
"Mba Aisyah gak kenapa-kenapa?" Riko terlihat mengkhawatirkan keadaan Aisyah.
"Ya aku gak kenapa-kenapa." Aisyah berusaha tersenyum pada Riko, sambil menghapus air matanya dengan tisu.
"Mbak Aisyah yakin." Riko ingin memastikan sekali lagi Kalau Aisyah masih bisa menerimah pertanyaan-pertanyaan yang akan dia ajuhkan berikutnya.
"Aku baik-baik aja." Aisyah berusaha sekuat mungkin menutupi kesedihannya.
"Katanya mbak Aisyah punya seorang sahabat yang sangat dekat dengan mbak Aisyah, sahabat mbak Aisyah itu katanya sudah dianggap seperti anak sendiri oleh kedua orang tua mbak Aisyah?" Riko melanjutkan pertanyaannya.
"Ya... Banyak yang bilang kalau kami sudah seperti anak kembar, kerena terlalu sering terlihat bersama."
"Mari kita sambut siapa sebenarnya wanita yang beruntung itu... Inilah dia seorang wanita yang sudah dianggap seperti anak sendiri oleh CEO Adiguna Cokrominoto Group... Reinaaa..!" Riko lalu berdiri.
"Selamat malam." Reina menyapa Riko.
"Selamat malam, silahkan suduk." Riko mempersilahkan Reina duduk disebelah Aisyah.
"Terimah kasih." Reina berusaha bersikap sesantai mungkin, walau sebenarnya saat ini Reina merasa sangat canggung, bagaipun ini baru pertama kalinya dia diundang keacara talkshow, apa lagi pembawa acara talkshownya adalah laki-laki yang sejak pertama bertemu dengan Reina, sudah membuat jantung Reina berdebar-debar.
"Buat mbak Reinanya gimana rasanya menjadi sahabat seorang Aisyah Adiguna Cokrominto?" Riko bertanya pada Reina.
"Rasanyaaa... Ya mungkin sama layak seorang sahabat pada umumnya." Reina menjawab datar.
"Masak gak ada yang istimewa memiliki sahabat dari anak tunggal CEO Adiguna Cokrominoto Group?" Riko terlihat penasaran.
"Saya bersahabat dengan Aisyah bukan kerena dia anak Adiguna Cokrominoto, tapi kerena dia Aisyah. Waktu pertama kenal juga saya gak tau siapa sebenarnya keluarga Aisyah, justru baru sekitar tiga bulan belakangan ini saya tau kalau Aisyah anak dari CEO Adiguna Cokrominoto Group, sedangkan kami sudah bersahabat tiga tahun lebih." Reina memberi jawaban yang cukup panjang pada Riko.
"Benar itu mbak Aisyah?"
"Benar... Waktu tau klo saya anak Adiguna Cokrominoto Reina malah marah."
"Marah? Marah kenapa?" Riko menjadi heran.
"Coba siapa yang gak marah, Aisyah gak pernah cerita kalau sebenar SMA tempat kami sekolah dulu ternyata milik keluarga dia, kampus tempat saya kuliah sekarang juga itu milik keluarga dia, bahkan dia gak mau cerita kalau resto langganan kami juga milik keluarga dia."
"Benar itu mbak Aisyah?"
"Saya tanya sama mas Riko, apakah mas riko akan menceritakan rumah mas riko seperti apa, mobil mas Riko merek apa, kucing mas Riko berjenis apa pada teman mas Riko, kalau teman mas Riko tidak menanyakan itu semua."
"Pasti tidak."
"Tuh dengar Rei." Aisyah tersenyum kearah Reina.
"Hahaha." Reina tertawa malu. "Mungkin pertengkaran kami waktu itu adalah bumbu dalam persahabatan, layaknya suami istri tidak selamanya hubungan mereka mulus-mulus aja, pasti ada bumbu-bumbu pertengkaran didalamnya."
"Lagi pula itu sudah menjadi masa lalu, kami tidak pernah mengingatnya lagi." Lalu Aisyah memeluk Reina.
Seisi studio langsung bertepuk tangan mendengar apa yang dikatakan Aisyah barusan.
