DERITA NONA MUDA

DERITA NONA MUDA
WANITA MASA LALU


__ADS_3

Mobil sedan merah bernopol BG XXX melaju dengan kencang, wanita muda yang mengendarai sedan merah itu terlihat sangat panik. Sebentar-bentar wanita itu melirik kearah spion untuk melihat mobil ada dibelakangnya yang dari tadi terus mengikutinya.


Wanita muda yang mengendarai sedan merah itu sadar, sejak dia baru saja keluar dari toko pakaian tempat dia tadi belanja, ada mobil yang terus mengikutinya, tapi yang membuat wanita itu heran, mobil yang mengikutinya seperti tidak ada tanda-tanda mau menyalip atau mendahuluinya.


Mobil yang dibelakang masih terus menjaga jarak sekitar beberapa meter dibelakang mobil sedang merah. Saat sedan merah melambat mobil yang mengikutinya ikut juga melambat, saat sedan merah menambah kecepatannya mobil yang dibelakang juga menambah kecepatan lajunya.


Sepertinya mobil yang dibelakang memang sengaja membuat wanita yang mengendarai sedan merah didepannya ketakutan dengan cara terus mengikutinya.


Brakkkk..!!! Sedan merah yang dikendarai wanita muda itu tiba-tiba menabrak truk yang ada didepannya.


"Anitaaa..!" Bastian langsung terbangun dari mimpi buruknya, keringat dingin terlihat membasahi wajah Bastian. Mimpi buruk yang barusan dialami Bastian membuat Bastian menjadi terlihat sangat ketakutan.


"Hei..! Didepan kamera kau beradegan lebih romantis dari pada romeo dan juliet dengan Aisyah, tapi saat tertidur kau memimpikan wanita lain. Ternyata laki-laki itu sama semua." Terdengar ada suara wanita berkata dengan sinis.


Bastian melihat kearah suara wanita tadi yang berbicara.


"Kamuuu..! Kenapa kamu berada disini?" Bastian memandang heran pada wanita yang duduk kursi disamping ranjang, wanita itu tersenyum pada Bastian saat Bastian melihat kearah dia.


"Tidak usah memasang wajah kaget gitu. Bukannya dulu sudah ada wanita yang telah tidur diatas ranjang ini bersama kamu, aku hanya duduk disini, seharusnya itu tidak akan jadi masalah buat kamu, tapi gak tau klo buat Aisyah." Wanita itu menyeringai kearah Bastian.


"Kenapa kamu bisa tahu Serly pernah tidur disini?" Bastian merasa heran, kenapa wanita yang duduk dikursi itu bisa tahu kalau Serly pernah tidur dikamar dia.


"Tadi adik kamu yang menceritakannya sama aku, kalau dulu ada wanita yang pernah tidur dikamar kamu." Wanita itu berkata terus terang.


"Maksud kamu Adi?"


"Ya dia."


"Ngapain kamu kesini?" Bastian terlihat tidak senang wanita itu berada dikamar dia.


"Syukurlah kamu masih ingat dengan aku, walaupun aku tidak yakin kau mengingat namaku."


"Kamu yang bernama keren kan?"


"Hahaha..! Senangnya ternyata kamu tidak melupakan namaku." Keren tertawa puas.


"Kamu belum menjawab, mau apa kamu kesini?"


"Aku ingin meminta kau melakukan apa yang aku bisikan pada kamu, waktu kita berada dirumah sakit." Keren tersenyum menggoda.


Wajah Bastian langsung memerah mendengar apa yang dikatakan Keren.


"Dasar wanita gila..!" Bastian menjadi kesal mendengar apa yang dikatakan Keren barusan.


"Jangan bersikap seperti itu, bukannya kamu bisa melakukannya pada Aisyah dan Serly, memangnya aku kurang menarik dari mereka berdua?"


"Jaga mulutmuuu..! Aku tidak melakukan apa-apa pada Serly." Bastian langsung marah mendengar apa yang dikatakan Keren.


"Baiklahhh... Kalau kamu tidak berbuat apa-apa dengan Serly, tapi kamu tidak bisa menyangkal kalau kamu sudah melakukannya pada Aisyah."


"Itu hanya kecelakaan, bukan suatu kesengajaan." Bastian menjawab perkataan Keren dengan cepat.


