
Tiga motor sport melaju dengan kecepatan tinggi menerobos pintu gerbang rumah mewah yang dijadikan markas pusat Laba-laba Merah.
Dipunggung masing-masing ketiga laki-laki yang menerobos markas Laba-laba Merah itu terlihat tergantung AK 47, senapan buatan Rusia atau yang dulu bernama Uni Soviet, yang diproduksi pertama kali pada tahun 1947 dan dirancang oleh Mikhail Kalashvikov.
Beberapa anggota Laba-laba merah segera mengepung tiga pengendara misterius yang masuk secara paksa kemarkas mereka.
"Siapa kalian..?" Salah satu anggota Laba-laba Merah membentak tiga orang misterius yang datang mengggunakan topeng menerobos markas pusat mereka.
"Kami malaikat mau yang akan mengambil nyawa orang-orang seperti kalian." Salah satu laki-laki pisterius itu menjawab pertanyaan anggota Laba-laba Merah.
"Hahaha kalian mencoba bertingkah menjadi Rambo dihadapan kami. Ingat Laba-laba Merah tidak akan hancur walaupun diserang menggunakan Tank sekalipun, apalagi hanya sekedar benda itu." Anggota Laba-laba Merah menunjuk kearah senapan yang dipunggung salah satu Laki-laki misterius itu.
"Kalian harus tahu senjata itu hanya sekedar benda mati. Yang terpenting itu adalah siapa yang menggunakannya."
"Sepertinya kalian tidak tahu, kalian sedang berada dimana." Anggota Laba-laba Merah berkata dengan sinis.
"Kami tidak peduli kami berada dimana, meski sedang didasar neraka sekalipun kalau kami ditugaskan membunuh orang, maka orang itu harus mati." Salah satu laki-laki misterius itu menjawab dengan dingin.
"Hahaha... Ternyata kalian sebangsa kacung, yang sedang menerimah perintah dari seseorang untuk menyerang kami." Anggota Laba-laba Merah tertawa mengejek.
Dor dor dor terdengar beberapa suara tembakan. Tiba-tiba semua anggota Laba-laba Merah yang tadi coba menghadang tiga laki-laki misterius yang menyerang markas mereka telah kehilangan nyawa semua.
"Ingat kita diperintahkan melakukannya dengan cepat." Salah satu laki-laki misterius itu mengingatkan kedua temannya.
Dor dor dor terdengar suara tembakan dari dalam rumah. Terlihat beberapa anggota Laba-laba merah keluar dari dalam rumah. Semua anggota Laba-laba merah yang baru keluar dari dalam rumah langsung menembak secara membabi buta pada tiga laki-laki misterius yang menyerang markas mereka.
Dengan sigap ketiga laki-laki misterius itu berlindung dibalik motor, sehingga mereka selamat dari tembakan anggota Laba-laba Merah, Lalu berapa detik kemudian secara serentak ketiga laki-laki misterius itu menembakan senapan mereka kearah anggota Laba-laba Merah. Dalam waktu kurang dari satu menit semua anggota Merah telah kehilangan nyawa mereka.
"Mereka mati dengan cara yang terlalu enak." Terdengar salah satu dari tiga laki-laki misterius itu berkata seperti tidak suka dengan cara yang mereka gunakan untuk membunuh anggota Laba-laba Merah.
"Ya seharusnya kita membuat mereka menikmati rasa sakit, sebelum mereka mati." Salah satu laki-laki misterius itu setuju dengan apa yang tadi dikatakan oleh temannya.
"Kalian pikir aku suka dengan cara membunuh seperti ini." Laki-laki misterius yang menjadi pemimpin menjadi kesal mendengar protes kedua temannya.
"Sudahlah sebaiknya kita selesaikan ini dengan cepat."
"Yang terpenting nyawa pemimpin mereka."
Ketiga laki-laki misterius itu segera berjalan kearah pintu. Saat baru saja mereka melangkah melewati pintu terdengar beberapa tembakan, tapi dengan gerakan sangat gesit mereka segera melompat keluar dan berlindung dari tembakan anggota Laba-laba Merah.
"Sebaiknya kalian angkat kaki dari sini, sebelum kalian kehilangan nyawa." Terdengar teriakan dari dalam.
