
"Jadi apa yang harus aku lakukan agar aku terlihat normal dimata kamu?" Serly terlihat bingung harus bersikap seperti apa didepan Sumanto.
Serly sadar untuk berhadapan dengan orang seperti Sumanto itu adalah hal yang sangat rumit. Jadi dia harus berhati-hati dalam menyusun kalimatnya, ketika sedang bicara dengan orang seperti Sumanto.
"Bersikaplah layaknya manusia normal."
"Jadi menurut kamu aku gak normal?" Serly sedikit kesal mendengar apa yang dikatakan oleh Sumanto.
"Kamu tau oran gila?"
"Jadi maksud kamu aku kayak orang gila?" Serly langsung memotong ucapan Sumanto.
"Apa kamu terbiasa memotong pembicaraan orang lain?" Sumanto terlihat kesal, kerena Serly memotong omongannya.
Serly tidak menjawab ucapan Sumanto. Serly hanya diam untuk mendengar apa yang akan dikatakan Sumanto selanjutnya.
Sumanto melihat kearah muka Serly. Setelah tidak ada tanda-tanda Serly akan mengeluarkan suaranya, lalu Sumanto melanjutkan kalimatnya yang tadi terputus, kerena dipotong oleh Serly.
"Orang gila kalau telanjang ditempat umum itu akan terlihat normal. Tapi kalau orang normal telanjang ditempat umum itu akan dianggap gila. Itu artinya kalau kamu bersikap tidak seperti diri kamu sendiri, kamu akan terlihat tidak normal."
"Ya aku akan bersikap normal."
Walaupun Serly tidak terlalu memahami apa yang dikatakan oleh Sumanto, tapi Serly paham, kalau Sumanto meminta dia untuk bersikap senormal mungkin dihadapan Sumanto.
"Kalau kamu mau meminta aku menolong kamu, berbicaralah dengan cara yang benar. Gak perlu kamu melakukan hal-hal bodoh, seperti apa yang kamu lakukan tadi malam."
"Tungguuu..! Kamu klo bicara sama nona Aisyah pake kula, bukan aku atau saya. Dan berbicara dengan gaya logat jawa, tapi saat kamu ngomong sama aku, kamu tidak terlihat sama sekali kalau kamu orang jawa."
"Itu bukan urusan kamuuu..!" Sumanto langsung membentak Serly sambil melotot tajam kearah Serly.
Serly tidak menyangka sama sekali kalau Sumanto akan menjadi marah, hanya gara-gara dia bertanya tentang hal sepele seperti itu. Serly jadi sadar dari perubahan sikap Sumanto itu, pasti ada sesuatu yang sedang ditutup-tutupi oleh Sumanto.
"Aku pulang." Serly pergi melangkah keluar dari kamar Sumanto dengan wajah cemberut.
Sumanto tahu kalau Serly tersinggung kerena tadi dia telah membentak Serly.
"Kalau kamu pergi jangan harap aku mau membantu kamu." Sumanto berkata dingin.
Mendengar perkataan Sumanto barusan, Serly langsung menghentikan langkahnya dan berbalik badan.
"Aku tahu bicara dengan orang seperti kamu adalah hal yang rumit. Jadi tolong bicaralah secara normal agar ini tidak menjadi rumit." Serly terlihat kesal, setelah melihat perubahan sikap Sumanto yang terjadi begitu cepat.
Mendengar apa yang dikatakan Serly, Sumanto hanya diam. Sumanto sadar kalau dia sudah menunjukan sikap yang berlebihan.
"Baiklan pertolongan seperti apa yang kamu mau?" Sumanto bertanya dengan suara pelan.
"Aku udah cerita sama papi, kalau aku minta tolong sama kamu, untuk melepas aku dari ancaman Laba-laba Merah. Tapi aku juga bingung aku harus meminta tolong sama kamu dengan cara seperti apa." Serly terdiam beberapa saat, Serly ragu apakah Sumanto mau menolong dia, setelah dia mengatakan semuanya pada Sumanto.
"Katakan seperti layaknya orang minta tolong itu seperti apa. Kalau kamu tidak tau cara meminta tolong, berarti kamu tidak pernah menolong." Sumanto kembali terlihat bersikap dingin.
