
"Kita mau kemana non?" Sumanto bertanya pada Aisyah.
"Kerumah Reina, Kebetulan saya sudah kangen sama dia."
"Reinaaa..?" Sumanto menyebut nama Reina dengan wajah terlihat bingung.
"Oh ya Reina itu sahabat saya, dia sudah seperti saudara kembar dengan saya. Banyak orang bilang begitu." Aisyah menjelaskan pada Sumanto tanpa diminta Sumanto terlebih dulu.
"Ohhh..." Sumanto bingung harus bilang apa lagi pada majikan barunya itu.
"Ini." Aisyah memberikan suatu pada Sumanto.
"Ini apa non?" Sumanto bertanya pada Aisyah.
"Kamu minum dengan segelas air putih, itu manjur buat menghilangkan obat bingung." Aisyah tersenyum pada Sumanto.
"Tapi non ini kan kunci mobil bukan obat?" Sumanto memandang Aisyah dengan wajah bingung.
"Ya iyalah itu kunci mobil, yang bilang itu obat siapa? Kunci mobil fungsinya buat apa?"
"Oh ya non, maaf." Sumanto nyengir kearah Aisyah.
"Sudah daripada kamu bingung, kamu ikutin saya aja." Lalu Aisyah berjalan keluar.
"Ikut kemana non?" Sumanto mengikuti langkah Aisyah dari belakang.
"Astaga kamu sebenarnya mau jadi wartawan apa mau jadi sopir sih..!" Aisyah berbalik badan dan memandang Sumanto dengan wajah kesal.
"Sopir non."
Ini orang kenapa sih? Perasaan kemaren gak gini-gini amat, kok sekarang jadi bloon gini. Aisyah kesal dengan sifat polos Sumanto.
Sesampainya digarasi mobil.
"Itu mobil saya." Aisyah menunjuk kesalah satu mobil yang ada digarasi.
"Ya non." Sumanto tidak mau banyak tanya lagi, Sumanto langsung berjalan menujuh kearah mobil yang ditunjuk Aisyah.
Benar kata ibu, wanita kalau sedang hamil moodnya gampang berubah-ubah, walaupun semenit sebelumnya tertawa, tapi bisa saja beberapa menit kemudian menjadi marah-marah. Sumanto geleng-geleng kepala.
"Kamu kenapa geleng-geleng kepala? Pusing?" Keramahan diwajah Aisyah benar-benar telah sirna.
"Gak non. Silahkan non." Sumanto membuka pintu belakang mobil, mempersilahkan Aisyah masuk kedalam mobil.
"Rumah Reina di (Aisyah menyebut alamat rumah Reina). Kamu tahu kan alamat itu?"
"Tahu non."
*****
Beberapa jam kemudian mereka sudah sampai didepan rumah Reina. Sumanto langsung buru-buru keluar untuk membuka pintu belakang. Tapi Aisyah sudah terlebih dulu keluar dari mobil, sebelum Sumanto membuka pintu untuk Aisyah.
"Kamu tidak perlu bersikap terlalu formal pada saya. Saya akan melakukannya sendiri selagi saya mampu."
"Baik non."
Aisyah walaupun terlahir sebagai Aisyah Adiguna Cokrominoto dan sekaligus menjadi pewaris tunggal semua kekayaan Adiguna Cokrominoto Group, tapi tidak pernah sedikitpun Aisyah merasa lebih istimewa daripada orang lain. Makanya saat Sumanto berniat membuka pintu mobil untuk dia, Aisyah menjadi sedikit risih dan tidak nyaman.
"Ayo ikut kedalam." Aisyah mengajak Sumanto ikut masuk kerumah Reina.
"Tapi non?" Sumanto merasa tidak pantas seorang sopir terlalu dekat dengan majikannya.
"Sumantooo... Ribet sih nama kamu, terlalu panjang." Aisyah merasa kesal kalau harus memanggil dengan panggilan Sumanto.
"Non bisa panggil saya Anto, biasanya ditempat kerja sebelumnya saya dipanggil seperti itu."
"Anto... Oke To kamu ikut kedalam." Aisyah malah memanggil Sumanto dengan To, bagi Aisyah Anto masih terlalu masih panjang, makanya panggilan To jauh lebih simple bagi Aisyah.
Teng tong suara bell rumah Reina berbunyi.
Tidak lama kemudian Reina memcul dari dalam rumah. Reina langsung memandang dengan tatapan aneh pada laki-laki yang berdiri disebelah Aisyah.
