DERITA NONA MUDA

DERITA NONA MUDA
SUAMI YANG JAHAT


__ADS_3

Aisyah dan Bastian tersenyum bahagia melihat Siti Nurlela dan Adi berpelukan dengan anak-anak panti asuhan Kasih Bunda.


Melihat Siti dan Adi tampak sangat bahagia berkumpul lagi dengan anak-anak panti, Bastian seperti terlepas dari beban. Bastian selama ini merasa seperti telah merampas kebahagian Siti Nurlela dan Adi.


"Kenalin bu, itu nak Bastian dan istrinya." Siti Nurlela memperkenalkan Bastian dan Aisyah pada pengurus panti.


Pengurus panti langsung tersenyum pada Bastian dan Aisyah.


Bastian dan Aisyah segera berjalan mendekat kearah pengurus panti, lalu mereka berdua langsung mencium punggung tangan wanita tua pengasuh panti itu.


"Terimah kasih sudah membantu menjaga Siti dan Adi." Pengurus panti tersenyum lembut pada Bastian.


"Maafkan saya, kalau saya telah merampas ibu sama Adi dari kalian semua." Bastian sepertinya sangat menyesal dengan apa yang telah dia perbuat dulu.


"Tidak apa-apa, Siti sudah menjelaskan semuanya pada ibu, kenapa kamu melakukannya." Pengurus panti tidak mau Bastian terus-terusan merasa bersalah.


"Kakak... Kakak yang sering masuk tivi itu kan?" Tiba-tiba ada salah satu anak prempuan bertanya pada Aisyah.


Aisyah hanya tersenyum mendengar pertanyaan anak prempuan itu.


"Kakak ternyata sangat cantik." Salah satu anak laki-laki memandang penuh kagum pada Aisyah.


Aisyah lagi-lagi hanya tersenyum melihat kepolosan dan kelucuan anak-anak panti itu.


"Tapi sayang kakak menikah sama orang yang kejam dan jahat." Terdengar ada anak laki-laki yang berkata sinis.


Semua orang yang disitu melihat pada anak laki-laki yang tadi berkata sinis. Termasuk Bastian dan Aisyah.


"Arzen kamu gak boleh berkata seperti itu, itu gak sopan." Pengurus panti berkata pada anak laki-laki yang tadi berkata sinis pada Bastian.


"Benarkan om itu yang telah menculik bu Siti dan Adi." Anak yang bernama Arzen itu menunjuk kearah wajah Bastian tanpa rasa takut sedikit pun.


"Arzen kamu sudah SMP nak, itu artinya kamu udah gede. Jadi kamu gak boleh memberi contoh yang buruk pada adik-adik kamu, dengan berkata seperti itu." Siti Nurlela memcoba memberikan pengertian pada Arzen, sambil membelai lembut kepala Arzen.


"Ya om itu jahat." Ada anak lain lagi menunjuk kearah Bastian.


Aisyah langsung melihat pada suaminya. Aisyah takut suaminya itu marah mendengar apa yang tadi anak-anak itu katakan.


Bastian hanya memandang diam tidak bisa berkata apa-apa pada anak-anak yang tadi menyebut dia jahat.


"Kakak kan cantik masak mau sama om yang jahat..?!" Ada lagi anak kecil yang bertanya polos pada Aisyah.


"Stoppp..!! Sekali lagi kalian berkata yang tidak pantas, nenek dan bu Siti akan pergi dari panti." Wanita pengurus panti menatap tajam kearah anak-anak yang tadi berkata sinis bata Bastian.


"Hiks hiks hiks jangan tinggalin kami nek." Terlihat ada anak prempuan sekitar lima tahunan langsung menangis, setelah mendengar apa yang tadi nenek pengurus panti katakan.


Siti Nurlela langsung memeluk anak prempuan yang sedang mengais itu.


"Makanya kalian gak boleh nakal, klo gak mau nenek pergi meninggalkan kalian." Siti Nurlela mengusap lembut kepala anak yang menangis yang ada dalam pelukannya itu.


"Sekarang minta maaf gak sama om nya." Nenek pengurus panti masih terlihat kesal.


Beberapa anak yang tadi mengatakan Bastian jahat langsung berjalan mendekat kearah Bastian. Mereka langsung mencium punggung tangan Bastian.


