
Mendengar Serly menyebutkan namanya, Sumanto langsung menoleh kearah Serly. Lalu Sumanto melihat Serly dengan teliti. Sumanto memperhatikan Serly dari ujung kaki sampai kepala.
"Apa ada yang salah?" Serly bertanya pada Sumanto.
"Tidak." Sumanto menjawab singkat.
Dari cara Serly berbicara dengan Sumanto, terlihat kalau Serly sedikit agak takut berada didekat Sumanto. Apalagi tadi Sumanto menatap Serly dengan cara aneh.
"Kenapa kamu bicara dengan cara aneh seperti itu." Sumanto sadar kalau Serly seperti takut dengan dia.
"Kenapa dengan cara bicaraku." Serly mencoba tersenyum pada Sumanto menutup rasa takutnya.
Tentu saja Serly merasa takut berhadapan dengan orang seperti Sumanto. Serly tadi sudah melihat sendiri betapa kejamnya Sumanto menyiksa anggota Laba-laba Merah. Sumanto saat itu terlihat seperti tidak memiliki perasaan sama sekali.
Alasan kenapa Serly mencoba masih terus berada didekat Sumanto, bukan hanya sekedar Serly merasa berhutang budi pada Sumanto, tapi kerena Serly memiliki alasan lebih daripada itu.
Serly sadar walaupun Sumanto orang yang sangat berbahaya, tapi Serly tahu kalau bisa berada satu pihak dengan orang seperti Sumanto, maka orang seperti Sumanto bisa sangat berguna. Apa lagi saat ini Serly sangat butuh ada orang yang bisa untuk melindungi dia dari ancaman Laba-laba Merah.
Dekat dengan orang seperti Sumanto memang memiliki resiko yang cukup tinggi. Serly tahu orang seperti Sumanto ketika melakukan segala sesuatu hanya berdasarkan naluri atau insting, bukan dengan akal sehat.
"Apakah kita pernah bertemu?" Sumanto merasa pernah melihat Serly, tapi Sumanto lupa kapan dan dimana.
"Mungkin." Lagi-lagi Serly tersenyum ramah pada Sumanto.
Pertanyaan Sumanto itu, seperti memberi angin untuk Serly mendekati Sumanto.
"Kenapa anggota Laba-laba merah mengancam kamu?"
"Meraka." Serly tidak meneruskan kalimatnya. Serly ragu untuk menceritakan pada Sumanto kenapa Laba-laba Merah mengancam dia.
"Sudahlah itu tidak ada hubungannya dengan saya." Lalu Sumanto berjalan meninggalkan Serly.
"Tungguuu..!" Serly berlari menyusul Sumanto.
"Ada apa?" Sumanto bertanya acuh pada Serly.
"Mereka menjebak saya." Serly berpikir dengan menceritakan apa yang terjadi antara dia dengan Laba-laba Merah, maka itu akan membuat Sumanto mau membantu dia dari ancaman Laba-laba Merah.
"Menjebak kamu?" Sumanto tidak paham apa yang dimaksud oleh Serly.
"Meraka menawarkan narkoba pada saya, dan saat saya sedang menggunakan narkoba yang saya beli dari mereka, mereka merekamnya."
"Jadi kerena vidio bukti saat kamu sedang menggunakan narkoba ada pada mereka, kerena itulah mereka bisa memeras kamu. Kalau kamu tidak memberikan uang yang mereka minta, maka mereka akan memberikan vodio itu pada polisi."
"Benar."
"Apakah Laba-laba Merah merekam setiap orang yang membeli norkoba dari mereka, saat orang itu sedang menggunakannya?"
"Iya, meraka selalu merekam setiap ada orang yang pertama kali membeli narkoba dari mereka. Tapi kalau orang itu membeli narkoba dari mereka secara aktif, mereka tidak akan mengancam orang itu memberikan vidionya kepada polisi." Serly memberikan keterangan pada Sumanto.
"Kenapa bisa mereka memiliki vidio setiap ada orang yang pertama kali membeli norkoba pada mereka?"
"Saat ada orang yang untuk pertama kali membeli narkoba dari mereka, mereka akan meminta orang itu menggunakan narkoba itu dikamar yang mereka telah sediakan, dengan alasan untuk demi keamanan orang itu sendiri, sedangkan didalam kamar itu sudah mereka pasang kamera pengintai."
