DERITA NONA MUDA

DERITA NONA MUDA
CARA MENOLONG YANG ANEH


__ADS_3

Beberapa menit kemudian sang waiters kembali lagi bersama anak laki-laki yang tadi sedang meminta-minta didepan restaurant.


"Hei nama kamu siapa?" Aisyah tersenyum ramah menyapa anak laki-laki yang tadi meminta-minta.


"Indra kak." Anak laki-laki itu menjawab pertanyaan Aisyah sambil menundukan kepalanya.


"Kamu sudah makan belum?"


"Belum kak." Anak laki-laki bernama Indra itu menjawab polos.


"Sini duduk disebelah kakak." Aisyah menepuk-nepuk kursi yang ada disebelah dia.


"Tidak usah kak, terimah kasih." Indra menggeleng pelan masih dalam keadaan kepala tertunduk.


"Kenapaaa..?" Aisyah melihat Indra dengan pandangan heran.


"Saya harus mencari uang kak, kalau tidak keluarga saya malam ini akan makan apa?" Terlihat jelas ada kesedihan diwajah Indra ketika berbicara dengan Aisyah.


Semua orang yang ada disitu terlihat heran mendengar apa yang dikatakan oleh Indra.


Mereka semua menjadi bertanya-tanya, apa yang membuat anak laki-laki berumuran sekitar sepuluh tahunan itu masih berkeliaran dijalanan pada jam sepuluh malam.


"Ini sudah malam lo, kamu belum lapar?" Kini Serly yang bertanya.


"Belum kak." Indra berkata bohong.


"Oke sekarang kamu baru dapat uang berapa?" Aisyah memandang wajah Indra.


"Gak tau kak, baru dapat berapa." Indra merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan semua uang yang tadi dia dapatkan dari hasil meminta-minta, dan uang itu lalu dia perlihatkan pada Aisyah.


"Mau kakak bantu hitung?" Aisyah melihat kearah uang yang ada ditelapak tangan Indra dengan pandangan sedih.


Indra melihat kearah wajah Aisyah dengan pandangan bingung. Indra tidak paham dengan maksud perkataan Aisyah.


Tanpa menunggu jawaban dari Indra, Aisyah mengambil satu persatu uang ada ditangan Indra, Aisyah segera menghitung uang yang tadi dia ambil dari tangan Indra.


"Dua puluh satu ribu. Ini hasil kerja kamu dari jam berapa." Aisyah menatap sedih kewajah Indra.


"Dari magrib kak."


Aisyah tiba-tiba meraih tubuh Indra kedalam pelukannya. Aisyah terlihat menangis ketika memeluk Indra.


Sang waiters ikut meneteskan air matanya saat mendengar jawaban Indra.


Bastian bangkit dari kursinya lalu ikut memeluk Indra.


Wajar tuhan menjodohkan mereka. Mereka sama-sama memiliki hati yang bersih. Serly melihat kearah Bastian dan Aisyah yang sedang memeluk Indra.


"Terus kamu akan pulang jam berapa?" Aisyah bertanya dengan suara serak.


"Tergantung kak."

__ADS_1


Aisyah sedikit banyak dapat menebak apa yang dimaksud oleh Indra. Aisyah yakin Indra tidak akan pulang, kalau Indra belum mendapatkan uang cukup untuk memberi makan malam keluarganya.


"Baik... Kakak akan memberikan uang pada kamu, tapi kamu temanin kakak makan."


"Maaf kak, Indra dilarang oleh ayah Indra untuk menerimah segala sesuatu pemberian dari orang lain."


Semua orang yang ada disitu menjadi terkejut mendengar perkataan Indra.


Anak ini sebenarnya paham tidak dengan ucapannya? Dia bilang orang tuanya melarang dia menerimah pemberian orang, tapi dia..?! Abimayu melihat kewajah Indra.


Tidak mau menerimah pemberian orang, tapi dia meminta-minta?! Serly memandang wajah Indra dengan pandangan heran.


"Siapa bilang kakak akan memberikan kamu uang secara percuma, kakak mau membayar kamu untuk menemanin kakak makan malam, kalau kamu tidak mau, ya sudah kakak juga tidak peduli." Aisyah berpura-pura memasang wajah masam.


"Alasan kakak terdengar tidak masuk akal." Indra memandang Aisyah dengan eksperesi wajah aneh.


Setan kecil, perkataanmu terdengar kren. Abimayu memandang gemas pada Indra.


Nona Aisyah mungkin kau memilik IQ diatas 250, sehingga membuat kau sangat pandai menggunakan lidahmu. Serly memandang kagum pada Aisyah.


"Kakak janji akan memberikan uang pada Indra?" Indra terdengar bersemangat.


"Uang ini akan jadi milik kamu, ketika nanti kita semua selesai makan." Aisyah meletakan uang lembaran seratus ribu diatas meja.


