
"Jangan coba-coba berurusan dengan orang seperti dia kalau bung masih sayang nyawa." Kolonel Robin memperingati Harimau Kumbang.
"Siapa dia?" Harimau kumbang menyipitkan matanya.
"Dia dijuluki dewa perang."
"Dewa perang." Harimau Kumbang terlihat heran.
"Kerena kita sudah saling kenal cukup lama, maka aku memperingatimu bung. Orang seperti dia tidak butuh tiga puluh menit untuk membunuh orang seperti kita. Jadi jangan coba-coba mencari masalah dengan orang seperti dia." Kolonel Robin berkata dengan serius.
"Apakah dia seorang tentara?"
"Dia mayor Bastian, mantan tentara pasukan elit. Kalau kau bertarung dengan dia dalam tiga puluh menit kau masih bernyawa, itu artinya dia tidak menginginkan kau mati. Seandainya dia menginginkan nyawamu jangan harap kamu masih bisa bernapas." Kolonel Robin memberi gambaran pada Harimau Kumbang betapa mengerikan orang yang ada difoto itu.
"Tentara pasukan elit? Tapi kenapa dia bisa berada disini dengan bebas?" Harimau Kumbang seperti tidak memperhatikan kalau tadi kolonel Robin bilang kalau pria yang ada difoto itu mantan tentara. Jadi wajar dia bisa berada dimana saja secara bebas.
"Dia dulu adalah prajurit tontaipur. Tontaipur prajurit yang sudah terbiasa berperang dimedan darat, laut dan udara."
"Kenapa orang sehebat dia dibisa dikeluarkan dari prajurit Tontaipur?"
"Ada pepatah lama mengatakan semakin tinggi pohon maka semakin besar angin yang menerpanya. Semakin kuat seseorang maka semakin banyak yang menginginkannya. Ada seorang jenderal bermaksud menjodohkan dia dengan putrinya, tapi dia menolaknya, kerena dia sudah memiliki wanita pilihannya sendiri. Lalu entah bagaimana caranya jenderal itu bisa membuat mayor Bastian keluar dari pasukan tontaipur." Kolonel Robin menceritakan masa lalu Bastian pada Harimau Kumbang.
"Jadi mayor Bastian dipecat dari pasukan elit tontaipur kerena ada seorang jenderal yang secara sengaja menghancurkan kariernya?"
"kerena jenderal itu merasa terhina oleh penolakan mayor Bastian. Tidak lama kemudian wanita yang dicintai mayor Bastian meninggal kerena kecelakaan, tapi mayor Bastian sadar ada kejanggalan didalam kecalakaan itu. Mayor Bastian tahu kecelakaan wanita yang dicintainya itu hasil dari perbuatan sabotase seorang, tapi mayor Bastian tidak bisa berbuat apa-apa kerena tidak memiliki bukti."
"Tidak kusangka dalam insitusi militer ada orang yang seperti itu."
"Diinsitusi manapun saya yakin pasti ada saja anggotanya yang menyalah gunakan jabatannya." Kolonel Robin memberi tahu pendapatnya pada Harimau Kumbang.
"Kolonel Robin benar, disurgapun ada iblis, apa lagi sekedar disuatu insitusi"
"Ingat bung rasa tidak puas dan irilah yang membuat seorang menjadi iblis. Iblis dulu juga sebenarnya mahluk tuhan yang paling taat pada ajaran tuhan. Sebelum nabi adam diciptakan iblis sudah ribuan tahun melaksanakan apa yang diperintahkan oleh tuhan, iblis juga sangat pandai membaca Al-quran. Tapi kerena iblis yang tidak merasa puas kerena nabi Adam lebih dimuliakan oleh tuhan, sebelumnya iblis selalu berpikir dia lebih ahli dan taat agama daripada nabi Adam, tapi kenapa bisa nabi Adam yang lebih dimuliakan oleh tuhan."
"Itu tidak secara langsung kolonel Robin ingin mengatakan kalau orang itu tidak bisa dinilai baik, kalau sekedar dia ahli agama dan terlihat pandai membaca Al-quran. Kerena iblispun ahli agama dan pandai membaca Al-quran."
"Hahaha aku tidak mengatakan seperti itu bung, itu hanya kesimpulanmu sendiri."
"Ternyata orang sepertimu lumayan memahami agama." Harimau Kumbang tersenyum simpul pada kolonel Robin.
"Ingat bung jangan pernah menilai buku dari sampulnya."
