
Setelah sekitar satu jam Sumanto pergi dari rumahnya, tiba-tiba ada dua orang pria mendatangi rumah Sumanto. Salah satu dari pria itu langsung mengetuk pintu rumah Sumanto.
Tampaknya kedua pria itu sudah lama mengamati keadaan rumah Sumanto. Makanya mereka tahu saat itu Sumanto sedang tidak berada dirumah.
Tok... Tok... Tok...
Setelah mengetuk pintu beberapa kali, akhirnya terlihat wanita setengah baya yang muncul dari dalam membuka pintu, wanita setengah baya itu adalah ibu Sumanto.
"Selamat malam." Pria tadi yang mengetuk pintu menyapa ibu Sumanto.
"Selamat malam." Ibu Sumanto memandang heran pada dua pria yang berada dihadapannya.
"Apaka benar ini ibu Sumiati?" Salah satu pria itu bertanya pada ibu Sumanto.
"Ya benar saya Sumiati."
"Ada beberapa persoalan yang akan kami coba tanyakan pada ibu."
"Pertanyaan tentang apa?" Ibu Sumiati mulai terlihat khawatir.
"Sebaiknya kita bicarakan didalam." Pria yang satunya lagi buka suara.
"Oh ya mari silahkan masuk." Ibu Sumiati mempersilahkan kedua pria itu masuk.
Ibu Sumiati berjalan duluan kedalam, lalu segera disusul dua pria itu. Setelah sampai disofa ruang tamu, ibu Sumiati segera duduk.
"Silahkan duduk." Ibu Sumiati mempersilahkan dua pria itu duduk.
"Terimah kasih."
Kedua pria itu langsung duduk dihadapan ibu Sumiati.
"Maaf mas berdua ini siapa dan ada perlu apa?" Ibu Sumiati bertanya dengan gugup.
"Saya Andre, saya dari pihak kepolisian." Andre langsung menunjukan kartu tanda anggotanya pada ibu Sumiati.
Ternyata yang datang kerumah Sumanto adalah Andre. Andre adalah polisi dulu yang pernah ditolong oleh Sumanto dilobi parkiran, saat itu Andre dan Natalie disandera oleh anggota Laba-laba Merah.
Wajah ibu Sumiati langsung pucat, setelah Andre menyebut kalau dia adalah seorang polisi.
"Ada kepentingan apa mas polisi berdua ini menemui saya?" Ibu Sumiati semakin terlihat gugup.
"Sebaiknya ibu berterus terang pada kami siapa ibu sebenarnya." Andre menatap kearah wajah ibu Sumiati.
"Berterus terang tentang diri saya? Maksud mas polisi gimana? Saya tidak terlalu paham."
"Ibu harus tahu kami sebagai polisi bisa bersikap lembut pada masyarakat, tapi bisa juga bersikap tegas. Saat kami mencoba bicara baik-baik, biasanya mereka tidak terlalu memperdulikan apa yang kami katakan, makanya mau tidak mau kami harus mengambil tindakan tegas. Terutama pada pelaku-pelaku pelanggar hukum." Kata-kata Andre mulai terdengar mengintimidasi ibu Sumiati.
"Mas polisi minta saya terus terang bagaimana? Saya memang bernama Sumiati. Ini KTP saya." Ibu Sumiati mengambil KTP didompetnya, lalu memperlihatkan pada Andre.
__ADS_1
"Kalau ibu tidak mau terus terang, jangan salahkan saya kalau nanti ibu masuk penjara, kerena ibu sudah memalsukan identitas ibu. Memalsukan data-data itu juga termasuk pelanggaran hukum. Ibu bisa dituntut kerena hal itu." Andre mencoba bicara baik-baik pada ibu Sumiati.
Selesai bicara Andre mengambil map yang dia simpan dari balik jaket kulit yang sedang dipakainya. Lalu Andre memperlihatkan isi map itu pada ibu Sumiati.
Melihat isi map yang dikeluarkan oleh Andre, ibu Sumiati langsung gemetar ketakutan. Wajah ibu Sumiati terlihat semakin memucat. Dalam map yang dikeluarkan Andre tadi berisi beberapa foto anak-anak dan beberapa foto rumah yang diambil dari berbagai sudut.
"Ini panti asuhan tempat ibu bekerja dulu dan foto anak-anak ini adalah penghuni asuhan itu. Ibu bernama Siti Nurlela bukan Sumiati. Apakah sekarang ibu masih mau menyangkal?" Andre bertanya pada ibu Sumanto.
