DERITA NONA MUDA

DERITA NONA MUDA
PENANGKAL TERBAIK


__ADS_3

Diparkiran Sumanto duduk melamun didalam mobil sambil menunggu kedatangan Aisyah. Dalam hati Sumanto diliputi berbagai pertanyaan. Sumanto penasaran siapa orang yang sedang ditemui Aisyah dan apa yang sedang dibicarakan oleh Aisyah.


Kerena terlalu seriuas memikirkan pertemuan Aisyah, sehingga Sumanto tidak menyadari kalau Aisyah sudah berada disamping mobil. Aisyah berdiri disamping pintu kiri depan, sambil memperhatikan Sumanto yang sedang melamun.


"Mas mayor lagi melamunkan apa?" Aisyah menyapa Sumanto sambil tersenyum ceria.


Tentu saja Sumanto sangat kaget mendengar Aisyah memanggil dia, dengan panggilan mas mayor. Sumanto hanya terdiam memandang kearah Aisyah. Suara Sumanto seperti sangat berat untuk dikeluarkan dari tenggorokannya, sehingga membuat Sumanto tidak mampu berkata apa-apa.


Melihat ekspresi Sumanto yang terlihat seperti orang gagu, dalam hati Aisyah merasa sangat senang. Perkataan Aisyah tadi itu memang sengaja diucapakan oleh Aisyah untuk menyindir Sumanto.


"Mayor Bastian, saya ini majikan kamu loh. kamu berani kurang ajar tidak menjawab pertanyaan saya." Aisyah menyeringai aneh pada Sumanto.


"Kok non manggil kula mayor?" Sumanto bertanya dengan gugup.


"Oh iya saya lupa kalau kamu tidak pernah memiliki masa lalu menjadi seorang mayor." Aisyah semakin berani menyindir Sumanto.


"Non ada-ada saja." Sumanto tersenyum hambar, mencoba menutupi saya kagetnya.


"Hari ini saya mau diduduk depan." Aisyah langsung masuk dan duduk dikursi depan disebelah Sumanto.


"Non nanti apa kata orang, kalau ada yang lihat non duduk didepan bersebelahan dengan sopir."


"Kan kacanya ditutup? gak bakal ada yang lihat, jadi gak bakal ada yang tau kita duduk bersebelahan."


"Tapi non, tidak sepantasnya majikan itu duduk didepan bersebelahan dengan seorang sopir."


"Saya majikan kamu, ini juga mobil saya. Ya terserah saya mau duduk dimana." Aisyah berkata dengan wajah cemberut.


"Baik non."


Sumanto merasa ada yang aneh dengan sikap Aisyah. Sumanto menduga berubahan sikap Aisyah itu pasti ada sangkut pautnya dengan hasil pertemuan rahasia Aisyah tadi.


"Ayo jalannn..."


"Kemana non?"


"Nyalahin dulu mobilnya baru nanya." Aisyah memasang wajah kesal.


"Baik non."


"Kerumah sakit." Aisyah menyebut nama rumah sakit dan alamatnya pada Sumanto.


"Iya non." Sumanto lagi-lagi menjawab singkat.


"Kamu gak nanya? Mau apa aku kerumah sakit." Aisyah berkata pelan sambil menoleh kearah Sumanto.


"Gak non." Sumanto menggelengkan kepalanya. Sumanto takut kalau dia banyak tanya Aisyah akan jadi marah.


"Seharusnya kamu nanya." Aisyah berkata dengan nada serius.


"Baik non. Non kerumah sakit mau apa?"


Sumanto merasa sikap Aisyah semakin aneh. Saat ditanya Aisyah menunjukan sikap seolah-olah tidak suka kalau Sumanto bertanya, tapi kalau tidak ditanya malah nyuruh bertanya.


"cek rutin kehamilan." Aisyah kembali tersenyum ceria.


Semoga dia baik-baik saja. Sikapnya cepat sekali berubah-ubah, kadang marah, lalu beberapa saat lagi senang. Sumanto memandang aneh kearah Aisyah.


"Kenapa kamu melihat saya sepeti itu?" Aisyah bertanya judes.


"Non terlihat sangat menyayangi janin yang sedang non kandung."

__ADS_1


"Ya iyalah aku sangat menyayanginya. Ini kan darah daging aku." Aisyah sambil mengusap perutnya. "Emang ayahnya, laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Berani berbuat gak berani bertanggung jawab. Orang seperti itu menurut aku gak pantas sebut laki-laki." Aisyah melotot tajam pada Sumanto.


