
Jam 17:00
"Non saya mau langsung pulang, ada urusan yang harus saya kerjakan."
"Kok buru-buru To." Aisyah memandang heran pada Bastian.
"Soalnya ini urusan darurat non."
"Darurat..! Urusan apa To?" Aisyah khawatir kalau lagi-lagi Bastian terlibat dalam urusan yang bisa membahayakan keselamatannya.
"Maaf non saya tidak bisa menceritakan pada non Aisyah."
"To apa aku benar-benar tidak ada arti apa-apa dimata kamu?" Aisyah berkata liri pada sumanto.
"Kenapa non Aisyah berkata seperti itu?" Bastian dapat melihat ada bayangan kesedihan dimata Aisyah.
Bas aku adalah ibu dari anak kamu, kalau benar ada urusan yang benar-benar darurat seharusnya kamu menceritakan sama aku, bukannya menutupinya dari aku. Sampai kapan Bas kamu menganggap aku tidak berarti buat kamu. Aisyah menatap Bastian dengan wajah sedih.
Bastian berjalan mendekat kearah Aisyah, lalu Bastian meraih Aisyah kedalam pelukannya. Bastian menyandarkan kepala Aisyah dibahunya sambil membelai lembut kepala Aisyah.
"Aku janji akan menceritakan semuanya sama kamu, setelah masalah ini selesai." Bastian berbisik pelan ditelinga Aisyah.
Saat itu Aisyah maupun Bastian lupa kalau mereka memiliki hubungan antara sopir dan majikan. Seharusnya mereka berdua harus menjaga jarak, tidak seharusnya mereka terlihat sedekat itu.
Kalau sampai ada yang melihat apa yang sedang mereka lakukan saat itu, pasti orang itu akan salah paham mengartikan hubungan mereka berdua.
"Bas sudah seharus kamu mulai berpikir apa yang akan terjadi dengan kamu itu akan berefek pada orang lain." Aisyah memandang wajah Bastian. Butir-butir bening menetes dari pipi Aisyah saat dia berbicara pada Bastian.
"Aku Sumanto bukan Bastian." Bastian tersenyum pada Aisyah untuk menghilangkan kesedihan Aisyah. Tangan Bastian mengusap air mata dikedua pipi Aisyah.
"Siapapun nama kamu gak penting, yang penting kamu bukan kanibal." Tampaknya apa yang dilakukan Bastian itu dapat menghilangkan kesedihan dan kekhawatiran Aisyah. Terlihat kalau Aisyah sudah bisa bergurau sambil tersenyum pada Bastian.
"Beristirahatlah dengan baik dan bersiap-siaplah, kerena besok aku akan datang menjadi kanibal. Kelihatannya daging non Aisyah terlihat enak." Bastian membuka mulutnya lebar-lebar seolah-olah akan mengigit kepala Aisyah.
Aisyah mendorong tubuh Bastian, lalu Aisyah berlari kecil pergi meninggal Bastian. Terlihat sekali saat itu hati Aisyah sedang berbunga, tergambar dari senyuman lebar diwajahnya.
"Nonnn..." Bastian memanggil Aisyah.
Mendengar Bastian memanggilnya Aisyah langsung menghentikan larinya dan segera berbalik badan melihat kearah Bastian.
"Jaga baik-baik anak kita." Bastian menunjuk kearah perut Aisyah.
Selesai berkata Bastian segera berjalan keluar. Tanpa memperdulikan Aisyah yang masih terus mematung menatap kearah dia.
Air mata Aisyah tidak bisa dia tahan. Aisyah sangat terharu mendengar apa yang dikatakan Bastian tadi. Kata-kata yang diucapakan Bastian tadi itu sungguh membuat Aisyah sangat bahagia.
Akhirnya kamu mengakuinya juga Bas kalau ini anak kamu, anak kita. Aisyah mengusap air matanya menggunakan tangan.
"Non juga sudah seharusnya mulai berpikir kalau air mata non itu juga bisa berefek pada orang lain." Bastian berkata tanpa melihat kearah Aisyah.
*****
Saat Bastian keluar dari gerbang rumah Adiguna Cokrominoto Bastian melihat ada mobil yang parkir tidak jauh dari gerbang rumah Adiguna Cokrominoto.
__ADS_1
Bastian segera berjalan kearah mobil yang sedang terpangkir tidak jauh dari gerbang. Mobil itu tampaknya memang sengaja menunggu kedatangan Bastian.
