
Sore harinya sebenarnya dokter sudah memberi izin pada Aisyah, kalau Aisyah langsung mau pulang dari rumah sakit, tapi entah kenapa Aisyah mengatakan pada dokter dia belum mau pulang, dengan alasan bahunya masih terasa sedikit sakit.
Dokter Reinhard sudah bertahun-tahun menjadi seorang dokter, pasti dokter Reinhard dapat mengetahui kondisi pasien hanya menganalisa kondisi pisiennya hanya dalam beberapa menit, jadi dokter Reinhard sadar kalau Aisyah sedang berbohong.
Saya yakin tidak ada masalah lagi dengan kondisi bahu nona Aisyah, tapi kenapa dia mengatakan bahunya masih terasa sakit? Nona Aisyah sedang berkata bohong. Dokter Rienhard menatap wajah Aisyah.
"Dokter Rienhard terlihat sepertinya meragukan keterangan saya."
"Tidakkk... Tentu saja tidak non. Saya hanya seorang dokter, jadi yang paling mengetahui kondisi pasien, yaitu pasiennya sendiri." Dokter Reinhard menjadi gugup.
"Dari cara dokter melihat saya, dokter Reinhard seperti meragukan apa yang saya katakan."
Nona Aisyah terkadang terlihat seperti seorang cenayang. Dia bisa membaca pikiran orang, seolah-seolah dia sedang membaca buku. Dokter Reinhard tersenyum untuk menutupi sara gugupnya.
"Dokter Reinhard, saya sama sekali tidak memiliki kemampuan membaca pikiran orang, saya menebaknya hanya berdasarkan situasi yang sedang terjadi." Lagi-lagi Aisyah dapat membaca apa yang ada dalam pikiran dokter Reinhard.
"Nak kamu ngomong apa sih. Kenapa bicara seperti itu pada dokter Reinhard." Umi Aisyah merasa tidak enak pada dokter Reinhard. Dokter Reinhard terlihat seperti terpojok dengan kata-kata yang Aisyah ucapkan.
"Baik non, mungkin benar kata nona Aisyah, sebaiknya non jangan pulang dulu."
"Terimah kasih dok." Umi Aisyah tersenyum ramah pada dokter Reinhard.
"Mi Reina gak dikasih tahu? Kalau aku berada dirumah sakit?" Aisyah bertanya pada Uminya.
"Umi lupa."
"Biar saya non yang jemput non Rei." Pak Lukman berkata pada Aisyah.
"Aku mau dia yang jemput Reina." Aisyah menunjuk pada Bastian malu-malu, sambil menundukan kepalanya.
Aisyah memiliki niat tersembunyi kenapa dia menyuruh Bastian menjemput Reina. Aisyah bermaksud membuat Bastian dan Reina bisa menjadi lebih dekat. Aisyah tahu selama ini Bastian dan Reina terlihat sering bertengkar. Aisyah mau melihat kedua orang yang dia anggap penting itu bisa menjadi lebih sedikit akrab.
"Kula harus pulang non." Bastian menjawab dengan logat jawa, Bastian sepertinya lupa kalau hampir semua orang yang dalam ruangan itu sudah tahu bahwa dia Bastian.
"Kula-kula..!" Aisyah berkata sambil memonyongkan bibirnya, Aisyah tampaknya sebal kerena Bastian masih bertingkah seolah-olah dia adalah Sumanto.
Kedua orang tua Aisyah menjadi sangat heran melihat tingkah putrinya yang terlihat menjadi bersikap manja. Ini pertama kalinya mereka melihat Aisyah bertingkah aneh seperti itu. Apa lagi tadi mereka melihat Aisyah bicara sambil memenyong-memonyongkan mulut segala.
Pak Lukman tidak kalah herannya, tapi sikap nona mudanya itu terasa sangat lucu dimata pak Lukman. Hampir saja tawa keluar dari mulut pak Lukman, untuk menahan tawanya pak Lukman menundukan kepala.
Orang tua Aisyah dan pak Lukman sadar cinta itu kadang-kadang membuat orang menjadi sangat bodoh. Cinta itu bisa membuat orang melakukan hal-hal yang aneh, bagi mereka yang sedang kasmaran melakukan hal-hal aneh, itu mereka anggap normal.
