DERITA NONA MUDA

DERITA NONA MUDA
CIUMAN AISYAH


__ADS_3

"Bastiannn..! Beraninya kau melakukan ini semua..!" Entah kenapa tiba-tiba Aisyah menjadi kesal pada Bastian.


Lalu Aisyah buru-buru pergi keluar dari ruangan kerja abinya. Aisyah tidak peduli sama sekali walau saat itu anak buah Keyra masih menodongkan pistolnya.


"Minggirrr..!" Aisyah mendorong anak buah Keyra yang berdiri menghalangi dia mau lewat.


"Nak kamu mau kemana?" Adiguna Coktominoto bertanya pada Aisyah.


"Menemui Bastian bi." Aisyah menoleh sebentar pada abinya, lalu pergi lagi.


Bastian? Apakah Aisyah tahu Bastian berada dimana? Adiguna Cokrominoto menjadi heran mendengarkan perkataan Aisyah.


Setelah Aisyah menghilang dari pandangannya, Adiguna Cokrominoto seperti baru menyadari sesuatu. Kerena keadaan situasi yang menegangkan sehingga membuat Adiguna Cokrominoto jadi tidak bisa berpikir dengan jernih.


"Susul Aisyah pak Lukman." Adiguna Cokrominoto memberi perintah pada pak Lukman.


"Baik tuan." Lalu pak lukman berlari keluar menyusul Aisyah tanpa memperdulikan lagi apa yang sedang terjadi.


"Keyra kau tidak dengar nona Aisyah tadi menyuruh membawah anak buahmu pergi dari sini." Harimau Kumbang berkata pada Keyra.


Harimau Kumbang yakin dengan menggunakan nama Aisyah Keyra pasti mau mendengar apa yang dia katakan. Kerena tadi Harimau Kumbang telah melihat sendiri kalau Keyra tampak sangat menghormati Aisyah.


"Sebaiknya kita pergi. Jangan sampai membuat dia marah pada kita." Keyra berkata pada laki-laki yang tadi menyamar sebagai Bastian. Saat berkata seperti itu terlihat ada kekhawatiran diwajah Keyra.


Apa yang dikatakan oleh Keyra itu memang tidak bisa dipahami oleh Harimau Kumbang. Tapi satu hal yang diketahui oleh Harimau Kumbang, ada seseorang yang dikhawatirkan oleh pihak Srigala Malam, saat Srigala Malam melakukan kesalahan maka orang itu akan marah pada pihak Srigala Malam.


Pasti yang mereka takutkan itu mayor Bastian. Aku yakin Keyra bersikap hormat pada nona Aisyah juga kerena meraka tahu kalau mereka berani menunjukan sikap tidak hormat pada nona Aisyah, maka itu akan memancing kemarahan mayor Bastian. Harimau Kumbang melihat kearah Keyra.


"Kita pergi dari sini." Laki-laki yang tadi menyamar sebagai Bastian memberi perintah pada sepuluh anggota Srigala Malam.


"Baik." Salah satu anak buah Srigala Malam menjawab patuh.


Pria ini pasti pemimpin Srigala Malam. Pemimpin Srigala Malam jarang sekali menampakan diri kalau tidak ada arusan yang sangat penting menyangkut soal Srigala Malam. Harimau Kumbang menatap kepergian laki-laki tadi yang menyamar sebagai Bastian.


Aisyah pergi meninggalkan rumah menggunakan mobilnya. Saat pak Lukman baru sampai digarasi mobil, Aisyah sudah keluar dari pintu gerbang.


"Pak Lukman tunggu." Adiguna Cokrominoto memanggil pak Lukman sebelum pak Lukman masuk kedalam mobil.


"Apakah tuan mau ikut menyusul nona Aisyah?" Pak Lukman bertanya pada Adiguna Cokrominoto.


"Cepat jangan sampai kita kehilangan jejak Aisyah." Adiguna Cokrominoto langsung masuk kedalam mobil.


"Baik tuan." Lalu pak Lukman segera buru-buru masuk kedalam mobil.


Saat mobil mereka keluar dari gerbang pak Lukman masih sempat melihat mobil Aisyah. Pak Lukman melihat mobil Aisyah melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi.


"Mau pergi kemana dia?" Adiguna Cokrominoto bertanya pada pak Lukman.


"Kemana lagi tuan, kalau bukan kerumah Sumanto." Pak Lukman menjawab pertanyaan Adiguna Cokrominoto sambil terus memandang kearah mobil Aisyah.


Tidak lama kemudian mobil mereka terjebak dilampu merah, sehingga membuat mereka tidak dapat lagi menyusul mobil Aisyah.