"Kembali kemayor Bastian." Harimau Kumbang kembali serius.
"Jangan pernah mengusik orang seperti mayor Bastian kalau masih mau berumur panjang. Kau tahu bung satu personil prajurit pontaipur itu setara dengan kekuatan seratus tentara biasa. Jadi kalau bertarung dengan mayor Bastian itu sama saja kau sedang berhadapan dengan seratus tentara. Kalau bung belum bisa mengalahkan seratus tentara dengan seorang diri, jadi berhentilah macam-macam dengan orang seperti mayor Bastian."
"Apakah tidak ada cara untuk mengalahkan orang seperti mayor Bastian?" Harimau Kumbang tampak masih belum mau menyerah begitu saja.
"Mayor Bastian didunia militer dijuluki dewa perang dan dikalangan musuh dijuluki iblis penyabut nyawa, itu semua bukan tanpa alasan. Kerena setiap dalam misinya mayor Bastian tidak pernah terluka, senjata musuh seperti menghindar sendiri untuk menyentuh tubuhnya, tapi benda apapun saat berada ditangan mayor Bastian akan menjadi senjata yang sangat mematikan, senjata ketika sudah berada ditangan mayor Bastian seperti memiliki mata dan nyawa, senjata itu bisa diarahkan sesuai keinginannya. Saat mayor bastian mengarahkan senjatanya kekepala seseorang, maka otak orang itu akan berhamburan keluar dari dalam kepalanya." Wajah kolonel Robin membayangkan kengerian, kalau mengingat orang seperti apa mayor Bastian.
"Aku akan menunjukan sesuatu padamu."
__ADS_1
Harimau kumbang mengambil tas yang diletakannya diatas kasur, lalu Harimau kumbang mengeluarkan laptopnya dari dalam tas yang tadi diambilnya.
"Apa yang akan kau tunjukan bung?" Kolonel Robin bertanya pada Harimau Kumbang.
"Kolonel Robin harus melihat hasil rekaman CCTV ini, biar tahu apakah orang ini mayor Bastian atau bukan."
Lalu Harimau Kumbang memutar vidio yang ada dalam laptopnya. Kolonel Robin memperhatikan vidio itu dengan sangat serius.
"Bagaimana? Kolonel mengenal pria itu?" Harimau Kumbang bertanya pada Kolonel Robin.
"Siapa pria botak itu?" Kolonel Robin malah balik bertanya.
"Dia bernama Sumanto. Sopir baru tuan Adiguna Cokrominito." Harimau Kumbang memberi keterangan.
"Cara bertarungnya sangat mirip dengan mayor Bastian. Bung sudah memeriksa latar belakangnya pria itu?"
"Kedua orang tuanya berasal dari jawa, dia memiliki satu orang adik laki-laki masih kelas limsa SD. Bapaknya baru meninggal belum lama ini."
"Kedua orang tua mayor Bastian berasal dari palembang dan kedua orang tua mayor Bastian Sekarang masih hidup." Mayor Robin terlihat bingung.
"Jadi mereka bukan orang yang sama."
Lalu Harimau Kumbang menceritakan pada mayor Robin kalau tujuan Sumanto bekerja menjadi sopir keluarga Adiguna Cokrominoto untuk mengejar mayor Bastian, Harimau Kumbang juga menceritakan kalau penampilan Sumanto tadi itu hanyalah suatu penyamaran.
"Kenapa pria bernama Sumanto itu merubah penampilannya?"
"Sebenarnya wajah dan suara Sumanto sangat mirip dengan mayor Bastian."
Harimau kumbang menceritakan pada kolonel Robin kalau mayor Bastian sudah memperkosa putri Adiguna Cokrominoto, saat mayor Bastian dalam kondisi mabuk. Kerena wajah dan suara Sumanto sangat mirip dengan mayor Bastian, maka hampir semua orang mengira mereka adalah orang yang sama. Sehingga membuat Sumanto dan kedua orang tuanya dipecat dari tempat kerjaannya.
"Begitulah." Harimau Kumbang mengangkat kedua bahunya.
"Ini akan menjadi sangat menarik kalau seandainya pria bernama Sumanto itu dapat menemukan mayor Bastian."
"Ya ini akan menjadi pertarungan dua iblis pencabut nyawa."