"Jadi kamu bukan pengguna aktif?"
"Saya menggunakannya hanya sekali. Itupun sekitar tiga bulan yang lalu."
"Kenapa kamu tidak melaporkan pada polisi?"
"Kalau saya membuka mulut pada polisi, maka vidio saya akan mereka berikan pada polisi" Serly terlihat sedikit putus asa.
"Terus kamu mau memberikan uang yang mereka minta begitu saja pada mereka?"
"Tidak punya pilihan lain." Serly terdengar pasrah.
"Bukan tidak punya pilihan, tapi kamu tidak pernah mau berpikir bagaimana caranya untuk lepas dari mereka." Sumanto menjadi kesal mendengar jawaban pasrah Serly.
__ADS_1
"Mungkin orang seperti kamu bisa membantu saya untuk lepas dari ancaman mereka."
"Kenapa saya harus menolong kamu?" Sumanto bertanya dengan sinis.
Lalu Serly mendekati Sumanto.
"Kerena saya bisa memberikan apapun yang kamu mau." Serly berbisik ditelinga Sumanto.
"Apa maksud kamu."
"Apa saya kurang menarik buat kamu?" Serly berusaha menggoda Sumanto.
"Bastiannn..!" Tiba-tiba ada suara wanita yang berteriak.
"Non Aisyah." Sumanto melihat pada orang yang tadi berteriak.
"Baru ditinggal sebentar saja kamu sudah berani berbuat macam-macam dengan wanita lain." Aisyah terlihat marah pada Sumanto.
"Non salah paham."
"Salah paham kamu bilang? Memang aku gak lihat kamu berbisi-bisik dengan dia." Aisyah menunjuk kearah Serly.
"Nona Aisyah." Serly senyum kearah Aisyah untuk menutupi rasa malunya, kerena dia tahu kalau Aisyah telah melihat apa yang tadi dia lakukan pada Sumanto.
"Serly?" Aisyah tidak menyangka kalau wanita yang berbisik mesra ditelinga Sumanto ternyata adalah Serly.
"Apa yang pacar nona Aisyah bilang tadi itu benar, nona Aisyah salah paham." Serly mengira Sumanto adalah pacar Aisyah.
"Pacar kamu bilang..! Siapa juga yang mau jadi pacar orang botak, jelek pembohong seperti dia." Aisyah menunjuk kearah Sumanto.
Alasan kenapa Serly menduga Sumanto adalah pacar Aisyah, kerena tadi Serly melihat sendiri reaksi Aisysh seakan cemburu setelah melihat apa yang dia lakukan pada Sumanto.
"Terus dia?"
"Dia sopir saya." Aisyah menjawab dengan kesal pertanyaan Serly.
"Cepat masuk kemobil..! Kita pulang." Aisyah membentak Sumanto.
"Baik non."
*****
Dua hari kemudian
Malam harinya Serly datang kerumah Sumanto, Serly tahu alamat rumah Sumanto, kerena Serly pernah membuntuti Sumanto saat Sumanto pulang dari rumah Aisyah.
"Permisi, selamat malam." Serly mengetuk pintu rumah sumanto.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka dari dalam dan yang membuka pintu adalah Sumanto.
"Kamu?" Sumanto memandang heran pada Serly.
"Hai selamat malam. Masih ingatkan dengan saya." Serly tersenyum pada Sumanto.
"Ngapain kamu kesini?"
"Masak tamu gak disuruh masuk."
"Ya sudah masuk." Terlihat sekali kalau Sumanto tidak suka Serly datang kerumah dia.
Serly berjalan duluan masuk kedalam rumah Sumanto tanpa memperdulikan sikap Sumanto yang terlihat tidak senang atas kedatangan dia.
"Dari mana kamu tahu rumah saya?" Sumanto bertanya acuh.
"Kamu tidak menyuruh saya duduk dulu?"
"Silahkan duduk."
__ADS_1
"Rumah kamu cukup nyaman, aku betah disini." Serly berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Mau apa datang kesini?"
"Sikap kamu terhadap saya sangat berbeda saat kamu menghadapi nona Aisyah."
"Nona Aisyah adalahlah majikan saya."
"Jadi secara tidak langsung kamu ingin mengatakan, kalau kamu hanya akan bersikap baik hanya pada atasan kamu."
"Sudahlah katakan saja apa maksud kedatangan kamu kesini?"