__ADS_1


Benar apa yang tadi dikatakan oleh pak Lukman ternyata Aisyah pergi kerumah Sumanto. Sesampainya dirumah Sumanto Aisyah langsung menggedor rumah Sumanto dengan kencang.


"Bastiannn..!" Aisyah berteriak didepan pintu.


Lalu tidak lama kemudian pintu terbuka. Ternyata yang membuka pintu adalah Sumanto.


"Kamu jahat bas." Aisyah langsung memukul-mukul dada Sumanto.


"Ada apa non?" Sumanto terlihat bingung sambil menahan tangan Aisyah, supaya Aisyah berhenti memukul dadanya.


"Jangan pura-pura bodoh Bas, kamu pasti tahu kalau Keyra datang kerumah aku." Aisyah bicara dengan nada tinggi.


"Keyra siapa non?" Sumanto terlihat semakin bertambah bingung.


"Berhenti berbohong Basss..!" Aisyah berteriak pada Sumanto.


"Non kula Sumanto bukan Bastian."


"Sumantooo..? Baik akan kita lihat kamu Sumanto apa Bastian." Lalu Aisyah mendorong tubuh Sumanto kedinding.


Setelah tubuh Sumanto terjepit dididing Aisyah langsung merapatkan dirinya ke badan Sumanto, sehingga membuat Sumanto tidak bisa bergerak.


Sumanto memandang wajah Aisyah dengan eksperesi sangat keget, Sumanto tidak menyangka Aisyah berani berbuat seperti itu.


"Kita akan melakukannya sekali lagi, kalau itu bisa membuat kamu mengakui kalau kamu adalah Bastian." Lalu Aisyah memegang kepala sumanto dengan kedua tangannya dan Aisyah langsung mencium bibir Sumanto dengan sangat bernapsu.


Apa yang dilakukan Aisyah itu membuat tubuh Sumanto menjadi panas, sehingga tanpa sadar Sumanto membalas apa yang dilakukan Aisyah. Tapi beberapa saat kemudian Sumanto tersadar, lalu Sumanto mendorong Aisyah agar menjauh dari dia.


"Kula tidak paham apa yang non maksud." Sumanto semakin terlihat bingung.


Aisyah tidak memperdulikan kata-kata Sumanto, lalu Aisyah mendekat kearah Sumanto dan Aisyah membuka kancing kemeja Sumanto secara paksa.


"Bawah aku kekamar kamu. Ulangi apa yang dulu sudah kamu lakukan." Aisyah berkata pelan ditelinga Sumanto.


"Sadar non, non wanita yang sholehah, tidak pantas non berkata seperti itu. Apa kata orang nanti kalau orang melihat apa yang non lakukan pada kula. Jangan buat non kehilangan harga diri." Sumanto coba mengingatkan Aisyah.


Plakkk..! Aisyah menampar pipi Sumanto dengan sangat kencang.


"Kehilangan harga diri kamu bilang? Aku sudah lama kehilangan harga diri Basss..! Sejak hari pertama kamu memperkosa aku, saat itu aku tidak memiliki harga lagi sebagai wanita." Aisyah tidak kuat lagi menahan tangisnya.


"Aku minta maaf." Sumanto meraih Aisyah kedalam pelukannya. Sumanto juga ikut menangis.


"Bas sejak apa yang terjadi antara kita, aku dapat mengenal debaran jantung kamu. Ini detakan jantung ayah anak aku." Aisyah meletakan tangannya didada Sumanto, Aisyah seperti ingin mendengar denyutan suara jantung Sumanto.


"Sekali lagi aku minta maaf." Sumanto mencium kepala Aisyah. Air mata Sumanto semakin tidak tertahan. Sumanto sangat terharu mendengar kata-kata Aisyah.


"Bas laki-laki yang datang bersama Keyra itu mengaku sebagai Bastian dan bilang mau menikahiku, tapi dengan sekali lihat aku tahu dia bukan kamu Bas. Walaupun kita berada ditempat segelap apapun, aku pasti bisa mengenal kamu hanya dari cara kamu bernapas." Aisyah berbicara masih sambil menangis tersedu-sedu dalam pelukan Sumanto.


"Non Aisyah." Tiba-tiba ada yang menyebut nama Aisyah.


Aisyah melihat kearah suara yang menyebut namanya. Sumanto langsung melepas pelukannya pada Aisyah, setalah menyadari ada orang lain berada didekat mereka.

__ADS_1


"Pak Lukman." Aisyah bicara sambil menghapus air mata menggunakan tangannya.


