
"Ya udah klo gitu katakan dulu kalau kau mencintaiku, baru aku akan memakai cincinnya." Serly tersenyum menggoda Abimayu.
"Baikkk..!" Bibir Abimayu bergetar saat menjawab permintaan Serly.
"Nah katakan." Serly memandang sayu kearah Abimayu.
"Serly aku mencintaimu dari saat pertama kali aku melihatmu dan tentu saja aku masih tetap mencintaimu sampai saat ini. Apakah kau mengizinkanku untuk mencintaimu seumur hidupku?" Abimayu memandang kearah mata Serly.
"Ya aku akan membiarkanmu untuk mencintaiku sampai akhir hidupku." Tetesan bening keluar dari mata indah Serly saat Serly menyelesaikan ucapannya.
Abimayu mengambil cincin yang terletak diatas meja secara perlahan, lalu segera memasang dijari manis Serly.
"Terimah kasih kau telah mengizinkanku untuk mencintaimu." Abimayu memeluk Serly penuh haru.
Plok plok plok terdengar orang bertepuk tangan dari arah belakang Serly. Serly segera melepaskan pelukanya pada Abimayu, lalu melihat kearah belakangnya. Ternyata yang tadi bertepuk tangan adalah kedua orang tua Abimayu.
"Ternyata kau bersedia juga jadi tunangan anak tengil itu." Mama Abimayu tersenyum bahagia sambil berjalan kearah Serly, lalu Mama Abimayu memeluk Serly dengan erat.
"Mama lihat sekarang Abimayu telah memenuhi janji Abimayu untuk memberikan menantu kedua pada mama." Abimayu tersenyum bahagia.
*****
Setelah selesai memasukan koper kedalam bagasi mobil Siti Nurlela memandang kearah rumah yang sebentar lagi akan dia tinggalkan itu.
Wajah Siti Nurlela terlihat sedih ketika memandang kearah dalam rumah. Rumah itu telah banyak menuliskan cerita suka dan duka bagi Siti Nurlela.
Dirumah itulah dia memulai mengenal sosok Bastian untuk pertama kalinya. Walaupun dulu dia mengenal Bastian dengan cara terpaksa, tapi sekarang Siti Nurlela sangat bahagia telah mengenal orang sehebat dan sebaik Bastian.
"Bu apa kita masih bisa kesini lagi suatu saat nanti?" Adi bertanya pada Siti Nurlela.
"Entahlah nak." Siti Nurlela menjawab pertanyaan Adi dengan mata berkaca-kaca.
"Bu kita harus segera pergi." Aisyah mengelus bahu Siti Nurlela.
"Ya non." Siti Nurlela mengusap air matanya.
Sangat berat bagi Siti Nurlela untuk meninggalkan rumah itu. Memang sebelumnya Siti Nurlela selalu berharap bisa keluar dari rumah itu dan segera kembali kepanti asuhan dimana tempat dia dan Adi dulu berasal, tapi setelah harapan dia terkabul sekarang Siti Nurlela malah terlihat menjadi sedih.
"Nak Bastian apa setelah kita keluar dari rumah ini, kita tidak akan bisa bertemu lagi?" Siti Nurlela bertanya pada Bastian tanpa mengalihkan pandangannya dari rumah itu.
"Ibu dan Adi bisa datang menemui Bastian kapan pun ibu mau. Bastian selamanya tidak akan melupakan ibu dan Adi."
"Ibu tidak yakin bisa bertemu dengan nak Bastian kapan pun ibu mau, setelah kita pergi dari sini." Siti Nurlela sadar sekarang Bastian telah menjadi menantu Adiguna Cokrominoto, bagi orang seperti Siti Nurlela tentu tidak akan mudah untuk menemui keluarga Adiguna Cokrominoto.
"Percayalah bu, setelah kita keluar dari rumah ini, ibu akan tetap menjadi wanita yang selalu Bastian hormati dan Adi juga akan Bastian selalu anggap seperti adik Bastian sendiri."
"Kalau ibu terus-terusan melihat rumah itu, nanti ibu malah berubah pikiran, gak jadi balik kepanti." Aisyah tersenyum menggoda Siti Nurlela, agar Siti Nurlela tidak terlalu sedih.
"Ya udah klo gak jadi masukin lagi barang-barangnya kerumah." Bastian ikut-ikutan menggoda Siti Nurlela.