"Hei... Nona hanya menyuruh kerumah temannya, bukan meminta mayor Bastian kecina, jadi mayor Bastian jangan khawatir terkena corona. Lagi pula ini tampaknya tanda-tanda ngidam, wanita kalau sedang ngidam semua keinginannya harus dituruti, kalau tidak akan berakibat buruk pada janinnya." Harimau Kumbang seperti sengaja menggoda Bastian.
"Kau sepertinya sudah terbiasa kalau bicara selalu menggunakan kata-kata yang panjang." Bastian terlihat kesal mendengar gurauan Harimau Kumbang.
"Sebaiknya aku benar-benar mengirim kamu kecina. Mungkin Hanya virus corona yang mampu membunuh monsters seperti kamu, kerena didunia ini tidak akan ada orang yang sanggup membunuh orang seperti kamu." Aisyah terlihat masih kesal pada Bastian.
__ADS_1
"Baik non saya akan menjemput Reina." Bastian masih menunjukan sikap patuh layaknya seorang sopir pada majikannya.
Semua yang melihat tingkah Bastian itu menjadi sangat heran dan merasa aneh. Beberapa saat sebelumnya mereka melihat sendiri kalau Bastian dan Aisyah seperti memiliki ikatan yang sangat kuat dan bisa membuat banyak orang menjadi iri, tapi sekarang mereka melihat ikatan itu seperti hilang tak berbekas.
"Hahaha..! Tidak kusangka seorang mayor Bastian yang disegani ratusan anak buahnya dan ditakuti ribuan musuh, ternyata tidak berani pergi kecina hanya gara-gara ketakutan dengan virus corona." Harimau Kumbang tertawa puas mengejek Bastian.
Bukkk..! Tendang Bastian bersarang diperut Harimau Kumbang, sehingga membuat Harimau Kumbang terpental kedinding.
Sebagian orang yang ada dalam ruangan menjadi sangat kaget melihat apa yang dilakukan Bastian pada Harimau Kumbang.
Keyra tersenyum puas melihat Harimau Kumbang ditendang oleh Bastian, walaupun Keyra tahu Bastian tidak berniat benar-benar mencelakai Harimau Kumbang. Kalau Bastian benar-benar berniat menghajar Harimau Kumbang, pasti saat ini Harimau Kumbang tidak akan bisa berdiri dengan mudah.
Pak Lukman hanya senyum-senyum sendiri melihat apa yang dilakukan Bastian pada Harimau Kumbang, lalu pak Lukman berjalan mendekati Harimau Kumbang. Pak Lukman mengulurkan tangannya untuk membantu Harimau Kumbang berdiri.
Sedangkan Aisyah hanya geleng-geleng kepala melihat sifat Bastian yang masih saja tetap gampang emosi. Padahal Aisyah sangat berharap calon ayah dari anaknya itu akan bisa sedikit berubah menjadi lebih tenang dalam menghadapi masalah, tapi dalam hati Aisyah tetap merasa senang, setidaknya laki-laki yang dicintainya itu tidak akan pernah bisa marah pada dia.
"Sekali lagi kau bicara, maka aku akan membunuhmu." Bastian memendang tajam pada Harimau Kumbang.
"Tendanganmu sudah jauh melemah mayor, kalau kau sudah selemah itu maka aku akan dengan muda membunuhmu." Harimau Kumbang menyeringai kearah Bastian.
"Kau boleh mencobanya kalau kau merasa sanggup." Bastian balas menyeringai pada Harimau Kumbang.
"Sumantooo..! Kamu itu masih sopir aku, jadi kamu harus menurut apa yang aku suruh. Jemput Reina kesini." Aisyah berbicara sambil memasang ekspresi wajah serius.
"Lebih baik nona Aisyah suruh dia pergi lebih jauh. Keamerika misalnya, biar bisa ketemu presiden amerika Barack Obama." Harimau Kumbang terlihat masih belum puas meledek Bastian.
"Hahaha maaf mayor, ingatanku tidak setajam ingatanmu. Aku lupa kalau Barack Obama sudah diganti dengan Donald Trump." Harimau Kumbang tersenyum simpul.
"Harimau Kumbang jangan-jangan kerena pengetahuanmu yang dangkal itu kau berpikir presiden indonesia sekarang adalah Prabowo Subianto dan menhan adalah Joko Widodo." Bastian seperti ada cela untuk membalas ledekan Harimau Kumbang.
"Sejak kapan mereka bertukar jabatan?"
