
Dibalkon hotel bintang lima terlihat seseorang pemuda memandang ponsel yang ada digenggamannya, lebih tepatnya memandang nomor kontak yang tersimpan diponselnya.
"Telpon gak telpon gak..." Wajah pemuda itu terlihat bingung.
Pemuda itu sekali lagi memandang nomor yang tersimpan diponselnya.
"Masak orang setampan ini nelpon cewek duluan." pemuda itu mengusap kepalanya sambil cengengesan.
"Ahhhh..! Sudahlah." Lalu pemuda itu menghubungi nomor yang sejak tadi dia pandang.
"Hallo..?" Terdengar ada suara wanita yang menerimah panggilan telpon sang pemuda.
"Hai..." Pemuda itu berusaha bersikap sesantai mungkin, untuk menutupi perasaan gugupnya.
"Hai juga."
"Suara kamu terdengar merdu kalau didengar dari HP."
"Emang klo suara asli saya jelek?"
"No... No... Don't get me wrong." Pemuda itu tambah gugup.
"Kamu sendiri yang bilamg tadi suara saya merdu klo di HP."
"Suara asli kamu lebih merdu kok."
"Darimana kamu tau suara asli saya lebih merdu, emang kamu kenal saya?"
"Tentu kenal... I know who are you."
"Tau belum tentu kenal. Saya tau Kim Jong Un itu presiden korut, tapi saya gak kenal sama dia."
"Hahaha kamu gadis yang lucu dan pintar... Tentu saja cantik."
"Sekarang saya tau siapa kamu."
"Try to say who I am... Klo kamu tau."
"Hahaha kamu duplikatnya Bastian."
"Oh shittt..! Jangan bilang saya duplikat dia dong. Saya kan lebih ganteng."
"Iya iya kamu lebih ganteng."
"Ya tuhan terimah kasih ini pertama kalinya ada yang bilang saya lebih ganteng dari kakak saya." Ternyata pria yang narsis itu adalah Abimayu, adik kandungnya Bastian.
"Hahaha kasihan sekali hidup kamu, berada dalam bayang-bayang kakak kamu."
"Kamu harus tau, jadi adik dia itu sangat menyakitkan."
"Hahaha suatu saat saya mau kamu menceritakan pada saya, kenapa jadi adik Bastian itu menyakitkan."
"Serly... Besok saya pulang." Abimayu berkata dengan nada serius.
Ternyata wanita yang ditelpon Abimayu itu adalah Serly.
"So..." Tiba-tiba Serly merasa sedih mendengar Abimayu mau pulang.
"Can we meet before I go home?" Suara Abimayu terdengar memelas.
"Bi... Sa... Dimana?" Serly menjawab dengan suara pelan.
"Nanti saya SMS alamatnya sama kamu." Abimayu terlihat sangat senang.
"Oke." Serly menjawab singkat.
"Thanks god, sampai ketemu ya." Wajah Abimayu terlihat berseri-seri.
*****
Dirumah Siti Nurlela.
"Sayang bukannya sebelum kita kesini kamu sudah sarapan?" Bastian bertanya pada istrinya.
"Kamu yang membuat saya kelaparan." Aisyah memasang wajah masam.
__ADS_1
"Kok saya, sayang?" Bastian memandang wajah istrinya.
"Ya iyalah kamu. Kamu kan yang menguras tenaga aku, sehingga membuat aku kelaparan." Aisyah masih memasang wajah masam.
"Ehems hems." Siti Nurlela berdehem beberapa kali.
"Jangan mancing..!" Bastian tersenyum genit kearah istrinya.
"Awas mulai lagi." Aisyah mengacungkan sendok yang dipegangnya kearah kepala suaminya. "Saya getok klo macam-macam lagi."
"Hahaha lihatlah bu betapa menggemaskan istri saya." Bastian menoleh kearah Siti Nurlela.
Siti Nurlela hanya tersenyum mendengar apa yang Bastian katakan barusan.
"Buuu..!" Bastian melihat kearah Siti Nurlela dengan pandangan serius.
"Ya nak Bastian menjadi laki-laki paling beruntung bisa menjadi suami non Aisyah." Siti Nurlela langsung menjawab dengan cepat, kerena Bastian telah menatap kearah dia dengan ekspresi serius, seperti meminta pendapat tentang Aisyah pada dia.
