DERITA NONA MUDA

DERITA NONA MUDA
ACARA TALKSHOW


__ADS_3

"Maaf kula jadi ngerepotin non." Sumanto merasa tidak enak pada Aisyah.


Sumanto sebenarnya masih bingung ketika bicara dengan nona mudanya itu, apakah dia harus menggunakan bahasa baku atau pakai bahasa daerah dia. Kalau harus bicara aku kamu dengan Aisyah sumanto merasa kurang pantas dan kurang sopan.


"Kula apa saya?" Reina meledek Sumanto.


"To gunakan bahasa yang menurut kamu benar dan membuat kamu nyaman. Tidak penting kita bicara menggunakan bahasa mana, yang terpenting saat kamu bicara lawan bicara kamu paham apa yang kamu katakan."


"Ya non."


"Kamu tahu presiden kita sekarang cara bicaranya seperti apa, ketika beliau bicara logat jawanya sangat terlihat. Tapi bukan berarti beliau tidak bisa menggunakan bahasa asing. Beliau juga bisa bahasa inggris, tapi ketika ada orang yang bicara dengan beliau menggunakan bahasa indonesia maka beliau akan menjawab dengan bahasa indonesia, saat orang bertanya menggunakan bahasa jawa, maka beliau akan menjawab dengan bahasa jawa dan saat ada yang bicara dengan beliau dengan bahasa inggris baru beliau akan menjawab dengan bahasa inggris."


"Kata-kata kamu panjang kayak rel kereta Syah, tapi apa yang kamu katakan itu benar kok." Reina sependapat dengan Aisyah.


"To saya membahas seorang presiden bukan berarti saya memancing kamu untuk bicara masalah politik." Aisyah tidak mau Sumanto salah mengartikan apa yang dia katakan.


"Ya no kula paham." Sumanto mengangguk.


"Kamu suka penyanyi Anggun C. Sasmi?" Aisyah bertanya pada sumanto.


"Suka non?"


"Kenapa suka sama Anggun?"


"Suaranya bagus non." Sumanto menjawab pertanyaan Aisyah, walaupun Sumanto tidak tahu maksud pertanyaan Aisyah itu apa.


"Anggun ketika bicara dengan orang indonesia maka dia akan bicara menggunakan bahasa indonesia. Ketika ditanya dengan bahasa inggris dia tidak pernah menjawab dengan bahasa prancis. Anggun tidak pernah mau bersikap sok pintar, ketika ada lawan bicaranya menggunakan bahasa indo dia tidak akan menjawab dengan bahasa inggris. Bagi orang sekelas anggun kepintaran itu bukan untuk dipamer tapi untuk digunakan."


"Kamu klo udah gini kayak Mario Eguh Syah."


"Mario Eguh, Mario Teguhhh..!"


"Itu maksud kula Syah." Reina mengikuti gaya bicara Sumanto.


"Ini ni salah satu generasi salah kaprah, ingat klo bicara tuh jangan asal ikut-ikutan bahasa orang atau bahasa asing. Emang kamu mau dibilang pintar dengan bicara menggunakan bahasa asing? Ciri-ciri orang pintar itu dia bisa menempatkan sesuatu dengan benar atau menggunakan bahasa pada tempatnya dengan benar." Aisyah terlihat sedikit emosi.


"Ya Syah... Saya paham kepintaran itu untuk digunakan bukan untuk dipamerkan."


"Tuh kamu paham..!"


"Permisi." Tiba-tiba ada suara seorang prempuan.


"Ya sus." Aisyah menoleh pada suster yang baru datang.


Seharus datang dari tadi sus, kula sudah tidak tahan mendengar mereka membahas suatu yang tidak penting. Mereka membicarakan suatu yang sepele sudah seperti parah wakil rakyat sedang membahas undang-undang. Sumanto merasa lega dengan kedatangan suster.


"Oh ya non tadi dokter Jamal berpesan kalau temannya mau pulang sudah bisa."


"Terimah kasih sus." Aisyah tersenyum pada suster.


"Terimah kasih sus." Sumanto juga tidak lupa berterimah kasih pada suster yang sudah membantu merawatnya.


"Tidak perlu berkata seperti itu, itu sudah tugas saya sebagai seorang suster." Suster tersenyum ramah pada Sumanto.


"Sebagai seorang pasien kula juga tidak dilarangkan mengucapkan terimah kasih?"