Saat Bastian sudah berada didekat mobil, terlihat pintu mobil belakang ada yg membuka dari dalam. Bastian buru-buru segera masuk kedalam mobil. Setelah Bastian masuk, mobil itu langsung pergi meninggalkan kediaman Adiguna Cokrominoto.
Tidak lama mobil yang membawah Bastian pergi, tampak ada mobil yang keluar dari gerbang rumah Adiguna Cokrominoto, mobil itu terlihat membuntuti mobil yang membawah Bastian. Selisih beberapa menit kemudian ada lagi mobil kedua terlihat keluar dari gerbang rumah Adiguna Cokrominoto. Mobil itu juga membuntuti mobil yang membawah Bastian.
Didalam mobil yang tadi membawah Bastian.
"Apa tuan sudah menyiapkan semuanya?" Bastian bertanya pada orang duduk dikursi depan disebelah sopir.
Ternyata yang menjemput Bastian adalah Serly dan papinya.
"Ya sudah siapkan semuanya." Papi Serly menjawab pertanyaan Bastian.
"Apakah rencana ini akan benar-benar berhasil?" Serly bertanya pada Bastian, Serly duduk dikursi belakang disebelah Bastian.
"Bersikaplah senatural mungkin agar mereka tidak tahu apa yang sedang kita rencanakan."
Dimobil paling belakang.
"Apakah pak lukman sudah menghubungi Harimau Kumbang?"
"Sudah tuan."
Ternyata yang berada dimobil belakang Adiguna Cokrominoto dan pak Lukman. Adiguna Cokrominoto segera mengajak pak Lukman menyusul Aisyah, setelah ada salah satu pelayan melapor kalau Aisyah pergi buru-buru dengan wajah kelihatan panik.
"Jangan sampai kita kehilangan jejak Aisyah." Adiguna Cokrominoto berkata pada sopir.
Dimobil kedua.
Aisyah terus memandang dengan khawatir kearah mobil yang tadi membawah Bastian.
Bas kamu mau kemana? Berhentilah membuat aku khawatir. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa.
Beberapa jam kemudian mobil yang membawah Bastian berhenti disalah satu rumah. Bastian, Serly dan papinya langsung keluar dari mobil. Mereka berjalan dengan keadaan buru-buru masuk kedalam rumah yang mereka datangi. Papi Serly terlihat membawah koper ditangannya.
Sesampainya didalam rumah mereka bertiga telah ditunggu beberapa orang. Terlihat ada sekitaran sepuluh orang yang menunggu kedatangan mereka. Satu orang terlihat duduk disofa. Tampaknya orang yang duduk disofa itulah pemimpinnya.
"Apakah kalian sudah membawah apa yang kami minta?" Laki-laki yang duduk disofa langsung bertanya.
"Apakah kau pemimpin Laba-laba merah?" Bastian bertanya dingin pada laki-laki yang duduk disofa.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku, yang jelas berikan apa yang kami minta." Laki-laki yang duduk disofa menatap tajam kearah Bastian.
"Bagaimana kami akan memberi apa yang kalian minta, kalau kami tidak tahu akan memberikannya pada siapa."
"Aku adalah memimpin Laba-laba Merah." Laki-laki yang duduk disofa menjawab pertanyaan Bastian.
"Apakah kau bisa membuktikannya kalau kau benar-benar pemimpin Laba-laba Merah." Bastian bertanya dengan sinis.
"Apa maksudmu..? Bukti apa yang kau minta?" Pemimpin Laba-laba Merah terlihat tidak senang mendengar perkataan Bastian.
"Perlihatkan vidionya baru aku percaya kalau kau adalah benar-benar pemimpin Laba-laba Merah."
__ADS_1
"Vidionya ada dilaptop ini." Pemimpin Laba-laba Merah menunjuk laptop yang berada diatas meja yang ada dihadapannya.
"Perlihatkan vidionya."
Tanpa menjawab perkataan Bastian pemimpin Laba-laba Merah langsung memutar vidio yang ada dilaptopnya, lalu mengarahkan layar laptopnya kearah Bastian, agar Bastian dapat melihat vidio yang tadi dia tanyakan.
Serly dan papinya hanya terdiam mendengar pembicaraan antara Bastian dan pemimpin Laba-laba Merah. Mereka berdua terlihat sangat tegang.