"Bu saya sedang tidak membahas istri saya." Bastian tahu bahwa Siti Nurlela telah salah mengartikan apa yang akan dia bahas.
"Terus nak Bastian mau bilang apa?" Siti Nurlela terlihat bingung.
"Ibu masih mau tinggal disini?" Bastian terdengar bertanya dengan hati-hati, takut nanti Siti Nurlela salah mengartikan apa yang akan dia katakan.
Aisyah langsung melihat kearah suaminya. Aisyah baru pertama kalinya melihat suaminya berbicara terdengar sangat berhati-hati seperti itu. Justru sebelumnya Aisyah melihat orang lain yang terdengar sangat berhati-hati ketika sedang berbicara dengan suaminya. Sekarang Aisyah tahu betapa hormatnya suaminya pada Siti Nurlela.
"Tentu nak, ibu akan terus tinggal disini, selama nak Bastian menginginkan hal itu." Siti Nurlela melihat kearah Bastian dengan pandangam aneh.
Bastian tahu kalau Siti Nurlela berkata bohong.
"Buuu... Sudah saatnya ibu berkata terus terang, katakan apa yang ibu inginkan." Bastian berharap Siti Nurlela berkata jujur.
"Ibu betah tinggal disini nak, rumahnya nyaman." Tapi saat berbicara seperti itu air mata Siti Nurlela menetes.
Bastian tahu apa arti air mata itu, itu bentuk tanda suatu rasa frustasi, kerena ketidak berdayaan. Bastian juga tahu selama ini Siti Nurlela selalu tertekan tinggal ditempat bukan tempat yang dia inginkan.
Aisyah langsung menghentikan kegiatannya setelah melihat Siti Nurlela menangis, lalu bergeser mendekat kearah Siti Nurlela dan langsung memeluk wanita setengah baya itu. Aisyah mengelus-elus bahu Siti Nurlela untuk memberi dukungan moril pada wanita yang sangat dihormati oleh suaminya itu.
"Nak apa mereka mau membebaskan kami?" Kata-kata Siti Nurlela itu sudah cukup menjelaskan, kalau sebenarnya selama ini dia seperti sedang dipenjara.
"Ibu tahu nak, ibu tahu." Air mata Siti Nurlela semakin tidak terbendung.
"Ibu jangan nangis." Adi berdiri dari kursi dan langsung ikut memeluk Siti Nurlela.
"Maafin Bastian bu, kalau selama ini Bastian telah membuat ibu merasa tersiksa." Tanpa Bastian sadari air matanya pun ikut menetes.
Air mata Bastian itu bentuk penyesalan atas apa yang selama ini telah dia lakukan pada Siti Nurlela dan Adi.
"Adi sini." Bastian meminta Adi mendekat kearah dia.
"Ya mas." Adi langsung mendekat kearah Bastian.
"Maafin mas Suman ya, kalau selama ini mas Suman sudah jahat sama Adi." Bastian memeluk Adi sambil menangis.
"Mas Suman gak jahat. Mas Suman baik kok, baik sama Adi, baik sama ibu." Adi berkata polos.
"Adi mau pulang kepanti asuhan tempat Adi dulu?"
"Mau mas, Adi pasti mau, kerena disana banyak teman-teman Adi. Disini Adi selalu kesepian gak ada teman." Lagi-lagi Adi berkata polos.
Kata-kata Adi itu seperti cambukan bagi Bastian, kerena dia, Adi dan Siti Nurlela telah menjalani kehidupannya yang tidak mereka inginkan.
"Kalau Adi ingin pulang, hari ini juga mas Suman akan antar Adi dan ibu pulang." Bastian mencium kepala Adi dengan penuh kasih sayang.
"Bu hari ini kita bisa pulang." Adi menoleh kearah Siti Nurlela.
"Ya hari ini kita pulang." Siti Nurlela mengangguk sambil meneteskan air mata melihat kearah Adi.
Aisyah juga tanpa sadar meneteskan air matanya. Aisyah tahu saat dulu Bastian membuat keluarga palsu, itu kerena Bastian mau menutupi jati dirinya, ketika itu Bastian sedang menyamar berniat masuk kedalam lingkungan keluarga Adiguna Cokrominoto.