__ADS_1
"Papi bilang dia akan membayar kamu berapapun asal kamu bisa membuat Laba-laba Merah berhenti mengancam aku." Saat mengucapkan kata bayaran, Serly merasa kurang enak hati. Serly khawatir itu akan membuat Sumanto menjadi tersinggung.
"Papi kamu tidak berpikir nominal yang akan saya minta. Kalau saya meminta bayaran satu M, Sepuluh M, bahkan seratus M, apakah papi kamu bersedia memenuhinya?"
"Entahlah." Serly bingung harus menjawab apa. Serly sadar orang seperti Sumanto sangat ahli membuat orang lain menjadi terlihat bersalah, hanya dengan menggunakan kata-katanya.
"Kamu tau tangan saya sudah digunakan puluhan bahkan ratusan untuk mencabut nyawa orang. Ribuan kali tangan saya berlumuran darah, tapi itu semua saya lakukan bukan kerena alasan soal uang, itu semua saya lakukan, kerena saya merasa memang itu harus saya lakukan."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Sumanto itu, Serly menjadi ngeri, tapi Serly tidak terlihat kaget, kerena Serly sudah melihat rekaman CCTV dilobi parkiran, saat Sumanto berhadapan dengan orang Laba-laba Merah.
"Papi sudah memberi tahu, kalau berurusan dengan orang seperti kamu itu bisa menempatkan aku dalam posisi bahaya."
"Terus kenapa kamu mau?"
"Aku tahu kamu orang yang tidak suka melihat kejahatan. Aku sangat yakin klo kamu mau membantu aku lepas dari cengkeraman Laba-laba Merah. Jadi saat papi memberi imbalan pada kamu, itu bukan berarti bayaran, tapi itu hanya sekedar ucapan terimah kasih, kerena kamu sudah bersedia menolong aku." Serly berusaha menggunakan bahasa sehalus mungkin agar tidak membuat Sumanto menjadi tersinggung.
"Baik aku akan membantu kamu."
"Terimah kasih." Serly berjalan kearah Sumanto dan langsung memeluk Sumanto. Serly sangat senang akhirnya Sumanto bersedia menolong dia.
"Aku tidak mau ketika aku menolong kamu dari ancaman Laba-laba merah, papi kamu beranggapan itu suatu pekerjaan, dan papi kamu harus membayar aku untuk hal itu. Ingat aku tidak suka menjalin hubungan dengan seseorang hanya kerena alasan uang. Hubungan yang terjalin hanya berdasarkan uang itu akan berakhir dengan cepat, kerena hubungan sepert itu pasti akan berakhir saat hubungan itu tidak lagi menghasilkan uang."
Terlalu sulit bagi Serly untuk memahami semua apa yang dikatakan oleh Sumanto, kerena setiap mengeluarkan kalimat Sumanto selalu menggunakan kata kiasan, Serly tahu Sumanto bukan tipe orang yang suka berbicara to the point. Yang jelas segala sesuatu yang berhubungan dengan Sumanto itu adalah hal yang rumit.
*****
Setelah Sumanto setuju menolong dia dari ancaman Laba-laba Merah. Serly langsung mengajak Sumanto menemui papinya. Kerena mereka akan membahas rencana seperti apa yang akan mereka lakukan untuk membuat Laba-laba Merah berhenti mengancam Serly.
"Terimah kasih anda sudah datang." Papi Serly langsung berdiri saat Sumanto sudah berada dihadapannya dan langsung menjabat tangan Sumanto.
"Tuan tidak perlu bersikap terlalu formal dengan saya."
"Silahkan duduk."
"Terimah kasih." Sumanto langsung duduk.
"Pi..." Serly langsung memeluk papinya.
Papi Serly mengelus punggung Serly, papi Serly tahu betapa tertekannya putrinya selama ini menghadapi ancaman dari anggota Laba-laba Merah.
"Semoga ini akan segera berakhir." Papi serly berkata liri.
"Serly gak mau pi masuk penjara." Air mata Serly menetes bersama kata-katanya. Kesedihan yang selama ini coba Serly tahan, kerena tertekan dari ancaman Laba-laba Merah akhirnya keluar semua.
Sumanto hanya diam saja melihat Serly dan papinya berpelukan sambil menangis. Sumanto tidak menyangka kalau ancaman Laba-laba Merah sudah membuat mereka tertekan sejauh itu.
