
Bastian berdiri dipinggir sambil menatap kebawah melihat pemimpin Laba-laba Merah yang sedang tergantung.
Sebenarnya ingin sekali Bastian menendang tangan pemimpin Laba-laba Merah agar pegangan tangan pemimpin Laba-laba Merah pada ujung tembok terlepas, tapi dia tahu Aisyah pasti melihat apa yang akan dia lakukan.
"Naiklah." Bastian mengulurkan tangannya untuk membantu pemimpin Laba-laba Merah naik.
Aisyah menarik lepas lega dan tersenyum bahagia melihat apa yang Bastian lakukan pada pemimpin Laba-laba Merah.
Serka Daeng memandang keheranan mengetahui Bastian akan membantu pemimpin Laba-laba Merah.
Cinta benar-benar telah merubah dirimu mayor. Aku yakin kalau gadis itu tidak disini, kau tidak akan melakukan itu. Baguslah setidaknya gadis itu bisa merubah dirimu menjadi sedikit lebih baik. Serka Daeng juga tersenyum melihat orang yang sangat dihormatinya itu telah berubah.
Pemimpin Srigala Malam dan Keyra memandang penuh waspada melihat kearah Bastian. Mereka sudah tahu orang seperti apa pemimpin Laba-laba Merah. Pak Lukman juga tidak kalah waspadanya.
Bagi Bastian untuk menarik tubuh pemimpin Laba-laba Merah bukanlah hal yang sulit, hanya dengan satu tarikan Bastian telah berhasil menarik pemimpin Laba-laba Merah keatas.
"Matilah kau bajing*n..!" Pemimpin Laba-laba Merah tiba-tiba mendorong tubuh Bastian, setelah dia berada diatas.
Kerena tidak menduga sama sekali kalau pemimpin Laba-laba Merah masih memiliki niat jahat dengannya, Bastian menjadi lengah, maka dengan mudah pemimpinLaba-laba Merah mendorong Bastian hingga terjatuh.
"Bastiannn..!!" Aisyah langsung berteriak memanggil nama Bastian sambil berlari kearah Bastian.
"Aisyah tungguuu..!!" Adiguna Cokrominoto langsung menahan Aisyah agar tidak ikut melompat dimana tadi Bastian terjatuh.
Dredetdetdet..! Pak Lukman langsung menembak senjata mesin MP 50 yang masih digenggamnya pada pemimpin Laba-laba Merah.
"Sisakan bagianku pak tua..!" Keyra langsung berlari kearah pemimpin Laba-laba Merah.
Pemimpin Srigala Malam juga tidak kalah cepat berlari kearah pemimpin Laba-laba Merah.
Dukkk..! Keyra menendang tubuh pemimpin Laba-laba dengan keras, sehingga tubuh pemimpin Laba-laba Merah terlempar jatuh dari atas gedung.
Sampai dipinggir gedung, pemimpin Srigala Malam Langsung mengulurkan tangannya kebawah. Gerakan pemimpin Srigala Malam yang sangat cepat itu berhasil menangkap tangan Bastian, lalu dengan gerakan yang cepat pula pemimpin Srigala Malam menarik tubuh Bastian Keatas.
"Terimah kasih." Bastian berkata pada pemimpin Srigala Malam.
"Kau belum mengenal orang itu bung. Dia terkenal sangat licik dan kejam." Pemimpin Srigala Malam berkata pada Bastian.
"Ternyata bukan kami berdua yang masih waspada, pak tua itu juga masih sangat waspada." Keyra melihat kearah pak Lukman.
"Bastiannn..!" Aisyah langsung berlari kearah Bastian.
Bastian langsung melebarkan tangannya untuk menyambut Aisyah kedalam pelukannya
"Kau lihatkan... Gak semua perbuatan baik itu dibalas dengan baik." Bastian berkata pada Aisyah sambil memeluk erat Aisyah.
"Aku takut Basss... Aku gak mau kehilangan kamu." Aisyah menangis dalam pelukan Bastian.
"Itulah kenapa terkadang kita harus berbuat jahat, agar orang itu bisa berubah menjadi lebih baik." Bastian membelai lembut kepala Aisyah.
"Aku gak mau Bas, kamu menjadi orang jahat." Aisyah masih belum bisa menghentikan tangisnya.
"Aku akan berusaha menjadi seperti apa yang kamu inginkan, tapi tolong jangan minta aku berubah dalam waktu yang cepat, kerena aku bukan komputer yang bisa diprogram dan lalu langsung bisa berubah dalam waktu sekejap."
