
"Saya Aisyah bu." Aisyah memperkenalkan dirinya sambil mencium punggung tangan ibu Indra.
"Kamu wanita yang sholehah, beruntung laki-laki yang kelak akan menjadi suami kamu." Ibu indra menyentuh kepala Aisyah.
"Aisyah sudah menikah bu."
"Saya laki-laki yang beruntung menjadi suaminya dia bu." Bastian juga mencium punggung tangan ibu Indra.
"Semoga keluarga kalian selalu menjadi keluarga yang bahagia." Ibu indra berdoa dengan tulus.
"Amin bu."
"Bu, Indra nyalahin lilin dulu ya." Indra bergegas masuk kedalam rumah duluan.
"Ya nak. Tamu kita pasti belum terbiasa dengan keadaan gelap, kalau ibu terang gelap tidak ada bedanya." Ibu Indra berkata getir.
Aisyah dan yang lainnya menjadi sedih mendengar perkataan ibu Indra.
Tidak lama kemudian didalam rumah Indra telah terlihat sedikit menjadi lebih terang, cahaya penerangan itu berasal dari beberapa lilin yang dinyalakan oleh Indra.
"Silahkan masuk kak." Indra mempersilahkan keempat tamunya masuk.
"Terimah kasih." Aisyah tersenyum pada Indra sambil menahan sedih.
"Nak apa kamu membawah sesuatu yang bisa dimakan untuk ayah dan adikmu?" Ibu Indra bertanya pada anaknya.
"Oh ya masih ada dimobil." Bastian baru ingat kalau tadi sebelum berangkat kerumah Indra mereka telah membelikan makanan untuk keluarga Indra.
"Biar Abi yang ambil." Abimayu segera keluar untuk mengambil makanan yang tertinggal didalam mobil, yang tadi mereka beli sebelum mereka berangkat kerumah Indra.
Sebenarnya Aisyah ingin sekali bertanya perihal listrik yang mati dirumah Indra, tapi Aisyah khawatir pertanyaannya itu akan menyinggung ibu Indra.
"Dirumah ini sudah tiga bulan lebih tidak lagi menggunakan listrik." Ibu Indra bercerita dengan sendiri, seolah bisa menebak apa yang ada didalam benak para tamunya.
"Kenapa bu?" Akhirnya Serly tidak bisa lagi menahan rasa ingin tahunya.
"Pihak PLN sudah mencabutnya, kerena sudah tiga bulan kami tidak bisa membayar listik." Ibu Indra menjawab dengan wajah sedih.
Mereka semua hanya terdiam mendengar jawaban ibu Indra, tidak ada lagi diantara mereka yang mau memberi pertanyaan, kerena mereka tahu pertanyaan dari mereka itu akan semakin membuat orang tua Indra semakin sedih.
"Ini bu." Abimayu menyerahkan bungkusan pada ibu Indra setelah dia berada didalam rumah lagi.
"Apa ini?"
"Itu buat suami dan anak bungsu ibu, Indra tadi telah bercerita pada kami, kalau ayahnya sedang sakit." Abimayu memandang sedih kearah ibu Indra.
"Semoga semua kebaikan kalian pada ibu ada yang membalasnya." Ibu Indra terlihat semakin sedih saat menerimah pemberian dari Abimayu.
"Disitu juga ada beberapa obat dari apotik untuk suami ibu. Mudah-mudahan setelah meminum obat, suami ibu bisa cepat sembuh." Aisyah berkata pada ibu Indra.
"Aminnn..." Ibu Indra terlihat senang.
"Sebaiknya ibu dan keluarga ibu makan dulu, kasihan sama anak dan suami ibu jam segini belum makan. Sekarang sudah jam dua belas lebih." Aisyah berkata pada ibu Indra.
"Sekali lagi ibu sangat berterimah kasih pada kalian semua."
"Kami senang menolong keluarga ibu, keluarga ibu sudah mengajarkan banyak hal pada kami." Bastian memandang wajah ibu Indra dengan perasaan haru.
*****
Saat adzan subuh berkumandang Aisyah segera membangunkan Suaminya. Sejak sah menjadi suami Aisyah, Bastian memang sering diminta oleh istrinya untuk melakukan sholat lima waktu.
"Sayang bangun." Aisyah menggoyangkan bahu suaminya secara perlahan.
__ADS_1
Tapi tidak ada respon dari Bastian.
"Suamiku yang ganteng I love you." Aisyah berbisik pelan ditelinga suaminya.
"I love you too." Bastian tiba-tiba merangkul leher istrinya, tapi mata Bastian masih dalam keadan tertutup.
"Bangun sholat sayang. Ingat suami yang hebat itu, suami yang selalu bertanggung jawab. Terutama dalam hal agama." Aisyah mengusap lembut kepala suaminya.
"Sayang... Kamu adalah bidadari tak bersayap yang dikirim tuhan untuk ku." Bastian bangun dan langsung mencium bibir istrinya.
Meskipun adegan itu sering kali dilakukan oleh suaminya, terutama saat Aisyah membangunkan suaminya, tapi tetap saja, apa yang dilakukan oleh suaminya itu selalu membuat pipi Aisyah memerah.
"Sayang kamu lupa kita ada dimana?" Aisyah bertanya pada suaminya.
Mendengar pertanyaan dari istrinya, Bastian langsung memperhatikan keadaan sekelilingnya.
"Ya aku ingat."
"Siap-siap kita berangkat ke mushola."
"Ke mushola?"
"Ya Indra dan ibunya biasanya sholat subuh dimushola."
Sesampainya dimushola.