"Baguslah setidaknya kau masih tau siapa presidenmu." Bastian tersenyum sinis.
"Mayor Bastian kalau aku tidak tau presiden negara lain, bukan berarti aku lupa siapa presiden negaraku sendiri."
Harimau Kumbang dan Bastian terlihat seperti teman yang sudah lama saling mengenal, sehingga membuat mereka berani bersenda gurau satu sama lainnya, tanpa khawatir akan ada yang tersinggung dengan apa yang mereka katakan. Mereka sepertinya lupa kalau mereka dulu pernah mau saling menghabisi satu sama lainnya.
"Sumanto kau tidak dengar apa yang tadi aku katakan." Aisyah melotot kearah Bastian.
"Baik non saya akan jemput Reina." Lalu Bastian segera keluar.
Setelah Bastian keluar dari ruangan, semua orang yang ada disitu tidak bisa lagi menahan tawa mereka. Ruangan tempat Aisyah sedang dirawat itu dipenuhi gelak tawa mereka semua. Sikap Bastian yang sangat patuh pada Aisyah, itu sangat menggelikan dimata mereka. Padahal mereka sadar cepat atau lambat, pasti Bastian akan menjadi suami Aisyah. Hanya tinggal menunggu waktu kapan hal itu akan terjadi.
*****
Ting-tong Bastian memencet bel rumah Reina. Tidak lama kemudian pintu rumah Reina terbuka. Terlihat Reina yang keluar dari dalam rumah.
__ADS_1
"Mau apa kamu kesini?" Reina bertanya judes pada Bastian.
"Saya disuruh nona Aisyah menjemput kamu." Bastian menjawab datar.
"Aku gak percaya."
"Untuk apa aku membohongi kamu." Bastian mulai terlihat kesal dengan sikap judes Reina.
"Aku gak mau pergi sama kamu. Nanti aku kamu culik lagi."
"Apa untungnya aku menculik orang seperti kamu." Bastian semakin terlihat kesal.
"Wanita mana yang tidak takut berada satu mobil dengan kamu, setelah tau apa yang telah kamu lakukan pada Aisyah."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Reina itu, membuat Bastian menjadi sedikit merasa tersinggung. Bastian melotot tajam pada Reina.
Dipelotot oleh Bastian seperti itu membuat Reina tidak berani memandang kearah wajah Bastian.
"Makanya punya pasangan, biar kamu tahu letak sisi positif laki-laki itu dimana." Bastian berkata sinis.
"Pasangan..!" Reina seperti kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Bastian barusan. Lalu bayangan wajah Riko seperti terlintas diingatan Reina.
"Aku tidak yakin ada laki-laki yang mau sama wanita seperti kamu." Bastian tersenyum mengejek.
"Apa maksud kamu..?" Reina menjadi kesal mendengar perkataan Bastian.
"Kalau kamu mau mempunyai pasangan sebaiknya kamu yang terlebih dulu mendekati cowok, kerena kalau kamu menunggu cowok yang mendekati kamu, itu tidak akan pernah terjadi. Apa lagi kamu berharap host yang bernama riko itu mau mendekati kamu." Lalu Bastian pergi meninggalkan Reina. Bastian seperti tidak memperdulikan lagi kalau tadi dia disuruh Aisyah untuk menjemput Reina.
Reina hanya memandang punggung Bastian yang masih terus saja berjalan tanpa sedikitpun menoleh kearah dia. Tampaknya Bastian benar-benar kesal menghadapi sikap Reina.
Apakah aku benar-benar menyebalkan? Sehingga tidak ada laki-laki yang bersedia dekat denganku, seperti apa yang tadi dia katakan. Reina masi memandang kearah Bastian.
"Tungguuu..!" Reina memanggil Bastian.
Mendengar Reina memanggilnya, Bastian langsung berhenti dan berbalik badan.
"Kenapaaa..?" Bastian bertanya dengan galak.
"Aku harus menanyakan dulu sama Aisyah, apakah kamu datang menjemput aku benar-benar disuruh Aisyah."
Tanpa menunggu jawaban dari Bastian, Reina langsung mengeluarkan ponselnya dari saku, lalu menelpon Aisyah.
"Assalam mualaikum."
"waalaikumsalam ."
"Kamu benar Syah nyuruh monsters ini jemput aku."
__ADS_1
"Kok monsters sih Rei? Dia itu calon ayah anak aku loh."