DERITA NONA MUDA

DERITA NONA MUDA
KECEWA


__ADS_3

Dua hari kemudian


Bastian membuka matanya secara perlahan. Saat kesadaran Bastian beransur-ansur kembali, Bastian mulai merasakan hampir seluruh tubuhnya terasa sakit. Terutama pada dada, bahu kanan dan paha kirinya.


Dengan sekuat tenaga Bastian berusaha menggerakan kepalanya untuk melihat keadaan sekelingnya. Dikedua kaki Bastian terasa lebih berat, seperi ada beban yang sedang menindih kedua kakinya, lalu Bastian melihat kearah kakinya.


"Kerennn..?" Bastian berucap secara perlahan.


Bastian menduga wanita yang sedang tertidur didipinggir ranjang tempat dia terbaring sekarang adalah Keren, wanita itu tertidur menyandarkan kepalanya pada kedua kaki Bastian.


Sekali lagi dengan sekuat tenaga Bastian berusaha menggerakan kepalanya untuk melihat sekelingnya. Bastian melihat didalam ruangan tempat dia sekarang sedang terbaring dipenuhi peralatan alat medis.


Bastian baru sadar ternyata didada dan hidungnya terpasang beberapa alat medis, kerena merasa alat medis yang menempel didada dan hidungnya membatasi ruang geraknya, maka dengan secara paksa Bastian melepaskan beberapa alat medis yang menempel dibagian tubuhnya.


Setelah melepas beberapa alat medis yang menempel didada dan hidungnya, Bastian berusaha duduk untuk melihat siapa wanita yang sedang tertidur menindih kedua kakinya.


Wanita yang sedang tertidur dengan menyandarkan kepalanya pada kedua kaki Bastian terlihat sedikit menggerakan kepalanya. Wanitu itu tampaknya terganggu dengan beberapa gerakan yang Bastian lakukan.


Meskipun tenaganya terasa sangat lemah saat itu, tapi Bastian berhasil duduk. Dengan secara perlahan-lahan Bastian mengarahkan tangannya untuk menyentuh kepala wanita yang sedang ditertidur menindih kedua kakinya.


Wanita yang tertidur menindih kedua kaki Bastian itu tiba-tiba terbangun saat merasakan ada belaian lembut dikepalanya.


"Bastiannn..." Wanita yang tertidur diujung kaki Bastian itu langsung menatap kearah wajah Bastian, wanita itu berkata sambil meneteskan air matanya. "Syukurlah kamu sudah sadar." Wanita itu terlihat senang setelah menyadari kalau Bastian sudah siuman.


"Aisyahhh..?"


Ternyata wanita yang sampai tertidur menunggu Bastian itu adalah Aisyah.


"Basss..!" Aisyah langsung memeluk tubuh Bastian sangat erat sambil menangis.


"Bagaimana dengan dia?" Bastian bertanya pada Aisyah dengan suara perlahan.


"Keren maksud kamu?"


"Ya dia. Apakah dia baik-baik aja?" Bastian terdengar sangat khawatir saat dia bertanya keadaan Keren pada Aisyah.


"Keren dirawat diruang sebelah."


"Aku mau melihat dia." Bastian melepaskan tubuhnya dari pelukan Aisyah.


"Tapi Bas... Kondisi kamu sekarang masih sangat lemah."


"Awasss..! Aku mau melihat dia." Bastian mendorong Aisyah dengan sedikit kasar.


"Bas kondisi tubuh kamu masih sangat lemah." Aisyah memegang bahu Bastian untuk mencegah Bastian turun dari ranjang.


"Aku bilang aku mau melihat dia." Bastian menepis tangan Aisyah dari bahunya lagi-lagi dengan cara yang sedikit kasar.


Ya tuhan secepat inikah dia berubah..! Aisyah menatap Bastian sambil menangis. Apa yang dilakukan Bastian tadi itu, tampaknya membuat Aisyah sangat terpukul.


Tanpa memperdulikan Aisyah, Bastian terus saja berjalan keluar dari ruang tempat dia sedang dirawat, kerena kondisi tubuhnya masih sangat lemah sehingga membuat Bastian terjatuh saat Bastian hampir menyentuh handle pintu.


"Bastiannn..!" Aisyah langsung berlari kearah Bastian. Aisyah segera membantu Bastian untuk berdiri.


