
Pagi harinya seperti biasa sebelum jam enam Sumanto sudah berada dirumah Adiguna Cokrominito. Tidak beberapa lama kemudian Aisyah sudah datang menemuinya.
"Pagi non." Sumanto menyapa Aisyah dengan ramah.
"Pagi." Aisyah menjawab acuh.
Sumanto tahu dari cara Aisyah berbicara dengan dia, kalau Aisyah masih kesal dengan dia, atas apa terjadi tadi malam dirumahnya.
"Hari ini mau kemana non." Sumanto masih berbicara dengan ramah.
"Keresto." Aisyah menyebut nama resto dan alamatnya.
"Baik non. Kita gak jemput Reina dulu non?" Sumanto bertanya seperti itu, kerena biasanya Aisyah kekemana-mana selalu bersama Reina.
"Kenapa kamu kangen sama Reina?" Aisyah bertanya sinis.
Dari cara Aisyah bertanya Sumanto tahu, kalau Aisyah tidak suka Sumanto menanyakan Reina. Atau lebih tepatnya Aisyah cemburu kalau Sumanto membicaraankan wanita lain didepan dia.
"Gak non." Sumanto menjawab singkat.
"Terus kenapa kamu tanya dia."
"gak kenapa-kenapa non."
"Sudahlah ayo kita berangkat." Lalu Aisyah pergi meninggalkan Sumanto.
Sumanto segera menyusul Aisyah tanpa berkata apa-apa.
*****
Sesampainya diresto yang disebut oleh Aisyah.
"Kamu mau nunggu saya terserah dimana, tapi yang jelas saya gak mau kamu mengetahui apa yang akan saya bicarakan dengan orang yang saya temui. Kamu tahukan setiap manusia itu ada rahasia dalam hidupnya. Kamu juga banyak menyimpan rahasiakan." Aisyah seperti sengaja menyindir Sumanto.
"Baik non." Sumanto mengangguk patuh tanpa menghiraukan sindiran Aisyah.
Aisyah segera masuk dalam resto tanpa memperdulikan Sumanto lagi. Aisyah segera menuju meja paling pojok. Dimeja yang ditujuh Aisyah telah duduk dua orang, mereka berdua memang telah menunggu kedatangan Aisyah.
"Hai apa kabar?" Aisyah langsung memeluk wanita yang sedang menunggunya itu.
"Baik. Kamu sendiri apa kabar?" Wanita itu membalas memeluk Aisyah.
"Hai." Aisyah menyapa pria yang menunggunya bersama wanita yang tadi berpelukan dengannya.
"Selamat pagi nona Aisyah." Pria itu menjabat tangan Aisyah.
"Tidak perlu panggil saya nona." Aisyah tidak mau laki-laki yang tadi menjabat tangannya memanggil dengan panggilan nona.
"Baik." laki-laki itu tersenyum pada Aisyah.
"Saya sudah menceritakan pada dia apa yang kita bicarakan ditelpon tadi malam." Wanita itu memberi tahu pada Aisyah.
"Apakah kamu bersedia membantu saya?" Aisyah bertanya pada laki-laki yang dia temui itu.
"Bantuan apa?" Laki-laki itu bertanya pada Aisyah.
"Saya mau kamu mencari tahu siapa sebenarnya wanita ini." Aisyah mengeluarkan foto dari dalam tasnya, lalu menunjukan pada laki-laki yang dia temui itu.
Laki-laki yang ditemui Aisyah itu mengambil foto dari Aisyah, lalu mengamati foto pemberian Aisyah dengan seksama.
__ADS_1
"Wanita ini tidak terlihat seperti seorang penjahat?"
"Dia memang bukan seorang penjahat." Aisyah memberi keterangan.
"Lalu ada apa dengan wanita ini?" Laki-laki itu bertanya pada Aisyah.
"Kamu cari tahu identitas asli wanita itu. saya yakin dia telah memalsukan identitasnya."
"Tidak kusangka wanita yang terlihat polos begini berbuat seperti itu."
"Yang terlihat polos belum tentu polos. Wajah bukan jaminan sifat seseorang."
"Kalau wanita ini benar-benar telah memalsukan identitasnya, dia bisa dipenjara kerena hal itu."
"Saya tidak mau dia dipenjara, saya hanya mau dia mengakui kalau dia telah membohongi saya tentang identitas dia pada saya."
