
"Selamat siang nyonya." Bastian menjabat tangan umi Aisyah.
"Selamat siang." Umi Aisyah berkata datar.
Anak ini... Apa dia tidak berpikir sedikitpun cepat atau lambat dia akan menjadi menantuku..? Apa begini cara bersikap seorang menantu pada mertuanya. Umi Aisyah memandang Bastian sambil mengerutkan dahinya.
Ya ampun sayang, kamu gak harus bersikap seformal ini juga kali sama umi. Aisyah gemas sekaligus kesal melihat Bastian bersikap seperti itu pada uminya.
"Saya sudah lama tidak melihat kamu datang kerumah menjemut Aisyah?" Umi Aisyah mencoba berbasi-basi sejenak untuk mengurangi suasana tidak nyaman.
"Anu nyonya..!" Bastian terlihat salah tingkah.
"Kamu tahu diperut putri saya itu janin siapa?" Umi Aisyah bertanya pada Bastian.
"Iya nyonya saya tahu." Bastian menjawab pertanyaan umi Aisyah sambil menunduk.
"Itu diperut putri saya akan lahir bayi yang akan menjadi cucu saya, dan yang akan menjadi cucu saya itu adalah dara daging kamu." Umi Aisyah melihat kearah wajah Bastian.
"Iya nyonya saya paham." Bastian semakin terlihat gugup.
"Gakkk... Kamu gak paham... Kamu juga belum tau." Umi Aisyah menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa nyonya bilang saya tidak paham?" Bastian masih belum berani mengangkat kepalanya.
"Kalau kamu paham, kamu tidak akan terus-terusan memanggil saya nyonya." Umi Aisyah mulai terlihat kesal.
"Terus saya harus memanggil nyonya apa?" Bastian sekarang terlihat bingung.
Duk... Aisyah menendang pelan kaki Bastian dari bawah meja, agar Bastian melihat kearah dia.
Bastian langsung melihat kearah Aisyah. Setelah tadi kakinya ditendang oleh Aisyah.
Aisyah menggerakan mulutnya dengan gerakan kata umi untuk memberi kode pada Bastian, tapi Aisyah tidak mengucapkannya.
"Mi..?" Bastian memandang pada Aisyah.
Sekali lagi Aisyah menggerakan mulutnya dengan gerakan kata umi.
"Apa..?" Bastian bertanya pada Aisyah sambil mengangkat kedua bahunya. Bastian tidak dapat menebak apa yang akan disampaikan oleh Aisyah yang hanya dilakukan dengan gerakan mulut.
"Aduh sayang kamu kenapa bodoh si dalam hal seperti ini." Aisyah terlihat kesal dan gemas pada Bastian.
"Apa-apaan kalian ini, kalian kira kita sedang bermain kuis tebak-tebakan seperti yang ada tivi." Umi Aisyah kesal melihat tingkah putrinya dan Bastian.
"Hiks hiks hiks..!" Siti Nurlela yang duduk disebelah Bastian terdengar tidak bisa menahan tawanya lagi setelah melihat tingkah lucu Bastian dan Aisyah.
"Kamu tidak bisa memanggil saya dengan panggilan umi?" Umi Aisyah melotot kearah Bastian.
"Bisa nyonya. Umiii... Tuh kan bisa nyonya." Bastian memaksa tersenyum pada umi Aisyah.
"Ya ampunnn... Kamu ini benaran tentara bukan si?" Umi Aisyah semakin terlihat kesal pada tingkah konyol Bastian.
"Mantan tentara nyonya."
"Iya mantan tentaraaa..!" Umi Aisyah berkata dengan nada tinggi, kerena kesal.
"Panggil umi." Aisyah ikut-ikutan melotot kearah pada Bastian.
"Nak umi bisa mati berdiri klo benaran menjadi mertua orang seperti dia." Umi Aisyah terlihat meringis menahan kesal sambil menatap kearah Aisyah.
"Iya udah mi kita cari menantu lain aja buat umi."
"Tidak bisa begitu. Itu kan anak saya." Bastian menunjuk kearah perut Aisyah, Bastian mulai terlihat panik.
"Kalau kamu merasa itu anak kamu, cepat panggil orang tua kamu, dan suruh temui kami. Assalamualaikum." Umi Aisyah langsung berdiri dan segera berjalan keluar, Umi Aisyah tidak kuat lagi menghadapi tingkah konyol Bastian.
"Waalaikumsalam. Nyonya tidak minum dulu." Siti Nurlela memanggil umi Aisyah.
"Saya tidak haus." Umi Aisyah menjawab pertanyaan Siti Nurlela tanpa menoleh.