"Kami akan segera pergi setelah mengambil nyawa kalian semua."
"Hahaha kalian boleh mencobanya, kalau kalian merasa mampu." Anggota Laba-laba Merah seperti menantang ketiga laki-laki misterius yang menyerang markas mereka.
"Aku akan mengalihkan perhatian mereka." Laki-laki yang menjadi pemimpin berkata pelan pada kedua temannya.
"Baik."
Lalu laki-laki yang menjadi pemimpin dari tiga laki-laki misterius itu berlari kedalam dengan gerakan yang sangat cepat. Melihat itu, semua anggota Laba-laba Merah serentak menembak kearah dia.
__ADS_1
Saat perhatian semua anggota Laba-laba Merah tertuju pada Pemimpin dari ketiga laki-laki misterius itu, lalu dua laki-laki misterius yang lainnya segera menerobos masuk dan langsung menembak semua anggota Laba-laba Merah.
"Cepat periksa semua ruangan ini. Kita harus bisa menemukan pemimpin mereka." Laki-laki yang menjadi pemimpin memberi perintah pada kedua temannya.
"Kita harus menangkap salah saru dari mereka, kalau kita mau tahu dimana pemimpin mereka." Salah satu dari laki-laki misterius itu memberi saran.
"Ya sudah tangkap salah satu dari mereka." Laki-laki misterius yang menjadi pemimpin setuju dengan saran temannya.
"Baki, siap laksanakan."
"Setelah itu kita kembali lagi ketitik ini."
"Baik"
Ketiga laki-laki misterius itu segera berpencar untuk memeriksa seluruh ruangan. Beberapa menit kemudian mereka berkumpul kembali ketempat ketitik pertemuan.
"Seluruh ruangan kosong."
"Mereka semua sudah melarikan diri."
Ketiga laki-laki misterius itu terdiam beberapa saat. Mereka bertiga sepertinya sedang memikirkan apa yang akan mereka lakukan berikutnya.
*****
Sementara itu dirumah sakit.
Bastian masih duduk dipinggir ranjang terus memandang kearah Keren yang masih terbaring diatas ranjang. Sudah tiga hari Keren belum sadar dari komanya.
"Bas kamu juga harus memikirkan kondisi kamu." Aisyah berdiri dibelakang Bastian sambil mengelus bahu Bastian.
"Gak apa-apa Bas."
"Kamu tahukan dia jadi begini kerena aku." Bastian memandang sedih kearah Keren.
"Aku tau Bas."
Aisyah sadar tidak mudah bagi Bastian untuk menghilangkan rasa bersalahnya pada Keren, setelah apa yang terjadi pada Keren.
"Dia wanita yang baik." Bastian masih terus menatap kearah Keren dengn wajah sedih.
"Semoga dia cepat sadar."
Aisyah sebenarnya tidak mau lagi menemui Bastian setelah apa yang Bastian lakukan pada dia Kemaren, tapi uminya mengatakan pada Aisyah wajar Bastian bersikap seperti itu, kerena disebabkan rasa bersalah pada Keren.
flashback.
"Nak kamu harus tahu cara laki-laki dan prempuan itu dalam menyikapi masalah itu berbeda."
"Tapi dia sudah keterlaluan mi."
"Ya umi tahu. Ingat laki-laki itu kebanyakan melakukan segala sesuatu berdasarkan insting. para laki-laki jarang sekali mempertimbangkan segala sesuatu yang akan mereka lakukan. Berbeda dengan kita kaum prempuan, kita sering melakukan suatu dengan perasaan." Umi Aisyah coba memberi nasehat pada putri kesayangannya.
__ADS_1
"Aisyah sakit mi melihat apa yang Bastian lakukan pada Keren." Aisyah kembali menangis.
"Kamu harus kuat. Justru saat-saat seperti inilah kamu harus memberikan dukungan pada Bastian. Umi yakin sekarang Bastian pasti sangat tertekan, kerena merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Keren."
"Jadi Aisyah harus gimana mi? Hubungan mereka berdua terlihat sudah sangat dekat." Aisyah terlihat semakin sedih.
"Umi yakin Bastian bersikap seperti itu, kerena Bastian merasa apa yang terjadi pada Keren itu kerena dia. Itu bagus, artinya Bastian laki-laki yang baik, hanya orang yang baik yang bisa merasakan rasa bersalah."
