DERITA NONA MUDA

DERITA NONA MUDA
SIKAP WANITA MURAHAN


__ADS_3

Pagi harinya setelah Serly bangun, Serly tidak menemukan Sumanto lagi disampingnya. Dengan rasa malasan-malasan Serly menggoyang-goyangkan lewernya kekiri-kanan agar tubuhnya terasa lebih enakan dan kantuknya segera hilang.


Secara perlahan Serly bergerak dan menyandarkan punggungnya disandaran ranjang, lalu Serly melirik kearah jam dinding yang tergantung dikamar Sumanto.


"Astaga jam delapan..!" Serly menjadi panik


Serly segera buru-buru bangun dan menyingkirkan selimut yang masih menutupi tubuhnya. Setelah berdiri tiba-tiba Serly diam sesaat, lalu memperhatikan dirinya sendiri dengan teliti.


Serly sepertinya mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau benar-benar tidak terjadi apa-apa antara dia dengan Sumanto, setelah tadi malam dia telah tidur satu ranjang dengan Sumanto.


"Ahhh..! Apa-apaan ini? Aku tidak boleh berpikir buruk tentang dia, walaupun dia terlihat seperti monster ketika sedang marah, tapi aku yakin dia pria baik-baik." Serly kesal pada dirinya sendiri yang telah berpikir buruk tentang Sumanto.


"Sudah bangun nak?" Tiba-tiba ada suara prempuan menyapa Serly.


Serly segera melihat kearah pintu darimana tadi berasal suara prempuan yang menyapa dia. Prempuan itu tersenyum ramah pada Serly.


"Ibu siapa?" Serly bertanya pada prempuan setengah baya yang berdiri dipintu.


"Saya ibunya Suman." Prempuan itu menjawab pertanyaan Serly.


"Suman... Suman siapa?" Serly terlihat bingung.


"Putra saya Sumanto, kalau dirumah dia biasa dipanggil Suman dan kalau ditempat kerjanya dia biasanya dipanggil Anto." Ibu Sumanto memberi keterangan pada Serly.


Astaga kenapa aku tidak ingat dengan nama orang yang telah tidur satu ranjang denganku. Serly memaki dirinya sendiri.


"Tadi nak suman sebelum berangkat kerja bilang pada ibu kalau dikamarnya ada seorang wanita. Nak suman berpesan kalau ibu harus melayani temannya dengan baik."


"Melayani aku dengan baik? Wanita ini ibunya atau pelayannya, kenapa dia meminta wanita ini melayaniku?" Serly berkata dengan pelan, agar ibu Sumanto tidak mendengar apa yang dia katakan.


Serly seperti melihat ada kejanggalan. Serly merasa wanita yang mengaku sebagai ibu Sumanto itu tidak bersikap layaknya seorang ibu. Biasanya kalau ada seorang ibu setelah mengetahui anak laki-lakinya tidur dengan seorang prempuan, maka seorang ibu itu akan bertanya-tanya banyak hal pada anaknya, tapi ibu Sumanto seperti tidak berani bertanya.


Apakah Sumanto sudah terbiasa mengajak prempuan tidur dikamarnya? Makanya ibunya tidak merasa aneh lagi.


"Sebaiknya non mandi dulu, ibu sudah menyiapkan sarapan buat non."


"Apakah ibu benar-benar ibu Sumanto?" Serly tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.


Mendengar pertanyaan Serly itu, ibu Sumanto langsung terlihat kaget. Ibu Sumanto berdiri membisu melihat kearah Serly. Ibu Sumanto sama sekali tidak menduga kalau Serly akan bertanya seperti itu.


"Maafkan saya bu, kalau saya telah menanyakan suatu hal yang tidak pantas." Serly merasa tidak enak pada ibu Sumanto.

__ADS_1


"Ya sudah lupakan, sebaiknya non segera mandi." Ibu Sumanto berusaha bersikap santai untuk menghilangkan rasa kagetnya, setelah mendengar pertanyaan Serly.


"Baik bu... Terimah kasih." Serly tersenyum ramah pada ibu Sumanto.


"Ibu tinggal dulu non, ada suatu yang akan ibu kerjakan."


"Baik bu."


Lalu ibu Sumanto melangkah pergi meninggalkan Serly.


"Bu..." Serly memanggil ibu Sumanto.


Mendengar Serly memanggilnya ibu Sumanto lagi-lagi terlihat kaget. Ibu Sumanto khawatir jangan-jangan Serly akan menanyakan lagi perihal tentang hubungan dia dengan Sumanto.


"Kenapa non?" Ibu Sumanto berbalik menoleh kearah Serly dengan wajah khawatir.


"Kamar mandinya dimana?" Serly nyengir kuda.


Ibu Sumanto menarik nafas lega mendengar pertanyaan Serly, ternyata Serly bukan mau bertanya tentang suatu yg dia khawatirkan.


"Itu non." Ibu Sumanto menunjuk kearah kamar mandi.