*****
Setelah kejadian dilobi parkiran Reina menjadi sangat takut berada didekat Sumanto. Reina juga berpesan pada Aisyah jangan terlalu dekat dengan orang seperti Sumanto, sebab Reina berpikir orang seperti Sumanto itu adalah monster, tapi Aisyah tidak memperdulikan sama sekali apa yang dikatakan oleh Reina. Aisyah malah bergurau pada Reina, kalau Sumanto monster maka Aisyah menjadi pawang monsternya, sehingga Aisyah mau mencoba menaklukan monsternya.
Siang itu Aisyah datang sendiri kerumah Sumanto tanpa ditemani oleh Reina. Aisyah berpikir percuma akan mengajak Reina, kerena Reina pasti akan menolak.
"Assalam mualaikum." Aisyah memberi salam setelah mengetuk pintu beberapa kali.
"Waalaikum salam." Terdengar suara anak kecil menjawab salam Aisyah.
"Mbak ayu."
(Ayu \= Cantik)
"Hai Adi, mas Suman ada?" Aisyah bertanya sambil tersenyum pada anak laki-laki yang tadi membuka pintu.
__ADS_1
"Tidur mbak. Mbak ayu pacar mas Suman ya?" Adik adik laki-laki Sumanto bertanya polos pada Aisyah.
"Bukan... Tapi mbak ayu istri mas Suman." Aisyah mencubit pipi Adi kerena gemas dengan pertanyaan polos Adi.
"Istri iku opo mbak?"
(iku opo \= Itu apa)
"Nanti enam atau tujuh tahun lagi mbk akan kasih tahu sama kamu apa itu istri." Aisyah tersenyum pada Adi.
"Suwe tenan mbak."
(suwe tenan \= Lama benar)
"Emang harus gitu. Ini buat Adi." Aisyah memberikan kantong plastik pada Adi.
"iki opo mbak?"
(iki \= ini)
"Oleh-oleh buat kamu."
"Terimah kasih mbak ayu." Adi terlihat sangat senang menerimah pemberian Aisyah.
"Antar mbak kekamar mas Suman." Aisyah meminta Adi mengantarnya kekamar Sumanto.
Lalu Adi berjalan menuju kamar Sumanto dan Aisyah mengikuti dibelakangnya.
"Tuhkan mas Suman tidur." Adi menunjuk kearah Sumanto yang sedang tidur diatas ranjang.
Setelah ditinggal sendiri oleh Adi, Aisyah segera berjalan kearah ranjang tempat Sumanto sedang tidur, lalu Aisyah duduk dipinggir ranjangnya.
Kasihan dia kedua tangannya terluka. Aisyah menatap nanar pada tangan Sumanto yang dibalut perban.
Secara perlahan tangan Aisyah bergerak kearah pipi Sumanto, lalu Aisyah membelai pipi Sumanto dengn lembut.
Kamu mimpi apa? Bisa tidur sepulas ini. Aisyah senang melihat Sumanto bisa tidur dengan tenang seperti itu.
Aisyah menundukan kepalanya kearah wajah Sumanto. Bibir Aisyah mendekat kearah kening Sumanto. Saat beberapa inci lagi bibir Aisyah menyentuh kening sumanto, mata Sumanto terbuka.
"Non Aisyah mau apa?" Sumanto bertanya pada Aisyah.
Tentu saja Aisyah sangat kaget mengetahui kalau Sumanto sudah terbangun. Muka Aisyah terlihat bersemu merah mendengar pertanyaan Sumanto.
Aisyah segera berniat berdiri untuk menjauhkan wajahnya dari wajah Sumanto. Muka Aisyah terasa panas berada lama-lama berdekatan dengan Sumanto. Tapi tangan kanan Sumanto sudah terlebih dulu menahan punggung Aisyah, sehingga Aisyah tidak bisa berdiri.
"Aku mau lihat luka ditangan kamu." Aisyah Berbohong.
"Tangan kula disamping, kenapa mbak Aisyah memandang wajah kula?" Sumanto sengaja menggoda Aisyah.
"Tadi aku mauuu..!" Ucapan Aisyah terputus kerena tidak menemukan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Sumanto.
__ADS_1
Sumanto mendekatkan wajahnya kewajah Aisyah. Dada Aisyah berdebar sangat kencang kerena wajah mereka yang hanya berjarak beberapa inci saja. Saking dekatnya wajah mereka, Aisyah dapat merasakan hembusan hangat napas Sumanto. Kerena tidak kuat menahan debaran jantungnya akhirnya Aisyah hanya bisa memejamkan mata.
"Mbak cepat bangun kalau tidak mau terjadi apa-apa lagi pada mbak Aisyah." Sumanto berbisik pelan ditelinga Aisyah.