
Reina melangkahkan kakinya dengan secara teratur mamasuki gerbang kampus tempat kuliahnya. Reina berhenti sejenak untuk memandang gedung universitas tempat dia beberapa bulan ini menimbah ilmu. Walaupun sudah kuliah diuniversitas ini beberapa bulan, sampai saat ini Reina masih belum percaya kalau dia adalah salah satu mahasiswi disini.
Ketika lulus SMA jangankan untuk masuk universitas sebesar ini, bermimpi untuk kuliah saja Reina tidak berani. Reina bisa masuk kuliah dikampus ini kerena pihak yayasan tempat sekolah SMAnya dulu merekomendasi Reina melalui jalur beasiswa, makanya Reina bisa berada diuniversitas ini.
Reina juga bingung kenapa pihak sekolahnya dulu memberikannya beasiswa untuk dia kuliah dikampus ini, sedangkan Reina merasa kalau dia bukanlan siswi yang berprestasi. Dari kelas satu SMA sampai lulus Reina tidak perna masuk lima besar disekolahnya. Jadi Reina merasa dirinya tidak pintar-pintar amat, Reina berpikir mungkin dia dapat beasiswa kerena dia termasuk berasal dari keluarga yang tidak mampu.
Dengan alasan apapun dia bisa masuk kuliah dikampus ini Reina tetaplah bersyukur. Mungkin tuhan sedang berbaik hati pada dia, makanya dia bisa punya kesempatan menjadi mahasiswi disini, itu pikir Reina.
Ketika sedang asyik dengan lamunannya tiba-tiba Reina melihat ada beberapa mahasiswi berlarian kearah dia.
"Hei rei..!" Salah satu mahasiswi itu menyapa Reina dengan tersenyum ramah.
Reina melihat kearah belakang dia. Reina berpikir mungkin para wanita itu bukan menyapa dia tapi menyapa orang yang dibelakang dia. Yang kebetulan memiliki nama yang sama dengan dia.
setelah melihat kearah belakang tidak ada orang, Reina masih celingak-celinguk kekiri kanan ingin memastikan apa yang disapa para wanita yang sedang berlarian kearah dia benar-benar menyapa dia
Ternyata benar kurcaci-kurcaci dilumuri make up ini menyapaku. Reina menyeringai aneh.
Kenapa Reina menyebut para wanita yang sedang berlarian kearah dia sebagai kurcaci bukanlah tanpa alasan. Mereka bagi Reina tidak ubah seperti boneka barbie yang dibalut benang, yang disebut pakaian lalu dicoret-coret lipstik dan ditambah sedikit polesan make up agar mereka diakui sebagai makluk yang cantik.
Hanya boneka barbie yang terus-terusan harus berpenampilan cantik dan tidak bisa berpikir tentang hal-hal lainnya. Kenapa boneka tidak bisa berpikir kerena boneka tidak memiliki otak. Hampir sama hal dengan para wanita yang sedang berlarian kearah Reina, mereka terlihat seperti orang yang tidak pernah mau berpikir.
Lebih parah lagi saat mereka terkena masalah, mereka seperti tidak punya rasa malu untuk meminta kepada orang tua mereka untuk menyelesaikan masalah yang mereka telah perbuat. Jangankan untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri, terkadang untuk sekedar memahami situasi apa yang sedang mereka hadapi saja mereka tidak sanggup.
Dibandingkan Aisyah kalian tidak ada apa-apanya. Reina membandingkan para wanita yang sedang berlari kearah dia dengan sahabatnya Aisyah.
Sahabatku Reina yang lugu lihatlah akting sahabatmu ini, kerena saking hebatnya aku berakting sehingga kamu tidak menyadarinya kalau sahabatmu ini sedang berakting.
Bayangan Aisyah seakan berbisik ditelinga Reina sambil mengejek, kalau ingat Aisyah yang sudah tidak terbuka pada dia.
"Rei kok diam?" Salah satu wanita itu menegur Reina sehingga membuyarkan lamunan Reina.
