
Beberapa hari kemudian.
Pagi hari itu terlihat ada sepasang suami istri datang keruangan tempat dimana Keren sedang dirawat. Dibelakang suami istri itu terlihat ada seorang polisi muda berjalan dibelakangnya.
"Diruangan ini?"
"Iya tuan diruangan ini." Polisi muda itu menjawab pertanyan laki-laki setengah baya yang datang keruangan Keren.
"Sudah berapa hari dia dirawat?" Wanita yang datang bersama polisi muda itu terlihat sangat khawatir.
"Tiga hari."
"Tiga hari..! Apa yang sebenarnya terjadi?" Wanita setengah baya itu terlihat semakin khawatir.
"Saya tidak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi, tapi yang jelas nona Keren sampai sekarang belum siuman." Polisi muda itu memberi keterangan.
Saat suami istri dan polisi muda itu masuk kedalam ruangan Keren, beberapa suster yang sedang berada diruang Keren melihat semua kearah mereka bertiga.
"Saya Andre keponakannya dokter Reinhard." Polisi muda itu memberi keterangan pada para suster.
"Oh mas Andre."
Semua suster yang ada diruangan itu terlihat bingung dengan kedatangan Andre pagi-pagi keruangan Keren, tapi kerena mereka sadar Andre adalah keponakan dari dokter Reinhard orang yang sangat dipercaya oleh Adiguna Cokrominoto, maka semua suster yang ada disitu tidak berani bertanya.
"Mereka berdua adalah orang tua nona Keren." Andre memberi keterangan pada para suster.
"Oh." Para suster itu bingung harus menjawab apa.
"Bagaimana keadaan anak saya sus?" Mami Keren langsung bertanya pada suster.
"Keadaan anak ibu sudah mulai membaik, tapi sekarang masih dalam keadaan koma." Suster memberi keterangan pada mami Keren.
"Kapan anak saya kira-kira bisa sadar sus?" Kali ini papi Keren yang bertanya.
"Itu tidak dapat dipastikan kapan tuan, tapi tuan tenang saja sekarang kondisi pasien sudah mulai membaik." Suster itu mencoba menenangkan kedua orang tua Keren.
flashback
Beberapa hari sebelum Keren tertembak.
Andre datang kekafe tempat dimana Keren meminta Andre datang untuk menemuinya. Setelah melihat keberadaan Keren, Andre langsung berjalan kearah dimana Keren duduk menunggu dia.
"Duduk dre." Keren mempersilahkan Andre untuk duduk.
"Terimah kasih non." Andre tampak sangat menghormati Keren.
"Kamu masih seperti dulu Dre, masih menjadi laki-laki yang sangat santun." Terlihat ada raut penyesalan diwajah Keren.
"Kita gak harus merubah sikap apa lagi sampai merubah sifat kita non, apapun yang terjadi pada diri kita."
"Dre kamu gak pernah ada diposisi saya, jadi wajar klo kamu dengan gampang bilang gitu."
"Non saya tau non orang yang baik, jangan sampai kerena ada sesuatu yang telah terjadi tidak sesuai keinginan non, non jadi berubah." Andre terdengar memberi nasehat pada Keren.
"Dre apa kamu masih mencintai saya?" Keren bertanya serius pada Andre.
"Sudah sering saya bilang non, saya tidak pantas mencintai non Keren."
"Apa kerena papi sering bantu kamu, juga termasuk bantu kamu masuk kepolisian. Jadi kamu malu mencintai saya?"
"Non saya sangat menyayangi non Keren, tapi hanya sebagai adik, tidak lebih."
"Dre saya tau kamu mencintai saya, saya bisa merasakannya." Keren menatap lekat kearah mata Andre.
Andre hanya diam dipanjang seperti itu oleh Keren. Sebenarnya sudah sejak lama Andre mencintai Keren, tapi Andre ingat pesan kedua orang tua Keren, kalau Andre harus terus menjaga Keren dengan baik, seperti Andre menjaga adik dia sendiri.
Kerena pesan itulah Andre terus menahan untuk tidak mencintai Keren, pesan kedua orang tua Keren itu seperti signal untuk Andre kalau Keren hanya bisa jadi adik buat Andre dan tidak bisa lebih dari itu. Sedangkan Keren tidak pernah tahu kalau kedua orang tua dia pernah berkata seperti itu pada Andre.