"Dan ini juga akan jadi milik kamu, kalau kamu mau membawah kami kerumah kamu." Bastian juga melatakan uang lembaran seratus ribu diatas meja.


Aisyah memandang heran pada suaminya, Aisyah tidak bisa menebak apa tujuan suaminya itu meminta Indra membawah mereka kerumah Indra.


"Aku akan meramaikan permainan kalian." Abimayu juga meletakan uang seratus ribu diatas meja.


"Gimana..?! Kamu akan mendapatkan uang empat ratus ribu itu, kalau kamu menemanin makan malam kami, lalu membawah kami kerumah kamu." Aisyah tersenyum sambil menunjuk kearah uang yang ada diatas meja.


Sang waiters hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala melihat tingkah mereka. Sang waiters melihat cara mereka memberikan pertolongan pada Indra agak sedikit aneh.


Satu jam kemudian.


"Uang itu sekarang menjadi milik kamu." Aisyah menunjuk kearah uang empat ratus ribu yang ada diatas meja.


Indra melirik sejenak kearah uang yang diatas meja, saat mau mengambil uang itu Indra terlihat ragu.


"Apa benar uang itu akan diberikan pada Indra?!" Indra melihat kearah Aisyah.


"Itu uang bayaran kamu." Aisyah tersenyum lembut pada Indra.


"Apa ada orang yang dibayar empat ratus ribu hanya untuk menemanin makan malam?!" Indra bertanya serius pada Aisyah.


Anak ini perkataan dan pikirannya tidak seperti anak yang masih berumur sepuluh tahun. Bastian memandang kagum pada Indra.


Dengan berkata seperti itu kau akan memancing rasa penasaran kakak. Abimayu tahu kalau kakaknya sangat penasaran pada latar belakang Indra, makanya tadi kakaknya meminta membawah mereka kerumah Indra.


"Anggap saja kami orang-orang yang bodoh." Aisyah lagi-lagi tersenyum pada Indra.

__ADS_1


Kau bukan orang yang bodoh non, tapi kau wanita terjenius yang pernah aku kenal. Kau sangat pandai merangkai kata-katamu, sehingga tanpa sadar orang lain menuruti semua perkataanmu. Serly melihat kearah Aisyah.


"Mungkin kau tidak membutuhkan uangnya, baiklah kalau begitu biar aku saja yang mengambilnya." Abimayu mengulurkan tangannya berpura-pura mau mengambil uang yang ada diatas meja.


Tapi dengan gerakan yang gesit Indra terlebih dulu telah menyambar uang yang diatas meja.


Dasar setan kecil. Abimayu memandang gemas pada Indra.


Semua orang yang ada disitu tertawa geli melihat apa yang dilakukan oleh Indra.


"Kau hampir saja menghilangkan hasil kerja kerasmu." Bastian menggoda Indra.


"Kau tidak lupakan..? Uang empat ratus ribu itu bukan hanya untuk membayar kamu menemanin kami makan malam?" Aisyah menyipitkan matanya.


"Ya kak, Indra akan membawah kakak semua kerumah Indra."


Sekitar satu jam kemudian.


Setelah sampai didepan salah satu rumah yang terlihat sangat sederhana, Bastian segera mematikan mesin mobilnya, kerena Bastian tidak mau suara mesin mobilnya mengganggu warga yang ada disekitar rumah itu.


"Ini rumah kamu?" Aisyah bertanya pada Indra.


"Ya kak."


"Kenapa gelap?" Aisyah melihat kearah rumah Indra yang terlihat gelap.


"Indra kurang tau kak, tapi sudah cukup lama rumah kami tidak penggunakan listrik lagi."


Aisyah dan yang lainnya terlihat sedih memandang kearah dalam rumah Indra yang tidak memiliki penerangan apa-apa.


"Mari masuk kak." Indra mengajak keempat tamunya kedalam.


"Yaaa..!" Aisyah menjawab pelan.


"Assalamualaikum." Indra mengucap salam.


"Waalaikumsalam huk huk." Terdengar ada suara wanita menjawab salam dari dalam rumah sambil terbatuk-batuk.


"Bu Indra pulang." Indra langsung mencium punggung tangan wanita yang baru keluar dari dalam rumah.


"Maafin ibu ya nak, ibu tidak bisa menjadi orang tua yang baik buat kamu." Wanita yang baru keluar dari dalam rumah memeluk Indra.


"Bu kita ada tamu."


"Tamu... Siapa?" Ibu indra terlihat heran.


"Maaf kak, ibu Indra tidak bisa melihat." Indra menoleh kearah Aisyah dan yang lainnya.


"Maksud kamu..?!" Aisyah semakin terlihat sedih.


"Ya nak, ibu sudah buta sejak berumur tiga belas tahun." Ibu Indra memberi keterangan.

__ADS_1


__ADS_2