"Tuan." Sumanto menunduk hormat pada Adiguna Cokrominoto. Sumanto juga bicara sambil menghapus air matanya.


Adiguna Cokrominoto dan pak Lukman sangat heran melihat Sumanto dan Aisyah tadi berpelukan sambil menangis.


"Siapa dia." Adiguna Cokrominito bertanya pada Aisyah.


"Kenapa tuan bertanya seperti itu? Kula Sumanto tuan." Sumanto langsung menjawab pertanyaan Adiguna Cokrominoto, meskipun yang ditanya tadi adalah Aisyah.


"Apakah dia yang kamu maksud Bastian?" Adiguna Cokrominoto bertanya pada Aisyah dan tidak memperdulikan Sumanto, meskipun tadi sumanto mencoba bicara dengan dia.


"Ya bi dia adalah Bastian." Aisyah menjawab pertanyaan Abinya lalu melihat kearah Sumanto.


"Cukuppp..! Apa nona Aisyah mau membuat putra ibu kehilangan nyawanya juga, seperti suami ibu." Tiba-tiba ibu Sumanto muncul dari dalam rumah.


"Tapi dia Bastian bu." Aisyah menunjuk kearah Sumanto.


"Non ibu yang melahirkan dan merawat dia dari bayi. Jadi ibu lebih tahu dia daripada siapapun."


"Bu mohon jangan berkata seperti itu. Dia Bastian bu, dia ayah anak aku bu." Aisyah bicara seperti memelas.


"Saya dan almarhum suami saya kehilangan kerjaan gara-gara orang menuduh anak ibu adalah Bastian, jadi tolong jangan katakan lagi anak ibu sebagai Bastian. Ibu tidak mau lagi kehilangan orang yang ibu sayangi." Ibu Sumanto bicara sambil meneteskan air matanya.


Ibu Sumanto tidak mau lagi ada orang yang berpikir kalau anaknya ada Bastian. Kerena salah pahaman itulah dia kehilangan pekerjaan, bahkan akhirnya kehilangan nyawa suaminya.


"Ya non kula Sumanto bukan Bastian." Sumanto berkata pada Aisyah.


"Kula-kula..! Jangan sok belagak jadi orang jawa Bas. Tadi waktu bicara berdua dengan aku kamu bukan bilang kula tapi saya." Aisyah menuduh logat jawa Sumanto itu adalah hal yang buat-buat, untuk menutupi sesuatu yang Sumanto coba sembunyikan.


"Tapi non memang kula orang jawa. kedua orang tua kula memang berasal dari jawa." Sumanto menyangkal tuduhan Aisyah.


Plakkk..! Aisyah menampar pipi Sumanto. Ini untuk kedua kalinya Aisyah menampar Sumanto.


Adiguna Cokrominoto dan pak Lukman hanya melongo melihat apa yang dilakukan Aisyah pada Sumanto. Mereka tidak menyangka Aisyah berani menampar Sumanto.


Adiguna Cokrominoto dan pak Lukman tahu betapa bahayanya orang seperti Sumanto. Mereka ingat apa yang terjadi dilobi parkiran. Sumanto saat itu terlihat tidak ubah seperti iblis pencabut nyawa. Tapi dihadapan Aisyah Sumanto seperti tidak berdaya.


"Aku secepatnya akan membuktikan kalau kamu adalah Bastian bukan Sumanto." Aisyah bicara sambil melihat Sumanto dengan emosi.


Setelah bicara Aisyah langsung pergi meninggalkan Sumanto. Aisyah langsung masuk kedalam mobilnya. Adiguna Cokrominoto dan pak Lukman segera menyusul Aisyah.


"Tuannn... Mohon jelaskan pada putri tuan, kalau anak saya Sumanto bukan Bastisn. Kalau putri tuan terus berkata anak saya adalah Bastian, itu akan membuat nyawa anak saya dalam bahaya." Ibu Sumanto berkata pada Adiguna Cokrominoto sambil merapatkan kedua tangan, sebagai tanda permohonan.


Bahaya seperti apa yang bisa membuat anak ibu terancam kehilangan nyawa. Ibu sadar tidak anak ibu itu adalah iblis pencabut nyawa. Tidak ada satupun kejadian yang bisa membuat anak ibu dalam bahaya. Pak Lukman berkata dalam hati.


"Baiklah bu." Adiguna cokrominoto tersenyum pada ibu Sumanto.


"Terimah kasih tuan." Ibu Sumanto menjadi sangat lega mendengar perkataan Adiguna Cokrominoto.


"Baiklah bu kami permisi dulu." Adiguna Cokrominoto berpamitan pada ibu Sumanto.

__ADS_1


__ADS_2