
"Awasss..!" Aisyah mendorong tubuh Sumanto dengan kuat, sehingga membuat Sumanto terhempas dengan kuat kekasur.
Sumanto hanya menyeringai kearah Aisyah. Sumanto melihat wajah Aisyah saat itu terlihat merah seperti udang rebus.
Aisyah merasa sangat malu kalau mengingat apa yang barusan terjadi. Sumanto masih menyunggingkan bibirnya kearah Aisyah. Apa yang dilakukan Sumanto itu terasa ejekan bagi Aisyah.
Apa yang barusan aku lakukan? Dasar wanita tidak tau malu. Sekarang pasti dia berpikir kau wanita yang tidak tau malu. Aisyah menggerutu dalam hati dan kesal pada dirinya sendiri.
"Kenapa nona Aisyah memandang kula seperti itu? Apakah nona ingin melanjutkan hal yang tadi?" Sumanto tersenyum sengaja menggoda Aisyah.
"Kauuu..!" Aisyah menunjuk geram pada Sumanto.
"Baik non bisa melanjutkannya kalau non Ais masih menginginkannya."
"Berarti sejak pertama aku datang kau tidak tidur?" Aisyah curiga Sumanto sudah menyadari semua apa yang tadi dia lakukan pada Sumanto.
"Kenapa non Ais marah?" Sumanto bersikap pura-pura bodoh.
"Kauuu..! Dasar laki-laki mesum." Aisyah merasa Sumanto sengaja menjebaknya.
Dasar prempuan aneh, bukan tadi dia yang bermaksud menciumku. Tapi kenapa dia bilang aku yang mesum. Sumanto menatap Aisyah dengan pandangan heran.
"Baiklah kula minta maaf."
Aisyah tahu dari cara Sumanto berbicara kalau Sumanto tidak berniat bersungguh-sungguh meminta maaf. Sumanto berkata seperti hanya untuk berbasa-basi saja.
"Aku mau kekamar mandi." Aisyah berkata dengan nada kesal.
"Ya non tinggal pergi kekamar mandi, apa non mau aku menemani non kedalam kamar mandi."
"Kau..!" Aisyah lagi-lagi menunjuk muka Sumanto dengan geram.
"Apa lagi."
"Ingat jaga kata-katamu, apakah kau lupa aku majikanmu. Jangan kerena aku berada dirumahmu, kau bisa seenaknya bersikap padaku." Aisyah terlihat kesal pada Sumanto.
"Baiklah nona muda Aisyah Adiguna Cokrominoto aku melayanimu dengan baik." Lalu Sumanto turun dari atas ranjang dan berjalan kearah Sumanto.
"Apa yang akan kau lakukan?" Aisyah terlihat panik.
"Aku akan membuktikan pada nona Aisyah kalau aku bisa menjadi pelayan yang baik buat non." Sumanto berkata dengan penuh misteri.
"Auuu..! Sumanto apa yang lakukan?" Aisyah sangat kaget, kerena secara tiba-tiba Sumanto sudah membopong tubuhnya.
"Aku akan mengantar nona kekamar mandi." Sumanto menatap wajah Aisyah sambil tersenyum.
"Tapi tangan kamu masih terluka." Tidak ada tanda-tanda kalau Aisyah marah dengan apa yang Sumanto lakukan. Aisyah malah terdengar mengkhawatirkan luka Sumanto.
"Luka seperti itu tidak akan menghalangi kula, pegangan kalau nona tidak mau terjatuh." Sumanto berkata lembut pada Aisyah.
Secara perlahan kedua tangan Asiyah dilingkarkan dileher Sumanto, Aisyah terlihat malu-malu melihat kearah Sumanto.
"Nona terlihat sangat cantik kalau jadi wanita penurut." Sumanto tersenyum menggoda Aisyah.
Aisyah memukul pelan dada Sumanto kerena malu mendengar apa yang dikatakan Sumanto.
Sumanto segera berjalan keluar dari kamar sambil membopong tubuh Aisyah. Pandangan Aisyah masih belum lepas menatap kearah wajah Sumanto.
"Apakah ada yang salah dengan wajah kula?" Sumanto bertanya pada Aisyah.
"Kenapa benda ini masih terus kau tempel diwajahmu?" Aisyah membelai tompel besar yang menempel dipipi kanan Sumanto.
"Apa yang nona maksud?" Sumanto terlihat kaget.
"Aku ingin melihat wajah aslimu Bas, agar nanti aku bisa menceritakan pada anak kita, seperti apa wajah ayahnya." Aisyah berbicara lembut sambil tangannya melepas kaca mata yang dipakai Sumanto.