"Dre apa sekarang kamu membenci saya?"
__ADS_1
"Saya tidak akan pernah membenci non Keren, walaupun non Keren telah berubah jauh."
"Klo kamu gak membenci saya kenapa kamu gak menyapa saya waktu ketemu saya dirumah sakit, waktu kamu membesuk Aisyah?"
"Saya juga lihat non Keren tidak tanda-tanda mau menyapa saya waktu saya datang."
"Apa harus saya Dre yang menyapa kamu terlebih dulu? saya prempuan Dre."
"Apa laki-laki harus terus-terusan mengalah dengan prempuan non."
"Atau kerena disitu ada Aisyah dan Natalie sepupu kamu, maka kamu takut ketahuan klo kamu mengenal saya."
"Itu tidak benar non."
"Kamu tau keluarga Adiguna Cokrominoto telah mengambil semuanya dari keluarga kami." Saat menyebut nama Adiguna Cokrominito terlihat ada kebencian diraut wajah Keren.
"Tidak ada yang mereka ambil dari keluarga non Keren."
"Banyak Dreee..!" Tiba-tiba nada bicara Keren jadi meninggi. "Orang kepercayaan papipun mereka ambil."
"Dia tidak diambil non, tapi dia sendiri datang memohon agar bisa mengabdi pada Adiguna Cokrominoto Group."
"Sekarang kamu mulai terang-terangan membela keluarga Adiguna Cokrominoto." Keren terlihat kesal pada Andre.
"Saya tidak pernah membela keluarga tuan Adiguna Cokrominoto."
"Faktanya kamu sering membantu Aisyah, itu artinya kamu membela keluarga Adiguna Cokrominoto." Keren semakin terlihat kesal pada Andre.
"Saya membantu nona Aisyah hanya sebatas menjalankan tugas saya sebagai seorang polisi."
"Apa kamu dipengaruhi oleh keluarga paman kamu, kerena paman kamu menjadi salah satu orang kepercayaan Adiguna Cokrominoto Group."
"Om Reinhard bukan orang seperti itu."
"Apa Natalie yang meminta kamu membantu Aisyah?"
"Iya non. Nona Aisyah meminta saya menyelidiki kebenaran tentang keluarga Mayor Bastian." Andre tidak mau berbohong pada Keren.
"Laki-laki yang non peluk waktu dirumah sakit." Muka Andre terlihat tidak senang.
"Hahaha tuh kan Dre kamu mencintai saya, nyatanya kamu cemburu saya memeluk laki-laki jelek tompelan itu." Keren menertawakan Andre.
"Tidak ada alasan saya cemburu pada mayor Bastian." Andre mencoba mengelak.
"Tuh cowok aneh benaran seorang mayor?" Keren masih belum percaya.
"Sebaiknya non menjauh dari orang seperti mayor Bastian." Andre memberi peringatan pada Keren.
"Kenapaaa...? Kamu cemburu?" Keren masih menggoda Andre.
"Non belum tau seberapa bahayanya seorang mayor Bastian." Andre berkata dengan sungguh-sungguh.
"Wajar dia sangat berharga dimata Aisyah, ternyata dia seorang mayor." Keren seperti bicara pada diri sendiri.
"Lupakan saja kalau non Keren ada niat untuk merusak hubungan mereka, non tidak akan berhasil." Andre seperti dapat menebak apa yang ada didalam pikiran Keren.
"Sesuatu yang belum kita coba kita tidak akan tau hasilnya sebelum kita coba."
"Ikatan emosional antara mereka terlalu kuat, saya yakin tidak akan ada yang mampu memisahkan mereka."
"Sok tau kamu Dre, bilang aja kamu cemburu."
"Non boleh coba sendiri, kalau non tidak percaya omongan saya."
"Dre saya sudah puluhan menaklukan berbagai karakter cowok." Keren terlihat sangat percaya diri.
"Laki-laki yang selama ini non taklukan silau sama nama dan uang non Keren. Orang seperti mayor Bastian tidak pernah silau dengam nama besar seseorang, apa lagi dengan harta."