Sengaja Aisyah berkata seperti itu untuk menyindir Sumanto, kerena dia sudah tahu kalau Sumanto adalah Bastian, laki-laki yang telah memperkosa dia.


Aisyah terus-terusan menyindir Bastian untuk membuat Bastian tertekan secara batin. Aisyah yakin kalau mendengar sindirin dari dia, itu akan membuat Bastian semakin dihantui rasa bersalah.


Rasain emang enak dihantui rasa bersalah. Ini belum seberapa Bas, kalau kamu masih belum mau jujur, aku pastikan kamu akan terus-terusan menderita. Aisyah tersenyum sinis kearah Bastian.


"Tadi kita mau kerumah sakit mana non?" Bastian bertanya bermaksud mau mengalihkan pembicaraan, sambil memalingkan pandangannya dari Aisyah.


"Gak tau..!" Aisyah menjawab judes.


"Non Aisyah klo lagi cemberut kelihatan lebih cantik." Tiba-tiba Bastian berani menggoda Aisyah.


"Apa kamu bilang Bas." Wajah Aisyah langsung merah merona mendengar apa yang dikatakan Bastian barusan.


"Saya Sumanto non, bukan Bastian."


"Ya iya ya... Kamukan Sumanto, bukan Bastian, laki-laki yang katanya berpangkat mayor, pernah menjadi prajurit elit, tapi tidak punya rasa tanggung jawab sama sekali. Beda sekali dengan prinsip militer."


"Darimana kamu tau klo Bastian pernah menjadi tentara? Aku akan merobek mulut orang yang mengatakan itu pada kamu. Pasti orang itu yang kamu temui tadi." Bastian terlihat sangat marah.


Bastian tiba-tiba membuka pintu mobil dan langsung keluar buru-buru.


"Mau kemana Bas?" Aisyah bertanya panik.


"Aku akan membunuh orang yang sudah bicara yang bukan-bukan sama kamu." Bastian makin terlihat emosi.


Kerena tidak bisa menahan amarahnya Bastian sampai lupa kalau sekarang dia sedang menyamar sebagai Sumanto, sehingga membuat dia bicara dengan Aisyah langsung pakai aku kamu.


"Baatiann..! Tunggu."


Bastian memandang kesetiap meja yang ada dalam restaurant. Bastian ingin mencari siapa orang yang tadi ditemui Aisyah didalam restaurant. Tiba-tiba Bastian menatap tajam kearah salah satu meja.


"Ternyata mereka..!"


Bastian berjalan kearah meja yang tadi dia lihat. Dimeja itu duduk laki-laki dan prempuan. Mereka adalah Andre dan Natalie.


Buk... Buk... Buk Bastian langsung memukul wajah Andre beberapa kali tanpa banyak tanya.


Andre terjatuh kelantai setelah menerimah pukulan dari Bastian beberapa kali. Bibir Andre pecah dan langsung mengucurkan darah.


"Apa-apaan ini..!" Natalie mendorong tubuh Bastian agar menjauh dari Andre.


"Sekali lagi kamu bicara yang macam sama nona Aisyah, jangan harap kamu bisa bernyawa." Bastian menunjuk muka Andre sambil memandang tajam kearah Andre.


Mendengar ancaman Bastian itu, Andre hanya bisa diam. Andre sadar melawan orang seperti Bastian sama saja dengan bunuh diri.


"Ada apa ini." Tiba-tiba ada suara laki-laki yang menegur Bastian.


"Jangan ikut campur..!" Bastian langsung memukul laki-laki yang tadi bertanya.


Laki-laki yang barusan dipukul Bastian adalah manager resto. Manager resto itu menerimah nasib yang sama dengan Andre, disudut bibirnya mengeluarkan darah kerena bibirnya pecah terkena pukulan dari Bastian tadi.


"Bastian cukuppp..!" Aisyah langsung memeluk Bastian untuk menahan Bastian agar berhenti memukul manager resto.


Aisyah menangis sambil memeluk Bastian. Aisyah merasa sangat ngeri, kalau melihat Bastian sedang marah. Bagi Aisyah Bastian saat itu terlihat seperti monster, kejam dan tidak memiliki belas kasihan sama sekali.


