
"Katakan siapa sebenarnya kamu..!" Pak Lukman membentak Sumanto.
"Apa lagi yang kalian ingin ketahui? Itu dimap sudah menjelaskan siapa kula." Sumanto berkata dengan sinis.
"Kalau kamu masih belum mau bicara, jangan menyesal kalau peluru pistol mereka bersarang dikepalamu." Pak Lukman mencoba memberi ancaman.
"Sini tembak disini..." Sumanto menunjuk kearah keningnya sendiri. "Biar saya mati tidak bisa berpikir lagi. Kalau sampai kula mati masih bisa berpikir, maka kula akan bangkit dari kubur dan meminta pertanggung jawaban pada kalian agar kalian mau membiayai kebutuhan hidup adik dan ibu kula, sebab selama kula hidup itu menjadi tanggung jawab kula. Tapi kalau kula kalian bunuh, otomatis tanggung jawab itu beralih pada kekalian." Sumanto tersenyum sinis pada pak Lukman dan tiga orang yang sedang menodong pistol kearah dia.
"Cukuppp... Cukup pak Lukman." Aisyah berteriak pada pak Luknan.
Semua orang disitu melihat kearah orang yang berteriak itu. Aisyah Tampak berjalan kearah Sumanto tanpa memperdulikan semua mata menatap kearah dia.
"Maafkan saya, kalau reaksi saya tadi telah memancing mereka bertindak kasar pada kamu." Aisyah membersihkan darah yang ada dibibir Sumanto.
"Terimah kasih nona." Tiba-tiba air mata Sumanto menetes diperlakukan Aisyah seperti itu. Sumanto tidak tahu kenapa dia merasa sangat terharu diperlakukan Aisyah seperti itu.
Pak Lukman dan tiga orang yang sedang menodong pistol kearah Sumanto merasa sangat heran melihat apa yang dilakukan nona muda mereka itu.
Tidak biasanya nona muda mereka itu akan bersikap seperti itu. Setahu mereka nona muda meraka itu jangankan untuk melakukan apa yang sedang mereka saksikan sekarang, biasanya nona muda mereka itu ketika sedang bicara dengan laki-laki saja selalu menjaga jarak.
Adiguna Cokrominoto juga melihat tingkah Aisyah itu cukup aneh. Tapi Adiguna Cokrominoto tidak berusaha menghentikan apa yang sedang dilakukan oleh putrinya itu.
Adiguna Cokrominoto berpikir mungkin kerena putrinya itu sekarang dalam kondisi hamil dua bulan lebih, makanya insting keibuannya jadi muncul, sehingga tidak tega melihat apa yang terjadi pada Sumanto.
"Pak Lukman cepat bawah kotak P3K..!" Aisyah berteriak pada pak Lukman.
"Ba... Baik non." Pak Lukman menjawab dengan gugup, kerena tidak menyangka nona mudanya akan berkata seperti itu.
"Apa yang sedang kalian lakukan..?" Aisyah berteriak pada tiga orang yang masih menodong pistol kearah Sumanto. "Apa kalian pikir kalian polisi? Koboi? Sembarangan menodong pistol pada orang lain." Aisyah tidak merasa takut sama sekali melihat ada tiga orang mengeluarkan pistol berada didekat dia. biasanya Aisyah selalu gemetar katika melihat pistol.
"Ini non." Pak Lukman memberikan kotak P3K pada Aisyah.
"Simpan senjata kalian..!" Pak Lukman melotot pada tiga orang anak buahnya.
"Ba... Baik." Mereka bertiga menjawab dengan gugup.
"Bi apa yang terjadi?" Istri Adiguna Cokrominoro juga sudah berada diruang tamu. Istri Adiguna Cokrominoto merasa sangat heran melihat apa yang sedang dilakukan oleh putrinya. Tidak biasanya putrinya itu akan bersikap seperti itu pada seorang laki-laki.
"Sittt..!" Adiguna Cokrominoto menempelkan telunjuknya pada mulut, untuk memberi tanda pada istrinya, agar istrinya diam saja.
Sebenarnya Adiguna Cokrominoto juga merasa sangat aneh melihat apa yang dilakukan oleh putrinya itu. Tapi mungkin inilah pandangan sekali seumur hidup, dia bisa melihat putrinya akan bersikap seperti itu. makanya Adiguna Cokrominoto tidak akan menyia-yiakan momen seperti itu.