"Tentu saja tidak. Yah sudah saya permisi dulu, saya mau membantu pasien lain."


Lalu suster itu pergi meninggaljan mereka.


"Kamu mau langsung pulang To?"


"Ya non."


"Biar saya antar."


"Jangan non, biar kula naik taksi online saja"


"Gak boleh saya tahu rumah kamu?"


"Bukan gitu non."


"Terus..?"


"Ora pantas non, kulakan sopir non, masak kula yang diantar pulang."


(Ora \= Tidak)


"Saya mau menerimah kamu kerja, bukan berarti saya benar-benar butuh seorang sopir, tapi saya butuh teman bicara, kerena saya yakin ada suatu yang belum saya ketahui tapi kamu ketahui."


"Maksud non..?" Sumanto tiba-tiba keget mendengar perkataan Aisyah itu.


Kenapa dia kaget? Mungkinkah benar ada suatu yang dia tutupi dari Aisyah. Reina merasa aneh melihat Sumanto seperti kaget mendengat apa yang Aisyah katakan.


"Sudahlah saya yakin kamu tidak akan mau jawab kalau saya menanyakannya."


"Emang ada suatu yang kamu curigai dari dia Syah?" Reina berbisik pelan pada Aisyah.


Aisyah hanya mengangguk kepala menjawab pertanyaan Reina.


"Dengar-dengar ibu kamu sedang sakit To?" Aisyah bertanya seperti itu untuk mengalihkan pembicaraan.


"Dari mana non tahu."


Sumanto seperti lupa kalau keluarga Adiguna Cokrominoto punya jaringan informasi dimana-mana.

__ADS_1


"Itu tidak penting saya tahu dari mana."


"Selamat siang." Tiba-tiba ada suara wanita lagi menyapa mereka.


Aisyah dan Reina segera melihat kearah sumber suara itu. Aisyah dan Reina seperti mengenal suara yang menyapa mereka.


Benarkan pramugari cantik tapi bodoh. Reina melihat kearah wanita yang baru datang.


"Natalie." Aisyah langsung memeluk Natalie.


"Apa kabar?"


"Baik."


"Hai." Natalie melambai kearah Reina.


"Hai." Reina balas menyapa Natalie.


Walaupun Reina seperti sedang bicara dengan Natalie, tapi mata Reina malah menatap pada orang yang ada dibelakang Natalie. Orang yang datang bersama Natalie itu cukup menarik perhatian Reina.


Pacar sibodoh ini ganteng juga. Reina sangat terpesona dengan pria yang datang bersama Natalie.


Natalie dan Aisyah melihat kearah pria yang sudah membuat Reina terpesona itu.


"Kenalin itu Riko teman aku." Natalie memperkenalkan pria yang datang bersamanya.


Syukurlah ternyata dia bukan pacar sibodoh. Entah kenapa Reina merasa sangat lega setelah mendengar Natalie mengatakan pria bernama Riko itu adalah temannya.


"Selamat siang nona, saya Riko." Rika mengulurkan tangannya pada Aisyah.


"Aisyah." Aisyah Menyambut uluran tangan Riko.


Lalu Riko berjalan kearah Reina.


"Riko."


Reina hanya diam menatap kearah Riko. Reina seperti tidak menyadari uluran tangan Riko.


"Saya Riko." Riko mengulang menyebut namanya pada Reina.


"Hehehehe Riko, saya Reina." Reina tersenyum bodoh pada Riko. Sambil menjabat tangan Riko.


"Cocok tuh RR, Riko Reina." Aisyah merasa ada cela untuk membalas menggoda sahabatnya itu, setelah melihat Reina seperti salah tingkah ketika berhadapan dengan Riko.


"Apaan sih..!" Reina melotot kearah Aisyah.


"Reina masih jomblo tuh Rik." Aisyah seperti tidak peduli pelototan Reina.


Reina mengacungkan tinjunya dengan tangan kirinya kearah Aisyah, kerena tangan kanan Reina masih menggenggam tangan Riko.


"Itu salaman apa lagi ijab kabul. Lama amat pegangan tangannya." Aisyah tersenyum menggoda Reina.


Riko hanya tersenyum melihat tingkah Reina. Lalu Riko berjalan kearah Sumanto yang sedang terbaring diranjang. Sumanto dari tadi hanya diam mendengar pembicaraan mereka.


"Riko."


"Sumanto."


"Semoga cepat sembuh."


"Terimah kasih." Sumanto tersenyum pada Riko.