"Kamu harus cepat-cepat membawah orang tua kamu menemui umi sama abi, sebelum mereka benar-benar mencari menantu lain." Aisyah molotot pada Bastian, setelah itu Aisyah langsung menyusul uminya pergi.
Setelah Aisyah dan uminya pergi.
__ADS_1
"Ibu baru pertama kalinya melihat orang membahas pernikahan seperti ini." Siti Nurlela tersenyum geli.
"Membahas pernikahan..?" Bastian masih belum paham.
"Nak Suman, eh nak Bastian maksud ibu." Siti Nurlela masih terbiasa memanggil Bastian dengan Suman. "Mereka memberi isyarat pada nak Bastian, kalau mereka meminta nak Bastian menikahi non Aisyah secepatnya."
"Menikah secepatnya?"
"Nakkk... Non Aisyah sedang mengandung anak kamu. Jadi sangat tidak wajar seorang wanita menjadi ibu terlebih dulu, baru menjadi seorang istri."
"Iya bu Bastian sekarang paham."
"Nak Bastian juga harus melewati pase seorang suami dulu, baru menjadi seorang ayah. Jangan dibolak-balik." Siti Nurlela coba memberi nasehat pada Bastian.
"Assalamualaikum." Terdengar ada orang mengucapkan salam lagi.
"Waalaikumsalam." Bastian dan Siti Nurlela menjawab salam secara bersamaan.
"Bapak..?" Bastian melihat kearah dua orang yang diberdiri dipintu.
"Bastiannn..!" Laki-laki yang ada dipintu langsung berjalan kearah Bastian dan memeluk Bastian dengan erat.
"Syukurlah bapak sama ibu baik-baik saja." Bastian tampak terharu dengan kedatangan dua orang yang mencarinya itu.
"Sekarang kamu sudah terkenal Bas, sering masuk berita ditivi dan koran." Wanita yang datang bersama laki-laki yang sedang memeluk Bastian berkata pada Bastian sambil tersenyum.
"Ibu apa Kabar?" Bastian bertanya pada wanita yang baru datang, sambil mencium punggung tangan wanita itu.
"Alhamdulillah sehat Bas."
"Bu... Ini pak Wijaya kusuma dan istrinya. Ditempat merekalah Bastian tinggal waktu Bastian baru datang kejakarta.
Bastian memberi tahu siapa dua orang yang baru datang, pada Siti Nurlela.
"Saya Siti Nurlela." Siti Nurlela menyalami Wijaya Kusuma dan istrinya. "Silahkan duduk." Siti Nerlela mempersilahkan Wijawa Kusuma dan istrinya duduk.
"Terimah kasih." Istri Wijawa Kusuma tersenyum ramah pada pada Siti Nurlela.
"Bapak tidak menyangkah kisah cinta kamu akan menjadi seheroik ini Bas."
"Sebentar lagi nak Bastian mungkin akan resmi menjadi keluarga tuan Adiguna Cokrominoto." Siti Nurlela memberi tahu pada Wijaya Kusuma dan istrinya.
"Jadi kamu akan menikah Bas?" Istri Wijaya Kusuma terlihat ikut senang mendengar kalau Bastian akan menikah.
"Tadi belum lama non Aisyah dan uminya datang kesini untuk meminta orang tua nak Bastian menemui keluarga mereka."
"Ibu sangat yakin hidup kamu akan menjadi sempurna Bas, kalau kamu menikah dengan putri tuan Adiguna Cokrominoto. Maksud ibu Aisyah adalah wanita yang sangat baik." Istri Wijaya Kusuma tidak mau Bastian salah mengartikan perkataannya.
"Iya bu Aisyah wanita yang sempurna. Bastian sangat bersyukur mempunyai anak dengan wanita seperti dia. Bastian pasti akan berusaha sekuat mungkin membuat Aisyah bahagia."
*****
Didalam mobil Aisyah.
"Umi heran Syah apa yang ada dipikiran anak itu." Umi Aisyah ternyata belum bisa melupakan kekesalannya pada tingkah konyol Bastian tadi.
"Udahlah mi sebentar lagi dia jadi menantu umi lo." Aisyah mencoba menghilangkan kekesalan uminya.
"Kamu yakin kuat punya suami kayak dia?" Umi Aisyah bertanya pada putrinya.
"Iya kuat gak kuat mi, abis udah ada ini." Aisyah mengelus perutnya sambil tersenyum pada uminya.
"Mudah-mudahan anak itu tidak bertingkah gila terus-terusan."
"Gak boleh gitu dong mi, itu kan calon suami Aisyah. Itu artinya dia calon menantu umi juga."
"Sekarang kamu sudah berani membela dia daripada umi." Umi Aisyah cemberut.
"Gak kok Aisyah pasti selalu belain umi." Aisyah bersikap manja pada Uminya.