Bagi Adiguna Cokrominoto apapun yang dilakukan oleh putrinya tidaklah penting, yang penting bagi Adiguna Cokrominito apa yang dilakukan oleh putrinya, membuat putrinya bisa bahagia.
"Terimah kasih non." Sumanto berterimah kasih setelah Aisyah selesai mengobatinya.
"Lain kali kamu harus melawan, kalau mereka menyerang kamu lagi." Aisyah berkata pelan pada Sumanto.
"Ya non." Sumanto menjawab singkat.
"Bibirnya masih sakit?" Aisyah bertanya lembut.
"Tidak non. Oh ya non kula harus pulang sekarang, kula harus memberi tahu ibu kula, kalau kula wes diterimah kerja disini."
(Wes \= Sudah)
"Pulang..?" Aisyah seperti kaget mendengar Sumanto mengatakan akan pulang.
"Ya non." Sumanto heran kenapa Aisyah terlihat kaget.
"Oh ya hati-hati." Aisyah seperti orang yang baru tersadar dari lamunan.
"Tuan kula harus pulang dulu. Kula harus memberi kabar gembira ini pada ibu kula." Sumanto berkata pada Adiguna Cokrominoto.
"Ingat datang sebelum jam enam." Adiguna Cokrominoto mengingatkan.
"Baik tuan." Sumanto menggangguk mengerti.
Beberapa menit setelah Sumanto pergi.
"Lain kali berhati-hatilah bersikap pada orang lain." Aisyah melotot pada tiga pelayannya yang tadi menodong pistol kearah Sumanto.
"Baik nona." Mereka menjawab patuh.
Tanpa peduli semua orang disitu memandang dia dengan pandangan aneh, Aisyah segera pergi kekamarnya tanpa mengatakan apapun.
__ADS_1
"Selidiki siapa laki-laki itu." Adiguna memberi perintah setelah Aisyah sudah tidak kelihatan lagi.
"Baik tuan." Pak lukman yang menjawab.
"Ingat nanti malam laporan tentang pemuda itu harus sudah ada dimeja saya." Lalu Adiguna Cokrominoto juga pergi.
"Cepat apa kalian tidak dengar apa yang dikatakan oleh tuan tadi." Pak Lukman memberi perintah pada tiga anak buahnya.
"Baik pak."
Lalu tiga anak buah pak Lukman segera beranjak dari ruang tamu. Ketiga anak buah pak Lukman segera keluar berniat pergi menyusul Sumanto.
"Heiii..! Apa harus perlu tiga orang hanya untuk mencari tahu identitas pria itu?" Pak Lukman bertanya kesal.
"Tidak pak." Salah satu anak buah pak Lukman menjawab.
"Kenapa otak kalian bisa setumpul ini..!" Pak Lukman menjadi marah melihat tingkah konyol ketiga anak buahnya.
Pak Lukman sebenarnya sadar apa yang membuat ketiga anak buahnya terlihat seperti orang yang sedang kebingungan. Mereka bertiga seperti masih terpengaruh dengan keanehan sikap nona muda mereka tadi, makanya otak mereka bertiga tidak bisa diajak bekerja secara normal.
"Sudah kamu saja yang melakukan tugas itu." Pak Lukman menunjuk pada salah satu anak buahnya yang laki-laki.
"Baik tuan." Laki-laki itu menjawab patuh.
*****
Malam harinya pak Lukman datang keruang kerja Adiguna Cokrominoto untuk memberi laporan penyelidikan tentang Sumanto yang dilakukan oleh anak buahnya.
"Ini tuan loporan tentang pemuda yang bernama Sumanto." Pak Lukman meletakan map diatas meja Adiguna Cokrominoto.
Lalu Adiguna membuka map yang diberikan oleh pak Lukman tadi. Adiguna mengamati beberapa foto yang ada didalam map.
"Jadi benar anak muda ini memiliki ibu dan adik?" Adiguna bertanya sambil melihat kearah pak Lukman.
"Benar tuan."
"Sumanto dan Bastian memang dua orang yang berbeda." Adiguna Cokrominoto berkata pelan.
"Ya tuan... Sebenarnya pemuda ini tiga bulan sebelumnya masih memiliki seorang ayah."
"Ayahnya meninggal setelah tiga hari dipecat dari kerjaannya." Pak Lukman memberi keterangan.
"Pemuda yang malang." Adiguna merasa kasihan pada Sumanto.