"Aku datang kesini kerena aku yakin ketika aku berada didekat kamu, aku akan aman dari anggota Laba-laba Merah."
"Kalau kamu butuh aku untuk menjaga keamanan kamu dari anggota Laba-laba Merah, itu arti kamu harus membayar aku."
"Baik berapa bayaran yang kamu minta?"
Serly berdiri dan mendekat kearah Sumanto. Sedangkan Sumanto hanya memandang Serly dengan tatapan bingung. Sumanto bingung kenapa Serly mendekat kearah dia.
Serly menunduk kearah Sumanto, kerena posisi Sumanto saat itu masih duduk. Dengan gerakan perlahan Serly lalu memegang kepala Sumanto dan mengarahkan bibirnya kearah bibir Sumanto.
Apa yang dilakukan Serly itu sungguh membuat Sumanto sangat terkejut. Sumanto tidak menduga sama sekali kalau Serly dengan beraninya mencium dia.
Kerena tidak ada tanda-tanda penolakan dari Sumanto, Serly masih terus melum*t bibir Sumanto. Tanpa sadar akhirnya Sumanto membalas apa yang dilakukan Serly terhadap Dia.
"Sebaiknya kamu pulang." Sumanto mendorong Serly menjauh dari dia.
"Gak mau. Aku mau tidur disini." Diwajah Serly tidak ada tanda-tanda penyesalan atau rasa malu setelah apa yang dia lakukannya tadi pada Sumanto.
"Dirumah ini tidak memiliki kamar tamu."
"Aku bisa tidur dikamar kamu."
"Kamu akan menyesal tidur satu kamar dengan aku."
"Aku tidak yakin kamu bisa melakukan sesuatu pada prempuan, setelah melihat cara kamu berciuman." Serly mengejek Sumanto.
"Terserah kamu." Sumanto tidak mau terlalu menanggapi Serly.
Sumanto berjalan kekamarnya meninggalkan Serly. Serly mengekor Sumanto dari belakang.
"Tidak kusangka kamar kamu serapi ini, tidak seperti kamar laki-laki pada umumnya." Serly berkata seperti itu, setelah berada dikamar Sumanto.
"Kamar ini tidak akan bisa membuat kamu tidur dengan nyenyak, kerena kamar ini tidak sama dengan kamar dirumah kamu."
"Tidak juga, kamar ini cukup nyaman." Serly langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur.
"Terserah kamu." Sumanto tidak mau pusing apa yang dilakukan oleh Serly.
"jam enam pagi aku harus sudah berada dirumah non Aisyah, tolong jangan ganggu tidurku."
"Baiklah aku tidak akan mengganggu tidurmu." Lalu Serly pura-pura memejamkan matanya.
"Gadis bodoh jangan menyesal kalau nanti terjadi sesuatu saat kita sedang tertidur." Sumanto menggelengkan kepalanya.
"Jadi kau bisa melakukannya? Mari kita lakukan sekarang." Serly menggoda Sumanto.
Tanpa mereka sadari apa yang terjadi diantara mereka seperti seolah-olah mereka berdua orang sudah sangat dekat dan sudah lama saling mengenal. Mereka bertingkah kalau seorang laki-laki dan prempuan tidur dikamar yang sama itu tidak akan jadi masalah.
Serly sebenarnya bukanlah prempuan yang liar atau tidak memiliki harga diri. Memang Serly sudah sering berciuman dengan laki-laki yang pernah menjadi pacarnya. Tapi Serly belum pernah melakukan hal yang terlalu jauh.
Kenapa Serly terkesan terlihat liar dihadapan Sumanto, itu tidak lain kerena Serly prustasi menghadapi ancaman dari Laba-laba Merah. Serly berpikir dengan bersikap seperti itu pada Sumanto, maka Sumanto mau membantu melindungi dia dari ancaman Laba-laba merah.
Serly juga yakin saat tidur satu kamar dengan Sumanto itu tidak akan terjadi apa-apa. Dari cara Sumanto berciuman Serly dapat menilai kalau Sumanto bukanlah orang yang suka memandang rendah prempuan.
"Hei... Apa kau benar-benar tidak menyukai prempuan." Serly menusuk-nusuk bahu Sumanto dengan jarinya.
__ADS_1
"Berhentilah menggangguku, aku sudah bilang jam enam aku harus sudah berada dirumah nona Aisyah."