"Semoga dia benar-benar bisa menjadi suami yang baik nak buat kamu." Umi Aisyah membelai kepala putrinya dengan lembut.
"Mi Aisyah sangat bahagia mencintai dan dicintai orang seperti Bastian. Aisyah tidak menginginkan apa-apa lagi mi, ALLAH sudah memberikan Bastian pada Aisyah, Aisyah rasa itu sudah lebih dari pada cukup."
__ADS_1
"Anak itu anak yang unik." Umi Aisyah bergumam pelan.
Umi Aisyah terkadang heran melihat sikap Bastian. Didepan orang lain Bastian terlihat seperti sempurna tanpa celah, tapi ketika berada dihadapan Aisyah Bastian seperti tidak bisa berbuat apa-apa.
"Tadi umi bilang apa?"
"Gak... Umi gak bilang apa-apa."
*****
Beberapa hari kemudian.
Bastian berbicara ditelpon dengan Aisyah.
"Sayang besok calon mertua kamu datang." Bastian berkata pada Aisyah.
"Maksud kamu?" Dari cara Aisyah berbicara terdengar kalau Aisyah sangat bahagia mendengar apa yang Bastian katakan barusan.
"Iya mereka akan melamar calon menantu mereka."
"Siapa calon menantu mereka." Aisyah bermaksud menggoda Bastian.
"Wanita yang telah membuat aku tergila-gila. Wanita itu sangat sempurna."
Aisyah menjadi sangat bahagia mendengar apa yang dikatakan Bastian itu.
"Siapa wanita yang beruntung yang menjadi calon menantu orang tua kamu." Aisyah masih belum berhenti menggoda Bastian.
"Yang pasti bukan kamu." Bastian membalas godaan Aisyah.
"Ih kamu kok gitu si yang." Aisyah tiba-tiba jadi cemberut.
"Mau tau gak siapa nama calon menantu orang tua aku."
"Mau mau mau." Aisyah mengangguk beberapa kali.
"Namanya Aisyah Adiguna Cokrominoto. Kamu kenal sama dia." Bastian masih terus menggoda Aisyah.
"Enggak tuh."
"Nanti kalau kamu ketemu sama Aisyah Adiguna Cokrominoto katakan sama dia, kalau aku saangat mencintai dia, menyayangi dia dan ingin menghabiskan suluruh hidupku bersama dia."
"Aku pasti akan memyampaikannya, kalau nanti aku telah bertemu dengan Aisyah Adiguna Cokrominoto." Tanpa disadari Aisyah air matanya menetes, kerena terharu mendengar apa yang Bastian katakan.
"Aisyah Adiguna Cokrominoto will you marry me." Suara Bastian terdengar bergetar sangat mengucapkan kata-kata itu.
Tubuh Aisyah seperti terkena himpitan bongkahan gunung es gemetaran, dan kaki Aisyah langsung terasa lemas, hampir tidak bisa digunakan lagi, walau hanya untuk menopang tubuhnya untuk sekedar berdiri.
Aisyah menjatuhkan diri dilantai dan langsung bersujud.
"Terimah kasih ya ALLAH." Aisyah menangis sambil bersujud.
"Hei Aisyah Adiguna Cokrominoto kau belum menjawab pertanyaanku."
"Aku mau sayang... Aku bersedia menghabiskan sisa umurku bersamamu." Tangis Aisyah semakin tidak terbendung.
"Sekarang turunlah aku telah menyiapkan sesuatu untukmu."
"Turun... Turun kemana?" Aisyah terlihat bingung.
"Aku telah menunggumu dilantai bawah."
"Dibawah..?!" Aisyah langsung melepaskan ponsel yang ada digenggamannya lalu segera berlari kelantai bawah.
Sesampai dilantai bawah Aisyah telah melihat orang sudah sangat ramai memenuhi isi rumahnya. Diantara banyak orang itu ada beberapa orang yang Aisyah tidak kenal bahkan belum pernah bertemu sebelumnya.
Aisyah tidak peduli lagi dengan orang banyak yang telah memenuhi isi rumahnya. Aisyah langsung saja berlari kedalam pelukan Bastian. Aisyah melihat juga Abi dan uminya berada diantara kerumunan orang-orang itu, tapi Aisyah tidak mau memikirkan hal itu. Aisyah hanya mau memeluk Bastian untuk mencurakan semua kebahagiaannya.
*****
Hai raeders mungkin cukup sampai disini kisah cinta Aisyah dan Bastian. mereka sudah menikah dan pasti bahagia.
Sekarang saya mau lihat respon resders, kisah cinta mereka sebaiknya diselesakan sampai disini apa dlanjutin lagi.
__ADS_1
Tulis pendapat kalian dikolom komentar ya.