"Pacar baru kamu." Reina berbisik ditelinga kanan Aisyah.
Aisyah langsung mencubit pinggang Reina. "Calon suami." Aisyah membalas gurauan sahabatnya itu.
"Calon suami model begituan nemu diplanet mana." Reina tersenyum geli melihat penampilan aneh Sumanto.
Walaupun Sumanto sudah merubah cara berpakaiannya, tapi tetap saja penampilan Sumanto masih terlihat menggelikan. Kepala botak plontos, kacamata min menggantung diatas hidungnya, tompel besar menempel dipipi kanan dan berkumis tebal seperti kumis pak Raden.
"Kalau kemaren kamu melihat dia, kamu pasti akan lebih terkejut."
"Emangnya dia kemaren jauh lebih aneh?"
"Kemaren bukan hanya tampangnya saja yang aneh, tapi cara berpakaiannya juga."
"Memang mahluk ini jatuh dari mana planet mana sih." Reina semakin tertawa geli.
__ADS_1
"Saturnus kali." Aisyah juga ikut tertawa geli.
"Hmmm... Hmmm." Sumanto tahu kedua prempuan didekatnya itu sedang membicarakan dia.
Reina hanya nyengir ketika Sumanto melihat kearah dia.
"Saya Sumanto sopir baru nona Aisyah, tapi saya masih berasal dari bumi bukan dari saturnus." Sumanto bicara sambil memasang muka masam.
"Hehehe dengar ya." Reina berkata malu-malu pada Sumanto.
"Kula tidak dengar, kerena kula tidak punya kuping." Sumanto menunjuk kearah telinganya sendiri.
"Ya deh kula minta maaf." Reina menjawab dengan logat jawa yang dibuat-buat.
"Maaf... Maaf... Memang kula badut, sehingga membuat sampean ketawa." Sumanto masih terlihat kesal.
"ciehhh... Pentol korek bisa marah juga." Reina berbisik pada Aisyah.
"Rei..!" Aisyah menginjak telapak kaki Reina, agar Reina berhenti tertawa.
"Auuu..!" Reina meringis kesakitan.
"Maaf ya To dia klo belum minum obat emang gini." Aisyah tersenyum pada Sumanto.
"Jangan dikasih obat non, dirukiah aja, biar gak kambuh lagi." Sumanto tampak masih merasa kesal pada Reina.
"Apa-apaan kalian ini. Kalian gak harus dikurung dalam satu botol dulukan biar bisa akrab." Aisyah kesal melihat pertengkaran Sumanto dan Reina.
"Emang aku jin dikurung dalam botol, klo dia mungkin bisa." Reina melirik kearah Sumanto. Lalu Reina berjalan masuk kedalam rumah.
"Kamu mau ikut gak Rei?" Aisyah bertanya sambil berjalan dibelakang Reina.
"Ikut kemana?"
"Nyari buku."
"Buku apa?"
"Buku panduan kehamilan." Aisyah sambil mengusap perutnya.
Tiba-tiba Reina berbalik langsung memeluk sahabatnya itu, Reina langsung sedih kalau ingat apa yang sedang dihadapi oleh Aisyah. Reina tidak menyangka sama sekali kalau sahabatnya itu akan punya anak tanpa memiliki seorang suami.
"Rei ada yang bilang saya adalah wanita pembawah takdir maryam dizaman modern."
"Pasti wanita itu Nataliekan?"
"Ya Rei, Natalie bilang maryam melahirkan Nabi Isa As tanpa seorang ayah, tapi maryam tidak pernah ngeluh Rei. Natalie juga bilang Jesus terlahir tanpa seorang ayah." Butiran bening tanpa disadari oleh Aisyah jatuh menetes dari matanya.
Dibelakang Aisyah, Reina melihat Sumanto juga terlihat sangat sedih mendengar apa yang mereka bicarakan. Reina juga melihat Sumanto beberapa kali mengusap matanya, ternyata Sumanto juga tak kuasa menahan tangisnya.
Kenapa dia juga ikut menangis? Apakah dia juga tahu apa yang sudah terjadi dengan Aisyah? Siapa sebenarnya laki-laki ini? Reina merasa heran kenapa Sumanto juga terlihat sangat terpukul mendengar cerita Aisyah.