"Disengaja atau tidak itu tidak penting, tapi yang jelas kau sudah melakukannya pada Aisyah."

__ADS_1


"Itu bukan urusanmu..!" Bastian melotot tajam kearah Keren.


"Ayolah jangan melotot seperti itu, aku bukan wanita yang lemah, yang akan merasa langsung ketakutan saat kamu melotot seperti itu." Keren menggunakan dua jarinya menunjuk kearah mata Bastian.


Diam-diam Bastian mengagumi keberanian Keren. Tidak banyak ada orang yang berani melihat secara langsung kearah Bastian, saat Bastian sudah menatap tajam kearah lawan bicaranya. Cara itu biasanya sering dipakai Bastian untuk menekan mental lawan bicaranya.


"Baiklah kalau kau benar-benar menginginkannya. Sekarang bukalah semua pakaianmu." Bastian seperti sengaja menantang Keren. Bastian ingin tahu seberapa gila cewek yang ada dihadapannya sekarang ini.


"Hahaha..! Tidak kusangka ternyata kau sudah tidak sabar melakukannya."


"Baiklah kau tidak mau membuka bajumu, sini biar aku yang melakukannya." Bastian mendekat kearah Keren. Tangan Bastian seolah-olah ingin membuka pakaian Keren.


Melihat apa yang akan dilakukan Bastian itu, Keren langsung menjauhkan badannya dari tangan Bastian. Keren khawatir kalau Bastian benar-benar akan melepaskan pakaiannya.


Ternyata wanita ini belum cukup gila. Baguslah ternyata dia tidak seburuk seperti ucapannya. Bastian merasa lega melihat respon Keren.


"Apakah kau terbiasa melakukannya terburu-buru?"


"Bukankah tadi kau menginginkannya?" Bastian tersenyum mengejek.


"Dasar kau ini. Tidak romantis sama sekali."


"Sudahlah cepat keluar, sebelum aku benar-benar memperkosamu."


"Hei ngomong-ngomong Anita itu pacar gelapmu ya?" Keren tiba-tiba ingat nama wanita yang tadi disebut Bastian, saat Bastian sedang mengigau.


"Siapa bilang Anita itu nama prempuan." Bastian mencoba mengelak.


"Itu bukan urusanmu."


"Apakah kau selalu suka pada wanita yang namanya diawali dangan huruf A?"


"Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud."


"Aisyah Anita. Bukankan nama mereka berdua berawal dari huruf A. Kalau namaku diganti dengan Adelia, apakah kita bisa menjadi lebih dekat?"


"Dasar wanita gila, mana ada seseorang menjalin hubungan hanya gara-gara nama seseorang itu berawal dari huruf tertentu."


"Jangan salah, sekarang masih banyak orang yang percaya sesuatu yang berbau mitos. Klo mau nikah harus milih hari yang cocok, mau milih jodoh harus berbintang tertentu. Zaman sekarang walaupun mulut mereka menyangkal yang berbau mitos, tapi tindakan mereka masih mengikuti hal-hal yang berbau mitos."


"Sudahlah aku tidak terlalu paham apa yang kau bicarakan."


"Kira-kira Aisyah bagaimana ya, klo dia tahu laki-laki yang dia cintai masih memimpikan wanita lain?" Keren melirik kearah Bastian.


"Anita adalah masa lalu."


Wajah Bastian tiba-tiba terlihat menjadi sedih kalau mengingat wanita yang bernama Anita. Anita wanita yang dulu pernah mengisi hatinya, kerena ada seorang yang tidak menginginkan Bastian dan Anita terus bersama, maka orang itu membuat Anita kehilangannya nyawanya, dengan cara merekayasa kecelakaan kematian Anita.


"Tak kusangka ternyata orang seperti kamu juga bisa sedih." Keren meledek Bastian.


"Mas Suman ada yang nyari mas Suman." Tiba-tiba Adi sudah berada dipintu kamar Bastian.


"Siapa?" Bastian langsung melihat kearah Adi.

__ADS_1


"Gak tau mas." Diwajah Adi terlihat ada kekhawatiran sangat dia bicara pada Bastian.


Melihat Adi seperti sedang ketakutan seperti itu, Bastian segera buru-buru keluar dari kamarnya untuk menemui orang yang sedang mencarinya. Bastian yakin ada sesuatu yang tidak beres yang sedang terjadi.