Mendenar suara Sumanto, Natalie langsung menatap kearah Sumanto dengan tatapan tajam.


Aku rasa pernah mendengar suara pria ini. Natalie mencoba mengingat dimana dia pernah mendengar suara Sumanto.


"Kenapa?" Aisyah menyenggol bahu Natalie.


"Ohhh... Gak kenapa-kenapa." Natalie menoleh kearah Aisyah, tapi natalie tidak memberi tahu pada Aisyah apa yang dia pikirkan tentang Sumanto.


Sumanto sadar kalau Natalie menatap dia dengan pandangan aneh.


"Namanya Sumanto, dia sopir baru aku." Aisyah memberi keterangan pada Natalie.


"Semoga cepat sembuh." Natalie berkata pada Sumanto.


"Terimah kasih." Sumanto tersenyum pada Natalie.


"Oh ya saya datang kesini atas permintaan seseorang."


"Permintaan Seseorang?" Aisyah menatap heran pada Natalie.


"Atas permintaan dia." Natalie menunjuk kearah Riko.


"Permintaan dia." Aisyah melihat kearah Riko.


"Oh ya nona saya bekerja disalah satu stasiun tivi swasta, saya host dia acara talkshow distasiun tivi itu."


"Jangan panggil saya nona." Aisyah merasa tidak nyaman mendengar Riko memangggil dia nona.


"Saya bermaksud mengundang mbak Aisyah keacara talkshow yang saya bawah."


"Maaf mungkin saya gak bisa." Aisyah menolak secara halus.


"Riko sudah lama pengen ketemu kamu Syah, tapi Riko sadar untuk bertemu orang seperti kamu sangat susah. Makanya dia minta tolong kesaya untuk bertemu dengan kamu, gak tahu Riko tahu dari mana kalau kita saling kenal." Natalie berharap dengan berkata seperti itu Aisyah mau memenuhi permintaan Riko.

__ADS_1


"Kapan acara talkshownya?"


"Kapan saja mbak Aisyah bisa." Riko terdengar sangat bersemangat mendengar Pertanyaan Aisyah. Riko melihat ada cela setelah mendengar pertanyaan Aisyah.


"Jadwal talkshow kamu kapan?"


"Setiap malam mbak, ada yang live ada yang tidak."


"Jam berapa?"


"Jam 20:00 mbak."


"Baik saya akan datang keacara kamu."


"Terimah kasih mbak." Riko terlihat sangat lega mendengar jawaban Aisyah.


"Tapi saya ada syarat."


"Apapun syaratnya akan saya terimah."


Riko tidak peduli dengan syarat yang akan diminta oleh Aisyah, yang terpenting bagi Riko Aisyah akan datang keacara dia. Kerena Riko juga yakin orang seperti Aisyah tidak akan membahas masalah honor, seperti artis-artis matre yang sok penting yang dia undang beberapa kali keacara dia.


"Apakah mereka berdua bisa juga kamu undang untuk menemani saya diacara kamu." Aisyah menunjuk kearah Sumanto dan Reina.


"Mereka?" Riko melihat kearah Sumanto dan Reina secara bergantian.


"Bisa?"


"Ohhh... Tentu saja bisa." Riko tidak menduga kalau Aisyah akan membuat syarat segampang itu.


"Kalian bisakan datang keacara Riko jam 20:00 nanti malam?" Aisyah bertanya pada Sumanto dan Reina.


"Ya bisa." Reina terlihat sangat senang mendengar Aisyah mengajak dia datang keacara talkshow Riko.


"Tapi non kondisi tangan Kula." Sumanto terdengar seperti berniat menolak perminataan Aisyah.


"Kami akan kirim sopir untuk menjemput tuan." Riko khawatir kalau Sumanto menolak itu akan membuat Aisyah juga ikut menolak datang keacara dia.


"Kula rasa itu sangat lucu, seorang sopir dijemput sopir."


"Tidak ada yang salah tuan. Tukang jual nasi makan nasi, penjual baju memakai baju, tidak ada masalah jeruk makan jeruk." Riko mencoba bergurau dengan menirukan iklan lama yang sudah terdengar basi.


"Tolong jangan panggil saya tuan. Saya hanya seorang sopir." Sumanto menjadi risih mendengar Riko memanggil dia tuan beberapa kali.


"Baiklah mas sopir, Apakah mas sopir bisa datang keacara saya?" Riko tersenyum pada Sumanto.