"Bas aku gak mau ayah anak aku terus-terusan bersikap seperti monster seperti ini. Kamu harus belajar mengendalikan emosi kamu Bas. Demi anak kamu, demi anak kita." Aisyah berkata pelan berbisik ditelinga Bastian sambil terus memeluk Bastian.


Tangisan Aisyah itu ibarat guyuran hujan yang mampu memadamkan kebakaran. Ketika sudah melihat air mata menetes dari pipi Aisyah, Bastian Seolah-olah tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Air mata Aisyah itu menangkal terbaik untuk menghentikan amarah Bastian.

__ADS_1


Monster ini tidak bisa berkutik lagi kalau sudah berada dalam pelukan Aisyah. Kejadian dilobi parkiran dulu terulang lagi. Natalie memandang kearah Bastian dan Aisyah.


"Tapi aku Sumanto non, bukan Bastian." Bastian berkata pelan.


"Ya kamu Sumanto." Aisyah langsung menyetujui perkataan bohong Bastian, agar Bastian tidak lagi marah. "Ayo kita pergi dari sini." Aisyah menarik tangan Bastian untuk pergi keluar dari resto.


Semua orang diresto memandang kepergian Bastian dan Aisyah. Beberapa orang yang ada diresto menarik lepas lega setelah melihat Bastian keluar dari resto. Mereka sangat ngeri melihat Bastian yang tadi tiba-tiba mengamuk.


"Apakah dia telah mengetahui sesuatu?" Natalie bertanya pada Andre.


"Entahlah." Andre masih terlihat bingung.


"Orang ini semakin hari semakin hari terlihat mengerikan."


"Ingat dia disebut iblis pencabut nyawa oleh musuh-musuhnya." Andre mengingatkan siapa Bastian pada Natalie.


"Aku harap dia tidak dendam sama kamu." Natalie terlihat mengkhawatirkan Andre.


"Selama nona Aisyah berada didekat dia monster itu tidak akan menjadi bahaya." Andre tersenyum kecut.


"Apakah Aisyah telah mengatakan suatu pada dia?" Natalie curiga Aisyah telah salah bicara pada Bastian, sehingga membuat Bastian marah pada Andre.


"insting orang seperti dia sudah sangat terlatih. Dia mampu menangkap semut ditengah kegelapan malam hanya mengandalkan naluri. Jadi tidak heran kalau dia tahu siapa yang sudah membongkar rahasia dia."


"Kamu harus berhati-hati sama dia Dre." Natalie mengingatkan Andre.


"Tenang Nat, orang seperti itu tidak akan pernah membunuh musuh yang tidak mau melawan dia." Andre ternyata lumayan banyak tahu tentang Bastian.


"Jadi kerena itulah tadi kamu tidak mau melawan?" Natalie bertanya penasan.


"Aku masih mau berumur panjang Nat."


Natalie tidak dapat membayangkan orang seperti apa sebenarnya Bastian, sehingga membuat seorang polisi seperti Andre tidak berani bertindak gegabah dihadapan Bastian.


"Sudahlah lebih baik kita pergi dari sini" Andre mengajak Natalie meninggalkan resto.


*****


Sementara itu Aisyah dan Bastian sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sejak meninggalkan resto tadi Aisyah dan Bastian belum mengeluarkan sepatah katapun. Mereka hanya berdiam diri, tidak ada tanda-tanda diantara mereka yang mau membuka suara terlebih dulu.


"hem... hem..." Aisyah berusaha menghilang kebisuan diantara mereka.


Bastian hanya menoleh sebentar kearah Aisyah, lalu fokus lagi memandang kearah depan.


"Kabar ibu kamu gimana?" Akhirnya Aisyah buka suara terlebih dulu.


"Baik." Bastian menjawab singkat.


"Klo Adi?" Aisyah bertanya lagi untuk sekedar berbasa-basi.


"Baik... Oh ya katanya dia kangen sama non Aisyah." Akhirnya Bastian mulai terlihat santai lagi.


"Nanti malam aku mau ketemu sama ibu dan Adi."


"Jangan non." Bastian langsung melarang Aisyah yang mau bertemu dengn Ibu dan Adiknya.


"Kenapa?"


"Jangan malam ini."


"Terus kapan?" Aisyah yakin ada suatu yang coba Bastian tutupi dari dia, sehingga membuat Bastian melarang dia unutuk menemui ibunya dan Adi.

__ADS_1


__ADS_2