"Arzen minta maaf." Anak SMP yang tadi mengatakan Bastian jahat langsung meminta maaf.

__ADS_1


"Saya juga minta maaf om ya."


"Maafin kami ya om."


Bastian langsung menarik ketiga anak-anak yang ada dihadapannya kedalam pelukannya. Bastian tidak berkata apa-apa, hanya air matanya yang bercucuran saat memeluk ketiga anak-anak itu.


"Ya tuhan sudah segitu kejam dan jahatnya hambamu ini, sehingga anak kecil saja sudah bisa berkesimpulan seperti itu." Bastian berucap dengan suara pelan. Air mata Bastian semakin tidak tertahan.


Aisyah menggengam bahu suaminya, untuk memberi dukungan moril pada suaminya. Aisyah tahu kalau suaminya itu sangat terpukul dengan ucapan anak-anak itu tadi.


Aisyah langsung berjongkok sambil mengusap satu persatu kepala anak-anak yang masih ada dalam pelukan suaminya itu.


"Kalian masih terlalu terkecil untuk tau alasan kenapa kakak bisa memilih om jahat ini untuk menjadi suami kakak. Datang lah delapan atau sepuluh tahun lagi kehadapan kakak, maka kakak akan menjelaskannya pada kalian, kenapa kakak mau menyerahkan hidup kakak pada suami yang jahat ini." Aisyah melihat kearah suaminya.


Kata-kata Aisyah itu semakin membuat Bastian tidak bisa menghentikan air matanya.


"Kalian masih terlalu dini untuk menilai suamiku, kerena kalian belum mengenal suamiku, jadi wajar kalian berkata seperti itu. Selama ini yang kalian lihat itu hanya bagian terkecil keburukan suamiku. Kalian belum tahu kebaikan-kebaikan yang ada pada suamiku. Kalau benar suamiku seburuk apa yang kalian katakan, aku tidak akan sebodoh itu mau menghabiskan sisa umurku bersama suamiku." Aisyah bergumam pelan sambil memandang suaminya dengan senyum bahagia. Ada kebanggaan didalam lubuk hati Aisyah telah bisa menjadi istri Bastian.


"Non Aisyah ibu minta maaf atas apa yang anak-anak katakan pada suami non." Siti Nurlela merasa bersalah juga atas apa yang tadi anak-anak katakan pada Bastian.


"Gak apa-apa bu, mereka masih anak-anak, mereka belum tau apa-apa." Aisyah tersenyum pada Siti Nurlela.


Pasti dia laki-laki yang sangat luar bisa, sehingga membuat istrinya berkata seperti itu. Nenek pengurus panti memandang Bastian penuh rasa kagum.


Aisyah segera berdiri lalu berjalan mendekat kearah nenek pengurus panti. Aisyah meraih tangan kanan sang nenek, lalu memberi amlop ketangan sang nenek.


"Nek semoga ini bermanfaaat buat anak-anak disini."


Sang nenek langsung replek memeluk Aisyah sambil menangis.


"Nak hatimu sangat mulia. Nenek sangat berharap anak-anak disini bisa memiliki hati seperti kamu." Sang nenek menangis tersendu-sedu didalam pelukan Aisyah.


Ponsel yang ada disaku Bastian tiba-tiba bergetar. Bastian segera melihat kelayar kaca ponselnya untuk melihat siapa yang sedang menghubunginya.


"Papa..?!" Bastian bergumam pelan.


Bastian segera merimah sambungan telpon dari orang tuanya itu.


"Hallo pa."


"Kamu dimana Bas?"


"Lagi ada urusan pa sama istri Bastisn."


"Datang kehotel." Papa Bastian menyebut hotel tempat dia menginap.


"Kapan pa?"


"Sekarang... Ada yang papa mau bicarakan sama kamu."


"Ya pa, Bastian segera kesana."


"Ada apa sayang?" Aisyah bertanya pada suaminya.


"Cie cie cie sayang..!!" Tiba-tiba seperti ada yang memberi komando anak-anak itu secara serentak menggoda Aisyah.

__ADS_1


Muka Aisyah langsung memerah mendengar keusilan anak-anak panti itu.


"Husss..! Gak boleh gitu." Nanek pengurus panti berkata pada anak-anak usil itu, tapi sang nenek pun tidak bisa menahan senyumnya mendengar perkataan jahil dari anak-anak asuhnya itu.