"Aku akan sabar Bas menunggu kamu berubah. Aku yakin kamu pasti bisa berubah menjadi lebih baik."
*****
Dirumah sakit tempat Keren dirawat
"Nah gitu non makan yang banyak, biar non Keren cepat sembuh." Andre menyuap makanan kedalam mulut Keren dengan sabar.
__ADS_1
"Hidup kamu sangat menyedihkan ternyata Dre." Keren memandang kearah Andre.
"Kok non tiba-tiba bilang hidup saya menyedihkan?" Andre memandang heran pada Keren.
"Iya menyedihkanlah... Kamu itu pria yang baik, ganteng, polisi tapi masih jomblo. Itu sangat memprihatinkan Dre." Keren berkata dengan serius.
"Non gak semua orang yang gak punya pasangan itu hidupnya menyedihkan. Punya pacar atau gak itu soal pilihan, jadi jangan non berpikir orang yang gak punya pasangan itu hidupnya menyedihkan. Terkadang orang yang punya pasangan itu malah jauh lebih menderita."
"Benar juga si apa yang kamu bilang."
"Lagi pula tidak semua orang yang tidak punya pasangan itu tidak mampu mencari pasangan. Mungkin mereka merasa lebih nyaman hidup sendiri."
"Ah itu hanya alasan para jomblo aja Dre. Untuk menutupi rasa malunya kerena tidak mampu mencari pasangan."
"Non... klo non berkata pada orang yang memiliki wajah pas-pasan mungkin itu tepat, tapi saya ini orang yang tampan, jadi gak mungkin gak ada yang suka dengan saya." Andre tersenyum penuh percaya diri pada Keren.
"Hahaha orang kayak kamu bisa juga narsis." Keren melemparkan bantal pada Andre.
"Auuu..!!" Andre meringis kerena bantal yang dilempar Keren tepat mengenai mukanya.
Tidak jauh dari ranjang tempat Keren sedang dirawat berdiri Krisyanto dan istrinya. Mereka berdua terlihat ikut bahagia setelah melihat kecerian putri mereka telah kembali.
"Pi menurut papi polisi muda itu apa masih pantas jadi kakak Keren." Nyonya Krisyanto berkata pelan pada suaminya.
"Maksud mami?" Krisyanto Kuncoro tidak mengerti apa yang dimaksud oleh istrinya.
"Mungkin dia lebih cocok jadi suami putri kita daripada menjadi kakaknya." Nyonya Krisyanto tersenyum penuh makna pada suaminya.
"Papi belum memikirkan soal itu." Krisyanto berkata datar.
"Tapi mami sangat berharap punya mantu seperti Andre."
*****
Serly duduk sendirian sambil meminum meminuman dingin yang tadi dipesannya. Biasanya Serly kemana-kemana ditemanin dua temannya, tapi hari ini Serly merasa lebih nyaman menikmati kesendiriannya.
Serly melihat kearah luar kafe ada pasangan muda-mudi menggunakan seragam abu-abu, mereka duduk diatas motor matic berboncengan dengan mesra. Sang prempuan terlihat sangat bahagia memeluk laki-laki yang memboncengnya.
Diseberang jalan Serly juga melihat pasangan berjalan kaki sambil bergandengan tangan dengan mesra. Senyum bahagia juga terpancar diwajah mereka.
"Iya tuhan ternyata bahagia itu sederhana, gak harus punya mobil mewah, bahkan hanya berjalan kaki saja sudah cukup membuat orang bahagia." Serly bergumam dengan pelan.
Selama ini aku telah salah besar kalau berpikir materi itu bisa menjamin seorang menjadi bahagia. Mereka berboncengan diatas motor sederhana sudah bahagia dan bahkan hanya berjalan kakipun mereka sudah mampu bahagia. Pikiran Serly menerawang jauh.
"Ya tuhan, aku tidak meminta KAU memberikan pasangan untukku orang yang sehebat Bastian. Aku sudah sangat bersyukur seandainya KAU mau memberikan seorang pria yang bisa membuat aku selalu tersenyum." Lagi-lagi Serly bergumam dengan pelan.
*****
Satu hari kemudian berita tentang musnahnya Genk Laba-laba Merah tersebar luas. Nama Adiguna cokrominoto semakin disegani dan Genk Srigala Malam pun semakin besar, kerena semakin banyak orang yang mau bergabung menjadi anggota Srigala Malam setelah kejadian penyerbuan markas Laba-laba Merah itu.