"Hehehe." Reina nyengir kuda.
"Hmmm...Ternyata kamu cantik juga ya Rei." Wanita yang paling depan memuji Reina.
"Kenapa kamu mau ja..di..pa..car sa..ya?" Reina tanpa sadar spontan menjawab pujian wanita itu.
Terkadang kita memang pernah mengalami langsung menjawab perkataan orang disekeling kita secara replek, tanpa sadar apa yang dikatakan orang itu pada kita. Mungkin itulah sedang terjadi dengan Reina sekarang.
Setelah menyadari kata-kata apa yang akan keluar dari mulutnya Reina berusaha menarik lagi kata-kata yang akan dia ucapkannya, tapi kata-kata itu sudah terlanjur sebagian terucap dan akhirnya dengan terpaksa Reina meneruskan kata-kata itu walau pun dengan kondisi terbata-bata.
Mereka semua menatap Reina dengan pandangan aneh, setelah mendengar apa yang barusan dikatakan Reina.
"Maksud saya bukan begitu." Reina tidak mau mereka berpikiran yang aneh-aneh tentang dia.
"Aku kangen lo sama kamu." Salah satu wanita itu memeluk Reina dengan sok akrab.
Ni kurcaci gak salah minum obatkan..? Kangen..? Kemaren juga ketemu kok bilang kangen?" Reina merasa ada yang tidak beres.
"Saya juga kangen sama kamu Rei."
Lalu kelima wanita itu seperti berebutan memeluk Reina sok akrab dengan gaya manja yang dibuat-buat.
__ADS_1
Baiklah Reina balas peluk mereka...Lihat dulu apa mau mereka sebenarnya.
Reina yakin kelima wanita itu bertingkah sok akrab dengan dia kerena ada suatu yang mereka ingin dari Reina, tapi Reina tidak bisa menebak apa yang mereka mau dari dia.
"Rei kekantin yok."
"Kekantin ngapain..? aku udah sarapan." Reina berusaha menolak ajakan mereka.
"Lebih enak ngobrolnya dikantin dari pada disini..Ya gak teman-teman?"
Wanita yang berada paling dekat dengan Reina meminta dukungan pada keempat temannya.
"Benar kata Keren."
Wanita yang bernama Keren itulah yang selama ini seperti menjadi kepala geng mereka. Keempat teman-temannya itu sudah seperti dayang yang selalu siap melayani segala keperluan permaisurinya. Keempat teman Keren itu tidak perna bilang tidak pada setiap perkataan Keren. Mereka juga tidak perna menolak apa yang menjadi permintaan Keren. Keempat teman-teman Keren itu terlihat sangat patuh pada Keren, atau lebih tepatnya takut pada keren.
Reina tahu kenapa keempat teman Keren itu menjadi sangat patuh pada Keren. Setahu Reina keluarga Kerenlah yang paling kaya dari keempat teman-temannya itu. Walaupun Reina tidak tahu dari mana berasal harta kekayaan keluarga keren itu. Apakah hasil dari ngepet, korupsi, merampok Reina tidak mau tahu. Boro-boro mikirin harta kekayaan orang lain, mikirin diri sendiri saja sudah cukup melelahkan bagi Reina.
Satu hal lagi kenapa keempat teman-temannya sangat patuh pada Keren. Bagi siapa saja yang berani mencoba tidak patuh pada Keren orang itu akan dijadikan musuh oleh Keren. Tentu saja bermusuhan dengan orang seperti Keren akan menjadi suatu masalah yang besar bagi keempat teman-temannya. Kerena selama ini Keren telah dianggap mesin ATM berjalan bagi teman-temannya. Keren selalu siap membayar apa saja yang dimakan atau diminum oleh teman-temannya. Jadi bagi keempat teman-teman dari pada menjadi musuh Keren lebih baik memilih patuh. Dengan bersikap patuh pada Keren itu akan jauh menguntungkan buat mereka.