"Minggirrr..! Aku mau melihat dia." Bastian mendorong Aisyah untuk menjauh dari dia dengan cara kasar, sehingga membuat Aisyah terjatuh kelantai.


Tiba-tiba pintu terbuka dari luar. Terlihat ada dua wanita masuk kedalam ruangan.


"Aisyah..!" Satu wanita langsung membantu Aisyah untuk berdiri.


"Bastiannn..?" Wanita yang satunya lagi membantu Bastian.

__ADS_1


"Keyra Bawah aku keruangan Keren, aku mau melihat kondisi dia." Bastian berkata pada wanita yang membantunya berdiri, yang ternyata adalah Keyra.


"Dia belum sadar Bas." Keyra memberi keterangan pada Bastian.


"Aku tidak peduli dia sudah sadar apa belum. Pokoknya aku mau melihat keadaan diaaa..!" Bastian berkata dengan nada tinggi pada Keyra.


"Memang dia lebih penting dari Aisyah?" Wanita yang tadi membantu Aisyah berdiri berkata kesal pada Bastian.


Bastian menoleh kearah wanita yang tadi bicara secara ketus pada dia. Bastian menatap tajam kearah wanita itu.


"Sudah cukup Rei." Aisyah berkata pada wanita yang tadi membantunya untuk berdiri, yang ternyata adalah Reina.


"Cepat bawah aku ketempat dia." Bastian terdengar seperti memberi perintah pada Keyra.


"Dasar monsters..!" Reina terlihat masih kesal pada Bastian.


"Udah cukup Rei." Aisyah tidak mau terjadi pertengkaran antara Bastian dan Reina.


"Keyra cepat bawah aku ruangan Kerennn..!" Bastian membentak Keyra.


"Ya bas." Keyra menjawab patuh, lalu Keyra segera memapah Bastian berjalan keluar untuk keruangan sebelah, tempat Keren sedang dirawat.


Sesampainya diruangan sebelah.


"Hei wanita bodoh bangun, kamu gak boleh mati." Bastian membelai kepala Keren dengan lembut sambil menangis.


Melihat kondisi Keren yang terbaring lemah dan masih belum sadar, Bastian merasa sangat bersalah. Bastian sadar kondisi Keren seperti itu, sedikit banyak disebabkan oleh dia. Kalau saja Keren tidak berusaha untuk membantu dia, mungkin saat ini tidak akan terjadi apa-apa pada Keren.


"Jangan membuat aku tersiksa untuk kedua kalinya."


Bayangan kematian wanita yang bernama Anita sampai sekarang masih saja terus menghantui Bastian. Saat melihat kondisi Keren yang masih terbaring dalam kondisi belum sadarkan diri, Bastian sangat takut kalau apa yang terjadi pada Anita juga akan terjadi pada Keren.


"Ayo wanita bodoh bangun, jangan sampai kematian kamu akan membuat aku jadi membenci wanita." Bastian masih terus saja berbicara, meskipun dia sadar tidak akan mendapatkan jawaban, kerena saat ini Keren masih belum siuman.


Ya tuhannn..! Sudah seberapa dekatkah hubungan mereka berdua? Kenapa Bastian terlihat sangat terpukul melihat keadaan Keren. Aisyah hanya bisa menangis melihat apa yang dilakukan Bastian pada Keren.


"Aisyah.." Reina langsung memeluk sahabatnya itu dari samping. Reina tahu sahabatnya itu sangat terpukul melihat apa yang dilakukan Bastian pada Keren.


"Aku mau pulang Rei." Aisyah langsung berlari keluar dari ruangan tempat Keren sedang dirawat.


Semakin lama Aisyah berada dalam ruangan itu, semakin membuat dada Aisyah semakin terasa sesak, melihat apa yang dilakukan Bastian pada Keren.


"Syah.." Reina berlari menyusul Aisyah.


Bastian tahu, pasti Aisyah akan menjadi sangat terpukul melihat apa yang dia lakukan pada Keren, tapi Bastian terkesan tidak terlalu memperdulikan hal itu, kerena Bastian sangat mengkhawatirkan keadaan Keren.


"Apakah kau sudah membereskan mereka semua?" Bastian bertanya pada Keyra tanpa melihat kearah Keyra.


"Ya kami sudah membunuh semua anggota Laba-laba Merah yang menyerang kamu."


"Bagaimana keadaan ibu sama Adi?"


"Mereka berdua baik-baik saja."