"Umi juga sering bilang Rei, aku gak harus malu melahirkan seorang anak tanpa memiliki seorang suami, kerena aku hamil bukan hasil dari perbuatan zina Rei." Tangis Aisyah semakin menjadi.
"Ya Syah aku paham, kamu tidak bersalah dalam kasus ini, tapi laki-laki bajin*an itulah yang telah bersalah. Aku harap tidak ada keluarga dia yang mengalami hal sama dengan apa yang kamu alami, kerena aku yakin kalau sampai ada keluarga dia yang mengalami nasib yang sama dengan kamu, aku yakin orang itu tidak akan bisa sekuat dan setegar kamu Syah." Reina berusaha menghibur sahabatnya itu.
Reina tidak tahu apa yang terjadi nanti seandainya anak Aisyah sudah besar dan menanyakan tentang siapa ayahnya. Reina tidak berani membayangkan jawaban apa yang akan Aisyah berikan saat itu.
Hukkk... Uhukkk... Sumanto tiba-tiba terdengar seperti orang yang sedang tersedak.
"Maaf bisa numpang kekamar mandi?" Sumanto bertanya pada Reina.
Semakin lama Sumanto mendengar cerita Aisyah, Entah kenapa semakin membuat Sumanto terpukul. Saat Sumanto mendengar apa yang mereka cerita tadi, dada Sumanto terasa sesak. Setiap kata yang keluar dari mulut Aisyah ibarat satu tusukan besi panas yang dihujamkan didada Sumanto. Sehingga membuat dada Sumanto terasa panas dan sesak.
"Jalan terus lurus abis itu kiri, kamar mandinya disebelah sana." Reina menunjuk kearah kamar mandi.
"Terimah kasih." Sumanto berjalan buru-buru menuju kamar mandi.
Sesampainya didalam kamar mandi Sumanto segera mencuci mukanya beberapa kali, Sumanto berharap air akan mampu untuk menghilangkan rasa perih yang tengah dirasakan dikedua matanya saat ini.
Sumanto berdiri menghadap cermin besar yang ada dikamar mandi, semakin lama Sumanto memandang dirinya dicermin semakin membuat dia kesal pada dirinya sendiri.
Pranggg... Tiba-tiba Sumanto memukul cermin besar yang ada dikamar mandi, cermin besar itu jatuh berkeping-keping setelah kena pukulan dari Sumanto. Tangan kanan Sumanto yang dipakai memukul cermin terlihat berlumuran darah terkena pecahan kaca cermin.
"Lihat laki-laki bajin*an itu hasil dari perbuatanmu. Sekarang apa kamu sudah merasa puasss..!" Sumanto berteriak sambil memaki dengan emosi.
"To kamu kenapa?"
Tiba-tiba Aisyah dan Reina sudah berada dipintu kamar mandi. Mereka berdua segera berlari kearah kekamar mandi setelah mendengar ada suara seperti ada benda yang terjatuh. Suara itu terdengar sangat kencang keruangan tengah.
"Maaf non saya jatuh terpeleset dan menyenggol cermin kamar mandi." Sumanto berkata bohong.
"Terpeleset..?" Aisyah seperti tidak percaya dengan dengan apa yang dikatakan oleh Sumanto.
Dia tidak mungkin terpeleset. Reina tahu Sumanto berbohong.
"Rei ambil obat." Aisyah berkata pada Reina sambil berjalan pelan kekamar mandi.
__ADS_1
"Saya gak kenapa-kenapa non."
"Gak kenapa-kenapa gimana, darah banyak gitu keluar dari tangan kamu." Aisyah terlihat sangat cemas melihat darah dari tangan Sumanto tidak berhenti menetes.
"Non saya benar tidak kenapa-kenapa." Sumanto tidak mau Aisyah terlalu mencemaskan dia.
"Diammm..!"Aisyah membentak Sumanto, supaya Sumanto tidak terus bicara. "Rei cepat ambil obatnyaaa..!" Aisyah berteriak pada Reina.
"Ya syah." Reina buru-buru pergi mengambil obat yang diminta oleh Aisyah.
Sebenarnya Reina sangat heran kenapa Aisyah terlihat sangat mencemaskan kondisi Sumanto. Tidak biasanya Aisyah bertingkah seperti itu.
Beberapa saat kemudian Reina sudah kembali membawah kotak P3K.
"Ini Syah." Reina memberikan kotak P3K pada Aisyah.