"Orang tuanya meninggal kerena tidak kuat menahan tekanan yang terjadi pada mereka, sampai sekarangpun ibu pemuda itu juga masih dalam kondisi sakit."
"Sebenarnya saya penasaran seberapa mirip pemuda ini dengan laki-laki yang bernama Bastian, sehingga semua orang menduga kalau dia adalah Bastian."
"Sekarang setelah mengetahui penyamaran pemuda ini, terus apa yang harus kita lakukan tuan?" Pak Lukman ingin tahu tindakan apa yang akan dibuat oleh tuannya setelah mengetahui penyamaran Sumanto.
"Teruslah bersikap seolah-olah kita tidak tahu kalau dia telah merubah penampilanya." Adiguna ingin tahu maksud kenapa Sumanto melakukan penyamaran untuk bisa kerja ditempat dia.
"Tuan saya yakin pemuda ini merubah penampilannya bukan hanya sekedar untuk bisa diterimah kerja disini."
"Maksud pak Lukman." Adiguna tidak berpikir sejauh itu.
"Pemuda ini merubah penampilannya kerena alasan banyak hal tuan. Intinya pemuda ini datang kesini bukan benar-benar sedang butuh kerjaan, tapi dia datang kesini sedang mengejar laki-laki bernama Bastian. Dia menganggap laki-laki bernama Bastian itu telah merusak hidup keluarga dia." Pak Lukman memberi tahu alasan sebenarnya kenapa Sumanto mau kerja jadi sopir dirumah Adiguna Cokrominoto.
"Terus setelah mengetahui alasan dia sebenarnya mau kerja disini seperti itu, apa yang harus kita lakukan?" Adiguna Cokrominoto meminta pendapat pak Lukman.
"Biarkan terus dia melakukan rencananya. Mungkin dengan ada orang seperti dia didekat non Ais, non Ais akan aman ketika sedang berada diluar rumah."
"Apakah pemuda ini cukup bisa dipercaya untuk menjaga keamanan putri saya?" Adiguna Cokrominoto terlihat ragu.
"Tuan setelah saling menerimah serangan dengan pemuda itu saya yakin dengan kekuatan pemuda itu. Kalau terus bertarung saya tidak yakin bisa menang dari pemuda itu, bahkan saya ragu orang sekelas Harimau Kumbang bisa mengalahkan pemuda itu."
"Wajar dia berani datang kesini untuk mencari laki-laki yang bernama Bastian kalau dia sekuat itu."
"Ini akan menjadi hal yang menarik tuan, apakah pemuda ini bisa mencari laki-laki yang bernama Bastian, tiga bulan lebih kita mencari jejak laki-laki bernama bastian, tapi sedikitpun kita kita tidak menemukan petunjuk apa-apa. Orang seperti Harimau Kumbang saja tidak mampu melacak keberadaan Bastian."
Pak Lukman sudah benar-benar mengira kalau Harimau Kumbang tidak mampu melacak keberadaan Bastian. Sebenarnya bukan Harimau Kumbang tidak bisa menemukan Bastian, tapi Harimau Kumbang memang sengaja untuk tidak mau mengusik lagi keberadaan Bastian. Sebab kalau Harimau Kumbang berani menyentuh Bastian maka Srigala Malam akan menghabisi seluruh keluarga Harimau Kumbang.
*****
Pagi hari Sumanto sebelum jam enam sudah tiba dirumah Adiguna Cokrominoto. Pagi itu penampilan Sumanto sedikit lumayan berbeda. Sumanto memakai kemeja berwarna putih lengen pendek garis-garis, celana jeans, sepatu kets biru.
__ADS_1
Sumanto berjalan sambil bersiul-siul kecil saat memasuki pintu gerbang melewati dua satpam penjaga pintung gerbang.
"Pagi pak satpam." Sumanto menyapa kedua satpam itu dengan ramah.
"Selamat pagi." Salah satu satpam itu menjawab singkat sambil melirik kearah jam tangannya.
"Kula tidak terlambatkan pak satpam?" Sumanto bertanya khawatir setelah melihat satpam itu melirik jam tangannya.
"Tidak." Lagi-lagi satpam itu menjawab singkat.
"Kula permisi pak satpam." Sumanto berusaha bersikap ramah pada kedua satpam itu, walaupun sumanto merasa sedikit kesal mendengar jawaban satpam yang singkat-singat itu.