"Kalian semua lambat." Dari nada bicara Bastian terdengar kalau Bastian sepertinya sedang kesal pada Keyra.


"Maafkan kami." Keyra terdengar menyesal.


"Aku ingin menghabisi semua anggota Laba-laba Merah. Aku harap kalian tidak usah lagi ikut campur."


"Tapi Bas, kondisi kamu sekarang." Keyra khawatir kalau Bastian akan bertindak gegabah.

__ADS_1


"Kau lupa kalau aku masih punya anak buah?" Bastian lalu melihat kearah Keyra sambil menyeringai.


Keyra melihat seringai Bastian itu terasa jauh menakutkan dari sebelum-sebelumnya.


"Maksudmu, kamu akan memanggil mantan anak buahmu ditontaipur?"


"Ya sudah saatnya mereka muncul." Bastian berkata dengan dingin.


Keyra sebenarnya penasaran ingin bertanya berapa anak buah Bastian yang akan dia panggil untuk menghancurkan geng Laba-laba Merah. Keyra tahu satu pasukan tontaipur itu setara dengan kekuatan seratus tentara biasa, Seandainya Bastian memanggil tiga saja anak buahnya dipasukan tontaipur, itu artinya sama saja Laba-laba Merah berperang melawan tiga ratus tentara.


"Aku akan membuat mereka sadar, kalau mereka telah berusan dengan orang yang salah."


Bagaimana mereka akan sadar, kalau kau membuat meraka semua mati. Keyra tersenyum kecut.


"Kau kamu mau, kami bersedia menghabisi Laba-laba Merah sampai keakar-akarnya."


"Kalau kalian merasa sanggup seharusnya dari dulu kalian melakukannya." Bastian berkata sinis pada Keyra.


"Sebenarnya dari dulu kami menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkan Laba-laba Merah."


"Sudahlah sekarang bukan jadi urusan kalian lagi. ingat jangan sampai ada satupun kalian yang ikut campur." Bastian memberi peringatan serius pada Keyra.


"Baik." Lagi-lagi Keyra menjawab patuh.


Keyra berpikir akan jauh lebih menguntungkan untuk Srigala Malam kalau ada yang sanggup dan bersedia menghancurkan Laba-laba Merah, tanpa mereka sendiri turun tangan.


*****


Sesampai dirumahnya Aisyah berlari masuk kekamarnya dan langsung menghempaskan tubuhnya diatas kasur. Aisyah menangis sejadi-sejadinya.


"Sabar Syah." Reina mengelus bahu Aisyah.


"Bastian jahat banget Rei."


"Dia hanya merasa bersalah pada Keren Syah. Jadi wajar klo Bastian bersikap seperti itu pada Keren." Reina berusaha menghibur sahabatnya itu.


"Apa Bastian lupa, klo diperut aku ada anak dia." Aisyah bicara sambil terus menangis.


"Monsters itu gak mungkin lupa Syah." Reina juga terdengar kesal pada Bastian.


"Aisyah kenapa Rei?" Tiba-tiba ada suara wanita setengah baya bertanya pada Reina.


Aisyah dan Reina secara bersamaan melihat kearah pintu. Wanita yang bertanya pada Reina tadi ternyata adalah umi Aisyah.


"Anu mi." Reina bingung harus menjawab apa pada umi Aisyah.


"Pasti gara-gara dia lagi." Umi Aisyah sepertinya sudah dapat menebak, apa yang menjadi penyebab putri kesayangannya itu sedih dan menangis.


"Umiii..." Aisyah langsung menghambur kedalam pelukan wanita yang telah melahirkannya itu.


"Ada apa lagi dengan dia?" Umi Aisyah bertanya dengan lembut sambil mengelus putri kesayangannya itu.


"Mi Aisyah gak mau kehilangan Bastian."


"Cerita nak sama umi, apa terjadi."


"Bastian jahat mi." Tangis Aisyah semakin menjadi.


"Jahat kenapa?" Umi Aisyah masih bertanya dengan sabar dan dengan nada halus.


"Pokoknya Bastian jahat mi."

__ADS_1


Kerena tidak terlalu paham apa yang dimaksud oleh putrinya, akhirnya Umi Aisyah hanya bisa memeluk putrinya itu, untuk membuat putri kesayangannya itu menjadi lebih tenang.


Setelah merasa sedikit lebih tenang akhirnya Aisyah menceritakan apa yang membuat dia menjadi sedih dan sampai menangis.


__ADS_2