"Nona kula tidak paham apa yang nona maksud." Sumanto berusaha sekuat mungkin untuk bersikap tenang, kerena saat ini sebenarnya Sumanto merasa sangat gelisah setelah mendengar apa yang dikatakan Aisyah tadi.
"Berhentilah berbohong Bas. Kamu bisa membohongi semua orang, tapi kamu gak akan bisa membohongiku." Aisyah tiba-tiba meneteskan air matanya. Aisyah menjadi sangat sedih mendengar penyangkalan Sumanto barusan.
"Suman..!" Terdengar ada suara prempuan menyebut nama Sumanto.
"Ibu..!" Sumanto memandang kearah prempuan yang tadi memanggil namanya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan?" Ibu sumanto memandang heran pada sumanto.
Sumanto seperti baru menyadari apa yang dimaksud ibunya. Lalu Sumanto menurunkan Aisyah secera pelan dari bopongannya.
"Ibu Aisyah pulang." Aisyah mencium punggung tangan ibu Sumanto. Lalu Aisyah pergi meninggalkan mereka.
Ibu Sumanto terlihat sangat heran melihat Aisyah pergi meninggalkan mereka sambil menangis.
"Ada apa Suman?" Ibu Sumanto bertanya setelah Aisyah tidak terlihat lagi.
"Gak tau bu, non Aisyah tiba-tiba nangis."
"Gak mungkin non Aisyah menangis tanpa sebab."
"Suman juga bingung bu, kenapa tiba-tiba dia nangis."
"Terus kenapa tadi kamu membopong dia?"
"anu tadi dia bu." Sumanto bingung harus menjawab apa pada ibunya.
"Anu-anu, jangan-jangan kamu sudah anu-anu dengan non Aisyah." Ibu Sumanto terlihat kesal.
"Benaran bu Suman gak nganu-nganuin non Aisyah."
"Terus kaca mata kamu mana?" Ibu Sumanto heran melihat Sumanto tidak memakai kaca mata.
"Dibawah non Aisyah kayaknya bu." Sumanto baru ingat tadi Aisyah yang melepaskan matanya.
"kok iso?" Ibu Sumanto tambah bingung.
(iso \= bisa)
"Soalnya tadi non Aisyah yang melepaskan kaca matanya dari wajah Suman."
"Yo mbo le-le, ibu bingung." Lalu ibu sumanto pergi meninggalkan Sumanto.
(Yo mbo le \= Ya Entah nak /Tidak tahu nak)
*****
Saat Sumanto melangkah memasuki gerbang, kedua satpam yang biasa berjaga melihat heran pada Sumanto.
"Kula Suman pak." Sumanto memberikan keterangan pada kedua satpam penjaga gerbang.
"Oh sampean."
Kedua satpam penjaga gerbang terlihat senyum ramah sambil menganggukan kepalanya kearah Sumanto. Sejak kejadian dilobi parkiran tersebar, orang-orang bekerja dirumah Adiguna Cokrominito tidak berani lagi meremehkan Sumanto. Sekarang mereka malah terlihat sering menunjukan sikap hormat pada Sumanto.
"Ya kula Suman pak satpam."
"Langsung kedalam aja." Salah satu satpam berbicara ramah pada Sumanto.
"Mari pak." Sumanto menganguk hormat pada satpam.
"Mari."
Kedua satpam balas mengangguk hormat pada Sumanto.
Sesampainya didalam seperti biasa Sumanto langsung disambut pelayan wanita.
"Tunggu dulu ya mas, saya akan memberi tahu pada nona dulu kalau mas sudah datang." Pelayan wanita itu tersenyum pada Sumanto.
"Ya mbak." Sumanto balas tersenyum ramah pada pelayan wanita yang bicara padanya.
Lalu pelayan wanitu itu pergi meninggalkan Sumanto untuk memberitahu pada nona mudanya kalau Sumanto sudah datang.
Sesampainya didepan pintu kamar Aisyah.
"Permisi non, mas Sumanto sudah datang."
"Buat apa dia datang lagi?" Aisyah berkata sinis.
Tentu saja mendengar apa yang dikatakan Aisyah, pelayan wanita itu menjadi bingung. Dia tidak paham apa maksud perkataan Aisyah.
__ADS_1
"Jadi saya harus bilang apa non pada mas Sumanto?"
"Apa kamu bilang? Mas Sumanto?" Aisyah tidak senang mendengar pelayan wanita itu memanggil mas pada Sumanto.
"Ya mas Sumanto non." pelayan wanita itu menjawab dengan polos.
"Saya gak suka kamu manggil dia mas." Terdengar ada nada cemburu dari cara Aisyah bicara.
"Terus saya harus panggil apa non?"
"Terserah kamu mau panggil apa, asal jangan panggil dia mas." Aisyah menjawab dengan kesal.