"Ya udah sayang kita berangkat kehotel nemuin papa." Bastian Sengaja berkata dengan suara yang agak keras, biar semua orang mendengar apa yang dia katakan.


Bastian tahu apa yang dikatakannya itu akan membuat istrinya semakin tersipu malu. Bastian sangat senang ketika melihat istrinya sudah tertunduk malu dengan wajah memerah. Bagi Bastian istrinya jauh lebih terlihat cantik kalau sedang tersipu malu seperti itu.


"Nek Aisyah pamit dulu. Assalammualaikum." Aisyah segera mencium punggung tangan nenek pengurus panti, Aisyah juga melakukannya pada Siti Nurlela sebelum dia berjalan kearah mobil.


"Waalaikumlasalam." Sang nenek menjawab salam Aisyah.


"Salim dulu sama kakak dan suaminya." Siti Nurlela berkata pada semua anak-anak asuhnya itu.


Semua anak-anak itu langsung segera berebutan mencium tangan Aisyah dan Bastian. Tentu saja menunggu lima puluh anak-anak selesai mencium tangan mereka bukan lah waktu yang sebentar, tapi Bastian dan Aisyah dengan senang hati dan sabar menunggu anak-anak itu selesai melakukannya.


Setelah anak-anak itu selesai semua, Bastian segera berjalan kearah Siti Nurlela dan memeluk wanita yang sangat dihormatinya itu.


"Terimah kasih bu, ibu sudah banyak mengajarkan banyak hal pada Bastian." Bastian memeluk Siti Nurlela penuh haru.


"Jaga diri kamu baik-baik nak, jaga istri kamu dan jangan lupa pula juga calon anak kamu." Siti Nurlela merasa setelah berpisah dengan Bastian nanti, dia akan sangat susah untuk bertemu dengan Bastian lagi.


"Bastian titip Adi juga sama ibu, tolong jaga adik Bastian dengan baik." Kali ini Bastian tidak bisa menahan lagi air matanya.


"Ibu pasti akan jaga adik kamu dengan baik." Siti Nurlela pun ikut menangis.


Setelah selesai memeluk Siti Nurlela Bastian segera mendekat kearah nenek pengurus panti.


"Nek sekali lagi Bastian minta maaf kalau Bastian telah mengambil ibu sama Adi dari kalian." Mata Bastian masih terlihat sembab.


Sang nenek langsung meraih tubuh Bastiam kedalam pelukannya.


"Nenek yakin kamu pria yang sangat baik, kerena terjebak dalam situasi tertentu lah yang membuat kamu terpaksa melakukan hal yang tidak baik."


"Terimah kasih nek sudah mau memaafkan Bastian."


"Sudahlah temuilah orang tuamu, mungkin ada sesuatu yang penting yang akan dia bicarakan dengan kamu." Sang nenek menepuk-nepuk bahu Bastian.


Setelah merasa tidak ada lagi yang dibicarakan Bastian dan Aisyah segera masuk kedalam mobil, tapi sebelum mesin mobil dinyalakan Bastian tiba-tiba menutup semua kaca mobil.


Aisyah memandang kearah suaminya dengan pandangan penuh curiga.


"Sayang..?!" Aisyah terlihat heran sekali gus khawatir.


"I love you sayang." Bastian langsung mencium bibir istrinya.


"Hems... Hems..." Aisyah berusaha melepaskan dirinya dari serangan suaminya.


Tangan Bastian mulai aktif membuka kancing-kancing kemeja istrinya.


Aisyah menarik mundur kepalanya dengan sekuat tenaga untuk melepaskan bibirnya dari kekuasaan suaminya.


"Kamu jangan gila sayang." Aisyah akhirnya berhasil melepaskan bibirnya dari suaminya.


"Sayang aku akan benar-benar gila kalau menundanya dalam beberapa menit lagi." Wajah Bastian terlihat memelas memandang kearah wajah istrinya.

__ADS_1


"Sayang belajar lah membaca situasi." Aisyah terlihat kesal.


"Sayang berikan apa yang sudah menjadi hak ku." Tangan Bastian mulai lagi bergerak liar menelusuri pada setiap lekuk-lekuk tubuh istrinya.


__ADS_2