*****
Satu jam kemudian.
Mobil Aisyah berhenti di depan panti asuhan Kasih Bunda. Panti asuhan itulah tempat dulu Siti Nurlela dan Adi berasal, sebelum dibawah paksa oleh orang-orang Srigala Malam atas perintah Keyra.
Flashback
Pada tengah malam.
__ADS_1
Dua mobil tiba-tiba berhenti didepan panti asuhan Kasih Bunda. Terlihat beberapa orang turun dari mobil dan langsung mendorong secara paksa pintu pagar.
Sebelum berapa orang itu berhasil masuk kehalaman panti asuhan, terlihat ada seorang wanita tua menghadang mereka agar tidak masuk kedalam panti.
"Ada apa kalian datang kesini?" Wanita tua itu bertanya sambil menahan rasa takut.
"Minggirrr..!" Salah satu laki-laki mendorong wanita tua itu agar tidak menghalangi mereka untuk masuk kedalam panti.
"Ada keperluan apa kalian datang kesini?" Lagi-lagi wanita tua itu bertanya sambil menahan rasa takut.
"Hei orang tua..! Kita sama-sama wanita, aku harap kita lebih cepat saling memahami." Terdengar ada suara wanita mengancam wanita tua yang berasal dari dalam panti.
"Apa yang kalian inginkan?"
"Kami butuh orang-orang dipanti ini."
"Kalau kalian butuh anak-anak disini kalian harus memenuhi dulu persyaratannya." Wanita penjaga panti berpikir kalau orang yang datang itu untuk mengadopsi salah satu anak dari panti mereka.
"Kami tidak butuh persyaratan, kami hanya butuh anaknya."
"Nona Keyra apa perlu kita bunuh wanita tua ini, agar berhenti mengganggu." Salah satu laki-laki telah mengacungkan pistolnya kearah wanita tua yang berasal dari dalam panti.
Orang-orang yang mau masuk secara paksa itu adalah anggota Srigala Malam. Mereka datang kepanti dipimpin langsung oleh Keyra wakil dari Geng Srigala Malam.
"Jangan bunuh diaaa..!!" Tiba-tiba ada suara teriakan dari dalam panti.
Terlihat ada wanita setengah baya keluar dari dalam panti.
Keyra langsung melihat kearah wanita setengah baya yang baru keluar dari dalam panti.
"Siapa kamu..!" Keyra memandang tajam kearah wanita setengah baya yang baru keluar dari dalam panti.
"Saya Siti Nurlela, saya salah satu pengurus panti asuhan ini." Wanita setengah baya yang baru datang menjelaskan siapa dia.
"Lima puluh orang."
"Kau bisa memberikan satu anak laki-laki pada kami?"
"Caranya bukan seperti itu, kalau kalian ingin mengadopsi salah satu anak dari panti ini. Kalian harus melalui prosedurnya dulu." Siti Nurlela berkata pada Keyra.
"Kami bukan mau mengadopsi anak disini, tapi menginginkannya." Keyra melotot pada Siti Nurlela.
"Itu namanya penculikan kalau mau membawah anak dari sini tanpa melewati prosedur yang berlaku." Wanita tua yang tadi pertama keluar dari panti terdengar marah.
"Terserah kalian mau menyebutnya apa." Keyra terlihat tidak peduli.
"Kalian akan berurusan dengan pihak berwajib kalau melakukan hal itu." Wanita tua itu terdengar mengancam.
"Nona Keyra sebaiknya kita bunuh mereka berdua." Anak buah Srigala Malam terlihat kesal.
Dorrr... Keyra menembakan pistolnya didekat kaki wanita tua yang berasal dari panti.
"Kalian pilih saya bakar panti ini dan bunuh kalian berdua atau kalian menyerahkan satu anak dari panti ini." Keyra mulai marah.
"Tapi siapa anak yang mau ikut kalian, kalau kalian datangnya seperti ini?" Siti Nurlela berkata pada Keyra.
"Kami tidak peduli ada yang mau atau tidak, kerena kami akan tetap memaksa salah satu anak dari panti ini agar mau ikut kami."
Salah satu anak buah Keyra mendekati Keyra, lalu membisikan sesuatu pada Keyra.
__ADS_1
"Kamu ikut juga." Keyra menunjuk kearah wajah Siti Nurlela, setelah tadi mendengar bisikan dari anak buahnya.