"Tapi Aisyah gak suka melihat Bastian bersikap seperti itu pada Keren mi."
"Suka tidak suka kamu harus terimah nak. Sekarang kamu jadi lebih tahu Bastian itu orang seperti apa."
"Aisyah bingung mi."
"Ketika ada seorang prempuan menikah dengan laki-laki bisu, suka tidak suka prempuan itu harus berkomunikasi dengan suaminya hanya dengan menggunakan bahasa isyarat. Selamanya mereka tidak akan bisa berbicara seperti orang normal pada umumnya. Jadi prempuan itu tidak boleh mengeluh kalau dia tidak bisa berkomukasi sacara normal dengan suaminya, kalau prempuan itu mengeluh, maka dia akan terlihat bodoh, kerena prempuan itu sudah tahu apa resikonya memiliki pasangan bisu."
"Jadi maksud umi Aisyah harus menerimah sikap Bastian? Termasuk apa yang Bastian lakukan sekarang pada Keren."
"Kamu harus bisa membedakan kedekatan seseorang itu kerena apa. Bastian terlihat dekat dengan Keren, bukan berarti Bastian mencintai Keren. Jadi kamu harus bisa mengontrol rasa cemburu kamu."
"Jadi sekarang apa yang harus Aisyah lakukan mi?" Aisyah semakin terlihat bingung.
"Monters itu nantinya akan semakin besar kepala mi, kalau seandainya Aisyah bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, setelah melihat apa yang dia lakukan pada Keren." Reina akhirnya buka suara setelah dari tadi hanya diam saja mendengar apa yang umi Aisyah katakan.
"Kalau Aisyah tidak mau menemui Bastian gara-gara melihat apa yang Bastian lakukan pada Keren, umi yakin masalahnya akan semakin rumit. Ingat sebagai kaum prempuan kita harus banyak mengalah. Laki-laki kalau memiliki sikap keras kepala itu hal yang wajar, tapi kita sebagai prempuan tidak baik memiliki sikap keras kepala."
"Enak benar jadi laki-laki kalau gitu mi." Reina malah terdengar kesal mendengar apa yang dikatakan oleh umi Aisyah.
"Sekeras-kerasnya laki-laki pasti mereka memiliki sisi lembut, jadi tugas kitalah sebagai prempuan untuk membuat laki-laki itu menunjukan sikap lembutnya."
"Reina gak paham dengan jalan pikir umi." Reina masih belum bisa menerimah begitu saja apa yang umi Aisyah katakan.
"Suatu saat kamu pasti paham Rei." Umi Aisyah tersenyum lembut pada Reina.
"Reina gak yakin akan bisa memahaminya."
"Rei mencintai seseorang itu suatu kebahagian, tapi memahami seseorang itu adalah suatu kebanggaan. Kerena tidak semua orang bisa memahami seseorang, jadi suatu kebanggaan kalau suatu saat kamu sudah bisa memahami seseorang."
"Reina semakin gak paham apa yang umi maksud." Reina hanya menyengir kuda mendengar apa yang umi Aisyah katakan.
"Pepatah lama mengatakan, pengalaman itu adalah guru terbaik. Umi yakin suatu saat dimana akan tiba waktunya dimana kamu akan bisa memahami seseorang. Saat kamu sudah bisa memahami seseorang, maka kamu akan menjadi sangat dekat dengan orang yang bisa kamu pahami itu."
Saat mendengar kata-kata terakhir umi Aisyah, Tiba-tiba bayangan wajah Riko terlintas didalam pikiran Reina.
Apa ini yang menjadi penyebab aku sama Riko gak bisa dekat, kerena aku gak bisa memahami apa yang Riko inginkan?" Reina menjadi melamun.
"Kamu mikirin apa?" Umi Aisyah bertanya pada Reina."
"Gak ada mi." Reina tersenyum malu-malu.
"Coba pahamilah dia, umi yakin kamu akan bisa lebih dekat dengan dia." Umi Aisyah seperti dapat menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Reina.
__ADS_1
"Dia siapa mi?"
"Hanya kamu yang tahu siapa dia." Umi Aisyah menggoda Reina.