"Mereka mengancam akan membunuh kami semua, kalau saya tidak mau menuruti apa yang mereka minta." Ibu Sumiati atau Siti Nurlela akhirnya mau berkata jujur. Wanita yang bernama asli Siti Nurlela itu berbicara sambil menangis kerena ketakutan.
Wanita yang ternyata bernama asli Siti Nurlela itu, yang berperan sebagai ibu Sumanto. Sekarang dia sadar, kalau dia tidak bisa berbohong lagi pada Andre, tentang siapa dia sebenarnya.
"Kami sudah menyelidiki siapa orang-orang yang sudah mengancam akan membakar panti asuhan dan membunuh kalian semua, kalau ibu tidak bersedia melakukan apa yang mereka minta. Ternyata mereka orang-orang Srigala malam." Andre memberi keterangan pada Siti Nurlela.
"Apakah mereka teman-teman mas Suman?" Siti Nurlela bertanya pada Andre.
"Tidak bisa dibilang mereka teman Sumanto, tapi yang jelas Sumanto kenal mereka."
"Apakah mas Suman yang menyuruh mereka akan membakar panti asuhan dan membunuh kami semua, seandai dulu saya menolak berperan sebagai ibu mas Suman?" Siti Nurlela lagi-lagi bertanya pada Andre, kerena ingin tahu kebenarannya.
"Kalau soal itu kami belum menyelidikinya." Andre menjawab terus terang.
"Sekarang dimana anak laki-laki yang ibu bawah bersama ibu dari panti Asuhan?"
"Dia sedang tidur. Adi sangat dekat dengan mas Suman, mas suman juga sangat menyayangi Adi seperti adik kandungnya sendiri."
"Saya tidak tau siapa dia sebenarnya. Laki-laki itu baru beberapa hari dia berperan sebagai bapak mas Suman atau berperan sebagai suami saya, tiba-tiba dia memohon pada mas Suman untuk melepaskannya. Dia bilang istri dan anaknya lebih membutuhkan dia dikampung, jadi mas Suman membiarkan dia pergi pulang kekampungnya, kerena tidak mau menimbulkan kecurigaan orang-orang, makanya mas Suman membuat rencana seolah-olah bapaknya meninggal. Padahal laki-laki itu waktu dikirim kekampungnya keadaan sehat-sehat saja. Yang orang tau yang dikirim kekampung adalah jenazah bapak mas Suman." Siti Nurlela memberi keterangan pada Andre.
"Kalau tidak mau saya menuntut ibu, bersikaplah pada Sumanto seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu dan jangan pernah ceritakan pada siapapun, kalau kami menemui ibu."
"Saya pasti tidak pernah menceritakan pada siapapun, asal saya tidak dipenjara." Siti Nurlela langsung menjawab perkataan Andre dengan cepat. Siti Nurlela sangat lega mendengar perkataan Andre yang tidak akan menuntut dia.
"Saya yakin selama ibu berperan baik sebagai ibu Sumanto, ibu akan baik-baik saja, kerena saya tahu Sumanto orang yang baik. satu pesan saya sama ibu jangan pernah membuat Sumanto marah, kerena kalau dia marah, dia akan menjadi orang yang sangat jahat dan sekaligus bahaya."
"baik." Siti Nurlela menjawab patuh.
"Ibu tahu nama asli Sumanto siapa?"
"Tidak... Ibu hanya mengenal dia sebagai Sumanto. Ibu tidak pernah berani bertanya masalah tentang jatidiri mas Suman yang sebenarnya."
"Nama dia sebenarnya adalah Bastian, dia mantan tentara elit tontaipur. Dia dulu adalah seorang mayor dan mayor Bastian berasal sumatra."
Siti Nurlela terlihat kaget mendengar jatidiri orang yang selama ini dia kenal sebagai Sumanto. Siti Nurlela tidak menyangka kalau kalau Bastian memiliki masa lalu yang sehebat itu.
*****
Besok harinya Andre langsung menemui Aisyah diresto tempat dulu mereka ketemu. Andre berniat akan melapor hasil penyelidikannya pada Aisyah. Sama seperti dulu saat mereka berjanji untuk ketemu, Andre ditemani seorang wanita. Wanita yang menemani Andre ternyata adalah Natalie.
"Selamat pagi nona Aisyah." Andre menyapa Aisyah terlebih dulu, sambil menjabat tangan Aisyah.