Kerena selain berasal dari keluarga kaya, Keren juga seorang model papan atas. Menjadi teman Keren selain mau apa-apa Keren yang siap mengeluarkan uang, tapi juga bisa meningkatkan populeritas mereka.
Keren juga tahu kenapa keempat teman-temannya bersikap patuh pada dia kerena apa. Bagi Keren membayar setiap apa saja yang diinginkan oleh keempat teman-temannya itu membuat dia meresa jauh lebih kaya. Jiwa sombong keren semakin menjadi-jadi dengan melakukan hal itu.
"Ayo Rei." Keren menarik tangan Reina supaya mengikutinya kekantin.
Sesampainya kekantin Keren memesan makanan dan mimuman porsi untuk enam orang. Semua yang ada dikantin melihat kearah geng Keren. Mereka semua merasa aneh kenapa ada orang lain yang ikut berada satu meja dengan geng keren.
Kalau hanya sekedar empat pengikutnya yang ada didekat keren itu sudah biasa bagi mereka. Tapi ini ada satu tambahan lagi wanita yang berada satu meja dengan geng keren. Mereka berpikir apakah keren sekarang sudah merekrut anggota baru. Tapi setelah menyadari yang ada satu meja dengan geng keren itu adalah Reina mereka semua merasa aneh.
"Selamat makan Reina." Dayang Keren yang bernama Lili tersenyum pada Reina.
Lililah yang paling polos dan penurut diantara keempat dayang Keren itu. Lili juga biasanya yang selalu memulai makan duluan apa saja yang dipesan oleh keren the geng.
"sambil dimakan Rei... Biar enak ngobrolnya." Dayang Keren yang lainnya ikut bicara.
Baiklah nikmati dulu sogokan mereka. Klo mereka minta yang aneh-aneh aku kan bisa menolaknya. Gak mungkin mereka mengambil makanan yang sudah aku makan kerena aku menolak permintaan mereka kan. Reina tersenyum licik
"Rei Aisyah kemana aja si?" Akhirnya Keren mulai menunjukan niatnya alasan kenapa mereka mendekati Reina.
Oh jadi itu maksud kurcaci-kurcaci ini mau mendekatiku... jadi ada sesuatu yang kalian inginkan dari Aisyah.
Reina sudah mulai bisa menebak kenapa keren the geng ini bertingkah sok akrab dengan dia.
"Gak kemana-kemana." Reina menjawab singkat.
"Kok Aisyah gak perna masuk kuliah lagi Rei?" Keren bertanya dengan gaya sok polos.
Dasar kurcaci licik gak mungkin kalian gak tau kenapa alasan aisyah gak masuk kuliah..? Reina memaki dalam hati kerena kesal mendengar pertanyaan sok polos Keren.
"Mungkin lagi malas aja kali dengan lingkungan kampus... Makanya Aisyah gak mau masuk kuliah." Reina terdengar asal jawab.
Mendengar jawaban Reina Keren the geng terlihat saling pandang dengan tatapan aneh. Terlihat sedikit ada kekhawatiran diwajah mereka.
__ADS_1
"Tapi Aisyah baik-baik aja kan?" Keren berlagak sok perhatian.
"Aisyah baik-baik aja." Reina menjawab datar.
"Rei bisa gak abis pulang kuliah nanti kamu antar kami kerumah Aisyah?" Keren sangat berharap Reina mau memenuhi permintaannya.
Tidak biasanya kurcaci ini memasang muka memelas seperti ini agar orang lain mau memenuhi permintaannya. Biasanya dia main perintah-perintah aja.
Reina semakin yakin ada suatu yang mereka inginkan dari Aisyah, kerena Aisyah tidak masuk kuliah makanya mereka berusaha membujuk Reina untuk mempertemukan mereka dengan Aisyah.
"Nanti coba aku tanya dulu Aisyah mau gak ketemu dengan kalian."
Reina tidak mau langsung begitu saja membawah mereka kerumah Aisyah. Kalau ternyata Aisyah tidak suka dengan kehadiran mereka, tentu nantinya Reina juga yang akan merasa tidak enak dengan Aisyah.
