Aisyah.
"Tuh sayang kata mereka klo om nya minta obatnya kasih aja." Bastian tersenyum mesum pada istrinya.
"Nyalahin mobilnya gak, klo gak mau kamu saya lempar keluar..!" Aisyah melotot kearah suaminya.
"Lanjutin dihotel nanti iya sayang ya." Bastian mengedipkan sebelah matanya pada istrinya.
__ADS_1
Aisyah hanya bisa geleng-geleng kepala. Aisyah tidak bisa berkata-kata apa lagi menghadapi tingkah gila suaminya itu.
*****
Sekitar satu jam kemudian.
Bastian dan Aisyah telah sampai dikamar hotel yang tadi disebut oleh papa Bastian. Setelah Bastian dan Aisyah melangkah kedalam kamar hotel, mereka telah melihat sudah ada empat orang disana.
"Ada apa pa?" Bastian melihat kearah papanya.
"Duduk sini nak." Papa Bastian meminta Bastian duduk dihadapan nya.
Sebelum Bastian duduk, Bastian melirik terlebih dulu kearah Abimayu yang duduk disebelah papanya.
Aisyah memendang dengan eksperesi heran ketika melihat prempuan yang berdiri didekat mama mertuanya.
Kenapa ada Serly disini? Aisyah memandang curiga pada Serly.
Sedangkan Serly hanya tersenyum pada Aisyah, saat Aisyah melihat kearah dia.
"Pasti anak manja ini bikin ulah lagi." Bastian melotot kearah Abimayu.
wusss..! Tiba-tiba Bastian mengarahkan tendangannya kearah kepala Adiknya.
Plakkk..! Abimayu menangkis tendangan kakaknya itu dengan menggunakan kedua tangannya, tapi walaupun Abimayu berhasil menangkis tendangkan kakaknya itu, tetap saja Abimayu terpental beberapa meter, kerena tidak bisa menahan tenaga kakaknya yang begitu kuat.
"You want to kill me..?!" Abimayu memandang kearah kakaknya.
"Masih saja lemah." Bastian tersenyum mengejek kearah adiknya.
Serly langsung terlihat panik melihat apa yang tadi dilakukan Bastian pada Abimayu.
Persiapkan jantungmu Ser, klo kamu mau masuk kedalam keluarga monsters ini. Aisyah tersenyum melihat kepanikan Serly.
"Wajar kakak lebih kuat, kakak dapat latihan tambahan di militer."
"Alasannn..! Memang kamu malas melatih diri, makanya kamu masih lemah seperti dulu." Bastian menyeringai kearah adiknya.
"Do you forget..?! Saya tidak punya banyak waktu, kerena saya diminta papa membantu membangun kembali bisnis kita yang hampir bangkrut. While you... Dibebaskan papa melakukan apa saja." Abimayu mulai kesal mendengar ejekan kakaknya itu.
"Baru punya peran kecil sudah sombong."
"Daripada kakak tidak membantu sama sekali." Abimayu balas mengejek kakaknya.
"Ladies ayo kita pergi dari sini. Biarkan mereka saling membunuh. Tugas kita menghabiskan uang mereka." Mama Bastian menarik tangan Serly dan Aisyah agar mereka keluar dari kamar hotel.
Aisyah dan Serly langsung menurut saja ketika nyonya Edi Hartono menarik mereka keluar dari kamar hotel.
"Bas ajak Aisyah kerumah orang tua Serly." Edi Hartono berkata pada Bastian.
"Kerumah Serly..?" Bastian menjadi heran mendengar permintaan papa nya.
"Anak tengil ini berniat memboyong tunangannya kerumah kita." Edi Hartono memandang kesal pada anak bungsunya.
"Father, I am your child. Bukan hanya dia." Abimayu menunjuk kesal pada kakaknya.
"Tutup mulutmu anak manja." Edi Hartono melotot kearah Abimayu.
"Papa, sebenarnya aku anak kandung kalian bukan si..?! Papa klo berbicara dengan dia lembut." Lagi-lagi Abimayu menunjuk kearah wajah kakaknya. "Sedangkan dengan Abi bentak-bentak." Abimayu memasang wajah memelas.
__ADS_1
"Berhenti berkata yang bukan-bukan klo tidak mau mulutmu ku robek..!" Edi Hartono semakin kesal pada anak bungsunya.
"Well, i won't talk anymore."
"Bagus, diam dan dengarkan."
"Bigini ni nasib jadi anak yang tak di anggap." Abimayu menggerutu.
"Papa dengar kamu dan istri mu orang yang sangat dihormati oleh keluarga Serly." Edi Hartono bertanya pada putra sulungnya.
"Siapa yang bilang seperti itu?" Bastian merasa heran mendengar pertanyaan papa nya.
"Serly sendiri yang mengatakan itu."
"Bastian tidak yakin akan hal itu."
"Serly bilang kalau keluarga mereka merasa sangat berhutang budi pada kamu, kerena kamu pernah menyelamatkan nama baik keluarga mereka."
Mendengar keterangan papa nya itu Bastian langsung ingat kejadian dulu, saat Bastian menyelamatkan Serly dari cengkeraman Laba-laba Merah.
"Bastian tidak pernah mengingat hal itu lagi."
"Serly sangat yakin omongan kamu dan istri kamu pasti akan di dengar oleh keluarga Serly."
"Apa yang harus Bastian katakan pada keluarga Serly..?" Bastian semakin tidak mengerti, sebenarnya apa yang di inginkan papanya.
"Katakan pada papi Serly bahwa kita akan membawah putrinya kerumah kita."
"Membawah Serly kerumah kita..?!" Bastian terlihat kaget sekali gus heran.
"My brother help me." Abimayu merapatkan kedua tangan nya kearah kakaknya sambil memasang wajah memelas.
"Sebenar apa yang telah terjadi?"
"Anak tengil ini sudah melamar Serly." Edi Hartono melirik kearah anak bungsu nya.
"Gagalll..?!" Bastian berpikir Serly menolak lamaran adiknya, lalu adiknya meminta dia dan istri nya untuk melamar Serly secara langsung pada keluarga Serly.
"Impossible..! Mana ada wanita bodoh yang melonak lamaran pria ganteng seperti saya." Abimayu memukul-mukul dadanya dengan rasa bangga.
"Serly menerimah lamaran makluk seperti ini..?!" Bastian menunjuk wajah adik nya.
"Oh my god..! Punya kakak begini amat ya. Papa kalau ku bunuh anak kesayangan mu ini gimana..?!" Abimayu memandang geram pada kakaknya.
"Sudah lah pokok nya ajak istri mu nanti malam kerumah Serly. Katakan kalau kita akan membawah Serly kerumah kita."
"Berapa lama?"
"Berapa lama anak tengilll..?!" Edi Hartono membentak anak bungsunya.
"Maybe, one week."
"Punya adik seperti mu benar-benar menyebalkan." Bastian memandang kesal pada Abimayu.
"Sekarang papa anggap ini selesai. Sekarang papa mau bicara kan hal lain." Kali ini wajah Edi Hartono terlihat lebih serius.
"Soal apa pa..?!" Bastian bertanya hati-hati.
"Soal almarhum tunangan kamu nak."
__ADS_1
"Anita..?!"
"Ya Anita..!" Wajah Edi Hartono terlihat menjadi murung dan sedih.