Keren juga buru-buru menyusul Bastian keluar dari kamar.


"Hai jagoan, apa kabar?"


"Siapa kalian?" Bastian menatap tajam kearah orang yang tadi menyapanya.


Diruang tamu telah ada sekitar sepuluh orang. Dua dari mereka telah menodongkan pistolnya kerah Siti Nurlela, wanita yang berperan menjadi ibu Bastian.


"Kau kira Laba-laba Merah akan diam saja setelah apa yang kau berbuat pada anggota kami selama ini."


"Ingat urusan kalian hanya dengan saya. Dia tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kita." Bastian menunjuk kearah Siti Nurlela.


"Hahaha..! Hei jagoan kau sudah menghabisi beberapa nyawa anggota kami, jadi aku rasa wajar kami juga membunuh beberapa anggota keluargamu."


"Berani kalian menyakiti dia, maka jangan harap kalian masih bisa bernyawa." Bastian menatap tajam kearah anggota Laba-laba Merah yang tadi bicara.


"Tunggu ini bisa diselesaikan dengan cara baik-baik."


Semua anggota Laba-laba merah langsung melihat kearah orang yang tadi barusa bicara.


"Hahaha hidupmu sangat beruntung jagoan, diacara tivi kemaren kau seolah-olah akan menunjukan pada dunia kalau kau dan putri Adiguna Cokrominoto pasangan paling romantis, tapi dirumahmu kau menyimpan wanita lain. Ternyata banyak juga bidadari-bidadari cantik mengelilingimu."


"Aku akan memberikan uang berapapun yang akan kalian minta, asal kalian melepaskan dia." Keren menunjuk kearah Siti Nurlela.


Mendengar apa yang dikatakan oleh keren itu Bastian langsung melihat kearah Keren. Bastian tidak menyangka sama sekali kalau keren akan menolong Siti Nurlela, sedangkan Bastian tahu ini pertama kalinya Keren dan Siti Nurlela bertemu.


Wanita gila ini tidak seburuk yang terlihat. Ternyata dia juga memiliki sisi baik. Bastian memandang heran kearah Keren.


"Hahaha..! Wanita bodoh kau kira semua urusan bisa diselesaikan dengan uang." Salah satu anggota Laba-laba Merah tertawa mengejek Keren.


Keren tahu walaupun anggota Laba-laba Merah itu tadi berkata seolah tidak suka mendengar apa yang dia katakan, tapi Keren yakin sebenarnya anggota Laba-laba merah tertarik mendengar tawaran dia.


"Aku tahu orang-orang seperti kalian terkadang rela menghabisi nyawa orang lain, hanya sekedar untuk mendapatkan uang. Sekarang apa susahnya melepaskan dia dan kalian juga bisa mendapatkan uang." Keren balas mengejek anggota Laba-laba Merah.


Plakkk..! Tiba-tiba salah satu anggota Laba-laba Merah menampar keren.


"Berani sekali kau berkata seperti itu pada kami." Anggota Laba-laba Merah yang menampar Keren tadi menatap tajam kearah keren.


Bukkk..! Bastian langsung menendang anggota Laba-laba Merah yang tadi menampar Keren. Anggota Laba-laba Merah yang terkena tendangan dari Bastian itu langsung tersungkur dilantai.


Dorrr..! Salah satu Anggota Laba-laba Merah langsung menembak bahu Bastian.


Akkkk..! Bastian berteriak kesakitan.


"Sekali lagi kau berani bertindak macam-macam, kami tidak segan-segan membunuh kalian semua." Anggota Laba-laba Merah mengancam Bastian.


Bastian hanya bisa memandang geram pada anggota Laba-laba Merah yang tadi mengancamnya. Bastian sadar tidak mungkin untuk sekarang dia melawan. Beberapa anggota Laba-laba telah mengarahkan pistol mereka kearah Keren dan Adi, kalau Bastian berani melawan maka anggota Laba-laba Merah tidak akan segan-segan membunuh mereka semua.


"Aku pasti akan membuat kalian menyesal, dengan apa yang telah kalian lakukan hari ini." Bastian menatap tajam pada Anggota Laba-laba Merah yang tadi menembak dia.

__ADS_1


__ADS_2