"Lalu cari tahu juga ada hubungan apa anak ini dengan prempuan tadi." Aisyah mengeluarkan satu foto lagi.
"Baik." laki-laki itu langsung menyimpan kedua foto yang diberikan Aisyah.
Sementara itu diparkiran Sumanto sedang memperhatikan orang-orang yang keluar masuk restaurant. Sebenarnya Sumanto sangat penasaran apa yang sedang dibicarakan Aisyah dengan orang yang sedang ditemuinya. Tapi Sumanto sungkan untuk bertanya pada Aisyah, apa lagi sekarang Aisyah sedang marah sama dia.
"Untuk apa lagi kalian menemuiku." Ada suara wanita yang berteriak marah
Lalu Sumanto melihat kearah suara wanita yang tadi berteriak.
"Hahaha jangan berkata seperti itu. Apa kau sudah bosan menghirup udara bebas? Apa kau mau berada dipenjara."
"Bajin*an kalian semua, aku sudah memberikan uang pada kalian setiap bulan yang cukup banyak, jadi apa lagi yang kalian mau."
"hahaha dia bertanya apa yang kita mau." Laki-laki yang tertawa melihat pada kedua temannya.
"Ingat uang sepuluh juta yang kau berikan pada Laba-laba merah setiap bulan itu beda cerita. Sekarang kami ingin meminta jatah jajan kami."
"Uang jajan kalian bilang? Kalian pikir aku ibu kalian." Wanita yang sedang diganggu tiga anggota Laba-laba merah berkata kesal.
"hahaha siapa juga yang mau jadi anakmu nona manis. Kalau menjadi suamimu kami tidak keberatan."
Tiga anggota Laba-laba Merah tertawa menjijikan.
"Pergi kaliannn..! jangan ganggu aku." Wanita itu berteriak marah pada ketiga anggota Laba-laba merah
"Kau tidak dengar kami mau kau memberikan sejumlah uang pada kami..!" Salah satu anggota Laba-laba Merah berteriak marah.
"Aku tidak mau."
"Kau mau kami memberikan vidio dan foto-fotomu pada polisi."
"Kalau polisi menangkapku maka aku menceritakan kalau aku mendapat barangnya dari kalian."
"Gadis bodoh apa kau punya bukti kalau kami yang menjualnya padamu. Lagi pula laporan seperti apa yang akan kau buat nanti dikantor polisi."
"Sudahlah mungkin gadis bodoh ini berpikir tidur dipenjara lebih enak dari pada tidur dikamarnya."
"Berapa yang kalian mau?" Wanita itu terlihat takut setelah mendengar ancaman anggota Laba-Laba Merah.
"Lima juta."
"Apa kalian gila? Itu separuh jumlah yang aku berikan tiap bulan pada kalian." Wanita itu menolak.
__ADS_1
"Orang tuamu cukup kaya, uang segitu tidak memiliki arti apa-apa buat kalian."
"Aku hanya punya dua juta."
"Kau kira kami sedang berjualan kau seenaknya membuat penawaran." Salah satu anggota Laba-laba merah menjadi marah. Anggota Laba-laba Merah yang bicara menggengam tangan wanita yang sedang diperasnya dengan kuat, sehingga membuat wanita itu meringis kesakitan.
"Sakittt..!" Wanita itu memukul tangan anggota Laba-laba Merah menggunakan tangan kanan, untuk melepaskan tangan kirinya yang digenggam oleh anggota Laba-laba Merah.
"Sekali lagi kau berkata yang tidak enak kami dengar, kami bukan akan mengirim kamu kepenjara, tapi langsung mengirim kamu keakhirat."
"Tentunya kau tahu jalan keakhirat, makanya kau mau mengirim wanita ini keakhirat." Tiba-tiba ada suara orang yang mencela omongan anggota laba-laba merah.
Ketiga anggota Laba-laba Merah melihat kearah orang yang tadi mencela omongan salah satu dari mereka.
Ternyata orang yang mencela omongan angota Laba-laba merah tadi adalah Sumanto. Sebenarnya Sumanto tidak mau ikut campur urusan mereka. Tapi lama-lama Sumanto jengkel juga melihat apa yang dilakukan anggota Laba-laba Merah pada wanita itu.