"Oh ya kata mbak Aisyah punya sopir baru? Sedangkan semua orang tau untuk menjadi sopir keluarga Adiguna Cokrominito itu bukan hanya sekedar kemampuan menyetir mobil yang dibutuhkan, tapi juga kemampuan beladiri sangat diwajibkan
__ADS_1
"Gak tau juga klo masalah itu. Yang bikin peraturan abi, jadi hanya abi yang tau seberapa hebat kemampuan beladiri orang-orang yang bekerja pada keluarga kami."
"Apakah mbak Aisyah cukup yakin dengan sopir baru mbak ini bisa melindungi mbak Aisyah?"
"Jujur saya menerimah dia bukan kerena saya benar-benar butuh sopir. saya sendiri juga bisa nyetir, jadi saya gak butuh-butuh amat sopir. Soal dia bisa jaga saya atau tidak, Saya rasa saya aman-aman aja, jadi saya gak perlu dijaga."
"Terus alasan apa mbak menerimah dia jadi sopir mbak Aisyah?" Riko bertanya heran.
"Kerena merasa nyambung dan nyaman aja."
"Lebih spesifik nyamanya itu seperti apa mbak?"
"Spesifik nyamannya itu seperti apa saya juga bingung menjelaskan seperti apa."
"Oke daripada bingung, lebih baik kita panggil langsung seperti apa sosok sopir yang mampu membuat mbak Aisyah nyaman dan merasa nyambung. Inilah dia Sumantooo..."
"Selamat malam mas Riko." Sumanto langsung menyalami Riko.
"Malam juga mas Anto, silahkan duduk." Riko tersenyum pada Sumanto.
"Terimah kasih." Sumanto duduk disebelah Reina
"Apa yang membuat mas Anto mau menjadi sopir keluarga Adiguna Cokrominoto."
"Ya kerena kula butuh kerjaan."
"Tapikan bekerja dalam kelurga Adiguna Cokrominoto itu resikonya tinggi."
"Semakin tinggi resiko pekerjaan kita, maka semakin tinggi pula hasilnya. Semakin kecil resiko pekerjaan kita tentu saja kecil pula hasilnya."
"Itu alasan lainnya, Tapi alasan utama kenapa kula mau menjadi sopir keluarga Adiguna Cokrominoto itu gak mungkin kula ceritakan pada orang lain."
"Kenapa?"
"Mas Riko tahu setiap manusia pasti memiliki satu rahasia dalam hidupnya, bahkan tuhanpun tidak boleh tau rahasia itu, kerena kalau ada yang mengetahuinya, itu bukan lagi rahasia namanya."
"Benar juga, kalau ada yang tau, itu tidak bisa lagi disebut rahasia." Riko bisa memaklumi cara berpikir Sumanto. "Oke sekarang kita balik ke'mbak Aisyah, mbak seandai kedua orang tua mbak tidak melarang mbak Aisyah melakukan aborsi, apakah mbak sempat punya niat melakukan aborsi?"
Mendengar apa yang dikatakan Riko, Sumanto terlihat kaget.
"Saya juga gak tau, soalnya waktu dokter Reinhard mengatakan saya hamil, saat itu saya tidak memikirkan apa-apa, atau lebih jelasnya saya tidak bisa berpikir apa-apa."
"Dengan kedua orang tua mbak Aisyah melarang melakukan aborsi, sekarang mbak Aisyah sudah dapat menyimpulkan apakah apa yang dikatakan kedua orang tua mbak saat itu benar?"
"Saya yakin keputusan mereka sudah benar, saya yakin kalau selain abi sama umi, orang tua manapun pasti akan menyuruh anaknya melakukan aborsi, kalau anaknya hamil tanpa pernikahan, dan saya sangat bersyukur saat itu kedua orang tua saya dapat berpikir dengan jerni, walauppun saat itu saya tahu mereka sangat marah, saat mengetahui putri mereka hamil."
"Ini seandainya mbak, nanti kalau mbak sudah melahirkan, lalu laki-laki itu ingin bertemu dengan mbak Aisyah, dengan alasan dia ingin melihat anaknya, apa mbak Aisyah mengizinkan?"
"Laki-laki pengecut seperti tidak akan berani menunjukan batang hidungnya dihadapan keluarga Aisyah." Reina berkata dengan sinis.
"Dia bukan pengecut, dia tidak muncul dihadapan keluarga nona Aisyah, kerena dia berpikir itu akan jauh lebih baik. Buat apa dia muncul dihadapan keluarga mbak Aisyah kalau itu hanya akan membuat situasi jadi lebih buruk." Sumanto terlihat tidak senang mendengar apa yang Reina katakan.