Siti Nurlela langsung terlihat pucat.
"Ikut kaliannn..?!"
"Ya kamu ikut." Keyra menyeringai
"Kalau saya ikut, siapa yang akan mengurus anak-anak dipanti ini?" Siti Nurlela semakin terlihat ketakutan.
Plakkk..! Keyra menampar pipi Siti Nurlela dengan keras.
"Sekali lagi kamu menolak, aku akan membakar habis panti ini, beserta penghuninya." Keyra terlihat sangat marah.
"Jangan sakiti ibu..!" Tiba-tiba ada anak laki-laki keluar dari dalam panti.
"Adi sudah ibu bilang jangan keluar." Siti Nurlela kaget melihat kearah anak laki-laki yang baru keluar dari dalam panti.
"Adi gak mau orang-orang jahat ini nyakitin ibu." Anak laki-laki yang bernama Adi itu memeluk Siti Nurlela sambil menangis.
"Nona Keyra kayaknya anak ini lebih cocok menemani dia." Anak buah Keyra menunjuk kearah Siti Nurlela.
"Jangannn..! Jangan bawah mereka." Wanita tua yang pertama kali keluar dari dalam panti langsung memeluk Siti Nurlela dan Adi.
"Bu lebih baik seperti itu, daripada mereka membakar panti ini dan membunuh kita semua." Siti Nurlela berusaha terlihat tegar.
"Tapi Siti, Adi masih terlalu kecil untuk ikut orang-orang seperti mereka. Ibu gak mau nanti Adi diajarkan hal-hal yang buruk oleh mereka."
"Bawah mereka berduaaa..!" Keyra memberi perintah pada anak buahnya untuk membawah Adi dan Siti Nurlela kedalam mobil.
"Jangan bawah mereka." Wanita tua pengasuh panti mendorong dua anak buah Keyra yang mencoba membawah Siti Nurlela dan Adi.
Dorrr..! Keyra menembak kearah pintu panti asuhan.
"Apa yang kamu lakukan..?!" Wanita tua pengasuh panti terlihat panik dengan apa yang barusan Keyra lakukan.
"Wanita tua sekali lagi kau menghalangi kami, bukan pintunya lagi yang saya tembak, tapi orang-orang yang dibalik pintu." Keyra memandang tajam kearah wanita tua pengasuh panti.
"Kalian sudah gila." Wanita itu sekarang hanya bisa menangis, tidak berani melakukan apa-apa lagi.
"Ini ambil lah." Keyra melempar setumpuk uang kearah wanita tua pengasuh panti.
"Kami tidak butuh uang haram dari kalian." Wanita tua pengasuh panti itu masih berani memaki Keyra.
Keyra sepertinya tidak memperdulikan makian wanita tua itu.
"Mereka berdua saya izinkan pulang kepanti ini pada waktu tertentu saja, tapi harus diantar anak buah saya. Tenang saja mereka tidak akan sengsara kalau ikut dengan kami. Kalau ada yang berani melapor kejadian ini kepolisi jangan harap mereka berdua bisa hidup."
"Sebenarnya mau kalian apakan mereka berdua?" Wanita pengasuh panti merasa aneh dengan keterangan Keyra.
"Hahaha kami hanya meminjam mereka berdua..!" Keyra tertawa penuh misteri.
"Meminjam..?!" Wanita tua pengasuh panti semakin merasa aneh.
"Kalau kalian tidak melapor kejadian ini pada polisi, kami akan memberikan donasi setiap bulan pada panti ini, tapi kalau kalian berani melapor pada polisi, maka jangan menyesal panti ini akan kami bakar dan kalian tentu saja akan kami bunuh semua."
Wanita tua pengasuh panti menelan air ludah mendengar ancaman Keyra, dia sadar Keyra tidak main-main dengan ancamannya.
*****
__ADS_1
Kembali pada waktu sekarang.
Saat Siti Nurlela dan Adi baru saja keluar dari mobil, tiba-tiba ada puluhan anak-anak panti langsung memeluk Adi dan Siti Nurlela. Orang yang ada dipanti memang sudah tahu kalau Siti Nurlela dan Adi akan kembali kepanti hari ini. Sebelum berangkat kepanti Siti Nurlela telah menelpon pengurus panti kalau mereka akan kembali hari ini.