"Jangan coba-coba mencampuri urusan Laba-laba Merah kalau kau masih sayang nyawa." Salah satu anggota Laba-laba Merah langsung menyebut nama Laba-laba Merah bermaksud untuk menggertak Sumanto.
"Aku tidak peduli kalian berasal dari Laba-laba Merah, ular merah, naga merah. Yang jelas setelah melihat apa yang kalian lakukan membuat aku jengkel."
"Jangan coba-coba menjadi pahlawan bung." Salah satu anggota Laba-laba Merah mulai terlihat kesal.
"Aku sebenarnya tidak mau peduli apa yang akan kalian lakukan, asal aku tidak melihatnya. Tapi kalian melakukan dihadapanku, entah kenapa aku menjadi kesal setelah melihat apa yang kalian lakukan." Sumanto menatap tajam pada ketiga anggota Laba-laba Merah.
"Kau terlalu banyak bicara bung." Salah satu anggota Laba-laba merah langsung memukul kearah wajah Sumanto, tapi Sumanto langsung menangkap tangan anggota Laba-laba Merah yang mencoba memukul wajahnya.
Bukkk..! Pukulan Sumanto menghantam dada anggota Laba-laba Merah yang tadi coba menyerangnya.
"Kurang ajar." Anggota Laba-laba merah yang satu lagi menerjang kearah Sumanto.
Bukkk..! Tendangan Sumanto mendarat diperut anggota Laba-laba merah yang coba menyerangnya.
"Apa-apaan ini? apa cuma segini kemampuan kalian. Wajar kalau kalian hanya berani sama prempuan." Tiba-tiba Sumanto merasa kesal.
Sumanto tipe orang yang merasa tertantang kalau menghadapi musuh yang kuat, saat menghadapi musuh yang memiliki kemampuan bela diri yang tinggi sumanto menjadi sangat bersemangat, tapi kalau musuh yang dia hadapi lemah, maka Sumanto langsung marah dan kesal.
Bagi Sumanto kalau seseorang tidak memiliki kemampuan apa-apa jangan terlalu banyak bertingkah. Beda halnya kalau seseorang sudah memiliki kemampuan yang hebat, wajar dia sedikit bertingkah.
Wusss..! Tendang Sumanto sekali lagi mendarat dengan telak didada anggota Laba-laba yang satunya lagi.
Sumanto memandang dingin pada ketiga anggota Laba-laba merah yang sudah tersungkur ditanah.
Sumanto berjalan kearah salah satu anggota laba-laba Merah yang berada paling dekat dengan dia. Anggota Laba-laba Merah itu masih belum bisa bangun setelah menerimah tendangan telak didadanya.
Buk buk buk Sumanto menginjak dada anggota anggota Laba-laba merah beberapa kali. Masih merasa belum puas Sumanto mengarakan kakinya wajah anggota Laba-laba merah.
Dara berhamburan dari mulut dan hidung anggota Laba-laba Merah yang kena injakan dari Sumanto. Sedikitpun Sumanto tidak memperdulikan jeritan kesakitan keluar dari mulut anggota Laba-laba Merah yang dia injak.
Melihat apa yang dilakukan Sumanto pada temannya. Kedua anggota Laba-laba langsung melarikan diri, tanpa memperdulikan lagi teman mereka yang sedang disiksa oleh Sumanto.
"Ampunnn... Aku berjanji tidak mengganggu wanita itu lagi." Anggota Laba-laba Merah yang sedang disiksa Sumanto memohon ampun.
Bukkk... Sekali lagi perut anggota Laba-laba Merah kena injakan dari Sumanto.
"Aku tidak peduli kau mau mengganggu dia lagi atau tidak. Aku cuma bilang kalau kalian lemah bertingkahlah layaknya orang yang lemah, jangan sekali-kali berlagak sok kuat." Sumanto memaki dengan kesal.
"Pergiii..! Sebelum aku berubah pikiran." Sumanto mengusir anggota Laba-laba merah yang tadi dia injak.
Tanpa berkata apa-apa lagi anggota Laba-laba Merah itu langsung pergi menyusul kedua temannya yang tadi telah kabur duluan.
__ADS_1
"Terimah kasih." Wanita yang tadi coba diperas anggota Laba-laba merah mengucapakan Terimah kasih pada Sumanto.
"Saya Serly." Wanita itu memyebut namanya pada Sumanto.