*****


Pukul 19:00 Sumanto sudah pulang kerja dari rumah Adiguna Cokrominoto. Saat itu Sumanto sedang berada dikamarnya baru mau saja menggantikan pakaiannya.


Tok... Tok... Tok... Pintu kamar Sumanto ada yang mengetuk, padahal saat itu kamar Sumanto sedang terbuka.


"Tumben kamu mengetuk pintu." Sumanto memandang sinis pada orang yang mengetuk pintu.


"Sinis amat nanyanya." Ternyata yang mengetuk pintu kamar Sumanto adalah Serly.


"Kenapa masih disini?"


"Kamu ngusir aku ya?" Serly terlihat cemberut.


"Orang tua kamu gak nyari kamu?"


"Sebelum kesini aku udah bilang sama papi aku bakalan nginap dirumah kamu."


"Apaaa..! Jadi orang tua kamu tahu kalau kamu nginap disini?" Sumanto seperti tidak percaya mendengar apa yang dikatakan Serly.

__ADS_1


Tentu saja Sumanto kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Serly. Orang tua mana yang akan memberi izin anak prempuannya tidur dirumah seorang laki-laki, kecuali prempuan itu sudah terbiasa melakukannya.


"Pasti kamu mikir aku prempuan gak benar ya?" Serly seperti dapat menebak apa yang dipikirkan oleh Sumanto.


"Sebaiknya kamu pulang, aku gak mau orang-orang mikir yang gak-gak klo kamu terus disini."


"Kamu takut nona Aisyah tahu klo aku tidur dirumah kamu ya?"


Sumanto hanya diam, tidak menjawab apa yang dikatakan oleh Serly. Kerena apa yang dikatakan Serly itu benar. Sumanto memang khawatir kalau Aisyah tahu Serly tidur dirumah dia, Sumanto yakin pasti Aisyah akan marah kalau Aisyah tahu soal itu.


"Kamu sebenarnya punya hubungan apa sama nona Aisyah?" Ucapan Serly membuyarkan lamunan Sumanto.


"Saya sopir nona Aisyah.


"Ya klo soal itu aku tahu... Tapi kamu sadar gak sih klo nona Aisyah kelihatan gak suka klo aku dekat-dekat sama kamu. Masak sih nona Aisyah suka sama cowok jelek kayak kamu, botak tompelan kayak gini." Serly meledek Sumanto.


"Terus kenapa kamu mau tidur satu ranjang sama cowok jelek botak tompelan?"


"Kerena aku suka sama cowok jelek botak dan tompelan." Serly tersenyum menggoda Sumanto.


"Kamu gak capek berdiri terus?"


"Kamu gak nyuruh aku masuk."


"Tadi malam juga kamu langsung tidur diranjang aku tanpa minta izin terlebih dulu."


"Maaf ya klo tadi malam aku sudah membuat kamu tidak nyaman." Terlihat ada raut penyesalan diwajah Serly.


"Kamu terlihat berbeda dari orang yang aku kenal tadi malam?" Sumanto heran melihat perubahan serly. Serly sekarang terlihat lebih sopan, dari tutur kata dan tindakan Serly berbeda dengan apa yang dilakukan Serly tadi malam.


"Abis aku bingung harus berbuat apa agar kamu membantu aku. Jadi aku berpikir dengan bersikap seperti itu tadi malam, itu akan langsung membuat kamu mau membantuku."


"Ingat kalau kamu mau meminta tolong dengan orang, minta tolonglah dengan cara benar. Jangan bersikap seolah-olah kau bersedia menukar tubuhmu demi mendapatkan apa yang kau mau. Tindakan kamu tadi malam itu tidak ubah seperti anak SMA yang memiliki otak dangkal, yang tidak sanggup lulus secara normal, lalu memberikan tubuhnya pada seorang guru, agar dia bisa mendapat ijazah SMAnya atau kelakukanmu tadi malam tadi itu seperti apa yang sering lakukan seorang mahasiswi, untuk mendapakan gelar sarjananya, mereka siap melakukan apapun yang diminta oleh dosennya. Ingat orang pintar tidak akan pernah bersikap seperti itu." Sumanto memberi nasehat pada Serly.


"Terimah kasih kamu sudah mengingatkanku, kamu sudah memberi tahu bagaimana caranya orang pintar itu bertindak." Serly mengucapkan terimah kasihnya dengan tulus. Serly bersukur telah mengenal pria yang baik, walaupun sebenarnya Sumanto terkadang bertindak tanpa peduli dia terlihat seperti orang yang baik atau tidak, ketika Sumanto sedang murka.


"Hanya orang-orang bodoh yang menukar tubuhnya demi mendapatkan apa yang dia inginkan."


"Maaf klo aku sudah bersikap seperti seorang pelac*r." Serly sangat menyesali apa yang telah dia lakukan tadi malam.


"Kalau mau dibilang pintar jangan pernah bersikap seperti wanita murahan."

__ADS_1


__ADS_2