"Baik non."
"Sebaiknya kamu bilang sama dia, kalau saya menyuruh dia pulang."
"Baik non." Lalu pelayan wanita itu berjalan keluar dari kamar Aisyah.
"Tunggu..!"
"Ya non." Pelayan wanita itu berbalik badan setelah Aisyah memanggilnya.
"Apakah dia tidak menanyakan perihal tentang kaca mata?" Aisyah bertanya pada pelayan wanita itu.
"Gak non. Mas sumanto tidak menanyakan apa-apa." Pelayan wanita itu seperti lupa kalau tadi Aisyah sudah melarangnya memanggil mas pada Sumanto.
"Saya bilang jangan panggil dia masss..!" Aisyah membentak pelayan wanita itu.
"Ya non maaf-maaf." Pelayan wanita itu menjadi sangat takut setelah tadi mendengar Aisyah membentaknya. Dia tidak menyangka Aisyah akan sangat marah hanya gara-gara dia memanggil Sumanto dengan panggilan mas.
"Sudah kamu pergi, biar saya yang menemui dia."
"Baik non."
Pelayan wanita itu semakin bingung dengan sikap nona mudanya. Tadi Aisyah meminta pada dia untuk menyuruh Sumanto pergi, sekarang dia bilang mau menemui sendiri Sumanto.
Pelayan wanita itu berpikir kerena nona mudanya itu sedang hamil, maka emosi dan moodnya cepat berubah-ubah, Pelayan wanita itu tahu selama ini Aisyah bicarapun selalu dengan nada lembut, itu pertama kalinya dia melihat nona mudanya itu bicara dengan nada tinggi.
Sesampai diruang tamu Aisyah langsung menemui Sumanto. Sumanto masih terlihat berdiri menunggu kedatangan Aisyah.
Aisyah melihat kearah wajah Sumanto, Aisyah heran kenapa Sumanto tiba-tiba mencukur kumisnya. Dalam hati Aisyah merasa senang Sumanto sudah mencukur kumisnya.
"Kenapa kamu mencukur kumis kamu?" Aisyah bertanya dengan acuh.
"Biar rapi non."
"Kenapa kamu datang?" Aisyah bicara tidak memandang kearah Sumanto.
Melihat sikap Aisyah itu Sumanto tahu kalau Aisyah masih marah padanya kerena soal yang kemaren terjadi dirumahnya.
"Apakah non mau mecat kula?" Sumanto bertanya seperti itu kerena berpikir Aisyah akan memecat dia, gara-gara kemaren dia sudah membuat Aisyah marah.
"Siapa bilang saya memecat kamuuu..!" Aisyah berbicara dengan nada tinggi.
"Tapi non kelihatannya tidak suka kalau kula datang kesini."
"Saya hanya bertanya Basss..!" Aisyah masih bicara dengan nada tinggi. "Oh ya saya lupa nama kamu bukan Bastian tapi Sumanto." Aisyah memelankan nada bicaranya, tapi kata-kata Aisyah itu terdengar seperti ejekan.
Sumanto sebenarnya selalu merasa kaget ketika Aisyah memanggil dia dengan nama Bastian. Sampai sekarang Sumanto tidak tahu apa yang ada didalam pikiran Aisyah, kenapa Aisyah sering memanggil dia dengan nama Bastian.
"Kamu gak nanya soal kaca mata kamu?" Aisyah masih bertanya dengan acuh dan tidak mau memandang kearah Sumanto.
"Gak non." Sumanto menggelengkan kepalanya.
"Baguslah kaca matanya sudah saya buang." Aisyah berbohong, sebenarnya dia menyimpan kaca mata Sumanto dilemarinya. Aisyah menjaga kaca mata Sumanto dengan sangat hati-hati, seolah-olah kaca mata Sumanto itu barang yang sangat berharga.
"Pelayan wanita tadi yang menemui kamu ada hubungan apa sama kamu?"
Dari cara bicara Aisyah sumanto tahu kalau Aisyah seperti sedang cemburu. Sumanto jadi punya ide jahil untuk menggoda Aisyah.
"Kalau non mau tahu sini kula kasih tahu." Sumanto menggoyangkan jari telunjuknya untuk memberi tahu agar Aisyah mendekat kearah dia. Anehnya Aisyah menurut saja apa yang disuruh Sumanto, Aisyah mendekatkan telinganya kearah mulut sumanto, untuk mendengar apa yang akan Sumanto katakan.
"Wanita tadi itu pacar kula." Sumanto berbisik pelan ditelinga Aisyah.
__ADS_1
"Kamuuu..!" Aisyah menjadi marah dan langsung memukul dada Sumanto.