"Kasih saya alamat mayor yang kamu anggap hebat itu, saya akan perlihatkan sama kamu kalau saya dapat menaklukan dia."
__ADS_1
Lalu Andre menyebutkan alamat rumah Bastian.
"Benaran itu alamatnya." Keren tidak terlalu yakin dengan perkataan Andre.
"Apakah selama ini saya pernah berbohong sama non Keren?"
"Pernah..!" Keren tersenyum pada Andre.
"Kapan?"
"Tentang perasaan kamu kesaya." Keren memandang serius kearah Andre. "Tapi percuma kamu mencintai saya, kerena saya gak ada perasaan apa-apa sama kamu. Gak tau klo kedepannya."
Lalu Keren berdiri dan langsung pergi meninggalkan Andre sendirian.
"Hei non siapa yang bayar makanannya." Andre berteriak pada Keren.
"Kamu kan kakak saya, jadi kamu yang bayar. Lagian kamu kan polisi gak usah pelit-pelitlah." Keren berkata manja pada Andre.
"Masak model papan atas makannya ditraktir." Andre membalas gurauan Keren.
"Saya juga pengen tau gimana rasanya ditraktir, kerena selama ini saya selalu mentraktir orang terus."
Kembali kekamar rumah sakit dimana Keren sedang dirawat.
"Saya ingin kamu menangkap semua orang yang terlibat yang membuat anak saya seperti ini Dre."
"Itu pasti akan saya lakukan tuan." Andre berkata dengan sangat yakin
"Kenapa anak ini menjadi sebodoh ini, hanya gara-gara seorang laki-laki." Papi Keren seperti menyesali apa yang terjadi pada anaknya.
Papi Keren sudah tahu apa penyebab anaknya tertembak sehingga koma, Andre telah menceritakan semuanya setelah kedua orang tua Keren pulang liburan dari eropa.
"Saya mau Keren dipindahkan dari rumah sakit ini." Papi Keren berkata pada Andre.
"Tapi tuan... Ini nantinya akan berakibat buruk untuk kesehatan nona Keren."
"Saya tau rumah sakit ini milik siapa." Papi Keren terlihat kesal.
"Saya paham apa yang tuan maksud, tapi bagaimanapun kita harus memikirkan kesehatan non Keren."
"Saya tidak mau anak saya dirawat dirumah sakit milik keluarga Adiguna Cokrominoto. Kamu tau kan hubungan saya seperti apa dengan dia."
"Saya paham tuan."
"Panggil dokter, pagi ini juga saya mau membawah anak saya keluar dari rumah sakit ini."
"Basss... Basss... Basss..." Terdengar ada suara orang yang seperti sedang mengigau.
Papi Keren dan Andre langsung melihat kearah ranjang tempat dimana Keren sedang terbaring koma.
"Pi Keren mulai sadar." Mami Keren terlihat sangat senang setelah tadi mendengar suara Keren.
"Bas itu siapa?" Papi Keren bertanya pada Andre.
"Mayor Bastian, laki-laki yang coba ditolong non Keren."
"Cepat panggil laki-laki itu kesini."
"Baik tuan saya akan telpon mayor Bastian."
Beberapa jam kemudian.
Bastian langsung buru-buru datang kerumah sakit dan segera menuju keruangan tempat keren dirawat, setelah tadi Andre menelpon dia.
"Gimana keadaan dia." Bastian terlihat panik dan langsung mendekat kearah ranjang tempat dimana Keren sedang terbaring.
Tanpa memperdulikan orang-orang yang diruangan itu, Bastian langsung menggenggam tangan Keren. Bastian terlihat sangat mengkhawatirkan kondisi Keren.
"Cepat bangun wanita bodoh, jangan buat aku terus-terusan khawatir seperti ini." Bastian berbicara sendiri seolah-olah diruangan itu tidak ada orang lain selain dia dengan Keren.
__ADS_1
Kedua orang tua Keren hanya diam saja melihat apa yang Bastian lakukan pada putri mereka. Kedua orang tua Keren tidak tahu sudah seberapa jauh hubungan antara Bastian dan Keren. Mereka menjadi bingung setelah melihat Bastian seperti sangat mengkhawatirkan kondisi Keren.