Keluarga Adiguna Cokrominoto juga diberitakan oleh media telah beraliansi dengan Genk Srigala Malam dan pasukan elit tontaipur. Media juga menyebut kalau ada yang berani menyentuh salah satu dari kelompok mereka maka orang itu akan berurusan dengan ketiga kekuatan itu.
Keluarga Adiguna Cokrominoto, Srigala Malam dan dari pihak Bastian sendiri tidak ada yang memberikan klarifikasi pada media yang telah menyebut mereka telah membentuk aliansi.
Ketiga kelompok itu sadar apa yang membuat mereka bekerja sama tanpa sengaja dan terlihat mereka seperti membentuk aliansi. Itu kerena disebabkan oleh Aisyah, kalau saja Laba-laba Merah tidak menculik Aisyah, pasti ketiga kekuatan besar itu tidak akan menggempur habis-habisan Laba-laba Merah secara bersamaan.
*****
Dirumah Adiguna Cokrominto.
Umi Aisyah berjalan masuk kedalam kamar putrinya dan segera duduk disamping Aisyah yang sedang tiduran diatas kasurnya yang super besar.
__ADS_1
"Ada apa mi?" Aisyah segera duduk.
"Syah umi mau ketemu dengan anak itu." Umi Aisyah menatap kearah mata Aisyah secara langsung.
Aisyah tahu kalau uminya telah menatap matanya dengan cara seperti itu ada yang sangat penting yang akan uminya katakan pada dia.
"Siapa mi?" Aisyah masih bersikap pura-pura tidak tahu orang yang dimaksud oleh uminya, padahal Aisyah tahu orang yang dimaksud oleh uminya itu adalah Bastian.
"Putriku kamu harus tahu semakin bertambah usia kehamilan kamu, maka semakin bertambah besar pula perut kamu." Umi Aisyah mencoba berbicara selembut mungkin pada putrinya.
"Iya mi Aisyah tahu." Aisyah mengangguk pelan.
"Terus apa yang kalian tunggu lagi?"
"Entahlah mi kami belum pernah membahas kearah situ." Aisyah jadi terlihat sedih.
"Nak kita ini hidup dinegeri timur. Jadi ikutlah budaya timur. Tidak pantas bagi kita orang timur hamil tanpa bersuami."
"Iya mi." Aisyah hanya bisa menundukan kepala mendengar apa yang uminya katakan.
"Bawah umi menemui anak itu." Umi Aisyah berusaha membujuk putrinya untuk menemui Bastian.
"Mi setahu Aisyah kalau soal urusan seperti ini keluarga laki-laki yang menemui keluarga prempuan, bukan sebaliknya. Apa pantas umi yang menemui dia?"
"Apa yang kamu katakan benar putriku, tapi kalau kita tidak bertindak seperti ini, apa dia mau melakukannya."
"Umi yakin akan menemui Bastian?"
"Iya putriku kita harus cepat-cepat membahas ini dengan anak itu. Sebelum terjadi perubahan lebih jauh pada tubuh kamu."
*****
Satu jam kemudian.
"Assalamualaikum." Aisyah mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam." Tersedangar suara prempuan menjawab salam Aisyah dari dalam rumah.
"Eh non Aisyah." prempuan yang menjawab salam Aisyah adalah Siti Nurlela.
Aisyah langsung mencium punggung tangan Siti Nurlela.
"Jangan gitu non, non tidak pantas bersikap seperti itu pada ibu." Siti Nurlela merasa tidak nyaman saat Aisyah mencium tangannya.
"Tidak pantas kenapa bu?" Aisyah terlihat heran.
"Sudahlah non jangan dibahas lagi, lain kali ibu minta sama non jangan bersikap seperti itu pada ibu." Siti Nurlela tersenyum ramah pada Aisyah dan umi Aisyah.
"Bastian ada bu?"
"Ada non. Oh iya silahkan masuk non, nyonya."
"Terimah kasih." Umi Aisyah tersenyum pada Siti Nurlela.
Siti Nurlela segera mempersilahkan kedua tamunya itu untuk duduk.
"Tunggu sebentar non, ibu panggil nak Bastianya dulu." Lalu Siti Nurlela pergi kekamar Bastian.
Tidak lama kemudian Siti Nurlela telah kembali keruang tamu bersama Bastian.
*****
__ADS_1
Jujur saya senang lo bab sebelumnya bisa tembus 100 like dalam sehari dan komennya juga nambah, walaupun dikit.
Jangan lupa tinggalkan lagi jempolnya, kerena itu gratis. kolom komen milik kalian, jadi mengamuklah dikolom komen hehehe.