"Saya akan usahakan datang mas host." Sumanto membalas gurauan Riko.


Kerena pengelamannya bertahun-tahun menjadi host, Riko bisa bertemu dengan berbagai karakter orang, jadi Riko tahu orang seperti Sumanto saat menjawab saya akan usahakan itu arti saya bisa.


"Tidak perlu mengirim sopir buat dia, biar saya yang menjemput dia." Aisyah berkata pada Riko.


"Tapi kula."


"Tapi kula sopir non." Aisya langsung bisa menebak apa yang akan diucapkan oleh Sumanto. "Kamu bisa gak sih sekali saja tidak protes dengan apa yang akan saya lakukan." Aisyah menatap kesal pada Sumanto.


Episode dua pertengkaran suami istri telah dimulai. Reina merasa selalu aneh melihat Aisyah bersikap seperti itu pada Sumanto.


Riko dan Natalie melihat kearah Aisyah. Sikap Aisyah pada Sumanto itu juga cukup membuat Riko dan natalie tertarik. Riko dan Natalie merasa Sumanto bukanlah seorang sopir biasa bagi Aisyah. kalau melihat sikap Aisyah pada Sumanto barusan.


Sopir ini cukup berbeda dimata nona Aisyah, siapa sebenarnya pria ini? Riko melirik kearah Sumanto dengan heran.


*****


Jam 20:00


"Oke selamat malam semuanya, malam ini adalah malam bersejarah buat kita, buat saya dan tentu saja buat acara ini. Ini untuk pertama kalinya beliau datang keacara talkshow, kerena untuk bertemu dengan orang seperti beliau sangatlah susah, siapakah diaaa... Inilah dia Aisyah Adiguna Cokrominotooo... Pewaris tunggal perusahaan raksasa Adiguna Cokrominoto Group." Riko berbicara dengan lugas melakukan opening untuk acara talkshow yang dibawahnya.


Semua isi studio bertepuk tangan dengan meriah setelah mendengar nama bintang tamu yang disebut Riko.


Aisyah terlihat sangat anggun dalam balutan drees silver yang digunakannya. Semua mata terpesona menatap kearah Aisyah. Seisi studio seperti terhipnotis dengan penampilan Aisyah yang tak ubah seperti princes yang ada dinegeri dongeng.


"Selamat malam mbak Aisyah. Malam ini mbak Aisyah terlihat sangat cantik." Riko memuji Aisyah dengan tulus.


"Terimah kasih." Aisyah tersenyum malu mendengar pujian Riko.


"Silahkan duduk mbak." Riko mempersilahkan Aisyah untuk duduk setelah menyalami Aisyah.


"Terimah kasih." Aisyah segera duduk.


"Sebenarnya seperti apa keseharian seorang Aisyah Adiguna Cokrominoto?" Riko langsung bertanya setelah Aisyah duduk.


"Saya rasa sama dengan orang-orang pada umumnya."


Berikutnya Aisyah menjawab apa adanya pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan oleh Riko.


"oke pertanyaan berikutnya, pertanyaan yang bersikap pribadi dan mungkin sensitif untuk mbak Aisyah, apakah mbak Aisyah tidak keberatan saya menanyakannya?" Riko terlihat lebih serius.


"Selagi saya bisa jawab saya akan jawab." Aisyah berusaha sikap tenang.


Aisyah menjadi penasaran pertanyaan apa yang akan ditanyakan oleh Riko. Aisyah melihat ada keraguan diwajah Riko sangat Riko akan mengutarakan pertanyaannya.


"Apakah benar sekarang mbak Aisyah sedang hamil dua bulan?" Riko bertanya dengan suara pelan.


Walaupun Riko bertanya dengan pelan tentu saja seisi studio dapat mendengar pertanyaan Riko. Aisyah terdiam beberapa saat setelah mendengar pertanyaan dari Riko. Tiba-tiba seisi studio terasa hening dan mencekam.

__ADS_1


"Ya benar... Tuhan sudah menitipkan janin berumur dua bulan dirahim saya." Aisyah tiba-tiba meneteskan air matanya.


Seorang crew tivi berjalan kearah Aisyah untuk memberikan kotak tisu pada Aisyah. Terlihat seorang crew prempuan itu juga tak kuasa menahan tangisnya. Dia juga seperti dapat merasa kesedihan yang dirasakan oleh Aisyah.


__ADS_2