Aisyah sadar sedikit banyak Aisyah ikut andil dalam kesalahan yang Bastian lakukan pada Siti Nurlela dan Adi, kerena Bastian dulu melakukan itu semua demi mendekati Aisyah.
*****
Disalah satu restaurant.
__ADS_1
"Silahkan duduk." Abimayu tersenyum menyambut kedatangan Serly.
"Terimah kasih." Serly membalas senyuman Abimayu.
"Mau minum apa?"
"Apa aja, yang penting dingin."
Abimayu memangil salah satu waiters.
"Selamat siang mas, ada yang bisa saya bantu?" Waiters itu bertanya ramah pada Abimayu.
"Saya mau pesan." Abimayu menyebut menu makanan dan minuman yang akan mereka pesan.
"Ada tambahan lagi?" Waiters itu bertanya sekali lagi pada Abimayu.
"Kamu mau apa lagi?" Abimayu bertanya pada Serly.
"Udah cukup itu aja."
"Sementara itu aja dulu mas." Abimayu berkata pada waiters.
Setelah itu waiters meninggalkan meja Abimayu dan Serly.
"Kamu terlihat cantik hari ini?" Abimayu memandang kearah Serly.
"Kalian memiliki cesing hampir sama, tapi isinya sangat berbeda." Serly berusaha bersikap senormal mungkin, kerena dia tahu kalau Abimayu sedang merasa gugup.
"Apakah kami berdua terlihat sangat mirip?"
"Ya kalian hampir terlihat seperti orang yang kembar."
"Tapi kami tidak mirip sama kedua anak kembar yang suka makan ayam goyeng itu kan." Abimayu tersenyum pada Serly.
"Betul betul betul." Serly membalas gurauan Abimayu.
"Hahaha kamu tau juga siapa sikembar yang saya maksud."
"Oh iya apa kamu tau klo kakak kamu pernah botak juga seperti mereka?" Serly jadi ingat kalau pertama kali dia bertemu dengan Bastian dulu Bastian sedang botak.
"Really..?! Wow... Saya gak bisa bayangin kakak saya seperti apa kalau botak."
"Dia melakukan itu demi mendekati orang yang dia cintai. Pasti nona Aisyah sangat bahagia memiliki suami seperti Bastian."
"Ternyata kamu tau banyak perjalanin cinta mereka."
"Kamu tau gak saya dan keluarga saya sangat berhutang budi sama kakak kamu."
"Kakak saya memang seperti itu, dia selalu tebar pesona."
"Kok kamu bilang kakak kamu tebar pesona?" Serly terlihat heran mendengar apa yang Abimayu katakan.
"Saya ceritakan sedikit tentang saya dan kakak saya. Dulu waktu jaman sekolah setiap pacar saya sudah ketemu sama kakak saya, mereka langsung jatuh hati pada kakak saya. Selang beberapa hari kemudian pacar saya pasti minta putus dari saya."
"Hahaha tentu saja itu sangat menyakitkan buat kamu." Serly tertawa gelak mendengar cerita Abimayu.
"Come on... Heiii..! Apa hal seperti itu pantas ditertawakan?"
"Maaf maaf." Serly langsung menghentikan tawanya.
"Serly..!" Abimayu menggenggam lembut kedua telapak tangan Serly sambil menatap dalam kearah mata Serly.
"Ya..!" Tidak ada tanda-tanda Serly akan menarik kedua tangannya yang ada dalam genggeman Abimayu.
"Apakah kamu bersedia ikut saya dan kedua orang tua saya kerumah kami?"
"Mak... mak... maksud kamu apa?" Serly terlihat gugup.
"Kamu lihat diatas meja, apa kamu bersedia memakai benda itu dijari kamu?"
Serly segera melihat kearah ujung meja yang ada didekatnya. Diatas meja Serly telah melihat cincin berlian yang sangat indah, entah Serly tidak tahu sejak kapan cincin itu sudah berada didekat dia.
"Kamu menyuruh saya memakai cincin itu, itu artinya kamu?" Serly tidak bisa melanjutkan lagi kata-katanya.
"Apa kamu bersedia bertunangan dengan seorang pria yang belum pernah menyatakan cinta denganmu?" Abimayu menatap mesra kearah mata Serly.
__ADS_1
Serly melihat kemata Abimayu. Serly tahu ada ketulusan, keseriusan dan harapan yang besar dimata Abimayu.