__ADS_1
"Darimana kamu tau? Emang kamu Bastian?" Reina melotot kearah Sumanto.
semua mata langsung melihat kearah Sumanto, setelah mendengar apa yang dikatakan Reina tadi.
Lalu keadaan hening dan mencekam...
"Kula memang bukan Bastian, tapi kalau kula berada diposisi Bastian kula juga akan melakukan seperti apa yang Bastian lakukan." Mata Sumanto menyiratkan kalau saat itu dia sedang marah pada Reina, terlihat dengan cara Sumanto memandang kearah Reina.
Dipandang seperti itu, tentu saja membuat Reina menjadi merasa takut. Reina tidak menyangka sama sekali kalau orang yang selama ini sering dia jadikan bahan ledekan, ternyata kalau sudah merasa tidak senang akan menjadi menakutkan.
"Ini seperti bukan talkshow lagi, tapi sudah seperti acara debat." Riko mencoba bergurau untuk mencairkan suasana yang mulai terasa tegang.
"Mas Riko punya botol." Aisyah bertanya pada Riko.
"Botol apa?" Riko bingung mendengar pertanyaan Aisyah.
"Botol untuk mengurung mereka berdua, mungkin setelah dikurung dalam botol yang sama, selama seribu tahun baru mereka akan bisa akrab." Aisyah memandang kearah Sumanto dan Reina.
"Hahaha..! Kalian mau dimasukin dalam botol yang sama?" Riko baru sadar ternyata kata-kata Aisyah tadi hanyalah gurauan.
Reina hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan Riko, sedang Sumanto hanya diam. Rasa kesal Sumanto pada Reina ternyata belum hilang.
"Oke balik lagi kepertanyaan tadi."
"Tadi pertanyaannya apa?" Aisyah sudah lupa apa yang tadi ditanyakan oleh Riko.
"Seandainya setelah mbak Aisyah melahirkan, laki-laki bernama Bastian itu mau bertemu dengan mbak Aisyah, dengan alasan mau bertemu dengan anaknya." Riko mengulangi pertanyaannya.
"Saya tidak akan melarangnya, bagaimanapun itu anak dia juga."
"Tapi apakah orang tua mbak Aisyah akan berpikiran sama dengan mbak Aisyah."
"Kalau abi sama umi melarang saya melakukan aborsi, itu artinya abi sama umi juga sadar cepat atau lambat laki-laki bernama Bastian itu pasti akan datang menemui mereka."
"Apakah ada cela laki-laki bernama Bastian itu bisa menjadi menantu Adiguna Cokrominoto?"
"Menantu..?" Aiayah seperti kaget, Aisyah sama sekali tidak menduga kalau Riko akan bertanya seperti itu.
"Mungkinkah laki-laki bernama Bastian itu bisa menjadi suami mbak Aisyah?"
"Saya gak pernah berpikir sejauh itu."
"Kalau seandainya laki-laki bernama bastian itu datang menemui mbak Aisyah, mbk Aisyah tidak merasa takut."
"Kenapa saya harus takut? Saya yakin sebenarnya dia laki-laki yang baik, tapi kerena apa yang telah dia lakukan pada saya makanya dia jadi terlihat tidak baik."
"Kalau Bastian menonton acara ini apa yang mbak Aisyah katakan pada dia?"
"Saya cuma mau bilang, kenapa harus saya? Masih banyak wanita didunia ini. Tapi kenapa dia harus melakukannya pada saya." Aisyah berkata pelan, airnya juga ikut tumpah bersama kata-katanya.
Reina langsung meraih Aisyah kedalam pelukannya. Reina juga tidak bisa menahan air matanya. Akhirnya dua sahabat itu menangis sambil berpelukan untuk saling menguatkan.
__ADS_1
Seisi studio juga tidak kuasa menahan tangisnya. Mereka seperti bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Aisyah. Sekuat apapun Aisyah berusaha untuk tegar, tapi tetap saja Aisyah adalah masih manusia biasa, makluk tuhan yang rapuh dan lemah.
Sumanto juga seperti terseret dalam kesedihan Aisyah, tanpa sadar air matanya juga ikut menetes. Sumanto segera buru-buru mengambil kotak tisu yang ada dimeja untuk membersihkan air matanya.