Masya Allah. Aisyah memandang penuh kagum melihat mushola dipadati orang-orang yang datang, untuk sholat subuh berjamaah.
Bastian juga terlihat kaget melihat kedalam mushola. Bastian tidak menyangka dalam kondisi yang serba sulit ini, ternyata masih banyak yang masih peduli pada agama.
Allaahu akbar Allaahu akbar
Asyhadu allaa illaaha illallaah
Hayya 'alashshalaah
Hayya 'alalfalaah
Qad qaamatish-shalaah Qad qaamatish-shalaah
Allaahu akbar Allaahu akbar
Laa ilaaha illallaah
Terdengar seorang pria membaca Iqomah dari dalam mushola.
Beberapa menit kemudian.
Setelah sholat subuh selesai, beberapa orang mulai keluar dari mushola untuk pulang kerumah masing-masing.
"Nak bapak baru melihat kamu." Tiba-tiba ada seorang laki-laki setengah baya menyapa Bastian dengan senyum ramah, saat Bastian baru mau berdiri.
"Oh ya pak, saya memang baru sekali kesini, saya Bastian." Bastian membalas senyum laki-laki yang menyapanya.
"Tinggal dirumah siapa disini?" Lagi-lagi laki-laki setengah baya itu bertanya dengan ramah.
"Dirumah Indra pak."
"Ohhh... Bapak bisa ngobrol sebentar dengan nak Bastian."
"Tentu saja bisa pak." Bastian menjawab, lalu melihat kearah belakang.
Laki-laki setengah baya yang sedang bicara dengan Bastian mengikuti arah pandangan Bastian.
__ADS_1
"Saya akan bilang terlebih dulu pada istri saya."
Aisyah terlihat berjalan mendekat kearah Bastian.
"Kenapa?" Aisyah bertanya pada suaminya.
"Hemmms... Ada yang mau aku ngobrolin dulu, sayang Kamu pulang duluan ya, sama Indra dan ibu."
"Ya." Aisyah menjawab singkat. "Assalamualaikum." Aisyah mengucap salam sambil tersenyum pada laki-laki yang ada didekat suaminya.
"Wa'alaikumsalam." Laki-laki setengah baya yang tadi berbicara dengan Bastian menjawab salam Aisyah.
Beberapa saat setelah Aisyah pergi.
"Klo boleh tau hubungan nak Bastian dengan keluarga pak Sunarto itu apa?" Laki-laki setengah baya itu bertanya pada Bastian.
"Pak Sunarto?" Bastian terlihat bingung.
"Ya pak Sunarto, ayah nak Indra."
"Ohhh... Kami saudara jauh." Bastian berkata bohong.
"Hemmms." Laki-laki setengah baya itu mengangguk pelan. "Oh ya saya Alam. Orang-orang disekitar sini biasanya memanggil saya pak Alam. Saya pengurus mushola ini." Pak alam memberi keterangan.
"Apakah pak Alam masih ada hubungan saudara juga dengan pak Sunarto."
"Tidak... Tapi bapak sangat mengenal baik keluarga pak Sunarto."
"Oh ya."
"Nak Bastian harus tau, kalau pak Sunarto itu orang yang sangat baik. Dia orang yang sangat dermawan, dulu sebelum ada pandemi keluarga mereka baik-baik saja." Pak Alam terlihat sedih.
"Apa yang terjadi pada keluarga mereka?"
"Sejak virus corona masuk ke negeri ini, hidup pak Sunarto mulai hancur, dia kena PHK."
"Terus?"
"Tidak lama kena PHK pak Sunarto mulai sakit-sakitan. Dalam kondisi yang masih keadaan sakit, pak Sunarto mencari kerja kemana-mana, tapi perusahaan mana yang mau menerimah karyawan yang kesehatannya tidak seratus persen, apa lagi masa pandemi seperti ini. Hampir setiap perusahaan mengurangi karyawannya."
Bastian hanya diam saja mendengar cerita tentang orang tua Indra dari pak Alam.
"Sebelum dia kena PHK dulu, pak Sunarto sering membantu orang lain. Beliau juga selalu rutin memberi sumbangan pada panti setiap bulannya."
"Tapi kan gaji pak Sunarto..?!" Bastian tidak melanjutkan ucapannya.
"Ya bisa dibilang gaji beliau sangat pas-pasan, tapi tetap saja beliau selalu bisa menyisihkan sebagian kecil gajinya untuk diberikan pada orang lain yang lebih membutuhkan."
Bastian tidak bisa lagi menahan air matanya, setelah mendengar cerita keluarga Indra dari pak Alam.
"Banyak warga yang mencoba membantu meringankan beban pak Sunarto, tapi pak Sunarto selalu menolak secara halus orang-orang yang mencoba membantu dia."
"Apa alasan pak Sunarto menolak bantuan warga?"
"Beliau selalu berkata, jangan membuat dia memiliki hutang terlalu banyak, kerena bagi pak Sunarto setiap pertolongan warga pada keluarga dia, itu dia anggap sebagai hutang. Nak Bastian juga harus tau, setiap uang hasil dari Indra meminta-minta, itu selalu dicatat oleh pak Sunarto setiap harinya."
"Untuk apa?"
"Pak Sunarto berkata pada saya, uang itu nantinya akan dia kembalikan lagi, setelah dia dapat rezeki."
"Bagaimana cara mengembalikannya, uang itu berasal dari pemberian ratusan dan bahkan ribuan orang."
"Pak Sunarto bilang, untuk mengembalikannya tidak harus pada orang yang sama. Kata beliau cara mengembalikan bisa kepanti, mushola dan ketempat lain-lainnya."
__ADS_1