Tanpa menjawab perkataan dari Reina, Aisyah langsung mengobati tangan Sumanto. Setelah memberi obat lalu Aisyah membalut tangan Sumanto dengan perban.
Sumanto memandang Aisyah dengan tatapan haru. Sumanto tidak menyangka kalau Aisyah akan menjadi sekhawatir itu melihat dia terluka.
Ya tuhan kenapa KAU biarkan malaikat sebaik ini menerimah cobaan yang seburuk ini. Tuhan mungkin KAU sudah memberikan hukuman pada orang yang salah. Orang bilang KAU maha adil, tapi jujur tuhan hari ini aku merasa KAU sudah berbuat tidak adil. Sumanto jadi sedih kalau ingat apa yang sudah dialami oleh Aisyah.
"Dia harus dibawah kerumah sakit Syah." Reina tahu kalau luka Sumanto lumayan parah setelah melihat tangan Sumanto banyak mengeluarkan darah.
"Ya To kamu harus dibawah kerumah sakit."
"Ini hanya luka kecil non, nanti juga sembuh."
"Jangan membantah." Aisyah memapah Sumanto keluar dari kamar mandi.
"Saya bisa jalan sendiri non." Sumanto merasa tidak enak diperlakukan Aisyah seperti itu.
Kok Aisyah perhatian benar sih sama dia? Reina semakin heran melihat tingkah Aisyah.
"Sini kunci mobilnya, biar saya yang bawah mobilnya." Aisyah meminta kunci mobil pada Sumanto.
"Tapikan saya sopir non Aisyah."
"Emang kondisi tangan kamu seperti itu bisa nyetir..?!" Aisyah bertanya setengah mengejek pada Sumanto.
"Bisa non."
"Bisa... Bisa... Udah sini jangan banyak protes." Aisyah jadi kesal pada Sumanto.
Ini aku udah seperti nonton pertengkaran suami istri aja. Apa mereka akan bertengkar seperti ini terus kalau seandainya mereka jadi suami istri. Reina tertawa geli sendiri dengan pikiran jahilnya.
"Ini non." Sumanto memberikan kunci mobil pada Aisyah.
"Kamu ikut Rei."
"Aku ikut Syah?"
"Ya kamu ikut kerumah sakit juga."
Bakal panjang deh aku melihat drama suami istri ini. Reina lemas.
Sesampainya dirumah sakit.
"Begaimana dok, apakah dia tidak apa-apa?" Aisyah bertanya pada dokter Jamal, setelah dokter Jamal selesai menjahit luka pada tangan Sumanto.
"Tidak apa-apa non, tapi kalau bisa tangannya jangan dulu digunakan untuk melakukan hal-hal yang berisiko akan membuat jahitan pada tangannya terbuka." Dokter Jamal memberi keterangan pada Aisyah.
"Ya dok, terimah kasih."
"Sama-sama non." Dokter Jamal mengangguk hormat pada putri pemilik rumah sakit tempat dia bekerja itu.
"Apakah tangannya bisa dipakai buat nyetir dok?"
"Kalau bisa dalam beberapa hari ini jangan biarkan dia nyetir dulu non, biar proses penyembuhan lebih cepat."
"Apakah tangannya belum bisa digunakan untuk makan dok?" Tiba-tiba Reina melontarkan pertanyaan koncolnya pada dokter jamal.
"Kalau ada yang membantu dia saat dia makan itu akan lebih bagus." Dokter Jamal menjawab serius pertanyaan iseng Reina.
"Tuh dengar Syah kamu harus bantu menyuapkan dia saat dia makan." Reina tersenyum geli.
Dukkk... Aisyah menyingkut iga Reina.
"Auuu... Sakit tau Syah." Reina meringis kesakitan.
"Rasain." Aisyah kesal sekaligus malu mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu.
"Jadi istri tuh harus total Syah, gak boleh setengah-setengah." Reina masih saja menggoda Aisyah.
Dokter Jamal juga ikut senyum-senyum melihat kekonyolan dua sahabat itu.
"Saya permisi non, saya harus melihat kondisi pasien lainnya." Dokter Jamal segera keluar dari ruangan tempat Sumanto sedang dirawat.
__ADS_1
"Kamu gak mau lihat keadaan sua..." Reina tidak bisa melanjutkan ucapannya, kerena Aisyah telah terlebih dulu menutup mulut Reina dengan tangannya.
"Hmmm... Hammm..." Reina tidak bisa mengeluarkan kata-katanya.