__ADS_1
"Selamat pagi."
"Dugaan nona Aisyah ternyata benar. Sumanto itu adalah mayor Bastian." Andre langsung duduk dan menceritakan semua hasil penyelidikannya pada Aisyah.
Mendengar keterangan dari Andre itu Aisyah menarik napas panjang. Aisyah tidak menyangka Bastian akan melakukan hal sejauh itu, Bastian sampai melibatkan banyak orang untuk menutupi jatidirinya. Sampai-sampai Bastian membentuk satu keluarga palsu, untuk membantu penyamarannya.
"Kami juga sudah menyelidiki tempat perusahaan Sumanto dulu bekerja sebagai staf, ternyata itu hanya sandiwara saja. Salah satu manager disana bilang kalau Srigala Malam mengancam mereka, kalau mereka tidak bersedia membuat data palsu Sumanto sebagai salah satu staf disana, maka Srigala Malam akan membuat perusahaan mereka hancur."
"Lalu bagaiman soal kedua orang yang berperan sebagai orang tua Bastian, apakah soal pemecatan mereka juga palsu?"
"Kedua orang yang berperan sebagai orang tua mayor Bastian tidak dipecat, wanita yang bernama Siti Nurlela itu tidak pernah bekerja digarmen dan laki-laki yang yang berperan sebagai ayah mayor Bastian juga tidak pernah bekerja sebagai sopir pribadi. Itu juga hanya sandiwara yang sudah diatur oleh pihak mayor Bastian."
"Bastian sudah seperti seorang sutradara ulung. Dia sudah menciptakan sandiwara keluarga yang sangat bagus. Sampai semua orang berpikir kalau mereka benar-benar adalah satu keluarga sungguhan. Saya yakin abi juga tidak menyadarinya."
"Sekarang kita sudah mengetahui kalau Sumanto itu adalah mayor Bastian. Laki-laki yang sudah memperkosa kamu. Terus apa yang akan kamu lakukan Syah?" Natalie akhir buka suara setelah dari hanya diam, mendengar apa dibicarakan oleh Andre dan Aisyah.
"Aku gak tau Nat, aku harus berbuat apa." Aisyah belum bisa membuat keputusan apa-apa.
"Kamu bisa menuntut dia Syah. Biar dia masuk penjara, kerena telah memperkosa kamu." Natalie memberi saran pada Aisyah.
"Aku gak mungkin membiarkan ayah anak aku berada didalam penjara nat." Aisyah berkata lesu.
"Terus apa kamu mau meminta dia menikahi kamu?"
"Aku gak mungkin menikah dengan laki-laki yang tidak mencintai aku." Aisyah terlihat sedih.
"Terus sekarang bagaimana?" Natalie penasaran keputusan apa yang akan Aisyah ambil.
"Aku bingung nat... Aku harap cukup hanya kita bertiga yang tau tentang jatidiri Bastian."
"Terus orang tua kamu juga gak diberi tahu. Siapa laki-laki yang sedang menyamar menjadi Sumanto itu?"
"Aku rasa untuk sekarang mereka lebih tidak tau."
"Aku harap kamu bisa menemukan solusi terbaik dari masalah ini Syah." Natalie meraih Aisyah kedalam pelukannya.
"Terimah kasih." Aisyah menjadi terharu dengan dukungan Natalie itu.
"Ya sudah jangan biarkan ayah anak kamu terlalu lama menunggu kamu. Kasihan dia sendirian menunggu kamu dimobil." Natalie mencoba bergurau agar Aisyah tidak terlalu sedih.
"Aku akan memberikan pelajaran pada ayah yang tidak bertanggung jawab itu." Aisyah berkata sambil tersenyum membalas gurauan Natalie.
"Pastikan dia mendapatkan balasan yang setimpal, kerena telah berani membuat kamu menderita." Natalie juga tersenyum pada Aisyah.
"Andre terimah kasih kamu sudah membantu saya sampai sejauh ini." Aisyah segera berdiri dan langsung menjabat tangan Andre.
"Nona Aisyah tidak perlu sungkan, sudah tugas kami sebagai polisi untuk mengungkap kebenaran."
"Dre aku harap aku bisa akrab sama kamu, seperti aku akrab dengan sepupu kamu Natalie. Sehingga kamu tidak harus memanggil aku nona lagi." Aisyah tersenyum ramah pada Andre.
__ADS_1