"Lain kali kula harus bertanya menggunakan dua ribu kalimat, biar jadi satu bab sekalian, kula yakin jawaban satpam itu tidak bisa sesingkat itu lagi." Sumanto berkata pelan agar kekesalannya tidak diketahui kedua satpam itu.
"Kamu mengatakan suatu?" Tiba-tiba salah satu satpam itu bertanya pada Sumanto.
"Pak satpam bertanya pada kula." Sumanto bertingkah sok bodoh bermaksud membuat kesal kedua satpam itu.
"Tidakkk..! Saya bertanya pada jin." Salah satu satpam itu berkata kesal.
"Hehehe pak satpam hebat iso ngomong karo jin. Pak satpam pasti dari keluarga jin." Sumanto terus berlalu tanpa peduli satpam itu memandang dia dengan wajah kesal.
(Iso ngomong karo jin \= Bisa bicara dengan jin)
"Kamu tuh anak jin." Satpam yang bicara dengan Sumanto berteriak kesal pada Sumanto.
"Wehhh... Bapak jin berteriak." Sumanto tersenyum mengejek pada satpam yang tadi berteriak padanya.
Sesampai diruang tamu Sumanto disambut pelayan prempuan dengan senyuman ramah
"Non Ais meminta mas menunggu sebentar, sebentar lagi non Ais turun." Pelayan itu berkata pada Sumanto.
"Ya mbak." Sumanto menjawab sambil mengangguk kepala.
Tidak lama kemudian terlihat Aisyah turun dari lantai dua.Aisyah langsung tersenyum ramah pada Sumanto.
"Selamat pagi non." Sumanto menyapa Aisyah.
"Selamat pagi, Kamu terlihat sedikit berbeda hari ini." Aisyah memandang Sumanto dari ujung kepala sampai ujung kaki Sumanto.
Tentu saja dengan cara Aisyah memandang Sumanto seperti itu, membuat Sumanto jadi memandang pada dirinya sendiri.
"Ada yang salah dengan penampilan saya non?" Sumanto bertanya pada Aisyah.
"Oh tentu saja tidak." Aisyah langsung menjawab pertanyaan Sumanto dengan cepat.
"Ibu kula berpesan kalau kula harus bernampilan rapi, kata ibu kula berhubung sekarang kula sudah menjadi sopir seorang wanita muda, jadi kula harus berpenampilan seperti anak muda." Sumanto berkata polos.
"Ternyata ibu kamu lumayan mengerti pashion." Aisyah tersenyum pada Sumanto.
Sumanto sebenarnya bukanlah orang yang benar-benar memiliki selera hobby berpakaian seperti mode orang tahun delapan puluhan. Sumanto sebenarnya orang yang cukup pashionable, dikantor tempat kerjanya dulu Sumanto cukup dikenal sebagai karyawan yang paling peduli dengan penampilan.
Kenapa kemaren Sumanto terkesan terlihat seperti manusia planet, itu kerena Sumanto berpikir dengan cara dia berpenampilan seperti itu akan membuat peluang dia diterimah kerja semakin besar. Ternyata feeling Sumanto tidak salah.
"Mungkin ibu kula sering nonton sinetron non, jadi tahu anak muda itu harus berpenampilan seperti apa." Sumanto berbohong.
"Ternyata nonton sinetron ada gunanya juga."
"Kadang-kadang non."
"Kok kamu bilang kadang-kadang." Aisyah terlihat penasaran dengan perkataan Sumanto.
"Ya kadang-kadang berguna, tapi banyakan kesal non klo nonton sinetron."
"Kesal kenapa? Atau kamu lebih suka drama-drama korea daripada sinetron indonesia?" Aisyah asal menduga.
"Kula lebih suka nonton film action non, sama komedi."
"Lain kali kita nonton film action, kalau kamu suka nonton film action."
"Sama kula non nontonnya?" Sumanto menunjuk pada dirinya sendiri ingin memastikan kalau tadi dia tidak salah mendengar apa yang dikatakan oleh Aisyah.
"Ya lah sama kamu, masak sama dia?" Aisyah menunjuk kearah pelayan prempuan yang dari tadi belum beranjak dari tempat mereka.
"Oh ya maaf non saya permisi dulu." Pelayan prempuan itu seperti baru menyadari kalau tidak seharusnya dia mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh nona mudanya.
__ADS_1