"Sudah kalau kamu nangis terus kapan kita akan membahas tentang Laba-laba merah."
Serly langsung melepas pelukannya dari papinya sambil mengelap air mata menggukan tangannya, lalu Serly segera duduk dihadapan Sumanto.
__ADS_1
"Baiklah rencana seperti apa yang harus kita buat, agar Laba-laba Merah benar-benar Berhenti mengancam putri saya?" Papi Serly bertanya pada Sumanto setelah dia duduk.
"Kita punya dua rencana." Sumanto langsung menjawab pertanyaan papi Serly. Ternyata Sumanto sudah memiliki rencana bagaimana caranya untuk melepaskan Serly dari ancaman Laba-laba Merah. Sumanto sudah memikir rencananya saat tadi sedang dalam perjalanan menuju rumah Serly.
"Rencana seperti apa?" Papi Serly bertanya pada Sumanto.
"Rencana pertama kita harus bisa membuat Laba-laba Merah terbukti kalau mereka memang pengedar narkoba."
"Caranya?"
"Kita harus menjebak mereka. Tentunya untuk menjebak mereka kita membutuhkan bantuan polisi."
"Saat mereka sudah tertangkap, lalu mereka memberikan vidio rekaman pada polisi saat Serly sedang memakai norkoba bagaimana?"
Serly langsung kaget mendengar pertanyaan papinya. Serly menjadi sangat takut kalau sampai dia benar-benar dipenjara, kerena Laba-laba Merah memberikan vidio rekaman bukti kalau dia memang pernah menggunakan narkoba.
"Itu resikonya, tapi kita punya rencana kedua."
"Rencana kedua seperti apa?"
"Tentu saja kita harus mengacam balik mereka." Sumanto menyeringai aneh. Rencana kedua itu tampaknya lebih disukai Sumanto.
"Rencana seperti apa itu?" Papi Serly heran kenapa Sumanto terlihat senang untuk menjalani rencana kedua.
"Kita habisi Laba-laba Merah sampai keakar-akarnya."
Sekarang papi Serly tahu apa tadi yang membuat Sumanto menjadi semangat untuk melakukan rencana kedua. Sumanto berniat menghabisi semua anggota Laba-laba Merah. Ternyata membunuh semua anggota Laba-laba Merah itu dianggap kesenangan oleh Sumanto.
Serly dan papinya semakin ngeri pada Sumanto. Mereka tidak menyangka kalau Sumanto memiliki pemikiran kalau mengambil nyawa orang itu adalah suatu hal masalah yang sepele.
"Apakah tuan meragukan saya?" Sumanto bertanya seperti itu, setelah melihat kalau papi Serly seperti meragukan dia mampu menghabisi semua anggota Laba-laba Merah.
"Bukan... Bukan seperti itu." Papi Serly langsung menyangkal kata-kata Sumanto.
"Lalu?" Sumanto bertanya dingin.
"Apa itu tidak resikonya terlalu tinggi?"
"Bilang saja kalau tuan mau mengatakan kalau saya tidak mampu melakukannya." Kata-kata Sumanto mulai terdengar sinis.
"Mas suman bukan itu maksud papi." Serly sengaja menambahkan panggilan mas pada Sumanto, Serly berharap dengan memanggil mas pada Sumanto, itu bisa membuat Sumanto tidak marah pada papinya, Serly sadar perkataan papinya tadi itu telah membuat Sumanto tersinggung.
"Baik kita akan melakukan rencana kedua. Dari dulu aku tidak pernah ragu pada kemampuan orang-orang yang bekerja pada tuan Adiguna Cokrominito." Dengan berkata seperti itu papi Serly berharap Sumatno tidak lagi tersinggung dengan dia.
"Dari mana tuan tau kalau saya bekerja pada tuan Adiguna Cokrominoto?" Sumanto heran darimana papi Serly tahu kalau dia bekerja pada Adiguna Cokrominoto.
"Perusahan saya adalah cabang dari Adiguna Cokrominoto Group. Saya adalah salah satu orang kepercayaan tuan Adiguna Cokrominoto, jadi tentu saja saya tahu apa yang terjadi disekitaran tuan Adiguna Cokrominoto."
*****
__ADS_1
Jangan lupa bantu vote, biar saya tambah semangat nulisnya.