"Kitakan teman satu kampus Aisyah juga... Masak gak boleh datang kerumah aisyah?" Lili berkata dengan polos.
"Hei rei..." Tiba-tiba ada yang menepuk bahu Raina.
Reina menoleh kearah orang yang menepuk bahunya. Orang itu langsung berbisik ketelinga Reina.
"Rei kamu harus tahu telah terjadi kegegeran apa pagi ini, ada salah satu mahasisiwi yang dikeluarin dari kampus gara-gara ketahuan menghina Aisyah. Kamu harus tahu ternyata pemilik kampus kita ini adalah keluarga Aisyah. Jadi pihak kampus langsung membuat keputusan siapa saja yang ketahuan menghina keluarga pemilik kampus ini akan dikeluarin dari kampus."
Wanita yang berbisik ditelinga Reina menepuk-bepuk bahu Reina beberapa kali sebelum dia pergi.
Mendengar keterangan wanita itu tentu saja membuat Reina kaget. Yang membuat Reina kaget bukan berita tentang mahasiswi yang dikeluarin dari kampus, tapi tentang pemilik kampus ini ternayata adalah keluarga Aisyah.
Wowww..! Ternyata keluarga sahabatku ini sangat kaya. Reina tersenyum kecut. Seberapa banyak sih Syah rahasia yang kamu tutupin dari aku? Reina semakin kesal pada Aisyah.
Keren the geng melotot tajam kearah wanita yang berbisik pada Reina. Keren the geng walau pun tidak bisa mendengar apa yang dibisikan oleh wanita itu pada Reina, tapi mereka yakin apa yang telah dikatakan wanita itu pada Reina pasti akan merugikan mereka.
Beberapa hari belakangan ini memang pihak keren the geng sering membicarakan Aisyah. Untung ketika mereka sedang bergosip tentang Aisyah tidak ada dosen yang mendengarkan mereka. Kalau sampai pihak kampus tahu mereka sering menjelekan Aisyah mereka akan bernasib sama dengan mahasiswi yang tadi pagi telah dikeluarin dari kampus.
Ternyata kurcaci-kurcaci ini sudah mulai merasa terancam. Makanya mereka bermaksud berdamai dengan Aisyah untuk menyelamatkan diri hehehe. Reina lagi-lagi tersenyum licik
Reina tiba-tiba dapat ide untuk memberi pelajaran pada keren the geng
"Perhatian-perhatian hari ini makanan yang kita pesan semuanya Keren yang akan bayar."
Reina berdiri sambil bertepuk tangan agar semua orang yang ada dikantin melihat kearah dia dan mendengar apa yang dia katakan.
Mendengar apa yang dikatakan oleh reina tentu saja membuat seisi kantin bertepuk tangan kegirangan. Sedangkan Keren the geng terlihat kaget dan kesal.
"Emang kapan keren bilang mau mentraktir seisi kantin." Lili bertanya lagi dengan polos.
"Tenang aja Lili klo untuk sekedar mentraktir seisi kantin ini cukup keren melakukan sesi satu pemotretan aku rasa udah lebih dari pada cukup. Benar gak keren?" Reina kedengaran seperti bertanya pada Keren.
Tapi kenyataannya Reina bukan sedang bertanya, tapi Reina sedang memanas-manasi Keren.
Beraninya kau bermain-main denganku kurcaci-kurcaci kecil. Akan aku beri contoh bagaimana bermain dengan benar itu seperti apa.
Reina bertambah semangat memberi pelajaran pada keren the geng.
"Hari ini untuk merayakan pertemanan kami dengan Reina kalian bisa makan sepuasnya"
__ADS_1
Keren berkata sambil berdiri dengan penuh kebanggaan. Dengan semakin banyak orang yang mau dia traktir, maka Keren merasa semakin banyak pula orang yang mengakui kalau dia memang orang yang kaya.