"Apa uang satu milyar yang kami minta sudah kalian siapakan?"
Mendengar pertanyaan pemimpin Laba-laba Merah itu, Bastian langsung mengulurkan tangan pada papi Serly untuk meminta koper yang sedang dipegang papi Serly. Papi Serly langsung memberikan koper yang dipegangnya pada Bastian.
"Duit yang kalian minta ada didalam koper ini."
"Berikan kopernya." Pemimpin Laba-laba Merah mengulurkan tangannya, agar Bastian memberikan kopernya pada dia.
Bastian langsung melemparkan koper yang dipegangnya keatas meja yang ada dihadapan pemimpin Laba-laba Merah. Memimpin Laba-laba Merah segera memiringkan tubuhnya kearah meja untuk mengambil koper yang berisi uang satu miryar yang ada diatas meja.
Dorrr..! Bastian menembakan pistolnya kearah koper yang diatas meja yang akan diambil pemimpin Laba-laba Merah. Duit yang ada didalam koper berterbangan keluar setelah koper pecah kena tembakan dari Bastian.
"Apa yang kau lakukan?" Pemimpin Laba-laba Merah melihat kearah Bastian. Terlihat kalau Pemimpin Laba-laba Merah marah dengan apa yang dilakukan oleh Bastian.
"Kalau berani bergerak sedikit saja maka kepalamu akan bernasib sama dengan koper itu." Bastian mengancam Pemimpin Laba-laba Merah.
Melihat apa yang dilakukan Bastian itu ada beberapa anak buah Laba-laba Merah berniat mengambil pistol yang disembunyikan dipinggang meraka.
Dor... Dor... Terdengar suara tembakan dua kali berturut-turut. Tiba-tiba dua anak buah Laba-laba Merah sudah jatuh terkapar kehilangan nyawa. puluru pistol Bastian sudah terlebih dahulu bersarang dikening masing-masing anak buah Laba-laba Merah yang tadi berniat mengambil pistol.
"Peluru pistol saya memang tidak cukup untuk membunuh kalian semua, tapi saya tidak akan keberatan menghabiskannya untuk membunuh siapa saja yang berani melakukan gerakan mencurigakan.
"Kau ingkar janji." Pemimpin Laba-laba Merah memandang geram pada Bastian.
"Kau pikir aku bodoh. kau kira aku tidak tahu kalau kau telah menyalin vidionya. Aku datang kesini bukan untuk meminta kau menghapus vidionya, tapi aku datang kesini untuk mengambil nyawa pemimpin Laba-laba Merah."
"Apa maksudmu..?" Laki-laki yang duduk disofa yang tadi mengaku sebagai pemimpin Laba-laba Merah bertanya pada Bastian.
"Kau kira aku tidak tahu kalau kau bukan pemimpin Laba-laba merah. Ada orang yang sudah memberi tahu padaku ciri-ciri pemipin Laba-laba Merah itu seperti apa. Kau tidak sesuai dengan ciri-ciri itu."
"Siapa orang yang sudah menceritakan ciri-ciru pemimpin Laba-laba Merah padamu?"
"Akuuu..!" Tiba-tiba ada suara prempuan berteriak.
Semua anggota Laba-laba Merah melihat kearah suara prempuan tadi yang berteriak. Tak terkecuali Serly dan papinya. Hanya Bastian yang tidak menoleh, kerena Bastian sudah tahu siapa prempuan tadi yang berteriak.
"Keyraaa..!" Laki-laki yang tadi mengaku sebagai pemimpin Laba-laba Merah melihat kearah Keyra.
Keyra terlihat datang bersama beberapa anak buahnya. Keyra datang tentu saja untuk membantu Bastian.
"Laki-laki sepertimu berani-beraninya mengaku sebagai pemimpin Laba-laba merah." Keyra memandang sinis kearah laki-laki yang sedang duduk disofa yang tadi mengaku sebagai pemimpin Laba-laba Merah.
"Keyra kau ternyata mencoba memicu perang antara Laba-laba Merah dan Srigala Malam." Laki-laki yang duduk disofa memandang dingin pada Keyra.
"Sejak secara diam-diam kalian berani mengedar narkoba dalam kasino milik Srigala Malam. Sejak saat itulah kalian secara tidak langsung menyatakan perang dengan kami." Keyra balas memandang dingin pada laki-laki yang suduk disofa.
__ADS_1